Sang Pewaris Tunggal

Sang Pewaris Tunggal
Menyesal tiada guna


__ADS_3

"Nanti paman bisa lihat sendiri." Jawab Dion sambil tersenyum dan memandang arah kejauhan


"Itulah yang ku maksudkan paman!" Sambung Dion lagi mencoba menjelaskan, mirip seperti seorang tour guide


"Sungguh fantastic!. Paman tidak menyangka, tempat yang dulunya tanah kosong dan bekas pabrik usang, kini telah menjadi bangunan sebesar dan semegah ini!" Pujinya ketika melihat bentuk bangunan yang ada di depannya itu


Tuan Birawa hanya senyum senyum saja, begitu juga dengan Ivory. Bagi mereka sudah biasa melihat bentuk pabrik yang seperti itu, cuma bedanya adalah, ada kondominium khusus karyawan di dalam komplek pabrik tersebut


Walau letaknya sedikit berjauhan dengan bangunan pabrik, tapi kondominium itu, mudah diakses dari arah segala arah


Kondominium itu bentuknya mirip apartemen. mampu menampung karyawan sebanyak 1.000 sampai 1.500 orang di tiap bangunannya, sedangkan kondominium tersebut jumlahnya sebanyak empat buah, jadi bisa menampung karyawan sebanyak 6 ribu orang


Fasilitasnya di dalamnya pun kelas premium, lengkap dengan taman di sekeliling nya, jadi akan tetap membuat betah siapa saja yang tinggal di situ


Tak lupa pula dibangun fasilitas ibadah bagi kepercayaan agama tertentu, bentuknya pun sangat besar sekali, bertingkat dua, dan mampu menampung jemaah sebesar 5 ribu orang


Di sekitar kondominium itu pun telah dibangun berbagai macam fasilitas olahraga dan kebugaran. benar benar strategi yang memanjakan bagi seluruh penghuninya


Ke kondominium itulah rombongan Dion sekarang sedang menuju sana


Setelah mengecek beberapa ruangan dan fasilitasnya, di masing masing kondominium itu, Dion merasa sangat puas sekali, apalagi kakeknya


Sementara Ivory dan Maya sedang meninjau lokasi lain bersama dengan Tiger, tapi masih di sekitar kondominium tersebut


Sekitar 2 jam 49 menit mereka berada dalam bangunan pabrik itu. Banyak tempat dan bangunan yang telah mereka kunjungi


Setelah dirasa puas dengan hasil kinerja bawahannya, Dion, dan kakeknya, Tiger, Maya dan Ivory segera meninggalkan pabrik tersebut, dengan di antar oleh seluruh petinggi staf dan beberapa orang karyawan senior sampai ke pintu gerbang


***


Mong Kok, sebuah wilayah kota padat Hongkong, sekitar pukul 11.30 malam waktu setempat


Malam itu Jasmine tidak bisa tidur, karena kamar yang dipakainya sangat panas sekali, jadi dia memutuskan untuk keluar saja, dan duduk di ruang keluarga


Di ruang itu hanya ada sofa usang dengan meja yang juga tidak baru lagi. Tidak ada lemari, juga tidak ada televisi


Di ruang itulah sekarang Jasmine sedang duduk, dengan pikirannya menerawang jauh ke mana mana. Sambil duduk itulah, hati Jasmine berkata...


"Sudah hampir tiga bulan Brian pergi meninggalkan ku di dunia fana ini. Selama itu pula aku terus menyesali langkah hidup yang telah ku ambil."


"Andai saja aku tidak berpisah dengan Dion, mungkin saat ini hidup ku akan senang, bergelimang harta dan kekuasaan!"


"Sungguh hidup merupakan misteri. Orang yang disangka sampah, pecundang, benalu pengangguran, dan lain sebagaimana , ternyata adalah orang yang sangat beruntung dalam hidup."

__ADS_1


"Sementara orang yang ku sangka akan bisa membuat hidupku sedikit lebih baik, ternyata dia itulah yang sebenarnya pecundang, dan julukan julukan lain yang disematkan pada Dion dulu."


"Aku benar benar menyesal, karena telah bertindak salah. Otakku yang rakus akan harta, ditambah dengan hasutan dari keluargaku, menjadikanku gelap mata dan tidak berpikir lebih jauh lagi."


"Ini semua salah kakek ku, kenapa dia tidak mengatakan siapa Dion yang sebenarnya."


"Kalau aku tahu bahwa Dion itu ternyata anak orang kaya, tak mungkin aku mau melepaskannya demi si pecundang Brian itu."


"Sungguh aku menyesal telah salah dalam memilih jalan hidup ku ini!"


"Dion!, andai masih ada waktu, aku ingin kembali padamu, walaupun harus bersujud di kakimu ribuan tahun. aku akan tetap melakukannya!"


"Apapun yang kau minta, walau menjadi anjing sekalipun, aku tetap akan melaksanakannya, demi bisa mendampingi mu lagi Dion!"


"Tuhan!, beri aku kesempatan, agar bisa bersama Dion lagi, aku tidak mau hidup melarat seperti ini!"


"Nenekku sudah sering sakit sakitan, ayahku apalagi, sedangkan Chalista sekarang telah menjadi wanita nakal, karena tuntutan hidup."


"Sementara aku, tetap berperan sebagai seorang pengemis. Wajahku yang cantik ini, terpaksa aku buat buruk dan tua, agar tidak ada orang jahat yang mau mendekati dan melecehkan ku, terutama laki laki hidung belang."


"Sungguh hidup ini benar benar misteri. Rasanya aku sudah tidak sanggup lagi untuk menjalani hidup yang terlalu pahit ini."


"Mungkin sebaiknya aku kembali saja ke negara asal ku, untuk mencari Dion, dan memohon maaf padanya."


