
"Ada masalah apa kau tarik tarik kakak seperti ini?"
"Apakah ada berita besar dik?" Tanya Ivory penasaran
"Bukan besar lagi kak, tapi sangat besar!" Jawab Emily melebih lebihkan masalah
"Masalah apa itu, cepat ceritakan pada kakak?" Respon Ivory benar benar ingin tahu
"Itu si Rudolf!. Seminggu yang lalu dia mendatangi ku?" Jawab Emily cukup gamblang, tapi malah membuat orang lain bingung
"Mendatangi mu, untuk apa?" Tanya Emily belum nyambung juga
"Menyatakan perasaannya padaku!" Jawab Emily berterus terang
"Hahahaha. Kakak pikir masalah besar apa?. Buat kaget saja!" Respon Ivory geli
"Apa itu bukan masalah besar kak?" Tanya Emily sewot pula
"Itu bukan masalah dik, tapi keberuntungan!" Jawab Ivory enteng
"Keberuntungan bagaimana?. Coba katakan dimana untungnya kak?" Bantah Emily malah ngotot
"Setidaknya kau laku dan tidak jadi perawan tua. Tahu?" Jawab Ivory sekenanya
"Ha?"
"Laku!. Perawan tua?. Memang Lily seburuk itu kak?" Ucap Emily protes
"Kalau bukan perawan tua apa namanya adikku?"
"Kau itu hampir kepala tiga, atau jangan jangan lebih?"
"Kalau tahun depan kau belum juga menikah, maka kau resmi dikatakan perawan tua tau!" Ucap Ivory apa adanya
"Aduh!. Padahal aku masih ingin sendiri, karena lebih tenang!"
"Tapi mendengar kata perawan tua, mengiris juga nih hati!" Respon Emily ragu ragu dan takut
"Jadi apakah kau masih ingin tetap bertahan, atau menerima lamaran dari si Rudolf itu?" Tanya Ivory ingin tahu
"Sebenarnya Lily ingin agar kak Dion yang melamar Lily, bukan Rudolf!" Jawab Emily serius, tapi di buat bercanda saja, sambil tersenyum genit
"Enak saja!. Kak Dion itu milik kakak tahu?"
"Apa salahnya berbagi kak?"
"Hus tak boleh. Dia punya kakak seorang!"
"Awas kalau kau berani merebutnya. Kakak gulai nanti!" Ucap Ivory juga serius
Tapi dia tahu adik angkatnya itu memang selalu bercanda dengannya, dan terkesan sangat manja sekali. Berbanding terbalik kalau sedang dalam tugasnya, sebagai seorang sekretaris
Sikap dan pembawaan Emily sangat serius, dan terkesan berwibawa. Banyak jajaka yang ingin mendekatinya, tapi semuanya mundur teratur, ketika tahu statusnya yang tinggi tersebut
Tapi berbeda dengan Rudolf, dia tidak mau tahu. Semakin hari cintanya semakin besar, dan tidak ada niat untuk mundur, bahkan sejak Emily tinggal di kota B, dia sudah menyukainya, tapi berusaha dipendamnya sendiri dalam hati
Seminggu lalu Rudolf memberanikan diri untuk mendatangi Emily, dan tanpa berbasa-basi lagi, langsung menyatakan perasaannya pada Emily
Emily yang mendengar itu tentu saja shock sekaligus kagum, atas keberanian dari Rudolf tersebut
Dalam hatinya berbunga bunga, tapi masih penuh dengan keraguan
Datang tanpa diundang, datang tanpa rencana, tanpa persiapan, langsung menyatakan cinta pada Emily. Apa tidak shock itu namanya
"Terus apa tanggapan mu ketika si Rudolf menyatakan perasaannya padamu?" Tanya Emily tiba tiba
"Jelas saja Lily tolak!. Eh bukan, meminta waktu untuk menjawabnya!" Jawab Emily apa adanya
"Pantas saja Rudolf ketakutan, saat kakak mu itu, memintanya agar membawa calonnya tersebut, untuk di kenalkan pada keluarga kita?"
"Ternyata itu adik." Ucap Ivory kebingungan
"Apa?!.Kak Dion berkata seperti itu, dan dia ingin bertemu dengan calonnya si Rudolf itu? Gilak!" Respon Emily kaget
"Kenapa gila, bukankah itu bagus?" Tanya Ivory tak mengerti
"Bagus di mananya kak?. Wong aku tidak punya perasaan apa apa pada si Rudolf itu!" Protes Emily kesal
"Tidak atau belum?" Tanya Ivory tegas
__ADS_1
"Tidak!. Eh belum!" Jawab Emily ragu ragu
"Nah!. Itu berarti kau masih bisa menerimanya!" Ucap Ivory menohok sekali
"Jadi?" Tanya Emily bingung
"Ya terima saja!. Repot amat?" Jawab Ivory cepat
"Masalahnya bukan itu kakak ku yang cantik!. Tapi Lily memang belum ada perasan apa apa pada si Rudolf itu!"
