
Karena jarak kampung kumuh tersebut terbilang cukup jauh dari pabrik yang akan mereka datangi, maka perjalanan mereka kesana memakan waktu kurang lebih 1.40 jam, baru sampai ketempat tujuan
Orang yang namanya Sidiq itu merasa tidak asing dengan jalan yang sedang mereka lalui itu, apalagi setelah masuk ke jalan dimana rumahnya dulu berada
Tapi rombongan yang membawanya tersebut, tidak berhenti ditempat itu, namun terus melaju kearah timur, dan berhenti tepat didepan pabrik sekaligus kantor perusahaan nya dulu
"I...I..Ini..?" Ucapnya terbata bata
"Ya.benar!. Pak Sidiq memang sengaja kami bawa ketempat ini, atas perintah tuan besar." Jawab James kalem
"Apa maksudnya pak Jams?. Kenapa kalian membawaku ketempat ini. Tolong turunkan kami. agar kami bisa lari dari kejaran orang orangnya Melviano itu!" Ucap Sidiq ketakutan
"Tenanglah pak Sidiq. lebih baik kita masuk dulu. setelah sampai didalam kantor, baru anda akan tahu yang ada didalam." Respon James tenang
Mendengar penjelasan seperti itu. mau tidak mau Sidiq harus ikut juga masuk kedalam. didampingi oleh istri dan kedua anaknya itu dengan perasaan was was
"Yah!. bukankan ini pabrik perusahaan kita dulu. kenapa kita dibawa kesini. Apakah kita akan dihabisi?" Ucap Deliana, istri pak Sidiq itu ketakutan
"Tenanglah bu!. Kita pasrahkan saja pada yang diatas. Semoga kita dilindungi Nya." Jawab Sidiq mencoba menenangkan istrinya itu. Kemudian terus saja berjalan mengikuti langkah James dan kawannya itu
Sepanjang jalan yang mereka lalui, banyak sekali dijumpai pengawal yang berjaga. Rata rata mereka tidak dikenal oleh Sidiq maupun oleh istrinya tersebut. Karena mereka memang bukan orang orang nya si Melviano dulu. tapi para pengawal keluarga tuan Birawa
Hanya ada tiga orang yang sempat dikenalinya, tapi sudah ingat ingat lupa,, karena mungkin sudah cukup lama
"Apa kabar pak Sidiq!' Sapa mereka serempak
Orang yang dipanggil pak Sidiq itu hanya mengangguk, dan tersenyum saja mendapat sapaan seperti itu. Dia terus saja berjalan, mengikuti langkah kaki James, yang sedang memandu jalan nya itu
Dalam hatinya membatin. "Inikah kantorku dulu, tapi kenapa sudah banyak berubah?" Batinnya dalam hati
"Silakan masuk pak Sidiq!.Tuan besar sedang menunggu anda didalam?" Ucap James ramah
"Ya, terima kasih pak Jams!"Jawabnya juga sama
Dengan hati yang tidak tenang, Sidiq dan keluarganya itu memasuki ruangan, dimana saat ini Dion terlihat sedang menunggu mereka didalam
Alangkah terkejutnya Sidiq dan keluarganya itu, ketika masuk keruangan tersebut, dimana didalamnya banyak sekali orang orang hebat, dan terlihat sangat berwibawa sekali, yang sedang menatapnya dengan tatapan dingin
Mendadak lututnya bergetar, lidahnya kelu, dan tak mampu berkata sesuatu, bahkan untuk bertanya pada James saja dia takut
Hatinya gelisah tidak menentu. Belum pernah dia berhadapan dengan orang orang seperti itu. Walaupun dulunya dia seorang pengusaha, tapi tetap saja keberadaan orang orang tersebut, mempengaruhi mentalnya
Ditengah kegelisahannya itu, Dion membuka suara dengan berkata.
"Silakan duduk pak Sidiq!. Santai saja, dan jangan kaku seperti itu." Ucap Dion mencoba bersikap ramah padanya
"Te..te..terima kasih tuan besar!" Jawab Sidiq sambil mengangguk. Kemudian meminta istri dan keluarganya itu, untuk duduk duluan, setelah itu baru dia duduk
Sikap yang ditunjukkan oleh Sidiq pada keluarganya itu, sempat membuat mereka yang melihatnya terkagum kagum.
