Sang Pewaris Tunggal

Sang Pewaris Tunggal
Lelaki misterius


__ADS_3

"Uhuk uhuk!. kurang ajar! Nafas ku jadi sesak begini. Dasar licik, penakut!" Maki Barong marah


"Sebaiknya kita keluar bos, kita hadapi mereka. Percuma saja kalau kita tetap bertahan di sini, asap semakin banyak saja masuk ke dalam rumah ini." Saran salah seorang petinggi kelompok itu pada Barong


"Haahh kau benar!. Aku juga sudah tidak tahan dengan bau asap ini, mataku juga sudah perih. Ayo kita keluar!, dan persiapkan senjata kalian masing masing!" Jawab Barong segera


"Terus asapi bangunan ini, tambah bahan bakar sebanyak banyaknya. Aku yakin, mereka tetap akan keluar!" Perintah Leon semangat


"Bos, lihat!. Tikusnya sudah keluar!" Teriak Bumi senang


"Hahahaha!, akhirnya keluar juga kalian!" Tawa Leon juga senang


"Siapa kalian?.Kenapa membakar sampah dekat rumahku?." Bentak Barong pada kelompok Robin dan Leon


"Kami semua pemburu tikus got seperti kalian, yang selalu mengganggu pemilik rumah juga pengguna jalan, serta mengotori keindahan kota!" Jawab Robin enteng


"Kurang ajar!. Apa masalah kalian dengan kami, hingga banyak menghabisi anak buahku yang sedang bekerja?" Tangkis Barong marah


"Masih juga belum mengerti ternyata!. Kami adalah orang yang diutus oleh malaikat pencabut nyawa, untuk mencabut nyawa kalian yang murahan itu. Pengganggu ketentraman orang, pemalas suka menindas, tidak mau bekerja dan lain sebagainya." Jawab Robin dengan entengnya


"Badjingan!.Cepat habisi mereka!" Perintah Barong marah


Robin dan Leon beserta anak buahnya hanya tersenyum sinis, ketika melihat puluhan anak buah barong maju serentak dari berbagai arah


Ada yang membawa parang panjang, pedang, kayu, potongan besi, pisau dan lain sebagainya, bahkan bertangan kosong juga ada


Serentak mereka mengepung anak buah Robin dari berbagai arah, karena setelah mendapat perintah dari bosnya itu, mereka langsung berlarian mengitari kelompok Robin tersebut, walaupun mata mereka masih perih akibat terpapar asap dalam bangunan itu


Merasa jumlah mereka lebih banyak dari kelompok lawan, mereka menjadi besar kepala, dan yakin bisa mengalahkan kelompok lawan nya itu, karena mereka seluruhnya memegang senjata


Tanpa aba aba lagi, anak buah barong segera meluruh ke arah lawan, dengan senjata mereka mengarah ke depan


Pertarungan pun sudah tidak bisa dihindari lagi, dan segera pecah di sana sini


Semangat kelompok barong dalam pertarungan itu, boleh diacungi jempol, sepertinya mereka sudah sangat terlatih sekali. Itu terlihat dari cara mereka melakukan serangan pada lawan, cukup terarah dan terampil, menggunakan senjata yang ada di tangan masing masing


Ditambah lagi jumlah kelompok mereka lebih banyak dari kelompok Robin, maka mereka jauh lebih berani dari yang diperkirakan


Sebaliknya di pihak Robin, walaupun jumlah anak buahnya tidak sebanyak jumlah anak buah Barong, tetapi mereka tidak kesulitan sedikitpun, ketika berhadapan dengan lawan yang dikatakan sangat terampil dan terlatih itu, malah kelihatannya, lebih mendominasi pertarungan tersebut


Pertarungan pun sudah berlangsung selama 3 menit, tapi sejauh ini, Leon dan Robin belum mau turun tangan, begitu juga dengan barong dan 10 anak buahnya yang lain, mereka lebih memilih untuk menonton saja. kalau dirasa perlu, baru mereka akan turun tangan


Langit, bumi dan awan, yang ditugaskan untuk memimpin kelompoknya itu, saat ini tengah bergerak kesana kemari, membantai setiap lawan yang berani berhadapan dengan mereka, menggunakan tangan kosong, atau memanfaatkan senjata lawan yang mereka rampas


