
Satu minggu kemudian, jutaan tanaman herbal berbagai jenis, telah berhasil di dapatkan. Bahkan tanaman yang sudah dianggap punah pun, bisa ditemukan di pedalaman hutan pegunungan M tersebut
Hari ini, di langit pulau K, terlihat empat helikopter super puma, dan satu airbus puma, sedang mengudara di angkasa, membawa bahan-bahan herbal yang telah di dapatkan, dan di bawa ke kota emas
Setelah sampai, baru kembali lagi ke pulau itu, dengan membawa persediaan bahan bakar yang cukup, termasuk juga bahan makanan serta obatan obatan, yang siap untuk dimakan atau di gunakan oleh mereka, termasuk buat suku terasing itu
Tak lupa pula Dion juga memerintahkan pada para pilot tersebut, untuk membawa peralatan pertanian, termasuk peralatan berburu untuk suku terasing itu
Dion berencana membuat suku yang hampir punah tersebut, untuk tinggal di satu tempat saja, dan secara berangsur mengubah mereka menjadi manusia yang berbudaya, tapi tidak melupakan jati diri mereka
Setelah semuanya selesai. Baru keesokan harinya, Dion dan rombongannya, berencana akan bertolak kembali ke kota emas, dan melakukan aktivitas seperti biasanya
Pagi itu, di dalam tenda terbuka, yang menghadap sumber mata air tak jauh dari tenda, Dion dan Ivory, terlihat sedang duduk berdua, sambil berbincang bincang tanpa pengawalan
Tapi walau demikian, para pengawalnya tetap bersiaga, termasuk juga Hans si pengawal pribadinya itu, walau dari jarak jauh, dia tetap setia mengawasi tuannya tersebut
"Sudah seminggu kita berada di hutan pedalaman ini. Rindu rasanya untuk pulang pa!." Ucap Ivory membuka pembicaraan
"Papa juga demikian. Tapi karena ingin menyemangati dewa obat dan Govin. Maka kita berada di sini."
"Menurut papa, itu termasuk tanggung jawab kita pada anak buah." Jawab Dion membenarkan pendapat dari istrinya itu
"Mama bukan mengeluh tentang itu pa. Cuma kangen saja dengan rumah kita itu. Biasalah!" Ujarnya sambil memberi kode pada suaminya
"Hahahaha!. Apa mama tak malu di tempat terbuka seperti ini mau melakukannya?" Respon Dion geli hingga tertawa terbahak bahak, tidak seperti biasanya
"Ah papa ni!. Bukan itu maksud mama!" Respon Ivory kesal
"Jadi?" Jawab Dion berniat menggoda istrinya
"Huh!. Menyebalkan!. Baik mama kembali saja ke tenda dan sembunyi di sana!" Ucap Ivory pura pura merajuk
"Eits jangan!. Papa cuma bercanda kok!." Respon Dion ketakutan jika di tinggal oleh istrinya itu
Entah mengapa suasana pegunungan yang sejuk dan asri itu, membuat hati Dion menjadi tenang dan tentram. Walau oleh orang suku terasing, tempat tersebut dikatakan panas. tapi bagi Dion itu biasa saja, malah terasa sangat sejuk sekali
"Apa tidak sebaiknya kita buat tempat peristirahatan di tempat ini ya?" Ucap Dion tiba tiba. melontarkan pertanyaan pada Ivory yang tidak masuk akal
"Mama tidak mau!. tidak setuju dan menolak!" Respon Ivory di luar dugaan, dan spontan saja
"Kenapa?" Ucap Dion keheranan
"Apa kurangnya villa kita itu pa?. Bukanlah udaranya juga sejuk?" Jawab Ivory malah balik bertanya
"Iya sih, tapi kan?" Sambut Dion kehabisan kata kata
"Pokoknya mama tidak setuju.Titik!" Bantah Ivory sangat tegas sekali
"Kalau begitu ya apa boleh buat?" Respon Dion tidak terlalu kecewa
"Kalau papa mau juga membuat tempat peristirahatan di sini, itu terserah papa!"
"Tapi kalau dijadikan destinasi utama, mama tetap tidak setuju!"
"Lagi pula, pegunungan ini termasuk hutan lindung. Jadi tidak mungkin pemerintah akan memberi izin pada kita, untuk membangun apa apa di sini?"
