Sang Pewaris Tunggal

Sang Pewaris Tunggal
66. Saatnya untuk mereka tahu


__ADS_3

Dion menghentikan gerakannya, untuk masuk ke dalam mobil, lalu menunggu apa yang akan di katakan oleh orang yang telah menghentikannya itu


"Maaf kalau nenek lancang bertanya. Apakah kau sekarang telah menjadi orang kaya, atau keturunan orang kaya, yang menyembunyikan jati dirinya selama ini pada kami?" Ucap nenek Wolf menduga duga, lalu kembali melanjutkan berkata


"Tapi kau dan suamiku, sengaja menyembunyikannya pada kami selama ini, hingga mata kami jadi buta, tidak mengetahui jati dirimu yang sebenarnya." Sambungnya lagi, diam sejenak untuk mengambil nafas, lalu berkata lagi


"Kalau benar kau anak orang kaya, atau memang orang kaya, lalu siapa kau sebenarnya, dan siapa orang tuamu itu?" Ucapnya tanpa jeda. diam kembali untuk mengambil nafas, lalu melanjutkan perkataannya


"Dan satu lagi, apakah mobil mewah itu milikmu?" Tanya nenek Wolf ragu ragu, tapi cukup puas, karena telah melontarkan sekian banyak pertanyaan kepada Dion, hanya sekedar untuk menghilangkan rasa penasarannya selama ini


Dion diam sejenak, tidak langsung menjawab pertanyaan itu, dia hanya mengedarkan pandangannya ke arah mereka semua.


di situ dia mendapati, semua yang ada di dekat nenek Wolf, juga sedang menunggu jawaban dari Dion


Didalam hatinya membatin." Apakah aku harus berterus terang kepada mereka, tentang jati diriku yang sebenarnya sekarang, tapi apa manfaatnya?".


Namun benaknya berkata lain."Untuk apa juga meladeni mereka itu, toh tidak akan merubah keadaan mereka sedikitpun."


Dilema?.Ya, itulah kata yang pantas disematkan pada Dion saat ini. Antara hati dan pikirannya tidak sejalan, di satu sisi, hatinya membenarkan, tapi di sisi lain akalnya menolak. Ah cuek sajalah, pikir Dion, lalu tetap masuk ke dalam mobilnya


"Dasar penipu!" Ucap seseorang tanpa berpikir panjang lagi, hingga membuat Dion tercekat diam dalam mobilnya


Antara meladeni perkataan tersebut, atau tetap diam dan pergi tanpa membela diri, saling berkecamuk dalam benak Dion


Kata kata tersebut memang sangat merendahkan kehormatan seseorang. Kalau menurutkan kata hati, ingin rasanya merobek mulut orang yang telah mengucapkan kalimat itu


Tapi Dion lebih memilih untuk tidak meladeni ucapan tersebut, dia memutuskan untuk langsung pergi saja dari hadapan mereka


Tapi sekali lagi tapi, bukan Dion namanya kalau tidak merespon kata kata yang sangat merendahkan dirinya tersebut


Dion segera keluar dari mobilnya, lalu berkata." Aku tidak ada lagi urusan dengan kalian, dan aku juga tidak punya kewajiban apa apa untuk menjelaskannya."


"Tapi di sini aku perlu meluruskan, bahwa aku bukan pengecut seperti yang kau katakan itu perempuan manja!" Ucap Dion sambil mengarahkan pandangannya ke arah Chalista, dengan tatapan dan niat membunuh yang sangat besar


Chalista yang ditatap seperti itu jadi gemetaran, dia tidak menyangka, bahwa ucapan spontannya itu akan membuat Dion jadi begitu marah padanya


Nenek Wolf, Danish, Everly juga Brian, terkecuali Jasmine juga menyesali ucapan Chalista tersebut. Mereka menyadari apa yang akan Dion lakukan pada mereka nanti, akibat ucapan Chalista yang sangat merendahkan itu


Sekitar setengah menit kebisuan itu berlangsung, Dion masih tetap menatap kearah Chalista dengan pandangan menusuk dan mengintimidasi

__ADS_1


Kalau saja yang mengucapkannya itu Brian, maka dia tidak akan berpikir dua kali untuk tidak mengajarnya


Tapi pantang bagi Dion, untuk menjatuhkan tangannya pada seorang perempuan kalau tidak terpaksa


Karena terlanjur sudah mendapatkan pertanyaan yang sangat banyak tersebut, Dion memutuskan, untuk berterus terang saja, dan berpikir, Inilah saatnya untuk mereka tahu, siapa aku yang sebenarnya


Kemudian dengan memposisikan diri sebagai orang yang berkuasa, Dion berdiri tegak dengan gagahnya. Aura orang kaya yang dipancarkan oleh penampilannya benar benar terasa


Mereka berenam yang menunggu ucapan dari Dion, menjadi harap harap cemas, mereka berharap, ucapan Dion akan bisa memuaskan mereka


Ditengah menunggu itu, tiba tiba Dion berkata dengan tenangnya


"Apa yang kau katakan itu memang benar adanya. Aku memang seperti apa yang kau tanyakan itu, tapi kau tidak perlu tahu siapa orang tuaku yang sebenarnya." Jawab Dion hingga mengejutkan mereka semua


"Cukup kalian ketahui saja, bahwa aku bukanlah Dion yang dulu, yang bisa seenaknya kalian tindas, kalian bully dan hina sesuka hati kalian lagi"


"Aku sekarang sudah berbeda, dengan satu ucapanku saja, maka aku bisa membuat dunia bersujud pada ku."


"Boleh dikatakan, seluruh kota B, berada di bawah kendali ku, dan masih banyak lagi yang tidak bisa aku ceritakan pada kalian."


