Sang Pewaris Tunggal

Sang Pewaris Tunggal
84. Dion diancam


__ADS_3

"Apakah ada keinginan tuan yang selama ini belum terkabul? Tanya Ivory tiba tiba ketika mereka sudah keluar dari ruang kendali itu


"Maksudmu?" Tanya Dion balik bertanya karena penasaran


"Mungkin tuan berniat untuk melakukan sesuatu, tapi tuan lupa, jadi aku sekedar mengingatkannya saja." Jawab Ivory asal menebak, dengan tujuan mengusir rasa canggung di antara mereka berdua


Dion menghentikan langkahnya, kemudian berpikir sejenak, apa kira kira keinginannya yang belum terkabul, dan belum sempat dilaksanakannya akibat lupa


Tapi tak lama sesudah itu, Dion menepuk keningnya sendiri sambil berkata. "Astaga!. Aku sampai lupa, padahal aku sudah membicarakan tentang sesuatu yang penting dengan paman Tiger, tapi aku benar benar lupa!"


"Untung saja kau mengingatkanku Ivory, terima kasih!"


"Ada perundingan apa antara Tiger dengan anda tuan?" Tanya Ivory ingin tahu


"Oh itu, kemarin kami ada membicarakan tentang rencana untuk mengembangkan desa tempat paman Tiger tinggal, untuk menjadi suatu tempat tujuan wisata, yang berskala besar."


"Padahal kami berdua sudah menyetujuinya, tapi aku lupa untuk memberikan mandat kepada orang orang ku untuk pergi ke sana."


"Dan satu hal lagi yang aku lupa, yaitu tentang rencana ku untuk membangun infrastruktur di suatu daerah yang terpencil, di mana aku pernah tinggal di sana, selama kurang lebih 9 sampai 10 tahun."


"Memangnya kapan itu tuan, dan di mana?" Tanya Ivory penasaran


"Apakah kau ingat! ketika umurku 10 tahun, aku kan diculik oleh sindikat perdagangan manusia, dan karena itu, kakek serta kedua orang tuaku merasa sangat kehilangan."


"Aku ditolong oleh sepasang suami istri saat itu, dan akhirnya diangkat menjadi anaknya, karena mereka tidak tahu indititas ku."


"Di sana, aku disekolahkan sampai tamat, setelah menginjak dewasa, aku merantau di kota B, untuk melanjutkan pendidikan ku, dengan kuliah di salah satu universitas ternama di kota itu."


"Ternyata begitu!. Maafkan aku tuan muda, kalau telah membangkitkan kenangan buruk tuan."


"Tidak apa apa Ivory. Oh ya sebaiknya kita istirahat saja. Apakah kau akan menginap di vila ku, atau di salah satu hotel yang ada di kota ini?" Tanya Dion berharap


"Lebih baik aku menginap di hotel saja tuan, karena aku pun sebenarnya butuh istirahat, dan butuh situasi tenang."


"Apakah di tempatku ini tidak tenang?"


"Bukan begitu tuan, tapi..."


"Ah sudahlah!. Kau boleh pergi!. Hati hati di jalan." Ucap Dion, sambil melambaikan tangannya, ketika meninggalkan Ivory sendirian di luar vila


"Aku tak habis pikir dengan tuan muda Dion, sebagai seorang laki laki, tidak ada peka pekanya terhadap perasaan wanita, atau memang hatinya sudah tertutup, akibat kegagalan rumah tangganya dulu?" Batin Ivory dalam hati


"Ah sudahlah!. Untuk apa aku memikirkan masalah itu. masih banyak hal yang jauh lebih penting dari pada ini." Guman Ivory lirih kepada diri sendiri, kemudian melangkah pergi menuju ke mobilnya

__ADS_1


Tak lama sesudah itu, dia sudah berada di dalam mobil dan mengendarainya, menuju ke salah satu hotel ternama di kota Golden City


***


Sementara di bagian Dion, setelah meninggalkan Ivory sendirian di luar, di dalam perjalanannya masuk ke dalam vila, hatinya berkata. "Apakah sikapku terhadap Ivory tadi tidak berlebihan?. Sepertinya dia banyak berharap terhadapku. Tapi sayangnya, hatiku benar benar telah tertutup, dan sulit untuk dibuka kembali."


