
Karena sudah terlama lama berada dalam mall itu, dengan hasil hanya sebuah guci antik. membuat Ivory merasa tidak enak hati pada suaminya tersebut
Untuk menghilangkan rasa bersalahnya itu, Ivory mengajak Dion untuk singgah ke kafe yang ada di dalam mall itu, untuk sekedar melepaskan dahaga dan lain sebagainya
"Pa!. Yok kita ke kafe itu. Mama dan Draco ingin minum!" Rengek Ivory pada Dion
Dion hanya diam saja. Tidak merespon permintaan dari istrinya itu. Pandangannya tertuju lurus ke arah depan, seperti sedang memperhatikan sesuatu.
"Ada apa pa?. Kenapa wajah papa jadi tegang seperti itu?" Tanya Ivory penasaran
"Tidak ada apa apa sayang!." Jawab Dion singkat
"Kalau tidak ada apa apa. kenapa wajah papa jadi setegang itu?. Katakan pa, ada apa?" Desak Ivory dengan perasaan khawatir
Dion tidak langsung menjawab pertanyaan dari istrinya tersebut, tapi malah memberi kode pada Ivory untuk diam. Tapi tak lama sesudah itu dia berkata.
"Coba kau lihat kedua orang itu!. Dari tadi sepertinya mereka terus mengawasi kita!"
"Sikap mereka yang seperti itu, membuat papa jadi geram. Ingin rasanya langsung mendatangi mereka, dan memberi pelajaran, agar tidak berani berbuat macam macam lagi pada kita."
"Tapi sayangnya ini dalam mall, di kota orang pula. Maka papa terpaksa harus menahan marah, karena terus dikuntit seperti ini!"
"Tadi waktu mau masuk kedalam toko barang antik itu, secara tidak sengaja, papa melihat mereka sedang memandang kearah kita. Walau sebenarnya itu wajar."
"Tapi ketika kita ada disini. mereka sepertinya terus ada. Papa jadi penasaran, siapa mereka dan apa maunya pada kita?" Ucap Dion lirih pada Ivory
"Kalau menurutkan kata hati!. ingin rasanya menghajar mereka!."
"Tapi ini mall, dikota orang pula. Maka mau tak mau, papa harus menahan marah!" Jawab Dion dengan ekspresi kesal
"Kalau benar mereka mengikuti kita, tapi untuk apa pa?" Sanggah Ivory menafikan kesimpulan Dion itu
"Apakah kau lupa kalau kita ini banyak musuh?, yang selalu ingin menjatuhkan kita dengan berbagai macam cara?"
"Ya. sayang Ivo paham. Maaf karena terlalu senang hingga membuat Ivo jadi tidak waspada." Jawab Ivo menyesal
"Ayo pa kita duduk dulu, dari tadi berdiri saja. Pegel juga kaki nih, apalagi anak kita itu!" Ucap Ivory mengajak Dion untuk duduk dan mengajak Dragon untuk ikut serta
"Draco!. Ayo kesini, cepat duduk!" Panggil Ivory pada anaknya, agar segera mendekat
"Ya bu!" Jawab nya singkat, kemudian mendekati kedua orang tuanya tersebut
"Kalian berempat!. Cepat duduk di meja sebelah ini. jangan berdiri seperti itu!" Perintah tegas Ivory pada keempat pengawal pribadinya tersebut
"Baik!" Jawab Anjani, Ling Chia, Ling Hwa serta Ling Ma, serempak, dan bergegas menuruti perintah dari majikannya itu, dengan duduk di meja sebelah tuannya tersebut
"Bersikaplah sebagai pengunjung biasa. Diseberang sana ada dua orang yang sedang mengawasi kita!" Ucap Ivory pada keempat pengawal itu, tanpa melihat mereka lagi
Sebagai seorang pengawal tingkat tinggi. Keempatnya tidak bergeming, atau menoleh kearah orang yang ditunjuk oleh tuannya itu. Mereka malah sibuk memberi kode dengan anggukan kepala, tanda mengerti dengan perintah Ivory
Sementara itu. Dion juga memberi perintah pada pengawal lain, agar bersikap tenang, tidak menunjukkan jati diri mereka sebagai seorang pengawal
"Hans!. Perintahkan 4 anak buah mu, untuk memisahkan diri, dan awasi kedua orang yang berdiri didekat gerai handphone itu. satu memakai baju warna warna krim, dan yang satunya lagi memakai baju warna abu abu."
