
Pelabuhan B kota L sekitar pukul 7.45 malam, tiga hari setelah mereka kembali dari kota Hongkong
Nenek Elina dan keluarganya, yang menaiki kapal penyebrangan itu, saat ini telah sampai di pelabuhan B kota L
Seperti yang diceritakan sebelumnya, setelah mereka sampai di Indonesia, mereka belum tahu ke mana akan pergi
Rencana semula, mereka akan pergi ke pulau K, dan menetap di sana, tetapi Jasmine menolak rencana itu
Karena perdebatan yang tak kunjung selesai, lagian mereka masih berada di areal bandara, maka Danish mengusulkan, agar mencari taksi dulu, untuk membawa mereka ke kota JB, dan mencari penginapan disana
Satu sampai dua hari itu, Jasmine tetap bersikeras, tidak mau ikut nenek dan orang tuanya, pergi ke distrik KA kota L itu
Dia bersikeras tetap ingin tinggal di kota B, di mana Dion berada
Tapi atas pertimbangan yang cukup masuk akal, akhirnya Jasmine menerima saran dari ibu dan adiknya tersebut, agar dia mau ikut neneknya ke pulau S, dan menetap di tempat lamanya dulu
Hari ketiga setelah mereka tinggal di penginapan itu, sebelum pukul 12 siang, mereka sudah keluar dari penginapan tersebut, dan memutuskan pergi ke terminal KD, dengan menggunakan taksi online
Setelah sampai di terminal itu, mereka menunggu sekitar 2 jam lebih, karena bus yang akan mereka tumpangi ke pelabuhan M itu, jadwalnya pukul 3 sore baru berangkat
Sekitar pukul 3.05 sore, bus itupun berangkat ke pelabuhan M, dan sampai di sana sekitar pukul 4, 45 sore
Setelah sampai, mereka langsung melanjutkan perjalanannya dengan menumpang kapal penyeberangan, menuju ke pelabuhan B di pulau seberang
Sekitar pukul 7.45 malam, kapal penyeberangan itu pun sampai, kelimanya bergegas keluar, dan menuju bus malam yang tersedia di sana, untuk menuju ke daerah tujuannya masing masing
Dua buah mobil yang dari kota JB terus mengikutinya, penumpangnya tetap mengawasi keberadaan nenek Elina dan keluarganya itu, mereka tidak mau kehilangan targetnya, hanya gara gara lengah
Setelah 10 menit menunggu bus yang ditumpangi oleh kelimanya itu bergerak ke arah barat, dan menuju ke provinsi SS
Kebetulan bus yang mereka tumpangi itu, melewati kota yang akan mereka tinggali itu,Jadi mereka tidak usah bersusah payah lagi mencari kendaraan untuk menuju ke sana, hanya membutuhkan transport umum, yang biasa beroperasi di kota tersebut, mereka sudah sampai di rumah mereka dulu
Di tengah perjalanannya itu, Jasmine menyempatkan diri bertanya. "Nanti setelah sampai di kota KA, kita akan menginap di mana nek?" Tanya Jasmine ragu ragu
Nenek Elina yang matanya sedang terpejam itu, membuka matanya, kemudian berkata..