Dalam hati mereka serentak mengakui, bahwa si Sidiq itu, adalah sosok orang yang baik, dan penuh perhatian serta tanggung jawab pada keluarganya
Hal itu bisa dilihat dari sikapnya pada istri dan kedua anaknya itu
Sebaliknya bagi Sidiq. Sebelum masuk keruangan tersebut, dia sudah dikasi tahu oleh James, Burgon dan Erisha, bahwa orang yang paling berbeda diantara mereka nanti, adalah tuan besar yang akan dia temui.
Jadi begitu dia mendapat sapaan ramah tersebut, hatinya langsung tahu, bahwa orang itulah yang sedang menunggunya. yang biasa dipanggil dengan sebutan tuan besar
"Bagaimana kabarnya pak Sidiq?. Apakah selama ini baik baik saja?" Tanya Dion ramah
"Seperti yang tuan lihat. Beginilah keadaan kami, dulu dan sekarang tuan." Jawab Sidiq terdengar ringan, tapi seperti sedang menyembunyikan sesuatu yang sangat besar
Padahal dalam hatinya bertanya tanya. "Siapa sebenarnya orang orang ini?. Bagaimana mereka bisa menduduki pabrik dan perusahaannya?"
"Dimana keberadaan Melviano, dan anak buahnya itu. Kenapa mereka tidak terlihat?"
"Untuk apa aku dibawa kesini. Apakah untuk dihabisi atau untuk...?"
__ADS_1
Itulah sebagian tanda tanya, dan keraguan yang ada dihati dan pikiran Sidiq, setelah dibawa masuk ke bekas pabriknya dulu. Apalagi setelah dihadapkan pada Dion
Menyadari orang yang dipanggil tuan besar itu bersikap ramah padanya. Sidiq merasa jadi tidak enak hati. kalau harus dipanggil pak seperti itu. Kemudian dia memberanikan diri untuk berkata.
"Mohon tuan besar tidak memanggil orang kecil ini dengan sebutan pak. Saya merasa tidak pantas mendapat kehormatan seperti itu dari tuan besar." Respon Sidiq merendah, dan merasa tidak enak hati pada Dion
"Nama saya Sidiq Alriezky. Tuan cukup memanggil saya dengan sebutan Sidiq saja." Ucapnya lagi merendah, dan terkesan memaksa
"Baiklah kalau begitu!" Jawab Dion enteng, kemudian diam. Menunggu reaksi apa yang akan dimunculkan oleh tamunya tersebut
Sidiq segera mengedarkan pandangannya keseluruh ruangan, tempat dimana dulu pernah dipakainya untuk berkantor.
Di ruangan itu dia melihat, ada tuan Birawa, Ivory, Dragon, Iron, Hans, yang belum pernah dikenalnya itu, selain dari pada James. Burgon dan Erisha
Dalam hatinya membatin lagi. "Siapa gerangan mereka .Kenapa sikapnya sangat dingin sekali."
Tidak mau berlama lama larut dalam kemelut keraguan dalam hatinya, Sidiq segera membuka suara dan berkata.
"Maafkan kalau saya lancang tuan besar!. Ada gerangan apakah tuan mengundang kami kesini. Apakah kami ada berbuat salah, atau menyinggung perasaan tuan?" Tanya Sidiq penasaran
"Tidak juga teman. Kami hanya ingin memastikan saja. Apakah benar tempat ini dulunya adalah milik mu?" Jawab Dion sekaligus bertanya pada Sidiq itu
"Kalau saya katakan iya, apakah tuan besar dan yang lainnya ini. akan percaya? atau menganggap jawabannya saya ini hanya mengarang saja?" Jawab Sidiq cukup diplomatis
"Jelaskan!" Respon Dion ingin jawaban pasti
"Memang benar!. Perusahaan ini dulunya adalah milik keluargaku, tapi si Melviano itu telah merebutnya dengan paksa, dan memalsukan surat surat kepemilikannya menjadi atas namanya sendiri."