__ADS_1
"Aku curiga mereka sedang mengikuti kita." Bunyi sms yang dikirimkan oleh Dion pada Hans barusan
"Siap tuan besar!" Balas Hans cepat. kemudian memberi kode pada empat anak buahnya untuk pergi dari situ, dan pura pura menuruni eskalator untuk turun ke lantai bawah
Setelah turun, mereka menuju tangga manual, yang ada di sudut mall dan menaikinya
"Kita menyebar!. dan terus awasi keberadaan mereka, siapa tahu masih ada yang lain selain mereka!" Perintah komandan pengawal itu tegas.
"Siap bos!" Jawab mereka serempak
Tak sampai dua menit. dua orang pengawal Dion mendekati mereka. dan tanpa basa basi lagi memepet keduanya, lalu menodongkan senjata api kearah perut mereka. sambil berkata.
"Kalau kau anggap, bahwa orang yang dari tadi kalian awasi tidak tahu perbuatan kalian, maka kalian salah besar!"
"Coba kalian lihat kesekeliling!. Posisi kalian sudah dikepung, dan sangat mustahil bagi kalian untuk melarikan diri!"
"Bergerak sedikit saja, mati!. Pistol ini dan yang mereka sembunyikam itu semuanya berperedam, Maka bekerjasamalah dengan kami!"
"Katakan!. Untuk apa kalian mengikuti tuan besar kami?" Tanya Bhisma marah
"Siapa sebenarnya kalian?. Kenapa kalian bisa mengetahui bahwa kami sedang mengawasi kalian?" Tanya salah seorang diantara mata mata itu ketakutan
"Jawab saja jangan malah bertanya!" Bentak Bhisma kesal, sambil menekan pistol yang dipegangnya kuat kuat keperut Denny. mata mata tersebut
"Kami suruhan dari...!"
Des!
Tiba tiba saja kaki Denny menginjak kaki Bhisma kuat kuat, hingga membuatnya kesakitan. dan kehilangan konsentrasi
Kesempatan itu digunakan oleh Denny untuk melarikan diri, begitu juga dengan temannya itu
"Sialan!.Aku kecolongan!. Memalukan sekali!" Maki Bhisma kesal, kemudian memberi kode pada bawahannya untuk mengejar
Peristiwa itu tentu saja membuat pengunjung mall menjadi heboh, sekaligus terkejut. Apalagi Dion dan Ivory.
Mereka tidak menyangka, bahwa orang tersebut akan melakukan itu, dan berani melarikan diri ketika sedang ditodong dengan senjata api
Seperti di film film action. Kejar kejaran segera terjadi diantara mereka. Sesekali keduanya hampir tertangkap, tapi dengan licinnya kedua orang itu melepaskan diri
Kondisi mall yang cukup ramai pagi menjelang siang itu, menyulitkan langkah pengawal Dion untuk menangkap mata mata tersebut. Sebaliknya bagi mata mata itu, mereka sangat diuntungkan oleh kondisi seperti itu
Karena pengunjung terlalu ramai. Mau tidak mau enam orang pengawal yang mengejar mata mata itu. harus ekstra hati hati, agar tidak sampai menabrak atau mencelakai pengunjung mall.
Apalagi ketika berlari, keduanya menjatuhkan apa saja yang ada didepan mereka, agar langkah pengejarnya menjadi terhalang
"Berengsek. Dasar pecundang!" Maki seorang pengawal kesal, karena langkahnya terhalang oleh kardus besar yang ada di tepi tangga itu
"Berhenti!. Mau lari kemana kalian?" Teriak pengawal itu kuat
Teriakan itu tidak diperdulikan oleh mata mata itu. Mereka tetap saja berlari menuruni tangga, yang menuju tempat parkir
Tapi langkah mereka mendadak terhenti, Karena empat orang pengawal Dion. sedang menodongkan pistol kearah mata mata itu. Mau tidak mau mereka harus berhenti juga daripada harus mati tertembak
__ADS_1
"Kurang ajar!. kalian telah berani mempermainkan kami!" Teriak Bhisma marah
Buk! Buk!
