Sang Pewaris Tunggal

Sang Pewaris Tunggal
Terpaksa ikut juga


__ADS_3

Kota J wilayah barat, penginapan mawar, sekitar pukul 2,40 sore


"Besok kita akan berangkat ke pulau S, dan langsung menuju ke tempat lama kita dulu." Ucap nenek Elina tegas, ketika sekali lagi ia mengumpulkan anak dan kedua cucunya itu, di kamar Jasmine yang lumayan luas


"Tidak ada tawar menawar lagi!. Jika Jasmine masih tetap bersikeras tidak mau ikut, maka nenek akan mengeluarkan mu dari daftar keluarga Wolf, walaupun kau cucu kesayangan nenek!" Ancamnya bersungguh sungguh


"Dengan berlama lama disini, membuat pikiran nenek menjadi buntu, dan tidak bisa berbuat apa apa." Sambung nya kesal


"Mumpung persediaan uang kalian masih ada, Jadi besok sebelum jam 12 siang, kita sudah harus check out dari penginapan ini, dan pergi ke terminal KD."


"Dari sana kita akan menumpang bus RSI yang langsung menuju ke pelabuhan M . Tarif per orang yang nya sebesar 160.000 rupiah, dan akan berangkat sekitar pukul 3 sore." Ucap nenek Elina panjang lebar, seperti sudah mengetahui rute dan bus mana yang akan berangkat ke pelabuhan M tersebut


Suasana menjadi hening, tidak ada suara yang terdengar, kecuali bunyi kipas angin di atas kepala mereka


Hembusan nafas pun tidak terdengar, semuanya seperti sedang menahan nafas, untuk menghindari suara berisik dalam kamar itu


Everly yang dulunya terkenal cerewet, sekarang menjadi seperti batu, diam tak bergerak, takut kena marah, jika salah bicara


Begitu juga dengan Jasmine dan Chalista. Sedikitpun tidak bereaksi, ketika neneknya sudah selesai bicara


Mereka lebih memilih diam, mendengar ucapan dari neneknya itu, karena bagi mereka, perintah neneknya tersebut, tidak bisa dibantah sama sekali, karena ancamannya sangat berat


Danish begitu juga. Pada dasarnya memang dia seorang lelaki yang pendiam, dan hanya bicara ketika ada perlunya saja, maka saat ibunya berbicara, dia hanya mengangguk, dan sepertinya menyetujui usul dari ibunya itu


Tak lama kemudian, nenek Elina menyambung perkataannya lagi. Karena dia sudah bosan, perkataannya tidak direspon sama sekali


"Karena aku sudah memutuskan, besok akan meninggalkan tempat ini, maka kalian bersiap siaplah!. Aku tidak mau ada ganjalan di hati kalian, terutama kau Jasmine!" Ucap nenek Elina tegas


"Sekarang kau putuskan, mau ikut atau tidak!" Sambungnya lagi sambil membentak kuat


Jasmine hanya sekilas memandang wajah neneknya itu, mencari kesungguhan ucapan dari neneknya tersebut. Setelah merasa yakin, bahwa neneknya bersungguh sungguh dalam mengucapkan itu, maka dia buru buru menyahut..


"Jasmine akan ikut nek!" Jawabnya singkat, lalu menundukkan kepalanya lagi dalam dalam


"Baiklah!, karena kesepakatan sudah didapat, maka kita istirahat dulu."


"Danish!, kau turunlah ke bawah!, dan beli makanan di restoran penginapan ini!" ucap nenek Elina tegas. lalu berdiri meninggalkan kamar Jasmine, dan beranjak ke kamarnya sendiri untuk istirahat


"Baik bu!" Jawab Danish singkat


***


"Walau mulut ku berkata iya, tapi hati ku tetap menolak! Namun apalah daya, aku terpaksa harus menuruti kehendak nenekku itu, jika tidak, maka aku akan susah sendiri." Batin Jasmine dalam hati

