Sang Pewaris Tunggal

Sang Pewaris Tunggal
Salah paham


__ADS_3

"Santai saja kak, jangan serius gitu!" Respon Nirmala enteng, sambil tersenyum renyah


"Apa aku tidak salah dengar?. Orang kasar dan jelek seperti ini, bisa di sukai orang?" Tanya Bumi keheranan


"Siapa yang bilang kalau kakak itu jelek dan kasar?. Malah sangat imut kalau sedang sedih gitu!" Jawab Nirmala dibawa bercanda saja


"Hahahaha!" Respon Bumi senang sekaligus geli


Baru kali inilah ada seorang wanita yang mampu membuatnya tertawa terbahak bahak seperti itu, hingga orang orang yang ada di sekitarnya memandang mereka dengan ekspresi keheranan, termasuk juga Langit dan yang lainnya


"Tumben Bumi bisa tertawa lepas begitu. Apakah gadis tersebut penyebabnya?" Batin Langit dalam hati


"Ada apa kak, apakah orang yang tertawa itu kawan kakak?" Tanya Melati Anastasia penasaran


"Benar seperti kata adik. Orang itu memang sahabat kakak, bahkan sangat dekat sekali." Jawab Langit berterus terang


"Kalau boleh adik tahu, siapa dia kak?" Tanya Melati bertambah penasaran


"Bumi!, pengawal elit level tinggi pada keluarga Tuan besar dan tuan Birawa."


"Berarti kakak?"


"Ya!, dan maaf kalau baru mengatakannya."


"Kakak adalah seorang pengawal tuan besar Dion dan keluarganya!"


"Masih belum terlambat untuk adik mundur. Mumpung hubungan kita belum terlalu jauh." Ucap Langit mencoba bersikap tegar


"Bukan begitu kak!. Adik cuma terkejut saja, dan tidak menyangka, orang yang sangat terkenal di kalangan para pengawal, ternyata saat ini ada di depan adik!" Jawab Melati dengan jujurnya


"Benarkah begitu dik?" Reaksi Langit cepat, dan kembali lega


"Benar sekali kak!. Adik tidak bohong!" Jawab melati apa adanya, hingga membuat Langit menjadi semakin lega


"Tapi kalau boleh tahu, dengan siapa adik ke sini tadi, apakah adik datang sendiri?" Tanya Langit ingin tahu


"Oh tentang itu!. Kebetulan adik diantar oleh papa, dan sekarang dia sedang bersama dengan tuan besar yang kakak katakan tadi." Jawab Melati berterus terang dan jujur


"Memang siapa papa adik, kalau boleh kakak tahu?" Tanya Langit penasaran


"Papa Wijaya, teman baik tuan senior!" Jawab melati apa adanya


"Apa!" Reaksi Langit terkejut bukan kepalang, tapi bisa di simpannya dalam hati


"Oh Tuhan!. Ternyata gadis ini adalah orang yang telah di bohongi oleh si Vincent brengsek itu!" Batin hati Langit kurang senang


"Ada apa kak?. Kenapa wajah kakak tiba tiba tegang begitu?" Tanya Melati penasaran


"Oh tidak ada apa apa!. Cuma terkejut saja!" Jawab Langit mencoba berbohong


"Terkejut kenapa?. Apa ada yang salah dari perkataan adik tadi?" Ujarnya ingin tahu


"Tidak ada. Hanya terkejut saja. Sungguh!" Jawab Langit hampir salah bicara


"Kalau boleh tahu, apakah kakak kenal dengan papa ku?" Tanya Melati atau yang selalu dipanggil Tasya itu ingin tahu


"Jelas sekali kenal!. Karena seminggu yang lalu, ada bertemu dengannya, saat bersama dengan tuan senior dan tuan besar.!"


"Oh ternyata begitu!. Kenapa adik sampai lupa ya?, apa yang terjadi seminggu yang lalu?" Respon Tasya begitu adanya


"Apakah adik tidak mengingatnya sama sekali?" Tanya Langit sekedar menguji


"Ya kak!. Adik tidak mengingat apapun dan peristiwa apapun selama setahun ini."


"Apakah adik juga tidak mengingat kakak?" Tanya Langit sekedar menggoda


"Huh!"


"Auw!" Teriak Langit tiba tiba dan sedikit kuat, ketika Tasya spontan mencubit perutnya


"Bilang sekali lagi adik akan nangis!" Ucap Tasya pura pura merajuk


"Baik! baik!. Kakak janji tidak akan mengatakannya lagi!" Jawab Langit dengan ekspresi senang, dan berusaha menjauh agar tidak kena cubit lagi


Tapi tanpa terduga, Tasya atau melati, dengan cepat merangkul tangan Langit, dan menyandarkan kepala di bahunya


Kejadian itu tentu saja membuat Langit terkejut, tapi buru buru menyadarinya, dan membalas sikap manja yang ditunjukkan oleh Melati, dengan membelai kepalanya lembut, dengan niat memberi kedamaian pada pasangannya


"Lihat mereka!. Kenapa bisa akrab begitu, padahal baru pertamakali berjumpa dan berkenalan?" Ucap Nirmala merasa iri


"Apakah kamu ingin seperti mereka?" Tanya Bumi sekedar menguji


"Kalau memang ada orang yang peka, kenapa tidak?" Jawab Nirmala menantang


"Tapi aku belum bisa mengabulkannya Nima. Maafkan aku!" Batin Bumi dalam hati dan menyesal

__ADS_1


"Kenapa kak Awan malah diam?. Apakah aku kurang menarik?" Tanya Nirmala sudah merasa tidak senang


"Bukan begitu dik. Cuma.."


