Sang Pewaris Tunggal

Sang Pewaris Tunggal
Ketakutan


__ADS_3

"Baik bu!" Jawab Danish patuh


Tidak menunggu waktu lama, Danish langsung menghubungi anaknya tersebut, meminta agar dia kembali secepatnya, tanpa menyebutkan apa alasan dari ayahnya menyuruh Jasmine untuk pulang


Dalam teleponnya itu, Danish hanya mengatakan, bahwa ada sesuatu hal yang penting dan sangat mendesak, yang harus segera diselesaikan oleh Jasmine di rumahnya itu


Jasmine yang waktu itu sedang bersiap siap ingin pergi, dengan orang yang selama ini membiayai hidupnya. terpaksa menuruti perintah ayahnya tersebut


Dengan ditemani oleh Melviano, Jasmine pergi menemui ayah dan neneknya itu


Kedatangan mereka bukan hanya berdua, tetapi dikawal oleh 30 orang pengawal berbadan tegap, yang menaiki belasan mobil. Mereka itu adalah para pengawal, yang bertugas untuk menjaga keselamatan Melviano


Begitu sampai di rumahnya, Jasmine bergegas menemui Danish dan langsung berkata


"Kenapa ayah menyuruhku pulang?. Bukankah aku sudah mengatakan, malam ini aku akan pergi bersama dengan tuan Melviano?" Ucap Jasmine tidak senang, ketika diminta pulang secara tiba tiba oleh ayahnya tersebut, sambil menoleh kearah kekasihnya itu, yang berdiri agak jauh darinya


"Kalau bukan karena benda itu, ayah tidak akan mungkin menyuruh mu untuk pulang!. Sekarang, bukalah kiriman untuk mu itu!" Jawab Danish kesal


"Kiriman!. Aku tidak ada memesan apa apa!, Mungkin mereka salah alamat!" Respon Jasmine keheranan


"Tidak mungkin mereka salah alamat, mereka benar benar mengatakan, bahwa kiriman itu khusus untukmu. Jadi sekarang bukalah!" Sanggah Danish ngotot


Mendapat jawaban seperti itu, Jasmine dengan tergesa gesa, menghampiri dua karung yang masih tergeletak di teras rumah nya itu, kemudian tanpa ragu ragu lagi membukanya


Sama seperti ayahnya, jasmine juga terkejut, begitu melihat apa isi dalam karung tersebut


Dua langkah dia mundur ke belakang, seakan tidak percaya, dengan apa yang barusan dilihatnya itu


Lututnya gemetar, lidahnya kelu, nyalinya ciut dan hatinya ketakutan, ketika melihat dua orang yang sangat dipercaya itu, saat ini mati secara mengenaskan


"Siapa yang melakukan ini ayah?" Tanya Jasmine berusaha bersikap tenang, padahal dalam hatinya sangat takut sekali


"Orang orangnya Dion. laki laki yang ingin kau bunuh itu!" Jawab Danish apa adanya


"Apa!. Bagaimana ini bisa terjadi?" Tanya Jasmine lagi


"Kau lihatlah tanda di tangan mereka!, gelang yang kau pakai itu, juga sama seperti yang mereka pakai. Mungkin karena kebodohan anak buahmu tersebut, pihak Dion bisa mengenal, siapa pelaku pembunuhan anak buahnya tersebut." Jawab Danish kesal


"Kurang ajar!. Kenapa aku bisa lupa?, padahal aku sudah meminta kepada si Justin bodoh itu, untuk memberitahukan kepada teman temannya, agar melepas semua tanda yang mereka pakai. Tapi kenapa pada jasad kedua orang kepercayaanku ini, masih ada gelang tersebut?" Batin hati Ivory kebingungan


"Atau mungkin kah Justin tidak mendengar perkataanku?" Batinnya lagi menerka nerka


"Sekarang apa yang akan kau lakukan, setelah Dion tahu, bahwa pembunuh orang orangnya itu adalah kau dan anak buahmu itu!"


"Apakah kau masih ingin bersikeras untuk melawannya?" Tanya Danis khawatir


"Aku tidak mau tahu ayah!. Kepalang basah, harus mandi sekalian. Daripada mati berkalang tanah, maut akan ku songsong jua!" Jawab Jasmine tetap ngotot, kemudian memberi isyarat kepada Melviano untuk mendekat


"Sayang lihatlah. Itu anak buah mu!" Ucap Jasmine gemetaran


"Radit dan kau Murad! . Cepat keluarkan isi karung itu, aku ingin melihat siapa yang ada didalamnya!" Perintah Melviano tegas


"Baik tuan besar!" Jawab pengawal nya itu patuh


Tak menunggu waktu lama, isi kedua karung tersebut sudah keluar dari dalamnya. Seketika bau menyengat merebak di sekitar rumah tersebut, sehingga Melviano dan beberapa anak buahnya itu, mundur beberapa langkah untuk menjauhi kedua jasad tersebut