__ADS_1


"Lebih baik untuk saat ini, aku mengalah saja, dan seperti kata ibuku, jika keadaan kami sudah mapan dan sedikit membaik, maka aku akan berusaha kembali, untuk mendapatkan hati Dion di kota B itu." Sambung kata hatinya lagi


"Tapi sekarang sudah tidak ada waktu lagi. Walau jarak dari sini ke kota B cukup dekat, tapi aku tidak mau melakukannya. Biarlah untuk sementara ini, aku tahan dulu keinginan ku itu." Batin Jasmine terus bertalu talu, berkata dalam hati


"Kak!. Apakah kau keberatan, jika harus kembali ke tempat lama kita dulu?" Tanya Chalista tiba tiba, mencoba memecahkan suasana hening diantara mereka, sepeninggal nenek juga kedua orang tua itu


Jasmine tidak langsung menjawab pertanyaan adiknya tersebut, dia hanya memandangnya sekilas, kemudian memalingkan wajahnya kembali ke arah lain


Tapi tak lama sesudah itu, dia berkata. "Sejujurnya kakak masih berat, jika harus kembali ke pulau S itu, apa lagi menuju ke tempat dimana dulu kita ditempatkan. lagi pula, jarak dari sana ke kota B sangat jauh, harus menyeberangi lautan." Ujarnya sambil menerawang jauh


"Jalani saja dulu kak! Mudah mudahan yang dikatakan oleh ibu kita itu benar. Setelah nanti kehidupan kita membaik, maka kakak bisa pergi ke kota B, untuk menemui Dion yang sombong itu!" Ucap Chalista, terkesan seperti sedang menasehati kakaknya tersebut


"Entahlah dek, kakak juga bingung!" Jawabnya enteng, sambil memperbaiki posisi badannya di atas tempat tidur. dan berusaha untuk memejamkan mata, yang memang sudah lelah itu


Tak lama kemudian, Jasmine sudah berada di alam mimpi, Begitu juga dengan Chalista, adiknya tersebut


***


Sementara itu, Dion yang sedang berada di kota Teluk Berlian, atau tepatnya di proyek baru tambang emas itu, saat ini, masih berada di areal pertambangan, sedang melihat lihat areal pertambangan tersebut


Saat ini dia hanya berdua dengan Ivory, dan tidak ditemani oleh siapapun, kecuali mereka berdua, karena dia sendiri yang meminta untuk tidak didampingi oleh siapapun


Karena hari sudah beranjak petang, Dion memutuskan untuk memisahkan diri dari rombongan nya, dan mengajak Ivory untuk menemani nya berjalan jalan, di sekitaran areal pertambangan tersebut


"Ivo!. Apakah kau Lelah? Tanya Dion berusaha menunjukkan perhatiannya pada Ivory, sambil menyeka buliran keringat yang ada di kening Ivory yang licin itu


"Tidak sayang!. Ivo hanya mengantuk saja. Entah kenapa hari ini bawaan nya mengantuk terus, mungkin karena selalu bergadang ya?" Jawabnya sambil menggoda Dion


"Apakah begadang mu itu, dikarenakan aku?" Tanya Dion balas menggoda Ivory


"Sebahagiannya ada yang benar, dan ada juga yang tidak." Jawabnya cuek


"Yang benarnya itu apa?" Tanya Dion sambil memegang tangan Ivory


"Sejak kakek menjodohkan mu dengan Maya, setiap malam boleh dikatakan Ivo tidak bisa tidur, karena terus memikirkan nasib Ivo kedepannya." Ucapnya lemah, lalu membalas pegangan tangan Dion dengan malu malu, seperti meminta dukungan


"Tapi sekarang setelah jadi seperti ini, apakah malam malam mu yang lalu, masih juga kepikiran, dan tidak bisa tidur karena mengenang ku?" Tanya Dion penasaran


"Tentu saja tidak, malah tidurku menjadi nyenyak sekali, dengan mimpi mimpi indah saat saat bersamamu." Jawab Ivory puitis sekali