"Kau diam lah dulu!, nenek mau istirahat, capek!." Jawab neneknya marah
"Ditanya baik baik malah menjawab seperti itu." Protes Jasmine tidak terima
"Jasmine!" Tegur Danish bersuara sedikit keras
"Apa yang dikatakan oleh nenek mu itu benar, dia sedang kelelahan akibat perjalanan jauh, jadi jangan kau ganggu dia!" Sambung Danish dengan lemah lembut
"Masalah dimana kita nanti tinggal, kita lihat saja setelah sampai di sana." Ujar Danish tenang
"Bus ini sampai di kota A sekitar pukul 6 pagi. Apa kita harus menginap di jalanan yah?" Bantah Jasmine kesal
"Ya bukan begitu juga. Kita bisa mencari penginapan di kota itu buat berteduh." Bantah ayahnya menimpali kekesalan Jasmine tersebut
"Lista tahu hotel apa yang ada di kota itu yah, karena Lista pernah di ajak oleh teman Lista, waktu kita masih di kota itu dulu." Ucap Chalista lancar, tapi kening ayahnya sempat berkerut tanda heran
"Baiklah, setelah sampai di sana, kita langsung menuju ke hotel itu." Jawab Danish sambil menguap
__ADS_1
Sementara itu, nenek Elina dan Everly, sudah tidur dari tadi, karena mereka benar benar kelelahan. Padahal hari belum begitu malam
Benar seperti perkiraan Jasmine tadi, bus yang mereka tumpangi sampai di kota KA, pada pagi hari. Rata rata pertokoan, rumah makan dan kafe, belum ada yang buka, karena masih terlalu pagi
Hanya hotel dan penginapan yang tetap buka 24 jam,
Nenek Elina memutuskan, untuk menginap di hotel yang tak jauh dari tempat pemberhentian bus tadi
Karena tidak ada hotel atau penginapan lain yang berdekatan di kota itu, maka mata mata yang terus mengikuti mereka, terpaksa harus menginap di tempat itu juga, tapi mereka bersikap cuek dan pura pura tidak kenal dengan targetnya
Lagipula mereka masuk setelah nenek Elina dan keluarganya itu memasuki kamarnya masing masing
***
Karena hari sudah pagi, tidak ada acara khusus yang mereka lakukan. cuma melakukan kegiatan rutin, seperti sarapan dan minum teh di lobby hotel, begitu juga dengan nenek Elina dan keluarganya itu, yang baru keluar dari kamarnya setelah mandi
"Hari ini kita harus mendapatkan rumah sewa. atau jika memungkinkan, membeli rumah walaupun kecil." Ucap nenek Elina disela sela sarapannya
"Kalau kita berlama lama di sini, maka kita tidak akan bisa membeli rumah, atau minimal menyewanya." Sambungnya lagi dengan ekspresi khawatir
"Kita belum tahu tujuan yang sebenarnya, apakah akan pergi ke rumah kita dulu, atau ke tempat lain." Ucapnya gusar
"Bagaimana kalau kita pergi ke kota lain yang masih berada di kabupaten ini bu?" Usul Danish memberi solusi
"Kota mana yang kau maksudkan itu Danish?" Tanya nenek Elina penasaran
"Di kabupaten ini, ada dua distrik yang tanahnya subur. satu yang sudah pernah kita tinggali, yaitu distrik KA, dan yang kedua adalah distrik MU,
"Tapi apakah ada rumah yang akan dijual dengan harga murah tapi tanahnya luas disana?" Ucap nenek Elina ragu ragu, tapi terkesan berharap
"Danish mana tahu bu, karena belum pernah pergi ke sana." Jawab Danish menghempaskan harapan dari ibunya tersebut
"Kalau begitu!, hari Ini juga, kau pergilah ke sana, dan coba cari informasi, apakah ada tanah atau rumah yang akan dijual di daerah pedesaan nya, dengan harga murah " Usul nenek Elina pada Danish
"Baik bu!." Jawab Danish singkat
"Tapi nek!, dari mana uang yang digunakan untuk membeli rumah dan tanah tersebut?" Tanya Chalista ingin tahu dan merasa khawatir
"Bukankah uang kalian masih banyak?. Kau gunakanlah uang itu untuk membeli rumah!" Jawab neneknya kesal
"Tapi Lista juga punya kebutuhan nek!" Protes nya marah
"Apakah kau lebih mementingkan kebutuhan mu daripada tempat tinggal kita?" Bentak nenek Elina dengan suara tinggi, hingga membuat tamu hotel yang sedang sarapan menoleh kearahnya
Lista tidak berani menjawab, karena dia merasa ucapannya memang salah. Sedangkan Jasmine dan ibunya, dari tadi hanya diam saja
"Apakah kira kira uang kalian berdua masih cukup, kalau digunakan untuk membeli rumah?" Tanya nenek Elina setelah bisa mengontrol emosinya tersebut
"Tergantung rumahnya nek!. Kalau rumah sederhana, mungkin bisa, tapi kalau rumah mewah, ya nenek pikirlah sendiri." Respon Jasmine sangat menohok sekali
"Kita cari yang pertengahannya saja. Mudah mudahan, ada rumah yang dijual murah di sana." Ucap nenek Elina mengharap
Percakapan itu, didengar oleh mata mata yang selalu mengikutinya. Mereka dengan seksama menganalisa, setiap kata yang diucapkan oleh keluarga nenek Elina tersebut
__ADS_1
Siapa sebenarnya mereka itu? Kenapa selalu mereka membuntuti nenek Elina dan keluarganya sejak dari bandara?"
