
"Sial!. Bagaimana mereka bisa mengetahui rencana ku?"
"Siapa sebenarnya orang yang sedang aku hadapi ini?" Ucap Arnold kesal, setelah habis dimarahi oleh bos besarnya tersebut
Kemarahan dan kekesalannya itu, dilampiaskan dengan memukul dashboard mobilnya kuat kuat, hingga membuat tangannya kesakitan dan memerah
Tak lama kemudian, dia menukar perseneling mobilnya, untuk kembali melaju di jalan raya
Tapi ketika Arnold ingin menjalankan mobilnya, sebuah panggilan dari anak buahnya masuk
"Halo!" Ucap Arnold keras
"Gawat bos!. Menurut laporan mata mata kita, 12 orang yang ada di mansion itu, semuanya telah tertangkap, dan dibawa ke kantor polisi!" Ucap anak buahnya melaporkan
"Aku sudah tahu!" Jawab Arnold cuek
"Bukan itu masalahnya bos!. Kalau sudah di kantor polisi, apa saja bisa terungkap bos, termasuk pada siapa mereka bekerja!" Bantah anak buahnya kesal, karena pikiran bosnya yang dangkal
"Kau tenang saja!. Mereka sudah terikat dengan perjanjian hidup mati pada kita!"
"Jika mereka berani membuka mulut, maka keluarganya mati!" Jawab Arnold percaya diri
"Tidak semudah itu bos!. Walau mereka sudah terikat perjanjian dengan bos, tapi jika terus di desak, apalagi disiksa waktu diinterogasi, pasti mereka akan luluh juga!"
"Berbagai macam cara akan dilakukan, demi mendapatkan informasi yang mereka butuhkan." Bantah anak buahnya lagi
"Jadi?"
"Lebih baik bos pergi jauh jauh dari kota ini, begitu juga dengan kami bos!" Jawabnya tegas
"Tapi bos besar memerintahkan pada kita, agar untuk sementara bersembunyi dulu di markas pengawalnya."
"Malam tahun baru ini, tidak ada kegiatan apa apa selain bersembunyi." Ucap Arnold lemah
"Baiklah kalau begitu bos!. Kami segera menuju ke sana!" Jawab anak buahnya patuh tapi ragu ragu
***
Sementara itu, beberapa orang intelijen, yang ditugaskan untuk mengawasi Arnold, masih setia mengikuti kemana saja dia pergi, termasuk ketika Arnold berhenti di pinggir jalan
Saat Arnold sudah melaju dijalan raya pun, mereka masih juga mengikutinya
"Kalau tuan besar tidak mengingatkan, agar tidak bertindak berlebihan, ingin rasanya melabrak Arnold saat ini juga!" Ucap salah seorang Intel itu geram
"Aku juga demikian Don!. Pakal saja hanya sebagai mata mata. Kalau kita ini di beri wewenang untuk menghabisinya, maka saat ini juga aku tabrak mobilnya itu!" Sambut temannya yang lain
"Sabar!. Tugas kita hanya mengawasi, bukan sebagai eksekutor."
"Setelah terbukti terlibat, kita segera laporkan pada ketua agar ditindak lanjuti." Ucap temannya menenangkan
"Terbukti bagaimana?. Sudah jelas jelas orang orang yang tertangkap itu adalah anak buahnya, tapi kenapa Arnold belum ditangkap juga?" Protes Doni kurang senang
"Apa kau lupa dengan taktik judi?. Lepas dan dapatkan yang lebih besar. Itu yang sedang diterapkan pada si Arnold itu!"
"Maksud mu?" Tanya Doni penasaran
"Kau lihat itu!. Ada dua buah mobil di belakang mobil Arnold. Aku yakin mereka adakah Intel polisi, yang ditugaskan mematamatai pergerakan Arnold seperti kita!"
"Mereka yang anggota polisi saja, belum mau menangkap Arnold langsung. Mereka juga sedang bertaruh untuk mendapatkan yang lebih besar seperti kita "
"Sekali Jala, ikan besar ikan kecil akan masuk dan tertangkap. Itu maksudnya." Jawab Jana mantap. kemudian berkata lagi
"Aku yakin, tak lama lagi kedok Arnold akan terbongkar, dan siapa dalang dibalik itu akan terungkap!" Jawab Jana dengan analisa jitunya tersebut
"Tumben kali ini kau pandai dan lancar dalam menganalisa?" Ledek Doni merendahkan temannya
"Dari awal aku sudah pandai lah!. Kalian saja yang salah dalam menilai ku" Jawab Jana kesal karena diremehkan
"Kalau aku tidak pandai, bagaimana ketua Burgon, sampai memilih ku sebagai ketua tim kita ini?" Ucapnya lagi. Kemudian memulai pidatonya selama mengikuti mobil Arnold itu
"Kalian dengar ya!. Langit itu tidak perlu berteriak teriak mengatakan bahwa dia itu tinggi, cukup diam saja, orang yang melihatnya sudah tahu bahwa langit itu memang tinggi!"
"Selain itu, kalian harus ingat juga, bumi itu besar dan tebal, tapi dia tak pernah mengatakan itu pada orang orang yang bergantung hidup darinya."