"Di kota ini sekarang, aku menjadi tulang punggung bagi mereka, bersama dengan Chalista, walau dia jarang pulang ke rumah."


"Untungnya masih ada lelaki hidung belang yang mau menyewakan apartemen untuk Chalista, walau tidak terlalu besar, tapi cukup untuk tempat kami berlindung."


"Dia terpaksa melakukan itu, demi bisa bertahan hidup, di kota sebesar Hongkong ini."


"Duh nasib!. Apa yang harus aku lakukan lagi, apakah sampai mati dan menua, aku akan tetap berada di tempat yang sumpek ini?"


Begitulah kata hati Jasmine, terus bertalu talu, menumpahkan seluruh kesedihan hatinya, di suatu malam, dimana dia tidak bisa tidur itu


Di samping udara malam itu sangat panas, pendingin dalam ruangan tersebut pun mati karena rusak, hanya menggunakan kipas angin dinding itulah, fasilitas yang ada di apartemen tersebut sekarang


"Kenapa kau belum tidur juga Jasmine?. Malam sudah begini larut masih juga belum tidur!" Tegur seseorang yang tiba tiba datang dari arah belakang


"Ayah!" Sahutnya terkejut


"Apakah kau sedang memikirkan sesuatu anak ku?" Tanya Danish menduga duga saja, sambil duduk


"Haaaahhh!" Jasmine menghembuskan nafasnya dalam dalam, kemudian baru menjawab pertanyaan ayahnya itu

__ADS_1


"Benar ayah!. Jasmine jadi kepikiran dengan Dion, Apa yang sedang dikerjakannya sekarang?" Jawabnya asal mengena


"Apakah kau sudah gila Jasmine? bukankah Dion itu bukan siapa siapa lagi bagimu!" Bantah ayahnya keheranan bercampur marah


"Ayah memang benar, tapi apa salahnya kalau aku sedikit mengenangnya. karena bagaimanapun, dia pernah hidup denganku, walaupun tidak lama!" Tangkis Jasmine tidak mau tau


"Jadi maksudmu bagaimana?" Tanya Danish sambil mengerutkan kulit keningnya dalam dalam


"Jasmine kepingin pulang ke negara asal kita ayah, dan jika perlu, kita semua pulang ke sana!" Jawab Jasmine cuek cuek saja


"Itu tidak mungkin Jasmine!. Bukankah kita sendiri yang berkeinginan untuk keluar dari negara tersebut, apalagi nenekmu itu?" Tolak ayahnya meragukan niat Jasmine itu


"Tapi Jasmine sudah mulai bosan menjalani hidup dalam kemiskinan seperti ini ayah, apalagi setiap hari, Jasmine harus melakoni hidup sebagai seorang pengemis. Jasmine benar benar merasa sangat terhina ayah!" Bela Jasmine menumpahkan keluh kesahnya selama ini. tapi Danis tidak merespon atau menjawabnya, dia hanya diam saja, dan menunggu apa yang akan dikatakan oleh Putri kesayangannya itu


"Ayah tahu sendiri kan, Dion itu sekarang siapa?. Dia orang kaya ayah, dia punya kekuasaan dan kekuatan!"


"Aku yakin dia masih mencintaiku, karena sebelum dia menandatangani surat cerai itu, dia ada mengatakan, bahwa dia sangat mencintaiku. Jadi aku yakin, Dion akan mau menerimaku kembali!" Ucap Jasmine tidak tahu malu


"Ayah tidak mengerti dengan jalan pikiranmu ini Jasmine, apalagi nenekmu itu." Bantah ayahnya lagi


"Dari awal sebenarnya ayah sudah menolak keinginan nenekmu itu, tapi nenekmu terus memaksakan kehendaknya. jadi ayah bisa berbuat apa?"


"Lalu bagaimana ayah? Apakah ayah setuju kalau kita kembali ke Indonesia?"


"Ayah sebenarnya mau tinggal di sana, tapi bagaimana dengan nenekmu juga ibumu, apalagi si Lista itu?"


"Jasmine yakin mereka akan setuju ayah,karena di sini pun mereka tidak bisa berbuat apa apa!"


"Terserah kau sajalah. Besok kau sendiri yang harus mengutarakan maksudmu itu pada nenek juga ibumu. ayah yakin adikmu itu akan ikut saja!"


"Baik kalau begitu ayah! Malam ini kita tetapkan, bahwa kita semua, harus kembali ke Indonesia!"


Danish tidak merespon tekad dari Jasmine itu, dia malah sibuk melamun, sambil memikirkan sesuatu, kemudian berkata..


"Sudah lama ayah kepikiran seperti apa yang kau katakan tadi. Ayah ingin keluar dari kota ini, dan kembali ke negara asal, demi untuk menyelamatkan adikmu yang bernasib sangat menyedihkan itu."


"Maksud ayah!. ayah setuju kalau kita kembali lagi ke Indonesia?" Tanya Jasmine kembali, hanya untuk sekedar menegaskan jawaban ayahnya itu, padahal tadi sudah dikatakannya, walaupun tidak begitu tegas


"Ayah setuju dengan rencana mu itu, tapi kita harus membicarakannya dulu dengan nenekmu secara baik baik dan masuk akal"


"Kalau dia mau, maka kita kembali, tapi kalau dia tidak mau, ya apa boleh buat, kita harus tetap tinggal di kota ini


"Kalau begitu jawaban tegas ayah, Jasmine sangat senang sekali. Sebaiknya kita tidur dulu, dan besok baru kita bicarakan ini dengan nenek, kebetulan sekali Chalista juga sudah pulang."

__ADS_1


"Baiklah kalau begitu! besok kita bicarakan rencana ini pada mereka!"


__ADS_2