Dalam waktu singkat, belum sampai 5 menit, lebih separuh, katakanlah pasukan Barong itu telah mati terbunuh

__ADS_1


Walaupun anak buah Robin tidak menggunakan senjata, tetapi pukulan, tendangan, sapuan kaki dan lain sebagainya yang mereka lancarkan pada lawan, mengakibatkan orang yang terkena serangan itu, akan terpental dan mati seketika


Dalam melakukan serangan tersebut, kelompok Robin tidak main main, mereka sangat serius melancarkan serangannya dengan tenaga penuh, jika berhadapan dengan lawan yang sedikit lebih kuat


Akhirnya setelah delapan menit berjalan, seluruh anak buah Barong telah terkapar di tanah, dengan nyawa yang telah hilang dari badannya


Melihat kejadian itu, Barong dan 10 anak buahnya menjadi marah, tapi kakinya gemetaran, karena melihat bagaimana brutalnya anak


buah Robin, membantai seluruh rekan rekannya dengan sadis


"Sekarang bagaimana?, hanya tinggal kalian saja yang tersisa!. Apakah pertarungan ini akan dilanjutkan atau memilih menyerah saja?" Tanya Robin mengintimidasi


"Pantang bagi kami untuk menyerah, selagi nyawa masih dikandung badan, tidak akan mundur selangkah pun itu prinsip kami!" Jawab Barong berani


"Hebat! hebat! hebat !.Cukup berani!. Ternyata kalian tidak lemah, Seperti yang kami perkirakan!" Puji Robin terus terang


"Aku sangka kalian hanya kelompok pengemis, penindas, pengganggu saja!, ternyata kalian juga dilengkapi oleh petarung petarung yang lumayan kuat itu." Sambung Robin lagi


"Tapi perlu kau tahu! seluruh orang orang mu di merata kota B ini, telah kami basmi, termasuk wakil ketua mu, Bangor!"


"Dari dialah kami mengetahui lokasi markas kalian ini. Sebelum dihabisi, dia membongkar rahasia kelompok pengemis kalian ini. Apakah kau kecewa dengannya?" Ucap Robin panjang lebar


"Sialan! kurang ajar!, ternyata Bangor lah yang telah membocorkan rahasia, padahal selama ini, belum ada yang tahu markas kelompok ku, tapi gara gara Bangor, semua telah terbongkar, dan ini sudah sangat terlambat sekali!" Batin Barong dalam hati


"Aku yakin! dengan adanya mereka, bisa menghadapi lawan atau setidaknya menghabisi separuh di antara mereka!" Batin Barong sambung menyambung


"Cepat katakan! kami sedang terburu buru, dan tidak mau menghabiskan banyak waktu, hanya untuk menghadapi kelompok busuk seperti kalian ini!" Teriak Leon sudah sangat muak sekali


"Kalian semua! cepat habisi orang orang itu, biar aku dan dan Tora yang akan menghadapi orang sombong itu!" Ujar Barong cukup percaya diri


"Robin! kau dan yang lain tidak perlu turun tangan, sesuai keinginan ku, aku ingin melumuri tubuh mereka dengan darahnya sendiri!" Ucap Leon


"Sesuai keinginan mu, tapi sisakan pemimpinnya, karena masih ada yang akan ku tanyakan nanti!" Jawab Robin, sambil mengacungkan ibu jari tangan kanan nya ke atas mengarah ke Leon


"Dengan senang hati!" Sambutnya kegirangan


"Ayo maju!. Tanganku sudah gatal ingin segera menguliti tubuh kalian yang bau busuk itu, Ayo!" Tantang Leon memprovokasi mereka


"Hiaaat. ! Teriak kesepuluh orang itu marah, sambil berlari ke arah Leon dan langsung melancarkan serangan terbaiknya


Dess!


"Aaaarrrk!" Teriak kesakitan dari salah seorang penyerang itu, lalu diam, tak bergerak lagi, lalu menyusul.Buk! buk!


"Uuuugggh!" Dua orang langsung meregang nyawa, saat terkena pukulan kuat dari tangan Leon, dan lagi terdengar bunyi.Jleeb, jleeb!