"Lagian apa papa lupa?. Kalau sekedar untuk mencari udara yang nyaman, bukankah sudah ada kota teluk berlian itu pa?"
"Kalau papa suntuk dan jenuh menghadapi masalah usaha dan pekerjaan, mama bersedia menemani papa selama apapun papa tahan tinggal di sana!"
"Oke ya pa?. Deal?" Ucap Ivory semangat sekali
"Iyalah!. Papa mengalah saja. Mana bisa emak emak dilawan?" Jawab Dion lirih
"Apa papa bilang!. Emak emak?"
"Memangnya Ivo sudah setua itu pa. Hingga di panggil emak emak?" Tanya Ivory kesal
__ADS_1
"Bukan begitu juga ma!. Mama masih cantik kok, dan selamanya tetap cantik di mata papa." Jawab Dion cepat cepat, berusaha membujuk dan meredakan kekesalan istrinya itu
"Awas kalau papa bohong. Tak ada jatah nanti!" Sambut Ivory bernada mengancam
"Bukannya memang tidak ada jatah dalam seminggu ini?" Ucap Dion kembali bertanya
"Itu karena waktu berangkat, Ivo baru lima hari berhalangan. Jadi mana bisa kasi jatah pada papa!" Jawab Ivory berterus terang
"Berarti hari ini sudah selesai dong?" Tanya Dion pula
"Sembarangan. Belum boleh tahu!. Sabar sedikit kenapa?" Jawab Ivory ketus, tapi tidak sepenuhnya kasar
"Untuk wanita secantik mama. Suami mana yang bisa tahan, kalau tidak mendapatkannya selama sebulan?" Ucap Dion dengan bantahannya
"Belum genap delapan hari lagi tau?. Baru tujuh hari juga?"
"Berarti besok dong?" Ucap Dion menggoda Ivory
"Tidak bisa!. Besok kita bertolak ke kota emas!" Jawab Ivory sudah mulai kesal karena kebandelan suaminya itu
"Nah begitu sampai di sana, kasi ya?" Ucap Dion lagi dengan niat ingin menggoda istrinya itu
"Tak mau!. Papa jelek!" Jawab Ivory cepat, sambil menjulurkan lidahnya ke arah Dion. Kemudian berlari ke arah tenda, untuk mengambil sesuatu
"Sampai saat ini, aku belum juga mengatakan masalah ku pada dewa obat, apalagi pada Govin."
"Walau masalah ku tidak begitu parah, tapi aku risih ketika melakukan itu. Cepat sekali keluarnya?"
"Hal itu membuatku jadi tidak percaya diri sekarang."
"Entah kenapa?. Akhir akhir ini, stamina ku semakin berkurang, dan tidak tahan lama."
"Aku khawatir Ivory akan kecewa pada ku."
"Ah masa bodoh lah!. Singkirkan dulu rasa gengsi dan malu!. Aku harus mengatakan kesulitan ku ini pada dewa obat!"
"Aku yakin, dia mempunyai solusinya!" Batin Dion berlalu-talu dalam hati
"Ah mama ini. Papa sedang memikirkan tentang tempat ini!" Jawab dion mencoba berbohong
"Memang ada apa dengan tempat ini pa?" Tanya Ivory keheranan
"Bukit besar dan luas ini, setidaknya mengandung bahan mineral batu bara yang sangat banyak sekali."
"Jika kita mengeksploitasinya, kemungkinan dalam kurun waktu 15 sampai 20 tahun belum tentu habis."
"Jika di izinkan, papa ingin membangun perusahaan tambang di sini." Jawab Dion berterus terang, dan sudah termakan oleh kebohongannya sendiri
"Apa papa tega merusak kelestarian alam semula jadi ini?"
"Kalau papa tetap nekat mengeksploitasinya, tentu saja tempat ini akan rusak, dan banyak yang akan terkena dampaknya." Respon Ivory tidak senang
"Apa yang mama katakan itu memang benar!"
"Tapi usaha papa, setidaknya bisa menyelamatkan aset kekayaan negara, dari jarahan bangsa asing, yang banyak datang mengambil kandungan isi buminya."
"Tapi itu baru prediksi papa saja."
"Lagi pula, bukit yang besar ini, tidak ditumbuhi tanaman herbal. Cuma pohon pohon berukuran sedang saja"
"Jadi apa salahnya untuk di eksploitasi." Jawab Dion menduga duga duga saja
"Terserah papa sajalah!. Tapi mama tetap tidak setuju, kalau papa berniat merusak keaslian tempat ini!" sanggah ivory tetap ngotot
"Ah sudahlah!. Tak perlu di bicarakan lagi!"
