
"Benar juga apa yang kau katakan itu!. Kenapa aku tidak kepikiran ke sana ya?" Jawab Burgon seperti linglung
"Maaf ketua kalau saya menyela!" Ucap salah seorang anak buahnya yang lain
"Silakan!" Jawab Burgon singkat
"Menurut ku, kematian Vincent itu, sudah di luar wewenang kita sebagai mata mata."
"Yang mengeksekusi Vincent bukankah kita, tapi pihak yang berwajib. Jadi kita tidak terlalu terbebani atas kematiannya itu."
"Lagipula saya rasa pak Wijaya akan senang, karena putrinya telah terbebas dari parasit atau benalu tersebut!"
"Terlepas apakah anaknya terima atau tidak, itu tergantung dari usaha bapak Wijaya, bagaimana caranya dia menjelaskan permasalahan itu, pada putrinya sendiri."
"Lagipula kita mempunyai dua orang tabib sakti, yang mungkin bisa mengobati penyakit anak gadis pak Wijaya tersebut, minimal bisa menenangkannya." Ujarnya cukup mantap
"Kau benar!. Aku setuju dengan pendapatmu itu."
"Cuma masalahnya, apakah tuan besar tidak menyalahkan kita, karena tidak berhasil membawa si badjingan Vincent ke hadapannya?"
"Itu bukan ranah kita lagi ketua!. Pihak berwenang yang ketua libatkan tadi, mempunyai hak untuk menghabisi, atau sekedar melumpuhkannya saja."
"Vincent sudah diberi kesempatan untuk hidup, tapi dia malah melawan."
"Maka mau tak mau, mereka menembaknya, demi melindungi keselamatan orang lain."
"Hum!. Benar juga apa yang kau katakan itu. Aku jadi tenang dan senang mendengarnya." Respon Burgon lega
"Tapi ngomong ngomong!. Bagaimana dengan luka mu Tomo?. Apakah perlu di obati, atau dibawa ke rumah sakit?" Tanya Burgon mengkhawatirkan keadaan anak buahnya
"Tidak perlu ketua, hanya luka ringan saja!" Jawab Tomo mantap
"Yang perlu dipikirkan menurut saya adalah, tentang rekan kita dan polisi yang terluka itu."
"Mudah mudahan mereka bisa diselamatkan!" Ucapnya lagi
"Nanti setelah masalah di tempat ini selesai, kita pergi ke rumah sakit, untuk mengunjungi teman kita yang terluka." Jawab Burgon tidak semangat. Kemudian berjalan mendekati pemilik penginapan untuk meminta maaf
"Maaf kalau kami telah membuat anda khawatir!"
"Orang yang menembak polisi dan anak buah ku tadi, adalah buronan internasional juga lokal."
"Dia mantan residivis dalam kasus narkoba, bahkan sekarang masih tetap pada profesinya semula"
"Karena penginapan mu dijadikan tempat persembunyiannya, kemungkinan kau akan dimintai keterangan oleh pihak berwajib."
"Apakah sampai sejauh itu tuan ketua?. Bukankah orangnya telah mati?" Tanya pemilik hotel itu ketakutan
"Bisa iya bisa juga tidak!. Karena mungkin ada unsur kesengajaan, dan yang paling sial adalah, kau dituduh bersekongkol dengannya!" Jawab Burgon menerka saja, dan bukan bermaksud menggertak pemilik penginapan tersebut
"Kalau bisa janganlah tuan!. Saya alergi kalau sudah berurusan dengan mereka!" Respon Masdar, pemilik penginapan tersebut merasa khawatir
"Kau tenang saja!. Kami tidak akan tinggal diam, kalau kau dipermasalahkan." Ucap Burgon cepat, berniat membesarkan hati Masdar tersebut
"Terima kasih tuan ketua!" Jawab Masdar merasa senang
"Panggil saja ketua, jangan tuan!" Ucap Burgon protes
"Baik!. Maaf, karena terlalu semangat sekaligus khawatir memikirkannya." Jawab Masdar merasa bersalah
"Oh ya!. Tentang kerusakan kecil tempat mu ini, kami akan bertanggung jawab penuh, dengan melaporkannya pada tuan besar Dion."