"Kalau Lily langsung menerimanya, sama saja nikah karena terpaksa, atau terpaksa menikahi tuan pengawal karena tidak laku!"
"Hahahaha!" Tawa Ivory pecah, karena candaan dari Emily tersebut, yang menurutnya sangat lucu sekali, walau tidak terlalu kuat
"Kenapa kakak malah tertawa, Lily serius tau?" Protes Emily pura pura merajuk
"Ya kakak tahu!. Tapi tumben kau mendadak jadi bodoh begini?"
"Sekretaris utama Birawa Group, yang tegas, lugas dan berdedikasi tinggi, sekarang malah menjadi seorang gadis bodoh, ketika dihadapkan pada pilihan cinta menerima atau tidak." Ucap Ivory penuh ejekan
"Langsung sajalah pada intinya kak!. Apa yang harus aku lakukan, kalau kak Dion tetap memaksa agar Rudolf membawa calonnya itu?" Protes Emily ingin kepastian
"Kenapa kau malah bertanya sama kakak?"
"Kau sendiri yang bisa menjawabnya, karena jawabannya ada pada mu!"
"Maksud kak Ivo?"
"Kau cinta atau tidak sama Rudolf?"
"Tidak! Eh tak tahu!" Jawab Emily ragu ragu
"Kalau begitu sudah sangat jelas. Tinggal kau temui saja kakak mu itu, dan katakan yang sebenarnya. Beres!" Respon Ivory tegas
"Maksud kakak, Lily harus menemui kak Dion untuk berterus terang. Begitu?"
"Ya!. kenapa tidak!. Kau harus tegas, kalau mau bilang mau, kalau tidak ya bilang tidak!"
"Kenapa kakak katakan demikian?. Agar Rudolf tidak terlalu berharap pada mu!"
"Kalau kau masih tarik ulur begitu, tentu dia berpikir bahwa kau hanya ingin meminta waktu bukan menolaknya!" Jawab Ivory cukup mantap
"Jangan besok, sekarang!" Desak Ivory garang
"Tak mau!. Lily sedang sakit perut. Mau pulang!" Respon Emily jutek tapi sedih. Kemudian meninggalkan tempat itu untuk kembali ke villanya
***
Sementara itu, Rudolf yang hanya menjadi kambing hitam, dari keengganan adiknya tersebut, saat ini tengah dilanda kebingungan. Pasalnya dia tidak mampu menghadirkan calon yang barusan dikatakannya itu besok
Bukan hanya tidak bisa, tapi memang benar-benar tidak bisa, karena calonnya itu baru ada dalam khayalannya saja
"Bagaimana Rudolf?. Bisakah kau bawa calon mu itu besok, dan kenalkan para kami?" Tanya tuan Birawa terkesan memaksa
"Sa.. saya!" Jawab Rudolf gugup
"Kenapa gugup?. Apakah kau takut calon mu itu jelek?" Tanya Dion pula hingga menambah kegugupan dari pengawalnya itu
"Maaf tuan besar, tuan senior kalau saya menyela!" Ucap Tiger memotong pembicaraan mereka
"Silakan paman!" Respon Dion cepat
"Calon yang dikatakan oleh anak saya ini, baru ada dalam khayalannya saja. Dan itu belum nyata tuan besar!" Ucap Tiger berterus terang
"Calon khayalan?. Maksudnya bagaimana ini paman?" Respon Dion bingung
"Dia menyukai seorang wanita, tapi wanita itu tidak meresponnya. dan baru di khayal kan saja olehnya!" Jawab tiger berbelit Belit, tapi Dion mampu menangkap maksudnya
"Siapa wanita itu?. Biar aku yang mewujudkannya!" Ucap Dion tegas khas penguasa
"Selamat malam kakek, kak Dion, dan semuanya!"
"Maaf!, Lily tidak bisa ikut bergabung dengan kalian!" Ucap Emily mengagetkan mereka
"Kau mau kemana Lily, dan mana istri kakak?" Tanya Dion kesal
"Tuh ada di dalam. Lily sakit perut, jadi harus buru buru pulang ke villa!" Jawab Emily cuek
"Tunggu dulu!. Apakah kau bisa membantu kakak memecahkan persoalan yang kami hadapi ini?" Ucap Dion mencoba menahan Emily agar tidak pergi
__ADS_1
"Jawabannya gampang saja kak!. Tidak bisa dan sampai kapanpun tidak bisa!"
"Kalau pun mau dipaksakan juga, itu harus melalui ujian berat dulu!" Jawab Emily membingungkan semua
"Maksud mu?" Tanya Dion malah bingung sendiri
"Tuan besar!. Nona itulah wanita yang ada dalam mimpi anak ku!" Ucap Tiger menjelaskan teka teki ucapan Emily itu
"Apa?!. Benarkah itu Rudolf?" Tanya Dion marah
"Be be b benar tuan besar. Dialah orangnya!" Jawab Rudolf takut takut
"Beraninya kau!" Bentak Dion emosi. Kemudian berniat berdiri untuk memberi pelajaran pada Rudolf, walau di situ ada orang tua juga saudaranya
"Cucu ku!. Tahan emosi mu!. Jangan bertindak di luar batas!" Ucap tuan Birawa mencoba meredakan kemarahan dari cucunya itu
"Kau tidak boleh marah seperti itu!. Mencintai itu adalah hak setiap orang, termasuk juga si Rudolf ini!"
