
"Tolong bawa kami masuk om, kami lapar!" Jawab salah seorang dari anak pengemis itu dengan wajah polos, tanpa memperdulikan pertanyaan Dion sebelumnya
Deg!
Jantung Dion bergetar kencang begitu mendengar ucapan dari anak tersebut, pikirannya kembali ke masa masa sulit ketika berada di panti asuhan dulu, makan sering dibatasi atau dijatah, karena keterbatasan persediaan makanan
Namun kali ini bukan keterbatasan makanan lagi, tapi sudah tidak ada sama sekali, maka Dion pun tanpa pikir panjang lagi mengangguk tanda setuju, untuk membawa kedua pengemis kecil itu masuk, ke dalam rumah makan yang ada di depannya itu
Tapi sebelum sempat melangkah, terdengar sebuah teguran halus dari arah samping." Jangan dibawa mereka kak! kalau tidak mau terkena masalah!" Ujarnya khawatir
Dion menoleh ke samping, dan "Emily!" Ucapnya terkejut
"Kenapa kau berada di sini?Siapa mereka berdua ini" Tanya Dion bersambung sambung, pada orang yang barusan menegurnya, yang ternyata adalah Emily
"Tu..tuan muda Dion!" Sahut Emily kaget
Sesaat mereka berdua terdiam, dengan masing masing saling membatin dalam hati, dan kikuk menghadapi situasi yang tidak terduga itu, tapi tiba tiba..
"Om, apakah jadi membawa kami kedalam, karena kami sudah sangat lapar sekali!" Tegur anak perempuan kecil, sambil menarik narik tangan Dion
Dion jadi tersadar dari lamunan sesaatnya itu, kemudian menjawab dengan tersenyum. "Ayo kita masuk! dan kau juga Lili!" Ucap Dion tegas
"Tunggu tuan muda!"
"Suuuuttt! Dion memberi kode pada Emily untuk tidak membantah, dan memanggilnya tuan muda, karena pada saat ini, dia sedang dalam mode penyamaran
Emily hanya mengangguk tanda mengerti, lalu mengikuti langkah Dion untuk masuk kedalam rumah makan tersebut, sambil kepalanya celingak celinguk kesana kemari memastikan, bahwa kekwatirannya itu tidak terbukti
Tapi sekali lagi tapi, langkah mereka kembali terhenti, ketika mendengar sebuah suara yang cukup keras dari arah belakang mereka
"Berhenti!. Mau dibawa kemana anak anak ku itu, ha!. apakah kalian ingin menculiknya?" Bentak seseorang yang berlari kencang ke arah mereka, dibelakangnya menyusul 6 orang yang berpakaian bagus, tapi berwajah sangar
Dion yang tidak menyadari situasi, tentu saja bingung, kenapa orang yang sedang berlari ke arahnya itu mengatakan bahwa dia adalah orang tua kedua pengemis kecil itu, padahal pakaian yang dikenakan nya cukup bagus
Sedangkan pengemis kecil ini pakaiannya kumal, sudah banyak yang robek sana sini,. Sungguh pemandangan yang kontras!. batin Dion dalam hati
Sementara Emily menggigil ketakutan,begitu juga dengan kedua pengemis itu. Dalam hati mereka berdua membatin, habis sudah!. Emily juga mengatakan demikian
Tak lama kemudian, orang yang berlari tadi sampai di hadapan Dion, langsung membentaknya dengan kasar ."Berani beraninya kau menculik anak anak ku!. Tak tahukah kau siapa aku?" Ujarnya sambil terengah engah
Dion tidak langsung menjawab, tapi mengedarkan pandangannya kepada kedua anak itu, seperti sedang meminta penjelasan dari mereka, dengan anggukan kepala, tapi tidak didapatkannya. Kemudian beralih memandang lelaki yang mengaku sebagai orang tua pengemis kecil itu
"Cepat jawab, siapa kalian?. kenapa membawa kedua anakku ini?" Bentaknya mendominasi
__ADS_1
"Sekarang aku tahu, kau adalah orang yang suka mengekploitasi anak anak jalanan, untuk di jadikan pengemis, untuk kepentingan sendiri atau kelompok!" Ucap Dion mengabaikan pertanyaan orang itu tadi
"Kurang ajar!. ditanya malah balik bertanya!" Ucapnya marah, sambil memberi kode kepada keenam rekannya yang baru sampai, untuk menyerang Dion
"Tunggu!" Bentak Dion tenang
"Katakan! siapa kalian dan dari kelompok mana?" Tanya Dion menghentikan gerakan mereka
"Kau cukup pintar juga!, kalau tidak mau berurusan dengan pihak berwajib atau dengan kami, lebih baik kalian serahkan uang yang kalian bawa itu, maka drama penculikan ini dianggap tidak ada!" Jawab pemimpin kelompok itu dengan arogannya
"Ternyata orang yang sudah bosan hidup!" Batin Dion dalam hati
"Kenapa diam?. cepat serahkan dompet kalian, kalau tidak!" Ancamnya, sampai menakutkan anak kecil yang mereka ekploitasi itu
"Om, tante!. Cepat lari, selamatkan diri kalian, Dia bukan orang tua kami, tapi orang jahat! mereka sering paksa Rara dan kak Raka untuk mengemis. Cepat lari om!" Ucapnya ketakutan
"Kurang ajar, dasar pengemis busuk!" Ucap orang yang bernama Bangor itu marah, sambil mendekati anak yang bernama Rara itu, untuk dipukulnya, tapi, Buk!