"Kami jamin, dia akan menggantinya, bahkan mungkin akan membeli tempat ini untuk dimiliki!" Ucap Dion tegas, pada pemilik penginapan tersebut
"Apa?!. Jadi tuan tuan semua ini, adalah anak buah orang hebat itu?" Tanya Masdar dengan ekspresi terkejut
"Benar sekali!. Tapi apakah kau kenal, atau pernah bertemu dengan tuan besar kami itu?" Respon Burgon penasaran
"Kalau bertemu belum pernah. Tapi kalau dengar tentangnya memang selalu!" Jawab Masdar cukup yakin
__ADS_1
"Ternyata begitu!. Jadi apakah kau minta ganti rugi atas kerusakan meja dan kursi tersebut?" Tanya Burgon ingin kepastian
"Saya tidak berani ketua!. Kerusakan pun tidak seberapa. Jadi jangan dipermasalahkan lagi!" Jawab Masdar cukup legawa
"Baiklah kalau begitu!. Tapi jika kau berubah pikiran, pergi dan temui, pengawal yang ada di hotel bintang lima yang tak jauh dari sini, dan sampaikan apa keperluannya."
"Kebetulan hotel tersebut milik tuan besar kami." Ucap Burgon tegas, sambil berniat untuk meninggalkan tempat itu, dan pergi ke rumah sakit
"Baiklah ketua!. Terima kasih!" Jawab Masdar cepat. Kemudian mempersilahkan Burgon dan anak buahnya, untuk meninggalkan tempat itu, guna mengurus keperluannya masing masing
***
Rumah sakit Queen Candramaya, satu setengah jam kemudian.
Wajah Burgon dan tujuh anak buahnya, tampak menyunggingkan senyum lega, karena rekan mereka yang tertembak, telah melewati masa kritisnya. Begitu juga dengan seorang anggota polisi, yang mengalami nasib sama
Dion yang sebelumnya sudah dikasi tahu tentang peristiwa itu, segera menghubungi pihak rumah sakit, agar memberikan perawatan yang maksimal, pada kedua korban tersebut
Bukan hanya itu saja, Dion juga memerintahkan pada Iron, untuk mengirim sejumlah pengawal, guna menambah kekuatan pengawal yang sudah ada sebelumnya di rumah sakit tersebut, guna berjaga jaga
Tidak sampai di situ saja. Dion juga mengutus orang, untuk pergi ke hotel, tempat dimana paman Wijaya dan yang lainnya menginap, untuk dibawa ke villa nya kembali
***
Kebetulan saat itu, jam sudah menunjukkan pukul enam setengah malam. Paman Wijaya dan yang lainnya, sudah dalam keadaan fresh, dan sedang bersiap siap untuk santap malam di hotel tersebut
Tapi ketika mereka sedang menuju restoran di lantai bawah. Rombongan Wijaya bertemu dengan rombongan utusan Dion
Mendadak langkah mereka terhenti, begitu juga dengan langkah lima teman lainnya
Sebab yang datang menemui mereka, bukanlah orang sembarangan, dalam jajaran elit pengawal keluarga Dion.
Mereka antara lain adalah Iron. pemimpin tertinggi dalam jajaran para pengawal, berikut empat pengawal elit lainnya. Dan mereka itu adalah Robin, Awan, Langit dan Bumi
Selain mereka, masih ada 20 orang pengawal elit lainnya. salah satunya adalah Eric
"Selamat malam semuanya!. Kebetulan kita ketemu di sini!" Ucap Iron agak kaku dan canggung ketika mengucapkannya
"Ada apa pemimpin Iron?, apakah ada masalah, hingga anda sendiri yang datang menemui kami?" Tanya Wijaya dengan ekspresi sedikit khawatir
"Kami di utus oleh tuan besar, untuk menjemput kalian!" Jawab Iron tegas dan kaku
"Untuk apa?. Bukankah pesta sudah selesai?" Respon Tagor keheranan
"Tuan besar dan tuan senior, hanya mengatakan untuk menjemput kalian saja di sini."