__ADS_1


Danish dan ibunya, juga mundur. Tapi tidak dengan Jasmine, dia dengan tenangnya, tetap berdiri di depan kedua jasa tersebut, sambil kedua tangannya mengepal dengan erat


"Kau lihatlah perbuatan mereka!. Orang kepercayaan ku telah mati sia sia. Jika kematian mereka tidak ku balaskan, maka jangan panggil aku iblis betina!" Ucap Jasmine dengan wajah memerah


"Siapa yang melakukan ini?" Tanya Melviano pada ayahnya Jasmine


"Dion, cucu kandung dari Mahesa Birawa!. Apakah kau puas?" Jawab Danish tidak mengenal rasa takut


"Bagaimana ini bisa terjadi?. Bukankah mereka pengawal level tinggi, tapi kenapa bisa mati secara mengenaskan seperti ini?" Tanya Melviano tidak senang


"Kau tanyalah pada Jasmine simpananmu itu!. Dia tahu semua jawabannya!" Jawab Danish seperti menantang Melviano tersebut


"Bisa kau jelaskan, bagaimana mereka bisa bernasib seperti ini?" Tanya Melviano sedikit marah kepada Jasmine


"Mereka orang yang ku tugaskan untuk memata matai kelompok Burgon, dengan menyamar sebagai pedagang keliling. Tapi entah bagaimana, mereka bisa ketahuan dan tertangkap. serta bernasib buruk seperti ini." Jawab Jasmine enteng saja


"Kenapa kau bertindak tanpa perhitungan, dan kenapa kau memberi mereka gelang gelang tersebut?. Bukankah itu sangat berbahaya sekali, dan benda itu sangat mudah dikenali oleh orang lain!" Bantah Melviano marah


"Bukankah itu atas saran mu juga, agar aku mudah mengenali siapa siapa saja orang orang ku?" Sanggah Jasmine membela diri


"Sekarang nasi sudah menjadi bubur. Dua orang orang ku, sudah menjadi korban akibat kebodohanmu itu. Kau hadapilah resikonya itu sendiri!" Respon Melviano seperti lepas tangan


"Tidak bisa begitu sayang!. Aku berbuat seperti ini bukankah atas saranmu juga, karena kau ingin menyingkirkan saingan mu itu?" Bantah Jasmine tidak mau kalah


"Aku memang menginginkan saingan ku itu jatuh, tetapi tidak seperti ini caranya. Kau sudah menabuh genderang perang, dengan orang terkuat di bidang bisnis dan pengawalan, beserta belasan ribu pengawal elitnya itu!" Respon Melviano geram


"Kita belum belum bisa bersaing dengan kekuatannya. Tapi kau tanpa persetujuan ku, telah menyulut api permusuhan pada mereka!" Sambung Melviano lagi


"Jadi apa yang harus aku lakukan sayang?" Tanya Jasmine sudah mulai khawatir


"Kau pergilah jauh jauh dari sini, dan selamatkan dirimu juga kedua orang tua itu." Jawab Melviano memberi solusi


"Terserah kau sajalah!" Respon Melviano datar, bercampur kesal, kemudian berjalan meninggalkan Jasmine dengan kedua jasad tersebut


"Sayang!. Bagaimana dengan kedua jasad ini?. Tidak mungkin aku yang akan mengurusnya!" Teriak Jasmine kuat


Melviano mendadak berhenti begitu diingatkan tentang kedua jasad tersebut, kemudian memerintahkan kepada beberapa anak buahnya, untuk mengambil jasad itu


"Kalian berlima tetap disini! Awasi gerak gerik Jasmine. Jangan sampai dia bertidak ceroboh lagi!" Perintah Melviano pada kelima anak buahnya itu dengan ekspresi marah


"Ibu!. lebih baik kita pergi dari sini, dari pada ikut menjadi korban keganasan Dion. Danish takut ibu kenapa kenapa!" Ucap Danish mengkhawatirkan keselamatan ibunya itu, sesaat setelah Melviano memasuki mobilnya


"Baiklah ibu setuju. mari kita berkemas kemas dulu, dan tinggalkan anak gila ini dengan dendamnya!" Jawab nenek Elina patuh


"Kalian tidak boleh pergi!. Kalian tetap harus disini menemaniku. Aku jamin, kalian berdua tidak akan apa apa!" Ucap Jasmine sudah tidak mengenal sopan santun lagi kepada ayah dan nenek nya itu


"Kalian berdua!.Cepat bawa kedua orang tua ini masuk ke dalam kamarnya!. Jaga jangan sampai melarikan diri!" Perintah Jasmine kepada kelima pengawal tersebut


"Lepaskan aku!. Aku bisa jalan sendiri!" Bentak nenek Elina marah, pada orang orang suruhan Jasmine itu, ketika ingin menarik tangannya secara paksa


"Dengar Jasmine!. Kau akan menerima balasan mu, karena kau telah menyulut api dendam, yang seharusnya sudah hilang dari hati busukmu itu!" Ucap nenek Elina seperti mengingatkan Jasmine cucunya tersebut


"Apapun yang kau katakan, aku tidak peduli!" Respon Jasmine dengan sikap masa bodoh nya itu


Sepeninggal Danish juga neneknya itu, Jasmine merutuk sendiri dalam hati. "Sial! sial! sial!. Baru saja aksi dimulai, tapi sudah ketahuan. Ini gara gara kebodohan dan ketidakpatuhan Justin itu!"