__ADS_1


Menyusul dua orang lagi roboh ketanah dengan belati menancap di dada dan perutnya


Lima orang yang masih tersisa terpaku diam, ketika melihat rekannya mati dengan cara menggenas kan seperti itu


Gerakan mereka mendadak terhenti beberapa saat, gentar dan takut, tapi sebelum sempat menetralkan keterkejutannya itu, Leon terlihat melayang di udara dengan kedua kaki saling melakukan tendangan berputar ke arah Lima lawannya


Gerakan Leon yang cepat itu, tidak mampu mereka antisipasi. Akibatnya, tubuh mereka berlima terkena tendangan melayang dan menyilang dari Leon, mengena cukup telak di dada dan kepala mereka masing masing, lalu terbang ke udara, dan langsung ambruk ke tanah, mati!


"Tidak mungkin!. Mereka orang orang terkuat ku, kenapa begitu mudah dihabisi oleh seorang cecunguk sepertinya?" Teriak Barong tidak percaya


***


Setelah mengantarkan kedua pengemis kecil itu, ke tempat penampungan anak terlantar, Dion memutuskan untuk melanjutkan pengalamannya menyamar sebagai orang biasa di kota B, tapi tidak disertai oleh Emily atau Lili itu


Lili meminta izin pada Dion, untuk mengunjungi saudaranya di pinggiran kota itu, dan Dion mengizinkannya, setelah memberi petuah panjang lebar tentunya


Saat ini, Dion tengah berada di sebuah taman kecil yang tidak begitu terawat, tapi cukup bersih untuk ukuran daerah kumuh seperti itu


Saat Dion ingin duduk di sebuah kursi panjang reot yang tersedia di taman itu, Dion dikejutkan dengan sebuah suara yang tiba tiba memanggilnya


"Permisi nak!. Apakah paman boleh meminta minuman dan sedikit makanan yang sedang kau pegang itu?" Ujarnya memohon


Dion tercekat diam, tidak langsung bereaksi, karena masih dalam suasana terkejut tadi. Tapi sedetik kemudian, Dion tersadar dari keterkejutannya itu, dan langsung menjawab. "Tentu saja paman!" Jawabnya ringan, sambil menyodorkan barang yang diminta pada paman itu


"Terima kasih nak!" Sambutnya senang, kemudian langsung melahap makanan yang diberikan oleh Dion itu


"Maaf kalau paman telah menyusahkan mu." Ucapnya merendah, setelah selesai makan dan minum dari pemberian Dion tersebut


"Oh tidak masalah paman,lagi pula aku bisa membeli yang lain." Jawab Dion tulus


"Kenapa kau mau menolong paman?, padahal kau belum mengenal ku dengan baik?" Sambung orang itu lagi bertanya


"Yang layak di tolong, ya ditolong, tidak peduli akan latar belakangnya, sepanjang masih bisa!" Jawab Dion cukup diplomatis


"Prinsipmu memang benar nak, tapi ingatlah, tidak semua yang kau tolong itu akan berterima kasih padamu." Jawabnya terkesan mengajari Dion


"Saat mereka lemah dan seperti butuh bantuan, mereka akan datang padamu dengan wajah memelas dan putus asa, tapi ketika sudah di tolong, dan sudah merasa mampu. Maka mereka akan menganggap bantuanmu itu tidak ada harganya sama sekali" Sambungnya


"Setelah dia atau mereka merasa kuat, dan mempunyai kuasa, maka mereka akan berbalik melawan mu, dengan bantuan mu itu, mereka akan berusaha menjatuhkan mu dengan berbagai macam cara."


"Tapi intinya adalah, bantuanmu itu, hanya berfungsi sebagai batu loncatan baginya saja, setelah dia berakar dan mempunyai pendukung kuat, maka dia akan melawan mu suatu hari nanti" Ucap orang tua itu, lalu pergi begitu saja


Dion yang mendapat pencerahan dari lelaki misterius itu, diam sejenak, sambil memikirkan makna dari ucapan orang yang dipanggil paman itu


"Kata katanya begitu dalam, penuh dengan makna sejati kehidupan, Tapi, siapa paman itu sebenarnya?" Batin Dion dalam hati, sambil melangkah pergi

__ADS_1


__ADS_2