"Ah sudahlah!. Cinta memang tidak bisa dipaksakan atau di beli!"


"Teruslah berjuang untuk mendapat bunga dalam jurang itu!, dan abaikan bunga yang sudah ada dalam genggaman!"


"Suatu saat bila bunga itu layu, jangan salahkan dia!"


"Jangan marah bila bunga itu di petik oleh orang lain!"


"Selamat malam!" Ucap Nirmala tegas, dengan ekspresi kecewa. Kemudian bergegas pergi untuk membawa diri


"Tunggu Nima!. Aku belum selesai bicara!" Teriak Bumi kuat


"Tidak perlu!, dan anggap kita tidak pernah bertemu!" Jawab Nirmala kesal, lalu buru buru pergi sambil menangis


"Gawat!. Kenapa jadi begini?. Apakah aku yang terlalu kaku atau tidak peka?"


"Tapi kalau aku melakukannya bagaimana dengan perasaan ku pada Maya?"


"Apakah aku harus mengalah pada Awan, dan merelakan gadisku direbut oleh nya?" Batin Bumi dalam hati. Kemudian berniat pergi dari situ, untuk mengejar Nirmala


Tapi belum juga dia melangkah dari arah belakangnya, ada seseorang yang datang.


Orang tersebut adalah sahabatnya, saingan urusan hati pada Maya


"Ada apa kawan?.Kenapa Perempuan itu marah?" Tanya seseorang yang ternyata adalah Awan.


"Ini semua gara gara kau!" Jawab Bumi ketus


"Gara gara aku?. Memang apa yang telah aku lakukan pada perempuan itu?" Tanya Awan keheranan


"Ini tidak ada kaitannya dengan perempuan tadi, tapi karena ulah mu sendiri!" Jawab Bumi berbelit belit, dan tak mau berterus terang karena kesal


"Ulah ku?.Memang apa yang telah aku perbuat?"


"Kau ngomong jangan berbelit belit gitulah!, aku jadi bingung sendiri!" Reaksi Awan penasaran


"Ah sudahlah!. Usah dipikirkan lagi!"


"Aku lelah dan ngantuk. Aku mau pulang dan tidur!" Jawab Bumi ketus. Lalu pergi dengan terburu buru tanpa menoleh lagi


"Aneh!. Ada apa dengan Bumi, tidak seperti biasanya?" Ucap Awan lirih pada diri sendiri


"Ketua!" Respon Awan cepat


"Katakan!. Ada apa dengan kalian, kenapa Bumi marah seperti itu?" Tanya Orang yang dipanggil ketua oleh Awan, dan dia ternyata adalah Langit


"Aku juga tidak tahu ketua!. Aku mencoba bertanya tentang perempuan cantik itu padanya, tapi entah mengapa dia jadi marah!"


"Apa yang dia katakan tadi?" Tanya Langit ingin tahu


"Bumi mengatakan, bahwa itu semua gara gara aku!" Jawabnya keheranan dan tidak mengerti


"Memang apa yang telah kau lakukan pada perempuan itu, hingga membuat teman kita menjadi marah?"


"Saya juga tidak tahu ketua. Bumi cuma mengatakan, semua ini gara gara aku. Tapi tentang apa tepatnya aku juga tidak tahu!"


"Baiklah kalau begitu!. Nanti setelah dia tenang, kita datangi dia, dan tanyakan tentang permasalahannya."


"Aku tidak mau trio kita pecah. hanya gara gara salah paham!"


"Aku takut tuan besar tahu, dan akan menghukum kita karena itu!" Ucap Langit merasa khawatir


"Baik!. Nanti aku akan mengatasinya. Mudah mudahan semua akan menjadi jelas." Respon Awan mantap dengan tekad kuat


"Oh iya!. Bagaimana usahamu dengan nona muda, apakah ada kemajuan?" Tanya Langit to the poin saja


"Belum ada kemajuan yang berarti ketua!"