"Gula itu manis, tapi kopi juga yang disebut orang."
"Nasib gula malah begitu buruk. diaduk aduk sampai larut, tanpa memikirkan dia pusing atau tidak!"
__ADS_1
"Sama seperti garam, dia itu sangat berjasa dalam setiap masakan, tapi selalu kena cubit oleh ibu ibu atau koki koki yang ada!"
"Cabe begitu juga!. Dimusuhi, sekaligus di dambakan oleh pecinta rasa pedas, tapi akhirnya di tumbuk atau di giling juga sampai hancur. Apa tak kasihan itu?" Respon Jana panjang lebar
"Curhat nih?" Tanya Doni bergurau
"Bukan curhat tapi berbicara apa adanya!"
"Dari ceritaku tadi, kalian harusnya bisa mengambil pelajarannya. Jangan hanya mendengar atau baca saja. tapi diresapi dan diambil hikmah nya
"Jangan setelah didengar, hilang begitu saja!"
"Kalian lihat orang orang di luaran sana!. Baru mempunyai kepandaian sedikit, sudah bangga berkoar koar tidak karuan, tanpa melihat di atas langit masih ada langit."
"Dasar buta!"
"Teori teori dan pernyataan menyesatkan terus mereka lontarkan, demi untuk popularitas, tapi mengabaikan norma norma hidup beragama juga sosial yang ada."
"Kalau begini terus!.Mau sampai kapan hidup bisa menjadi tenang?"
"Itu bukan urusan kita ketua!. Itu urusan orang orang pandai atau yang sok pandai saja!"
"Kita lihat dan dengarkan saja apa kata mereka."
"Yang salah dan tidak sesuai dengan hati nurani, ya buang saja!"
"Tapi yang sesuai dengan kaidah dan norma hidup, boleh kita ambil atau membiarkan lewat begitu saja."
"Kenapa harus repot repot?" Respon temannya menengahi
"Bukan repot repot John . Tapi aku berbicara sesuai fakta yang ada."
"Contohnya si Arnold itu, menurutnya apa yang dilakukannya itu benar, dan sesuai dengan apa yang dirasakannya."
"Tapi dia lupa, bahwa apa yang akan dan telah dilakukannya itu, merupakan kesalahan besar!"
"Banyak orang yang dirugikan. Banyak orang yang menjadi korban, dan banyak yang dikorbankan demi ambisinya membalas dendam itu."
"Menurut kalian, apakah orang seperti itu harus dibiarkan, dan pemikirannya kita benarkan?" Tanya Jana geram
"Tentu saja tidak!. Malah aku mengharapkan, orang yang selalu menyusahkan kita selama setahun ini, akan dibinasakan, agar dunia menjadi sedikit aman!" Jawab Doni juga geram. Kemudian terus mengemudikan mobilnya, mengikuti mobil Arnold dalam radius 70 meter jauhnya
***
Mereka juga mengakui, bahwa barang barang yang disita tersebut, adalah milik mereka
Barang barang itu akan digunakan untuk membakar gedung atau bangunan perusahaan, dengan tujuan membalas dendam
Semua keterangan dan bukti bukti yang dibutuhkan, telah mereka berikan pada pihak penyidik
Setelah mendapatkan keterangan seperti itu, pihak kepolisian segera bertindak cepat, dengan mengirimkan 20 orang Intel, untuk mencari keberadaan Arnold dan orang yang ada di belakangnya
Tidak membutuhkan waktu lama, satu tim yang terdiri dari 10 orang dalam dua buah mobil biasa, menemukan keberadaan Arnold, dan segera mengekor di belakangnya
Bersamaan dengan itu, anak buah Burgon juga sedang mengikuti laju kendaraan Arnold, hingga sampai ke suatu tempat, dimana di lokasi itu terdapat sebuah bangunan cukup besar dan tinggi, terdiri dari empat lantai
"Terus ikuti pergerakannya dan jangan mencolok!" Ucap sorang komandan polisi pada anak buahnya
"Siap dan!" Jawab anak buahnya, yang ada di mobil bagian depan patuh
"Lihat!. Sepertinya yang mengikuti mobil tersangka bukan hanya kita saja."
"Masih ada dua mobil lain yang dari tadi terus mengikutinya seperti kita."
"Apakah mereka itu anak buah ketua Burgon?" Tanya komandan tersebut menduga saja
"Kemungkinannya memang iya komandan Tama!. Dari plat mobil yang mereka gunakan, menandakan bahwa mereka adalah orang orangnya Birawa Group."
"Jadi kita biarkan saja, karena mereka juga bertugas mematamatai musuh tuannya itu." Jawab bawahannya memberi usul
"Oke kalau begitu!"
"Kita berhenti di sini saja, agar tidak mencolok."