"Butuh waktu lama untuk ku bisa menata hati kembali, Karena saat ini, didalamnya hanya ada dendam dan pembalasan saja. Aku takut wanita yang mencintaimu akan terluka karenanya."


"Setelah kupikir pikir, masalah itu tidak begitu penting bagiku. Melawan 100 orang musuh, akan lebih mudah daripada melawan perasaan satu perempuan. Huh!. Merepotkan saja!" batin Dion dalam hati, kemudian melangkah pergi


Begitu masuk kedalam vilanya, Dion mendapati Hans sedang memberikan instruksi kepada bawahannya. Melihat kedatangan Dion, Hans dan lainnya segera berdiri, dan memberi hormat ke arah Dion


"Salam hormat tuan muda!" Ucap mereka serempak


"Ya, salam kalian aku terima. Kalau boleh aku tahu, ada permasalahan apa Hans?"


"Tidak ada apa apa tuan muda. Aku cuma sekedar memberikan pengarahan kepada mereka, untuk meningkatkan penjagaan di vila tuan ini."


"Heemm!. Apakah ada masalah yang gawat, hingga kau mengerahkan begitu banyak pengawal di kediaman ku ini?"


"Keselamatan tuan adalah prioritas utama bagi kami. Sedikit saja kulit tuan lecet, maka kami akan merasa sangat bersalah sekali. Untuk itulah, tanpa dipaksa, kami sendiri yang berinisiatif, untuk memperketat penjagaan di vila ini."


"Ternyata begitu. ku kira ada apa."


"Memangnya siapa nama penghuni vila sebelah itu?" Tanya Dion penasaran, karena selama ini, Dion belum pernah bersosialisasi dengan siapapun di komplek vila tersebut


"Apakah dia tahu siapa yang tinggal di vila ini?" Tanya Dion lagi


"Tidak tuan, tapi dia penasaran saja, ketika melihat begitu banyaknya pengawal yang berjaga vila ini."


"Kalau dia tidak tahu siapa penghuninya, lalu kenapa dia masih tetap ingin datang menemuiku?" Tanya Dion semakin penasaran


"Dia cuma ingin berkenalan saja tuan, untuk menyambung tali silaturahmi, itu saja alasannya."


"Oh begitu, baiklah, dan terima kasih atas informasinya Hans!"


"Sama sama tuan muda" Jawab Hans sambil membungkuk


Setelah Dion meninggalkan mereka, Hans segera mengambil alih pembicaraan, dengan berkata..


"Menurut mata mata yang disebarkan oleh Burgon, ada indikasi bahaya yang mengarah kepada tuan muda. Untuk itu, aku perintahkan kepada kalian semua, untuk memperketat pengawalan di sekitar vila ini, jangan biarkan satupun orang tak di kenal masuk, tanpa diperiksa terlebih dahulu."


"Baik bos!" Jawab mereka serempak, kemudian membubarkan diri menuju posnya masing masing

__ADS_1


"Maafkan aku tuan, karena tidak berterus terang kepada tuan. Aku tidak mau mengganggu waktu istirahat tuan. Masalah ini bukanlah masalah besar, dan aku yakin, aku dan orang orang ku, bisa menanganinya dengan mudah." Batin Hans dalam hati


"Menurut informasi yang disampaikan oleh orang orangnya Burgon, ada sekelompok kecil orang yang ingin memaksakan kehendaknya, untuk bertemu dengan tuan muda, padahal sudah disampaikan, bahwa tuan muda tidak ingin diganggu, tapi mereka tetap memaksa!"