"Waktu yang diberikan buat ku masih tersisa satu setengah. bulan lagi." Jawab Awan kurang semangat


"Berjuanglah kawan!. Aku doakan agar usaha mu berhasil, dan kau bisa bersama dengan nona muda." Sambut Langit memberi semangat


"Terima kasih ketua!" Jawab Awan masih dengan ekspresi lemah


"Tapi ngomong ngomong, siapa perempuan cantik yang bersama dengan Bumi tadi, apakah kau kenal?" Tanya Langit ingin tahu


"Saya tidak kenal ketua, karena begitu aku datang, perempuan itu sudah pergi, dan sepertinya mereka habis bertengkar." Jawab Awan apa adanya


"Hum!. Cukup menarik!" Tanggapan Langit penuh mengandung misteri


"Memang ada apa ketua?.Apakah anda mengenal gadis itu?" Tanya Awan malah balik bertanya

__ADS_1


"Kalau aku kenal dengannya, tidak mungkin aku malah bertanya pada mu Awan?" Jawab Langit balas bertanya


"Lalu siapa gadis di seberang sana, apakah ketua sudah mendapatkannya?" Tanya Awan ingin tahu


"Dengar!. Wanita itu adalah Melati Anastasia, yang selalu dipanggil Tasya oleh orang tuanya."


"Dia itu putri dari bapak Wijaya, calon Vincent yang sudah mati terbunuh itu."


"Apa?!" Respon Awan terkejut


"Shut! l. Pelan pelan saja, jangan sampai dia mendengarnya!" Ucap Langit mengingatkan


"Terlambat ketua!. Dia sedang menoleh kemari." Jawab Awan tidak enak hati


"Kau pun satu!. Awas kalau gara gara ucapan mu tadi, membuat dia kembali teringat masa lalunya!" Protes Langit pada temannya


"Tapi ngomong ngomong, apakah obat penenang yang diberikan oleh dewa tabib pada nya itu berhasil?" Tanya Awan penasaran


"Bukan hanya berhasil, malah benar benar berhasil!"


"Dia tidak mengingat apa apa lagi tentang kejadian itu."


"Malah sikapnya biasa biasa saja, dan seperti anak manja." Jawab Langit berterus terang


"Wah ketua sangat beruntung sekali bisa mendapatkannya!" Respon Awan senang


"Beruntung bagaimana?. Aku seperti mendapatkan kucing dalam karung."


"Apakah dia baik atau buruk, kitakan belum tahu?" Jawab Langit berhati hati


"Aku tahu keraguan ketua itu!. Bukankah ketua merasa khawatir, kalau si Vincent telah berbuat macam macam pada gadis tersebut?" Ucap Awan apa adanya


"Dari mana kau tahu?" Tanya Langit penasaran


"Dari kata kata ketua sendiri tadi." Jawab Awan lancar


"Di bagian mananya?" Tanya Langit lagi


"Ah sudahlah ketua!. Yakinlah bahwa anak Wijaya itu masih bersih dan tidak ternoda!"


"Aku jamin dia masih perawan ting ting!


"Hahahaha!" Jawab Awan menggoda ketuanya, lalu buru buru pergi, takut kena tonjok atau pukulan kuatnya


"Huh dasar resek!" Respon Langit kesal, kemudian kembali mendekati Tasya untuk sekedar berbincang saja


***


"Kalian lihat di seberang sana!. Rata rata dari mereka, sudah mendapatkan pasangannya masing masing."


"Lalu bagaimana dengan kita?. Kenapa belum juga mendapatkan pasangan ya?" Ucap Togar pada Delvin dengan ekspresi lemah


"Sabarlah!. Kalau jodoh tidak akan kemana." Jawab Delvin mencoba bersikap sabar


"Jodoh dari mana?. Dari tadi saja tidak ada yang mendekati kita!"


"Sudah satu jam pesta berlangsung, tapi belum juga ada mangsa yang datang." Jawab Togar bernada kesal


"Kalau kita duduk saja di sini dan tidak mencari, mana ada orang yang datang?"


"Lagian kenapa juga kau mau mencari jodoh?, usia mu sudah kepala 6. Jadi jadilah kawan!" Tanggapan Delvin terdengar tidak mengenakkan hati


"Eits jangan salah!. Walau sudah tua, tapi senjata ku ini masih kuat tau?. Sembarangan saja ngomong kalau aku sudah tua!" Bantah Togar marah


"Hehehehe!. Kalau tidak tua lalu apa namanya opung?" Jawab Delvin penuh ejekan


"Sekali lagi kau katakan itu!, aku pukul kau!" Respon Togar benar benar marah


"Sabar kawan jangan marah!. Nanti lekas muda tau!"


"Tuh lihat!. Ada dua orang nani nani yang datang ke arah kita!"


"Sepertinya mereka sedang menuju kemari." Ucap Delvin bersikap cuek


"Mana?. Kenapa aku tidak melihatnya?" Respon Togar senang


"Lihat itu!. Bukankan dua orang tersebut sedang berjalan ke arah kita?"


"Mungkin mereka ingin bergabung dengan kita, atau hanya sekedar lewat saja?" Jawab Delvin dengan niat menggoda temannya


Glug!


"Kau benar mereka sedang menuju kemari!"


"Ayo bersikap jantan, dan berdiri menyambut mereka!" Ucap Togar terlalu semangat, laku buru buru berdiri, sambil merapikan kerah bajunya. Tapi..

__ADS_1


"Selamat malam kek!"


__ADS_2