"Kalian segera keluar, dan menyamar sebagai pelanggan rumah makan itu dan terus awasi pergerakan tersangka"
"Setelah yakin dengan buruan kita, bekerjasama dengan siapa, baru kita bergerak!" Perintah Tama tegas pada anak buahnya
__ADS_1
"Siap!" Jawab anak buahnya serempak, kemudian keluar dari dalam mobil, dan memasuki rumah makan yang ada di depan bangunan lantai empat itu untuk mengawasi
***
"Sebaiknya kita dekati bangunan itu dan memasukinya!" Ucap anak buah Jana
"Apakah kau gila?. Lihat!, tempat itu bukan tempat biasa!" Respon Jana marah
"Di depannya saja banyak orang yang berjaga, apalagi di dalamnya."
"Aku yakin, bangunan itu adalah markas bosnya Arnold."
"Kalau tidak, bagaimana dia bisa memasukinya?" Ujarnya lagi
"Lalu apa yang harus kita lakukan bos?" Tanya anak buahnya ingin tahu
"Untuk sementara, kita awasi saja dari sini. Aku yakin tak lama lagi dia akan keluar!" Jawab Jana Optimis
"Bos!. Sepertinya yang di depan sana adalah anggota polisi?. Apa sebaiknya kita bergabung dengan mereka?" Tanya Doni memberi usul
"Jangan!. Aku tidak mau mengganggu kerja mereka!"
"Kita bekerja sendiri sendiri dan saling tidak menggangu." Jawab Jana tegas
"Aku heran!. Kenapa tidak kita sergap saja si Arnold itu, dan bawa ke markas kita?" Tanya salah seorang mata mata geram
"Apa kau lupa, kalau kita dan mereka, sengaja melepaskan ikan kecil, untuk mendapatkan ikan yang lebih besar?" Respon Jana terkesan menggurui
"Ternyata begitu!" Jawab Doni mulai paham
"Tapi aku penasaran, siapa sebenarnya bos si Arnold itu?. Apakah dia orang kuat dan kaya seperti tuan besar?" Tanya Doni penasaran
"Aku juga penasaran dengan rupa Sangkuni itu!. Apakah sudah tua atau masih muda?" Jawab Jana cepat
"Dari pada terus berdebat, lebih baik kita makan dulu di rumah makan itu."
"Hitung-hitung menambah tenaga, karena perutku sudah lapar." Ucap anak buahnya lain cuek
"Setuju!" Jawab temannya yang lain lagi memberi penguatan
"Baik ayo kita ke sana!" Jawab Jana semangat
***
Dua jam kemudian, terlihat empat buah mobil mewah, keluar dari bangunan besar dan tinggi itu
Bersama mobil mobil itu ada delapan van berukuran besar, mengikuti empat mobil mewah tersebut
Keseluruhan kendaraan itu, menuju ke suatu tempat yang agak jauh dari kota
Empat buah mobil penguntit sebelumnya, juga terlihat melaju di jalanan, dan mengikuti rombongan mobil mobil tersebut dari jarak 100 meter, agar tidak terlalu mencolok
Sampai sejauh ini, rombongan mobil pertama, belum menyadari, bahwa ada empat buah mobil yang mengikuti mereka dari arah belakang, dan siap menerkam mereka kapan saja
Setengah jam kemudian, rombongan itu memasuki pemukiman yang agak sepi tapi cuma berlangsung tiga menit saja
Di menit berikutnya, mereka semua telah keluar dari pemukiman sepi tersebut, dan mulai memasuki komplek pemukiman mewah, yang penjagaannya sangat ketat sekali
Rombongan pertama masuk begitu saja tanpa pemeriksaan, tapi begitu rombongan kedua mencoba masuk, mereka dicegat oleh empat orang sekuriti berpakaian dinas khusus perumahan elit
"Berhenti!. Tolong tunjukkan tanda pengenal kalian, apakah kalian penghuni komplek mewah ini atau bukan!" Ucap seorang komandan sekuriti garang
"Apakah tidak ada cara lain?" Tanya Tama sekedar menguji
"Yang bukan penghuni perumahan dilarang masuk!. karena ditakuti akan berbuat jahat di komplek orang orang kaya ini!" Jawab Donald, komandan sekuriti itu masih juga bersikap garang
"Kami tetap ingin masuk, karena kami sedang terburu buru, karena ada urusan dengan rombongan yang baru masuk barusan." Sambut Tama kesal, dan masih belum mau membuka jati dirinya
"Tidak bisa!. Pergilah sebelum aku lapor polisi karena kalian telah menghalangi kerja orang orangnya!" Bentak Donald murka
"Benarkah?. Apakah ini yang kau ingin lihat ?" Respon Tama cuek, sambil menyodorkan kartu identitas dirinya sebagai polisi
"Komandan Tama!" Ucap Donald terkejut. Kemudian dengan gugup dan takut berkata lagi.
"Maaf kan saya, karena tidak mengenali anda, dan bersikap sombong dihadapan petugas yang sesungguhnya!"
"Apa yang bisa kami bantu komandan?" Ucap dan tanya Donald mulai bersikap lunak
__ADS_1
"Buka gerbang, dan ijinkan kami masuk!, karena kami sedang terburu-buru mengikuti buruan yang kabur" Jawab Tama berterus terang
"Kalau boleh tahu, siapa orang yang anda maksudkan itu dan?" Tanya Donald terkesan seperti mengulur waktu