"Uuugghhh!"
Tubuh kedua orang itu terdorong kebelakang, hingga menabrak mobil yang ada dibelakangnya. Dari mulut mereka keluar darah segar, akibat terkena pukulan kuat dari Bhisma
"Tangkap mereka! dan masukkan kedalam mobil kita!" Perintah Bhisma tegas
"Berhenti, dan angkat tangan kalian!" Teriak seseorang dengan suara kuat. tak jauh dari lokasi para pengawal itu
Serempak semuanya menoleh kearah orang yang barusan berteriak tersebut, dan mendapati ada enam orang satpam, yang berpakaian ala polisi itu
Bergegas mereka mendekati para pengawal Dion, dengan langkah bagai orang berkuasa dan kuat. Tapi begitu sudah dekat, timbul keraguan dihati mereka masing masing
"Ada apa kalian menghentikan tindakan anak buah ku?. Apakah ada masalah bagi kalian?" Tanya Bhisma tegas, dengan aura penuh intimidasi
"Kami mendapat laporan, kalau telah terjadi kerusuhan dalam mall ini. Apakah kalian semua penyebabnya? Tanya kepala satpam mall tersebut dengan suara pelan
"Ya. Anak buahku sedang berusaha menangkap kedua orang ini. karena kami curiga mereka mempunyai niat yang kurang baik pada tuan besar kami!" Jawab Bhisma apa adanya
"Kalau begitu tolong serahkan mereka pada kami. Biar kami saja yang menangani mereka." Sambut kepala satpam terkesan memaksa
"Itu tergantung dari jawaban mereka dulu. Setelah kami tahu apa alasan mereka mengikuti tuan besar kami, maka mereka akan kami serahkan pada kalian!" Jawab Bhisma dingin
"Kejadian ini terjadi diwilayah wewenang kami, Maka kamilah yang berhak menanganinya. Jadi tolong serahkan mereka agar secepatnya diproses."
"Mohon kerjasamanya dari kalian, agar bisa menjadi saksi atas tuduhan kalian itu." Ucap kepala satpam tersebut dengan ragu ragu
"Sudah aku katakan. aku ingin mendengar dari mulut mereka langsung, apa alasan mereka terus mengikuti kami?"
"Kalau bukan karena niat yang kurang baik, mana mungkin mereka memata matai tuan besar sejak dari masuk ke mall ini." Respon Bhisma masih tetap bersikap dingin. kemudian mendekati kedua mata mata tersebut, dan langsung berkata.
"Cepat katakan!. Siapa yang telah menyuruh kalian melakukan itu?" Tanya Bhisma dengan suara kuat
"Kami.!.kami..!"
Dor!
Dor!
Bruk! bruk!
Dua kali bunyi tembakan menggema di tempat parkir itu, dan mengenai kedua mata mata tersebut, Tembus ke dada mereka. Seketika tubuh keduanya ambruk, dan tak lama kemudian, mati
Sedetik kemudian, dua buah mobil terlihat meninggalkan areal parkir bawah tanah itu dengan kecepatan tinggi. Bunyi ban mobil ketika bersentuhan dengan lantai parkir, terdengar sangat memekakkan telinga
Dari dalam mobil, penumpangnya sempat melepaskan lima kali tembakan kearah para pengawal dan satpam tersebut, tapi tidak ada satupun peluru yang mengenai mereka
Berkat adanya mobil mobil di areal parkir itu, nyawa mereka jadi selamat. Tapi sebaliknya, dua buah mobil kacanya pecah diterjang peluru nyasar
"Siapa mereka?, Kenapa membunuh orang sendiri?" Batin Bhisma dalam hati
__ADS_1