
"Bagaimana tuan Birawa bisa ada di kota P ini?. Ada urusan apa mereka kemari?" Tanya Bagaspati keheranan
"Kalau untuk itu aku tidak tahu, karena aku tidak sempat untuk menanyakannya." Jawab Anggoro enteng
"Dion kecil yang kita kenal dulu .sekarang telah tumbuh menjadi orang hebat. Tatapan matanya sangat menakutkan kan sekali!" Respon Anggoro apa adanya
"Kalau mereka ada disini. Pasti ada urusan penting yang akan mereka selesaikan." Ucap Bagaspati menebak saja
"Atau jangan jangan!. Mereka sedang mencari kita!" Ucap Bagaspati takut
"Menurutku itu tidak mungkin!. Karena nampaknya Dion tidak mengenali ku waktu itu. Apalagi kau!?" Bantah Anggoro cepat
"Semoga kedatangan mereka, bukan untuk mencari kita, dan bukan awal dari kehancuran kita."
"Aku takut, kalau tuan Birawa akan menagih hutang kita. Jika itu terjadi. maka lebih separoh usahaku akan menjadi miliknya, Karena semua uang yang aku pinjam dulu, aku curahkan sepenuhnya untuk usaha itu." Ucap Bagaspati lemah
"Bagaimana kalau kita temui tuan Birawa langsung, untuk meminta keringanan?" Usul Anggoro cukup berani
Tok! tok! tok!
Terdengar tiga kali ketukan di pintu, yang daun pintunya sudah terbuka separoh. Anggoro dan Bagaspati, serentak menoleh kearah pintu tersebut, dan mendapati seorang pengawal keluarganya sedang berdiri disana
"Masuk!" Ucap Anggoro tegas
"Ada apa?" Tanya Anggoro garang
"Diluar ada empat orang pengawal yang mengaku utusan dari tuan Birawa, katanya ingin menemui tuan ." Jawab pengawal itu cepat
"Apa!. Lalu apa yang kau katakan pada mereka?" Respon Bagaspati sangat terkejut sekali
"Saya menyuruh mereka untuk menunggu. Apakah mendapat izin masuk atau tidak dari tuan." Jawab Pengawal itu apa adanya
"Dasar bodoh!. Kenapa kau tak katakan, bahwa tuan mu sedang tidak ada di rumah!" Bentak Bagaspati marah
"Saya ... saya!" Jawabnya gugup
"Bodoh!" Maki Bagaspati semakin marah
"Sudahlah dik!. Sebaiknya kita temui mereka, dan tanyakan apa maksud kedatangannya kemari.." Ucap Anggoro mencoba menenangkan Bagaspati
'Huh!. Dasar sial!" Respon Bagaspati masih tetap saja marah
Setelah berkata seperti itu, Anggoro dan adiknya keluar dari dalam rumah, dan menemui mereka yang masih berada diluar pagar
__ADS_1
"Buka pintu pagarnya!" Perintah Anggoro tegas, ketika melihat kearah pintu yang masih tertutup rapat itu
Begitu pintu sudah terbuka, Anggoro segera meminta keempat pengawal itu untuk masuk ke halaman rumahnya
"Kami utusan dari tuan besar. Datang kesini untuk memberitahu, bahwa kalian berdua, besok pagi di perintahkan untuk menghadap tuan Birawa dan tuan besar Dion, di Grand Sriwijaya Hotel!" Ucap seorang utusan tanpa berbasa lagi lagi
"Kalau boleh tahu, ada urusan apa tuan kalian itu memanggil kami?" Tanya Bagaspati merasa tidak senang
"Kami hanya diperintahkan untuk menyampaikan perintah itu saja. Selebihnya akan kalian tahu setelah datang." Jawab utusan itu tegas
"Bagaimana kalau kami menolak?" Tanya Bagaspati membangkang
"Maka bersiap siaplah untuk mati!" Sambut utusan itu tegas. Kemudian tanpa menoleh lagi, meninggalkan halaman rumah Anggoro dengan cepat
"Kurang ajar!. Dia pikir dia siapa?. Seenaknya main perintah orang untuk menghadap!. Memangnya dia bos kita?" Gerutu Bagaspati kesal
"Hati hati kalau berbicara Gas!. Salah salah kau bisa mati, karena kemarahan mu itu!" Bentak Anggoro marah
"Apa kau tak merasa terancam, kalau diharuskan mengembalikan uang pinjaman kita itu?" Tanya Bagaspati khawatir
"Mau bagai mana lagi!. Kita memang berutang uang pada tuan Birawa. Yang namanya hutang, ya harus di kembalikanlah!" Jawab Anggoro cukup bijaksana
"Lagian kita sudah memakai uang itu cukup lama, mungkin hampir 20 tahun, bahkan mungkin lebih!. Ya wajar kalau sudah saatnya tuan Birawa menagih uang pinjaman itu!" Ucap Anggoro lagi memberi pengertian pada adiknya tersebut
"Aku akan melawan!. Anak buah ku banyak!. Aku yakin, akan bisa mengatasi anak buahnya yang cuma sedikit itu." Jawab Bagaspati yakin, bakal mampu melawan kekuatan orang orang nya Dion
"Aku sebagai kakakmu menyarankan, sebaiknya kau datang dulu dengan ku kesana. Setelah kita tahu apa yang diinginkan oleh tuan Birawa itu, baru kita berbicara. Atau mengusulkan untuk melakukan penangguhan pengembalian hutang hutang kita itu."