"Setelah berhasil menguasai perusahaan ku, dia dengan teganya mengucilkan ku, beserta keluargaku ke tempat jauh, dan selalu diawasi selama beberapa tahun." Jawab Sidiq apa adanya
"Bagaimana dia bisa menguasai perusahaan ini?. Padahal surat suratnya ada padamu?" Tanya Dion penasaran
"Melviano itu masih termasuk keluarga jauhku tuan. Pada awalnya dia hanya seorang karyawan perusahaan biasa."
"Karena ketekunannya, membuat ku tertarik, dan pada akhirnya mengangkat si Melviano itu, menjadi seorang manajer umum di perusahaan ini."
"Lama kelamaan, organisasinya itu berkembang semakin besar, dan boleh dikatakan terbesar di kota ini."
"Karena menganggap dia kuat dan punya banyak anak buah. Maka tindakannya di perusahaan ini menjadi sewenang wenang, dan terkesan tidak patuh pada aturan perusahaan."
"Maka dengan berat hati, saya memecat si Melviano itu, dan mengusirnya dari perusahaan."
"Tapi, keesokan harinya, dia datang lagi dengan ratusan anak buahnya, dan langsung mengambil alih perusahaan ku."
"Lalu dengan bengisnya, Melviano mengusir kami dari rumah juga perusahaan kami sendiri."
"Seluruh harta dan aset aset perusahaan, semuanya telah diambil alih olehnya, dan dirubah menjadi atas namanya sendiri."
"Tapi tanpa dia ketahui, Surat surat rumah dan perusahaan, telah saya duplikasi kan, Sedangkan yang asli saya bawa ke pengasingan."
"Sementara yang tinggal, hanyalah duplikasi yang sebagian besarnya palsu."
"Jadi surat surat asli. masih tetap saya pegang dan simpan dengan baik." Ucap Sidiq menjelaskan secara panjang lebar atas keingintahuan Dion itu
"Hem!.Ternyata begitu!" Respon Dion singkat tapi mengandung makna yang sangat dalam
"Apakah kau tahu, dimana Melviano sekarang?" Tanya Dion menguji pengetahuan Sidiq tentang si Melviano itu
"Tidak tuan besar!" Jawab Sidiq jujur
"Ketahuilah oleh mu kawan!. Melviano sudah mati terbunuh, oleh orang orang ku. dan tempat ini sekarang telah kami kuasai." Ucap Dion berterus terang dan tanpa ditutupi lagi
"Apa!. Benarkah itu tuan?"Respon Sidiq senang
"Seperti yang kau lihat kawan!" Jawab Dion apa adanya
"Jika demikian. Kami sangat senang mendengarnya. Dan ikhlas menyerahkan perusahaan ini pada tuan. Karena tuan yang telah berhasil mengusir, bahkan menghabisi si pembuat masalah itu." Reaksi Sidiq cukup legowo
__ADS_1
"Tidak seperti itu juga kawan!.Aku malah ingin mengembalikan perusahaan ini padamu!. Karena dari keterangan mu tadi, kau memang pemilik asli perusahaan ini." Jawab Dion enteng
"Tidak boleh seperti itu tuan besar!. Saya sudah cukup senang hidup sederhana seperti ini, Tenang, tidak ada intrik dan perebutan lahan kekuasaan, juga tidak ada bahaya yang mengancam."
"Jadi kami sudah memutuskan, untuk tidak terlibat lagi dalam masalah perusahaan ini. Begitulah keputusan kami tuan!" Ucap Sidiq tanpa berpikir panjang lagi
Tuan Birawa, yang mendengar pembicaraan terkesan seperti tarik ulur itu menjadi geram, bercampur sedikit kesal atas keputusan Sidiq itu. Lalu mengambil inisiatif untuk menengahi masalah tersebut dengan berkata.
"Kau boleh memutuskan masalah seperti itu dengan mudah, menurut persepsi mu sendiri. Tapi kau tak memikirkan orang orang yang ada di samping mu itu?"
"Apakah orang seperti itu, yang dikatakan suami, dan orang tua yang baik, serta bertanggung jawab pada keluarganya?"