"Tapi satu hal yang perlu kalian tahu, terutama kau Brian, apa yang aku punya ini, bukanlah hasil merampok dari harta kekayaanmu yang tidak seberapa itu, tapi memang sebelumnya telah ada padaku."


"Orang yang kau sangka gembel, pecundang, pengangguran dan sampah tidak berguna ini, benar benar telah mampu membeli mobil mewah, yang terparkir di sebuah ruangan khusus, dengan harga dua juta dolar Amerika."


"Mobil itulah yang sekarang kupakai dan terparkir di sana."


"Mobil mewah itu, telah membuat orang orang di kota B ini silau, mungkin termasuk kalian."


"Mengenai bagaimana kalian bisa menjadi gelandangan seperti ini, sebaiknya kalian pikirkan sendiri. Permisi!" Ucap Dion mengakhiri penjelasannya, kemudian bergegas masuk ke dalam mobil, dan melajukannya di jalanan menuju ke kota Golden City


Sepeninggal Dion, tidak ada satupun yang bersuara, sampai sekitar 1 menit kemudian, terdengar sebuah keluhan panjang dari Chalista


"Huuuhhh!.. Untung tidak terjadi apa apa, aku sangat takut tadi." Ucap Chalista lega


"Kau sendiri yang bodoh! kenapa berani beraninya berkata seperti itu pada Dion." Sanggah Everly geram


"Kalau dulu kau bolehlah berkata seperti itu, tapi sekarang, jangan coba coba lagi, nenek saja takut melihat sorot matanya tadi." Sambung nenek Wolf mengingatkan


"Sungguh ibu tidak menyangka Jasmine, bahwa mantan suami mu itu, sebenarnya adalah anak orang kaya atau memang dari dulunya dia kaya."

__ADS_1


"Ibu lah yang bersalah dalam masalah ini, karena ibu terus menerus menghina, membully dan memaksa mu untuk bercerai dan menikah dengan orang lain."


"Apa yang ibu katakan itu memang benar, Dion dulu memang pecundang dan sampah tidak berguna." Sambung Brian menyela ucapan mertuanya dan berniat ingin mengambil hati


"Diam kau!. Kalau saja kau bukan suami Jasmine sekarang, maka aku akan merobek mulut mu!" Hardik Everly garang kepada Brian


"Kau dulu memang kaya, makanya ibu sangat ingin agar Jasmine bercerai dengan Dion dan menikah denganmu."


"Tapi tak kusangka, pernikahan kalian itu malah menjadi kesialan bagi seluruh keluarga kita."


"Aku benar benar menyesal dalam hal ini."


"Dan kau juga Danish, kau dari dulu hanya diam saja, tidak mencegah istrimu untuk tidak terus memaksa Jasmine untuk bercerai dengan Dion." Ucapnya menyalahkan orang lain


"Kenapa kau malah menyalahkanku?. bukankah sudah kukatakan dulu, bahwa alasan kakek menikahkan Jasmine dengan Dion pasti mempunyai alasan tertentu, tapi kau tetap saja memaksa Jasmine untuk bercerai dengannya, karena kau perempuan gila harta!" Jawab Danish membela diri


"Apa katamu!. Jaman sekarang, kalau kita tidak mempunyai harta, apa yang bisa kita lakukan?" Sanggah Everly tak mau kalah


"Kau lihat kita sekarang, kita ini sudah benar benar jadi pengemis, gelandangan, dan sampah tidak berguna. Kata kata ini dulu yang selalu kita lontarkan kepada Dion, tapi sekarang malah berbalik kepada kita sendiri." Ucap Everly menyesali diri


"Nenek juga sangat berperan penting dalam permasalahan ini. Nenek juga merasa bersalah dan menyesal, karena tidak menyelidiki jatidiri Dion yang sebenarnya."


"Kakek sudah pernah mengatakan kepada ku, alasannya menikahkan Jasmine dengan Dion, tapi nenek tidak percaya sama sekali pada ucapan suami nenek sendiri."


"Tapi sekarang, semua perkataan kakek telah menjadi kenyataan. Kalau dulu nenek mempercayai ucapan kakek itu, maka nasib kita tidak akan jadi seperti ini sekarang."


"Keadaan yang telah memaksa nenek dan kita semua, untuk melakukan penghinaan pada Dion selama setahun lebih."


"Sekarang nenek hanya bisa menyesalinya, begitu juga dengan kalian, tapi nasi sudah menjadi bubur, tidak ada yang bisa kita kerjakan lagi sekarang."


"Satu satunya cara adalah, mendapatkan kata maaf dari Dion, agar dia mau memberikan modal kepada kita untuk mengembangkan usaha kita kembali."


"Tapi apakah itu mungkin, Dion sangat membenci keluarga kita sekarang, itu terbukti dari sorot matanya ketika menatap kita semua." Ucap nenek Wolf tak bersemangat


"Apakah nenek ingat ketika saat nenek mengusirnya dari rumah kita dulu?, bukankah dia pernah mengatakan, bahwa dia akan membalas kan dendamnya, dan bertekad akan membuat kita menjadi gelandangan, pengemis serta sampah tidak berguna di jalanan?" Tanya Chalista tiba tiba, untuk mengingatkan neneknya


"Nenek rasa kau benar Lita, mungkin saja Dion yang telah menjadikan kita seperti ini." Jawabnya


"Tapi sudahlah, semua sudah terjadi, sekarang yang perlu kita pikirkan adalah, mencari makan dan memohon belas kasihan orang lain, untuk memberikan uangnya kepada kita. Ayo kita mengemis lagi."

__ADS_1


__ADS_2