"Jika kau nekat melawan. aku yakin, kau dan seluruh keluargamu akan mereka habisi."
"Ingat!. Kau baru sebulan ini menikah. Apa kau tak sayang masa masa indah mu dengan istri barumu itu akan berakhir, dan musnah begitu saja?" Ucap Anggoro ketus
Bagaspati terdiam mendapat saran seperti itu. Dalam hati sebenarnya dia membenarkan, apa yang dikatakan oleh kakaknya itu memang benar adanya.
Tapi dasar manusia sombong, sekaligus pembangkang. Dia tetap memilih untuk melawan dari pada harus menyerah tanpa melawan
Mengandalkan jumlah pengawalnya yang banyak tersebut, Bagaspati mengira, bahwa dia akan menang jika harus berhadapan dengan Dion atau tuan Birawa
"Aku tetap tidak mau datang!, walau apapun resikonya. Kalau mau berperang, ya berperang lah!"
"Jika bentrokan memang benar benar terjadi. Aku yakin, anak buahku akan memenangkan pertarungan itu!" Respon Bagaspati dengan yakinnya
"Aku sudah memperingatkan mu Gas. Tapi ternyata kau lebih memilih untuk hancur. Jadi jangan kau salahkan kakakmu ini, jika kau dan keluargamu akan mereka habisi. Ingat itu?" Ucap Anggoro kesal
__ADS_1
"Kau lihat saja!. Siapa yang akan menang dalam pertarungan itu!" Jawab Bagaspati tetap meremehkan peringatan dari kakaknya itu
***
Mansion mewah milik Bagaspati. Sekitar pukul 9 malam
"Jadi!. Orang yang bernama Birawa itu dulunya adalah bos papa.dan Dion itu cucunya?" Tanya Merviana, atau Biasa dipanggil Meri tersebut penasaran
"Benar ma!..Mereka satu keluarga." Jawab Bagaspati lemah
"Jadi besok papa harus menghadapnya. Begitu?" Tanya Meri kurang senang
"Itulah yang papa bingung kan sampai saat ini. Antara menuruti perintah dari tuan Birawa atau membangkang. papa belum bisa memutuskan lagi."
"Kalau papa tetap nekat membangkang. papa yakin kita akan dihabisi. tapi kalau papa datang. papa khawatir tuan Birawa akan meminta uang yang papa pinjaman darinya itu."
"Coba mama bayangkan, kalau seluruh pinjaman itu diminta kembali, walau tanpa bunga sekalipun, maka separoh lebih perusahaan kita, akan menjadi milik tuan itu. Karena jumlah pinjaman tersebut lumayan banyak."
"Inilah yang papa takutkan selama ini. Sudah enak enak membuka usaha. tapi hasilnya malah untuk orang lain!" Ucap Bagaspati kesal
"Menurut mama. papa jangan datang besok. Kita lihat, apa yang Birawa bisa buat pada kita. Kalau benar dia mau menghabisi kita, ya kila lawan!. Tak mungkin kita diam saja!" Usul istrinya mencoba mempengaruhi pendirian suaminya itu
"Berkata memang gampang ma!. Walau anak buah kita itu banyak. tapi papa jadi tidak yakin, kalau mereka bisa melawan, apalagi menghabisi anak buah Birawa itu!" Sanggah Bagaspati pesimis. Padahal sebelumnya sangat yakin sekali
"Papa tenang saja. aku sudah menyiapkan 300 orang dari kelompok hantu malam. Kekuatan mereka sudah tidak bisa diragukan lagi." Ucap Meri menenangkan hati suaminya itu
"Bagaimana mama bisa merekrut mereka kedalam kelompok kita?. Padahal selama ini papa sangat sulit mendekati kelompok itu.?"
"Jangankan merekrut, untuk bertemu dengan mereka saja sangat sulit. Karena kelompok itu sangat misterius sekali. bahkan markasnya tidak diketahui" Ucap Bagaspati keheranan
"Kalau masalah itu gampang saja bagi mama. Kedua orang tuaku berasal dari sana. Bahkan ayahku menjadi ketua dua dalam kelompok itu." Jawab Meri enteng dan apa adanya
"Apa!? Jadi mama anak si Torangga yang sangat terkenal itu?" Tanya Bagaspati terkejut
"Benar!. Saat ini ayahku menjadi wakil pertama di kelompok itu. Maka papa tidak perlu takut kalau si Birawa atau Dion itu akan menyerang kita." Jawab Meri enteng
"Kalau benar jumlah orang orang kita semakin banyak, papa jadi tidak ragu lagi untuk menentang perintah dari Birawa itu!" Jawab Bagaspati semangat
"Kalau begitu, sebaiknya malam ini juga kita pergi menemui ayah ku. karena dia sudah tahu permasalahan mu. Jadi dia berniat membantu menantunya ini, agar tidak kena masalah."
"Tapi kenapa selama ini, mama merahasiakan keberadaan mereka. Kalau papa tahu bahwa mama bukan orang sembarangan, maka papa tidak akan berani berbuat macam macam pada mama." Ucap Bagaspati merendah
Merviana atau meri itu tidak menjawab atau mengiyakan, tapi dia malah merespon candaan dari Bagaspati itu dengan mencubit lengan suaminya. Kemudian menarik tangannya, agar mendekat. Lalu tiba tiba Meri mengecup pipi suaminya pertanda senang
__ADS_1
"Ayo kita pergi!" Ucapnya tiba tiba