"Lalu sebagian yang tidak itu apa?" Tanya Dion kembali


"Kalau yang tidak itu sebenarnya tidak ada, cuma diada adakan saja!" Jawab Ivory sambil berlari kecil menjauhi Dion, karena takut di cubit dan lain sebagainya

__ADS_1


Dion yang dipermainkan seperti itu, tentu saja tidak terima. Dengan perlahan dia mengejar Ivory yang sedang berlari diantara pohon pohon yang rindang itu


Karena Ivory tidak bersungguh sungguh lari, dan hanya sekedar menggoda Dion, maka dalam sekejap, tubuhnya bisa dijangkau oleh Dion, kemudian dipeluknya erat erat


Untuk sesaat, suasana menjadi hening, tidak ada yang berusaha untuk bersuara, hingga membuat suasana semakin hening


Kedua mata beradu pandang, mulut terkatup rapat, detak jantung tidak beraturan


Ingin rasanya Dion merengkuh dunia Ivory, tapi ditahannya sebisa mungkin


Dengan perlahan, Dion mendekatkan bibirnya ke kening Ivory, dan mengecupnya perlahan, lama dan lama sekali


Ivory yang mendapat perlakuan lembut seperti itu, tentu saja terkejut, sekaligus senang. Dia tidak menyangka, orang yang selama ini dikasihi dan dicintai nya, akan memperlakukannya dengan lembut seperti itu


Hatinya berbunga bunga, pikirannya melayang kemana mana. Jantungnya berdebar keras, tubuh dan bibirnya bergetar halus, sementara matanya tertutup rapat, seperti sedang mengharapkan sesuatu


"Ayo kita kembali!" Ucap Dion tiba tiba, menghancurkan khayalan indah Ivory dalam sekejap


Ada sedikit rasa kecewa berbalut sedih di dalam hati nya. Sesuatu yang diharapkan, ternyata tidak terjadi


Apakah Dion tidak mencintai Ivory?. Kalau dia mencintai, dan benar benar sayang padanya, tentu saja dia tidak akan mau membiarkan Ivory seperti itu, atau ada alasan lain. Itu hanya Dion sendiri yang tahu


Saat ini, mereka masih saja berpelukan, seperti tidak ingin berpisah. Padahal kapan saja Dion mau, Ivory siap memberikannya


Namun setelah berlalu sekitar tiga menit, Dion baru tersadar atas perbuatannya itu, kemudian buru buru melepaskan pelukan nya dari tubuh Ivory, kemudian berkata..


"Maafkan aku yang dengan sembrono melakukan hal seperti itu pada mu." Ucap Dion menyesali diri sendiri


"Tidak sayang!, justru perlakuan lembut mu itu pada ku, telah meyakinkan hatiku ini, bahwa kau benar benar mencintaiku." Jawab Ivory dengan wajah malu malu, seperti sudah melupakan kesedihannya


Kemudian malah dia yang memeluk tubuh Dion, dan menyandarkan kepalanya di dada Dion yang bidang itu, sembari mencari kedamaian didalamnya


Dunia benar benar seperti milik berdua


***


"Salam tuan muda!. Maaf jika aku mengganggu!" Ucap Iron sambil membungkuk ke arah Dion, yang saat itu sudah melepaskan pelukannya dari tubuh Ivory


"Ada apa paman?" Ucap Dion sudah mulai merubah panggilannya pada Iron, kepala pengawal keluarganya itu


Usia Dion dengan Iron terpaut cukup jauh. Dion berusia 25 tahun, sedangkan Iron berusia 47 tahun lebih. Mungkin Dion bisa memanggil Iron dengan kakak atau abang saja, tapi dia lebih senang memanggil Iron dengan sebutan paman


"Tuan besar memanggil kalian berdua untuk kembali ke resort Teluk Berlian sekarang juga." Jawab Iron hormat

__ADS_1


"Oh baiklah kalau begitu!" Balas Dion cepat, lalu bergegas meninggalkan tempat itu, sambil memegang tangan Ivory erat erat


__ADS_2