"Mereka berhak atas kehidupan layak. Kedua anakmu itu, butuh pendidikan juga,"
"Kalau kehidupan mu begitu begitu saja. Bagaimana mereka bisa hidup bahagia, dan bangga mempunyai suami, serta orang tua yang lemah sepertimu nanti?"
"Apakah kau tidak berpikir kearah itu Sidiq?" Ucap tuan Birawa marah
"Maaf kan saya tuan!. kalau pemikiran saya ini sempit. Mungkin pengaruh sudah terlalu lama hidup dalam pengasingan." Respon Sidiq menyesal
"Dimana kau tinggal?" Tanya tuan Birawa ingin tahu
"Kampung kumuh di KSU, kota ini tuan. Tapi bukan di dekat bantaran sungainya. Letaknya sedikit jauh dari sungai itu." Jawab Sidiq jujur apa adanya
"Nah!. Kan dengan kau memiliki perusahaan ini lagi, banyak yang bisa kau buat disana. Bukankah begitu Sidiq?" Respon tuan Birawa cepat
"Benar tuan!" Jawab Sidiq malu malu
"Kalau begitu!. Kau terima niat baik dari cucuku. Ambil kembali perusahaan yang memang milik mu ini. Jelas?" Ucap tuan Birawa dengan aura yang sulit untuk dilukiskan
"Jelas tuan." Jawab Sidiq cepat
"Bagus!. Mulai hari ini. kau kembali menjadi bos perusahaan mu sendiri. Kelola dengan baik," Respon tuan Birawa senang
"Semua laporan keuangan, telah di audit oleh ahlinya. dan didapati tidak ada neraca minus. Semua laporan keuangan. sudah sesuai dengan porsinya masing masing."
"Kau tinggal mengalokasikan, laba bersih perusahaan mu ini untuk apa." Ucap tuan Birawa tegas
"Baik tuan!" Jawab Sidiq takut takut
"Untuk sementara, orang orang ku akan tetap disini, untuk mengawal mu, agar tenang dalam berbisnis.'
"Mereka tidak perlu kau gaji. karena mereka telah mendapat gaji dari Birawa Group. Perusahaan ku!" Ucap Dion menyambung pengarahan dari kakeknya itu
"Apa!. Jadi tuan besar dan tuan tuan ini berasal dari perusahaan yang sudah sangat terkenal itu?" Tanya Sidiq dengan ekspresi terkejut.
Padahal sebelumnya sudah diberitahu oleh James maupun Burgon, tapi tetap saja membuatnya terkejut
"Ya, benar, Ini kakek ku tuan Mahesa Birawa, pendiri perusahaan itu. Kau boleh memanggilkan dengan tuan senior, sama seperti yang lain."
"Ini Ivory, istriku. Sekretaris utama perusahaan tersebut, walau sekarang sudah tidak lagi."
"Ini Dragon, calon penerus Birawa Group. anak ku."
"Mereka yang ada ini, pertama adalah Iron, pemimpin pengawal keluargaku, sekaligus ketua pertama dari ribuan anak buahnya itu."
"Ini Hans, si tangan kilat, ini Burgon, James dan Erisha, yang sudah kau kenal."
"Mereka yang diluar itu, semua adalah para pengawal keluarga ku. Apakah sekarang kau percaya Sidiq?" Tanya Dion dengan ekspresi dingin
"Saya mana berani untuk tidak percaya tuan besar!. Kehebatan Birawa Group, sudah tidak bisa diragukan lagi."
"Saya merasa sangat beruntung sekali, karena telah bertemu dengan orang orang hebat Birawa Group!" Responnya penuh kekaguman
"Ini istriku Deliana. dan ini Elviana, putri sulung ku. dan yang satunya lagi Arion. Mereka berdua kembar." Ucap Sidiq dengan ekspresi senang
"Baguslah kalau begitu. Dengan demikian kita sudah saling mengenal." Respon Dion juga turut senang
__ADS_1
"Sekarang persiapkan dirimu. Untuk menerima mandat pengembalian perusahaan mu ini!" Ucap Dion penuh Wibawa