Ternyata mata mata itu adalah orang orangnya Burgon, yang ditugaskannya untuk terus memantau pergerakan dari nenek Elina tersebut, atas perintah Dion
Sebenarnya sejak dari Hongkong, mereka terus diawasi, walaupun jumlahnya tidak sebanyak semula
Burgon, hanya menugaskan kepada 4 orang anak buahnya saja, untuk tetap mengawasi nenek Elina itu. Setelah kelompok lain pulang ke negaranya. baru mereka berempat dikirim ke kota Hong Kong sebagai pengganti
***
Sore harinya, Danish pulang dari Kota MU dalam kondisi kelelahan, karena di kota MU itu, dia lebih banyak berjalan kaki, dari satu tempat ke tempat lain, hanya sekedar untuk mencari informasi, apakah ada rumah berikut tanahnya yang akan dijual di sana
Tapi sampai tengah hari, usahanya belum juga membuahkan hasil
Danish merasa putus asa, karena apa yang diinginkan oleh ibunya itu, mungkin tidak bisa terkabul
Karena merasa haus dan lapar, dia berhenti di sebuah warung kecil, yang menjual jajanan hari hari, tapi ada juga menjual nasi, lengkap dengan lauk pauknya
Setelah duduk, dia memesan minuman dan makanan untuk disantapnya, karena dia merasa lapar sekali
Ketika Danish tengah asyik menyantap makanannya, dari meja yang tidak jauh darinya itu, ada dua orang laki laki paruh baya, yang sedang berbincang bincang dengan suara lumayan keras
Di dalam pembicaraan itu, mereka ada menyinggung, bahwa di pinggiran Kota MU sebelah barat, ada sebuah rumah yang mau dijual dengan harga murah, karena penghuninya sudah tidak mau lagi tinggal di sana
Walaupun tanahnya luas dan rumahnya lumayan besar, tapi banyak warga pinggiran kota itu, tidak berminat untuk membelinya
Mendengar pembicaraan itu, Danish menjadi penasaran, kemudian menyudahi makannya, dan mendekati meja kedua orang laki laki tersebut, lalu berkata..
"Apakah saya boleh duduk disini pak?" Tanya Danish dengan sikap ramah
"Oh silakan!" Jawab salah seorang di antara mereka sambil menyelidik
"Kalau boleh tahu, kalian ini siapa, dan sedang membicarakan apa?" Tanya Danish membuka pembicaraan
"Oh itu, Kami sedang membicarakan tentang, sebuah rumah di pinggiran kota ini, yang mau dijual oleh pemiliknya. Tanahnya cukup luas, dan rumahnya pun lumayan besar, harganya pun murah." Jawabnya lancar
"Di mana itu, dan berapa harga jualnya?" Ucap Danish semangat
"Apakah bapak berminat?" Tanya laki laki itu
"Ya, sangat berminat. Aku sengaja ke kota ini, karena ingin mencari rumah yang akan dijual. siapa tahu berjodoh." Ucapnya terus terang
"Kebetulan sekali!. Kalau begitu, Apakah bapak mau melihat rumah tersebut?" tanya laki laki itu lagi
"Oh tentu saja!. Silakan tunjukkan jalannya!" Jawab Danish setuju
"Kalau begitu mari ikut kami!" Ucap laki laki tersebut senang
Di tengah perjalanan, salah seorang dari 2 laki laki tersebut, bertanya kepada Danish, dengan ekspresi keheranan
"Apakah bapak yakin ingin membeli rumah itu?" Ujarnya sambil menggeleng
"Ya aku yakin!. Memangnya kenapa?"
__ADS_1