__ADS_1


"Jika anak buahnya tidak menjatuhkan gelang, anak buah Dion tidak akan mungkin bisa menemukan siapa pelaku pembunuhan tersebut!"


"Aku yakin!, ini adalah peringatan pertama, dan tidak lama lagi, pasti mereka akan datang lagi kesini!"


"Aku harus segera pergi dari sini, dan bergabung dengan tuan Melviano, untuk meminta perlindungan darinya."


"Aku tidak peduli dengan ayah juga nenekku itu. Biarlah mereka berdua tinggal di sini. Yang penting aku sudah kabur, dan tidak bisa ditemukan oleh orang orang yang Dion lagi." Ucapnya lirih pada diri sendiri, kemudian beralih kepada kelima pengawal, yang sengaja ditinggalkan oleh Melviano, untuk mengawasi Jasmine


"Cepat urus kedua jasad itu, dan hilang kan jejak nya!" Perintahnya pada pengawal pengawal Melviano tersebut


"Aku tidak ingin mati sia sia!. Kita harus menyusul tuan besar, untuk meminta perlindungannya." Perintah Jasmine kepada kelima anak buah Melviano tersebut, walaupun pada awalnya, disuruh oleh Melviano untuk mengawasi Jasmine


Tetapi dengan lihainya, Jasmine berhasil mempengaruhi mereka, malah mampu memerintah kelima pengawal itu, untuk menuruti keinginannya


***


Waktu kejadian, sore hari itu. Saat Burgoon menyergap dan mengintrogasi anak buah Jasmine tersebut, tak lama sesudah itu, dua langsung menghubungi Dion, melalui sambungan telepon


"Salam tuan besar!" Ucap Burgon dengan suara rendah


"Ada apa Burgon?. Apakah penyelidikan mu sudah membuahkan hasil?" Tanya Dion ingin tahu


"Benar tuan besar. Ternyata dalang di balik semua itu, adalah Jasmine!" Jawab Burgon ragu ragu


"Jasmine?. Bagaimana dia bisa melakukan itu?" Tanya Dion penasaran


"Dia tidak bekerja sendiri tuan besar, tetapi bekerja sama dengan seorang pengusaha besar di kota P ini." Jawab Burgon berterus terang


"Bagaimana caranya?" Tanya Dion secara sepontan dalam teleponnya itu


"Melalui bujuk rayunya, Jasmine berhasil mempengaruhi pengusaha tersebut, untuk membantunya melawan tuan besar." Jawab Burgon cepat walau pertanyaan itu bukan ditujukan padanya


"Apa!. Jasmine ingin melawanku?" Tanya Dion tidak habis mengerti


"Benar tuan besar!. Dengan menggunakan para pengawal Melviano tersebut, Jasmine telah mampu mengkoordinir puluhan pengawalnya, untuk bekerja dibawah perintahnya."


"Pada awalnya, terus terang kami kebingungan, untuk mencari benang merah, yang bisa mengarah kepada pelaku penyerangan pada intelijen ku itu."


"Tapi berkat barang bukti yang mereka tinggalkan di tempat kejadian, kami bisa mencari siapa dalang di balik itu semua."


"Secara kebetulan, kami menangkap 2 pedagang keliling, yang sedang menyamar. Mereka berdua adalah anak buah Jasmine."


"Melaluinya lah kami mengetahui, bahwa Jasmine adalah pelaku penyerangan tersebut. Jadi apa yang harus kami lakukan tuan?"


"Lagi lagi Jasmine!.Apakah dia tidak sadar sadar juga, bahwa selama ini, aku memang sengaja membiarkannya, agar dia sadar atas kesalahannya itu."


"Tapi semakin lama semakin menjadi jadi. Tidak hanya bertindak diluar batas, namun juga sudah berani melawanku, bahkan menghabisi tiga intelijen terbaik Birawa Group. dan ini sudah cukup menguji kesabaranku!"


"Karena dia telah berani membunuh orang orang ku! maka kau tahu apa yang harus dilakukan Burgon!" Ucap Dion seperti memberi perintah, untuk berbuat sesuatu


"Siap tuan besar!" Jawab Burgon cukup mengerti


"Mengenai Melviano itu. tanyakan baik baik padanya. apakah dia ingin berperang melawan ku?" Perintah Dion tegas


"Jika memang jawabannya ya, jangan segan segan lagi untuk memberi pelajaran padanya!"

__ADS_1


Tetapi tunggu tiga hari lagi. aku akan mengirimkan 250 orang pengawal tingkat tinggi dan tingkat elit, untuk mendampingimu di sini." Ucap Dion memberi instruksi


"Baik tuan besar, dan saya siap menunggu perintah!" Jawab Burgon tegas


__ADS_2