"Itupun baru niat papa saja, bisa jadi, bisa juga tidak?" Jawab Dion mencoba mengalah
__ADS_1
"Oh ya pa!. Coba makan buah ini, rasanya manis bercampur asam. Tapi lebih banyak manisnya kalau sudah masak." Ucap Ivory menawarkan sesuatu pada suaminya. Walau sebenarnya terbalik
"Buah apa ini?. Perasaan papa belum pernah melihatnya?"
"Apakah ini buah salak ma?" Tanya Dion penasaran
"Bukan pa!. Menurut buku yang pernah Ivo baca, buah ini disebut dengan asam paya, atau yang lebih dikenal dengan sebutan kelubi, asam paya, atap seng atau salak hutan, salak liar dan sebagainya"
"Memang apa khasiatnya ma?" Tanya Dion ingin tahu
"Banyak pa!. Antara lain sebagai sumber vitamin C. Mengecilkan pori pori dan mengatasi kulit berminyak serta jerawat." Jawab Ivory apa adanya
"Bagaimana caranya?" Tanya Dion lagi semakin penasaran
"Papa baca sendirilah nanti setelah sampai di rumah kita, ya?" Jawab Ivory malas untuk menjelaskan
"Ah mama ini!. Merajuk lah!" Ucap Dion pura pura kesal
"Merajuk lah sendiri!" Respon Ivory menjengkelkan
"Hap!" Kata Ivory memberi kode, sambil menyuruh Dion untuk membuka mulutnya
Tanpa curiga sedikitpun, Dion membuka mulutnya, dan dalam sekejap saja, buah paya tersebut, sudah masuk ke mulut Dion, dan segera membuat tubuhnya bergetar karena masamnya
"Masam!" Reaksi Dion seperti ingin memuntahkan buah paya dari mulutnya
"Isap bukan di gigit!. dan resapi rasa gurihnya!" Ucap Ivory tegas
"Huh!. Masam sekali!" Ucap Dion lega, setelah selesai memakan daging asam paya tersebut
"Enak kan pa?" Tanya Ivory tidak disangka sangka
"Enak mananya ma, asam gitu?" Jawab Dion berterus terang
"Ah papa ni!. Mama paling suka memakannya waktu sekolah dulu. dan sampai sekarang masih tetap suka." Ucap Ivory bercerita
"Memang begitu ya ma?" Tanya Dion penasaran
"Ya memanglah!" Jawab Ivory bernada kesal
"Tunggu sebentar!. Katakan dimana kau mendapatkan buah itu?"Tanya Dion ingin tahu
"Mau apa dengan tempat tersebut?" Tanya Ivory penasaran
"Papa akan menyuruh pengawal kita, untuk mengambil buah ajaib itu, dan membawanya ke kota emas." Jawab Dion semangat
"Demi mama?" Ucap Ivory senang sambil bertanya
"Ya. Demi mama" Jawab Dion cepat
"Kalau begitu panggil mereka!. Karena merekalah yang telah mengambilkannya untuk mama!" Sambut Ivory berterus terang
"Hans!. Panggil dewa obat juga Govin kemari!" Perintah Dion tegas
"Baik tuan besar!" Jawab Hans patuh, kemudian pergi menemui dewa obat juga muridnya itu
"Apakah kalian mengenali buah ini?" Tanya Dion pada keduanya, setelah mereka datang menghadap
"Tahu tuan besar!. Buah itu tergolong keluarga Arecaceae. yang nama latinnya Eleiodoxa conferta."
"Bersifat asam dan sedikit manis dagingnya." Jawab dewa obat menjelaskan
"Apakah buah ini bermanfaat bagi tubuh?" Tanya Dion hanya sekedar memastikan saja
"Benar tuan. Khasiatnya banyak sekali." Jawab dewa obat apa adanya
"Kalau begitu, mumpung hari masih pagi. Bawa beberapa orang pengawal, untuk memetik buah tersebut sebanyak banyaknya."
__ADS_1
"Aku ingin membawanya ke kota emas. Bisa?" Ucap Dion mengandung perintah serta permintaan
"Bisa tuan besar!" Jawab dewa obat cepat