"Jika kau tidak setuju!, kau tidak boleh bertindak dengan sewenang wenang!"
"Emily hanya adik angkat mu, bukan saudara kandung mu!" Ucap tuan Birawa berapi api
"Dion tahu kek!. Tapi kenapa mereka tidak mengatakannya pada ku, kalau mereka punya hubungan?" Jawab Dion membela diri
"Siapa yang bilang kami punya hubungan?. Terjadinya saja baru satu minggu, dan itupun hanya bertemu sekali saja!" Bantah Emily kesal
"Apa yang dia lakukan?" Tanya Dion penasaran
"Dia secara gentleman mendatangi ku, dan mengutarakan isi hatinya. Itu saja!" Jawab Emily ketus
"Terus!. Apakah kau menerimanya" Tanya Dion cepat, dengan terus mencecar dengan berbagai macam pertanyaan, pada adik angkatnya itu
"Jelas saja tidak!" Jawab Emily apa adanya
"Kenapa?" Tanya Dion kurang senang
"Karena aku tidak mencintainya, dan bertemu pun cuma sekali!" Jawab Emily berterus terang
"Bagus!. Jawaban mu cukup tegas dan jelas, dan menggambarkan, bahwa kau punya kepribadian kuat!" Respon Dion dengan ekspresi kagum
"Maksud kakak?" Tanya Emily keheranan
"Tidak ada maksud apa-apa!. Tapi kalau kakak boleh memberikan usul, sebaiknya kau beri kesempatan kepada si Rudolf ini, untuk meyakinkan hatimu, bahwa dia adalah laki laki yang tepat buatmu!" Jawab Dion malah membela Rudolf
"Maaf tuan besar kalau saya lancang!. Apa maksud dari perkataan tuan besar tadi?" Ucap Rudolf memberanikan diri bertanya
Dia berani bertanya seperti itu, karena belum lama dia mendengar, bagaimana marahnya tuan besar, saat mengetahui bahwa saudara angkatnya, punya hubungan khusus dengan dirinya, padahal itu belum juga terjadi
Tapi barusan juga dia mendengar, tuan besarnya mengatakan, jika Emily akan lebih bagus, kalau memberikan waktu baginya, untuk meyakinkan saudara angkatnya tersebut agar memilihnya menjadi calon suami
Bukankah itu plin plan namanya?. Mana yang harus diikuti?. Apakah tuan besar Dion, hanya sekedar menguji nyali nya saja, atau memang benar-benar marah?. Itu masih butuh pengujian
"Apakah kau mau tahu alasanku Rudolf?" Tanya Dion tegas
"Benar tuan besar!. Mohon penjelasannya!" Jawab Rudolf berharap
"Baik!. Aku akan jawab pertanyaan mu itu!. Dan kau Emily!. Kau juga dengarkan baik-baik!"
"Alasan ku berkata seperti itu, karena aku ingin tahu, seberapa besar tekad dan niat laki-laki yang ingin mendapatkan saudara saudaraku!"
"Jika belum apa-apa sudah menyerah, maka lebih baik mundur saja!"
Keluargaku harus ada yang bisa melindungi. Jika orang itu lemah, sekali lagi aku tegaskan, lebih baik tidak usah dan mundur saja sebelum terlambat!"
"Dan kau Rudolf!. Sepertinya kau lulus dalam ujian ini. Tapi kau jangan terlalu berharap banyak!"
"Walaupun perasaanmu begitu dalam pada Emily adikku itu, tapi jika dia tidak memilih mu, maka kau tidak boleh sakit hati, dan harus bersikap gentlemen juga!"
"Apakah kau paham Rudolf?" Ucap dan tanya Dion tegas
"Saya paham dan mengerti tuan besar!. Dan saya akan bersikap lapang dada, jika apa yang telah saya utarakan kepada nona Emily, tidak mendapatkan tempat di hatinya!" Jawab Rudolf mantap
"Bagus!. Itu jawaban yang ingin aku dengar darimu!" Respon Dion senang
"Lalu bagaimana denganmu Emily?. Apakah masih ada kesempatan bagi Rudolf ini, untuk mendapatkan perhatianmu?" Tanya Dion ingin tahu
"Untuk saat ini, Lily belum bisa menjawabnya kak. Jadi tolong beri kesempatan dan waktu untuk Lily memikirkannya." Jawab Emily berterus terang
"Kau dengar itu Rudolf!. Berusahalah sekeras mungkin. Yakin kan adik ku itu, agar membuka hatinya untukmu!"
__ADS_1