"Aku penasaran, siapa sebenarnya orang orang itu, kenapa begitu ngotot ingin bertemu dengan tuan muda. Mereka mengatakan, mengenal tuan muda Dion dengan baik, tapi siapa?" Kata hati Hans semakin bingung


"Sebaiknya aku selidiki saja sendiri, untuk memastikan, apakah orang orang itu datang membawa ancaman atau tidak."


"Dimana Robin ya?. Seharian ini, aku belum ada melihatnya. Ah aku lupa! ternyata dia tadi ditugaskan oleh tuan muda Dion, untuk mengurusi proyek baru di lahan yang baru saja dibelinya."


"Mungkin saat ini, dia sedang istirahat atau sedang menjalankan tugasnya. Sebaiknya aku telepon dia saja." Guman Hans pada diri sendiri


"Tapi setelah tiga kali dihubungi, handphone Robin tetap tidak aktif. Ada apa ini? Kata hati Hans khawatir


"Ah tak mungkin lah, Robin bukanlah orang lemah, dia si dewa kematian, tak akan mudah diprovokasi dan diintimidasi oleh orang lain, aku yakin, saat ini, dia sedang tidur atau handphonenya memang benar benar kehabisan baterai, dan dia belum sempat untuk mengecas nya."


"Tapi tunggu dulu! orang orang yang tadi ingin bertemu dengan tuan muda Dion itu, sikap mereka sangat mencurigakan sekali. Dua diantara mereka, matanya sangat liar mengawasi vila ini, walaupun dia melakukannya secara sembunyi sembunyi, tapi aku bisa mengetahuinya dengan mudah."


"Aku harus cari tahu siapa mereka. Sebelum api angkara membesar, maka api kecil itu harus dipadamkan terlebih dahulu." Ucap Hans sambil melangkah pergi, menuju ke arah anak buahnya yang sedang berjaga di luar


Tak lama setelah dia sampai di depan anak buahnya, Burgon datang dengan terburu buru kemudian berkata..


"Hans! apakah kau tahu? bahwa orang yang datang tadi itu adalah sekelompok berandalan dari pinggiran kota B, yang menurut kabar, telah menganiaya Vincent hingga mati!"


"Mereka datang ke sini, untuk meminta pertanggungjawaban dari tuan muda, karena menurut mereka, nama tuan muda disebutkan oleh Vincent itu, beberapa menit sebelum mereka melarikan diri, tapi entah apa yang telah di sampaikan oleh Vincent kepada mereka


"Dasar orang orang bodoh!. Mau mencari mati ternyata! Mereka kira mereka siapa! berani beraninya mengancam tuan muda Dion, dengan meminta tebusan. Ada ada saja!"


"Vio!. Bawa 20 orang orang terbaik mu, untuk ikut denganku!"


"Baik bos!" Jawab Vio, komandan bawahan Hans, tanpa bertanya lagi, apa dan kemana, serta kenapa


"Dan kau Burgon! apakah akan ikut atau tidak?"


"Ya, aku ikut!. Aku juga penasaran dengan sekelompok berandalan yang berani mengancam tuan muda kita. Ayo!"


"Apakah kau tidak membawa orang orangmu?" Tanya Hans penasaran


"Apakah kau lupa siapa aku?. bukankah kau tahu, anak buah ku saat ini sedang tersebar dimana mana?" Ucap Burqon sambil tersenyum, dengan niat mengejek Hans


"Benar juga katamu!. Kau kan si mata dewa, tentu tidak takut dengan apapun. kekuatanmu sudah tidak diragukan lagi, kalau berhadapan dengan mereka, ibarat semut yang mendatangi api."


"Ada ada saja kau Hans!. Ayo cepat pergi, ke pinggiran kota B, untuk bermain main dengan api yang belum terlanjur besar!" Ucap Hans sambil menyeringai

__ADS_1


__ADS_2