Sebuah bogem mentah dari Dion mendarat tepat di wajah Bangor, hingga membuat tubuhnya terhuyung mundur beberapa langkah kebelakang
Dengan wajah memerah menahan sakit, dia berujar kasar kepada Dion. "Dasar brengsek, badjingan!. Cepat hajar dia, dan tangkap perempuan itu untuk dijual. Cepat!" Teriaknya marah pada Dion dan memerintahkan bawahannya untuk menyerang Dion
Slash ! slash ! slash !
Slash ! slash ! slash !
Segera setelah itu, puluhan orang berlarian menuju ke arah Dion dan Emily, dengan Hans dan Robin yang duluan sampai di depan Dion
"Tuan muda!"
"Tuan muda!"
Ucap mereka beriringan menyapa Dion. Tak lama sesudah itu, puluhan anak buahnya datang dan langsung memberi hormat pada Dion
Dion hanya mengangguk, dan meyerahkan urusan Bangor itu pada Hans dan Robin untuk menanganinya. Dia malas meladeni cecunguk busuk seperti itu, lalu berkata. "Sisir seluruh wilayah pinggiran kota B ini, dan bersihkan sampah sampah sepertinya, jangan biarkan hidup!" Ujar Dion sambil menunjuk Bangor dengan telunjuknya, kemudian mengajak Emily, Raka dan Rara untuk masuk kedalam
Bangor yang melihat keenam anak buahnya mati menjadi terkejut sekali, mau marah tentu saja takut, mau menyerang Dion apalagi. Tubuhnya hanya menggigil di tempat, tidak menyangka akan mendapatkan kesialan yang sangat besar hari ini
Biasanya pekerjaannya memeras orang dengan memanfaatkan kedua pengemis kecil itu selalu berhasil, tapi kali ini tidak, malah kesialan yang dia dapatkan
"Cepat tangkap dan bawa sampah ini, untuk menunjukkan markasnya dan menghancurkannya!" Ujar Robin dingin pada puluhan anak buahnya itu
"Siap bos! Jawab mereka serempak
__ADS_1
Tubuh Bangor segera mereka tangkap. Setelah mengajarnya beberapa kali, sampai membuatnya berdarah darah, baru di bawa pergi entah kemana
***
Didalam rumah makan, meja sudut dekat jendela, lantai dua, disitulah sekarang Dion berada, bersama dengan Emily, Raka dan Rara, sedang menikmati hidangan yang ada di atas meja mereka, yang barusan diantar oleh pelayan rumah makan tersebut
Sambil menikmati makanannya, Dion bertanya kepada Emily dengan mimik keheranan." Bagaimana kau bisa sampai disini, Lili? Bukankah daerah ini sedikit berbahaya? Ucapnya
"Maafkan saya tuan muda!" Jawab Emily takut takut, tidak lagi menutup nutupi jati diri Dion lagi
"Kalau bukan dalam urusan dinas, jangan panggil aku tuan muda, tapi cukup panggil kakak saja, dan itu pun kalau hanya ada kita berdua!. Paham?" Sanggah Dion tidak senang
"Ba...baik tuan muda, maksud saya kakak!" Jawab Emily terbata bata
"Nah begitu lebih baik. Sekarang ceritakan, dan jawab pertanyaanku tadi, kenapa kau bisa sampai berada di sini?" Sambung Dion mengulangi lagi pertanyaannya
"Di libur seperti ini, biasanya Lili mengunjungi saudara sepupuku juga saudara ibuku, yang tinggal tidak jauh dari rumah makan ini. itu makanya Lily bisa berada di sini." Jawabnya apa adanya
"Tapi kalau boleh Lili tahu, kenapa kak Dion berpenampilan seperti itu, dan keluyuran di daerah kumuh seperti ini?" Tanya Emily penasaran
"Hari ini aku berperan sebagai orang biasa, yang ingin menjalani kehidupan seperti kedua anak ini juga yang lain." Jawab Dion apa adanya sambil nyengir
"Kalau begitu Lili paham." Tanggapnya sambil mengangguk pelan
"Tapi..!" Ucap Emily terputus, karena terdapat keraguan di wajahnya, untuk meneruskan pertanyaan nya pada Dion
"Kalau ada sesuatu yang ingin kau ketahui dan tanyakan, silakan ungkapkan saja!" Kata Dion santai
"I...i..itu kak, tentang perubahan status kakak yang secepat ini. Beberapa bulan lalu bukankah kakak baru berpisah dengan Jasmine, tapi kenapa tiba tiba kakak bisa menjadi seperti ini?" Tanya Emily penasaran dan ingin tau
Dion terdiam sesaat, tidak langsung menjawab pertanyaan dari Emily itu, tapi tak lama kemudian, Dion bersuara lemah...
"Kalau untuk pertanyaan seperti itu, maaf kalau aku tidak bisa menjawabnya secara lengkap, karena kalau diceritakan akan sangat panjang, cukup kau tahu saja, sekarang ini, aku Dion bukan orang biasa, dan yang tidak mudah ditindas oleh siapa pun lagu, sekarang aku telah berubah. Itu saja!"
"Dan satu lagi, jangan pernah menyimpan keraguan terhadapku, juga posisiku sekarang ini. Cukup kau tahu saja, bahwa aku Dion, adalah pewaris satu satunya dari keluarga Mahesa Birawa, pemilik Birawa Group." Jawabnya santai
"A..apa!. Jadi tu..tu..tu..tuan, eh maksudku kak Dion adalah..?"
"Ya seperti itulah jawaban nya. Jadi jangan di tanya tanya lagi!. Oke!"
"Baik kak dan maafkan Lili karena telah tidak sopan menanyakannya pada kak Dion hari ini."
"Ya sudahlah!. Ayo kalian berdua dan kau Lili, teruskan makan kalian, hari ini aku yang traktir!" Jawab Dion senang
__ADS_1
"Terima kasih kak!" Jawab mereka serempak, sambil melanjutkan makannya