"Selebihnya kami tidak tahu penatua!" Jawab Iron apa adanya
"Baiklah kalau begitu!. Kami akan ikut kalian ke sana!" Jawab Tagor mantap
"Kalau begitu, mari!" Respon Iron senang
Setengah jam kemudian, Wijaya, Pambudi dan yang lainnya, sudah berada di hadapan Dion dan tuan Birawa
Saat itu, mereka sedang duduk di meja bagus dan lebar, yang di atasnya tersaji berbagai macam hidangan lezat, dan sangat menggugah selera
Dion yang saat itu menjadi tuan rumah, segera meminta tamu tamunya, untuk menyantap hidangan yang telah tersedia di atas meja
Tak lupa pula dia minta pada para pengawal tinggi dan utama, untuk bersantap malam juga bersama mereka, walau berlainan meja
Mendapat penghargaan seperti itu, para pengawal yang ada, sangat terharu atas perhatian dan kemurahan tuan besarnya itu
Dalam hati mereka membatin, bahwa mereka sangat beruntung, berada di bawah kekuasaan tuan besar Dion dan kakeknya
Empat puluh menit kemudian, acara makan malam tersebut sudah selesai, dan hidangan di atas meja pun telah disingkirkan semua, serta di ganti dengan hidangan penutup lainnya
"Paman Wijaya!. Tahukah paman, bahwa anak buah ku, telah berhasil menyingkirkan benalu, yang selama ini, terus merongrong hidup anak paman?" Ucap Dion memulai pembicaraannya
"Tolong jelaskan lebih rinci tuan besar!, karena otak paman sedikit tumpul, kalau sehabis makan." Jawab Wijaya berharap
__ADS_1
"Begini paman!. Burgon dan anak buahnya, siang tadi telah mendatangi lokasi, di mana Vincent selama ini bersembunyi."
"Kebetulan dia bersembunyi di kota B, dengan menginap di salah satu penginapan tidak begitu terkenal, tapi cukup besar menurut kelasnya."
"Dia ke sana bukan sendiri, tapi bersama dengan pihak berwajib."
"Dalam penggerebekan itu, terjadi baku hantam, antara anak buah Burgon dan anak buah Vincent."
"Hasilnya dia terbunuh di tangan polisi, karena telah menembak salah seorang anggotanya, termasuk seorang intel ku."
"Sekarang jasadnya telah dibawa ke rumah sakit, untuk di otopsi." Ucap Dion memberi penjelasan
"Sedangkan 33 orang anak buahnya yang masih hidup telah diamankan di kantor polisi." Ujarnya lagi
"Syukurlah kalau begitu!." Respon Wijaya senang bukan kepalang
"Benalu yang selama enam bulan ini, terus menggerogoti uang perusahaan ku, dengan berkedok hubungan asmara, telah mati di tangan polisi!" Ujarnya lirih
"Tapi apakah paman sudah siap, dengan reaksi anak paman, jika dia sudah mengetahui cerita yang sebenarnya?" Tanya Dion membuyarkan rasa senangnya itu
"Tuan besar benar!. Saya melupakan hal besar itu!" Reaksi Wijaya khawatir
"Paman Zu!, apakah ada obat penenang, yang bisa membuat orang melupakan kejadian besar untuk sementara waktu?" Tanya Dion tiba tiba
"Ada tuan besar!. Bukan hanya sementara, tapi permanen, dan sifatnya tidak merusak." Jawab Pai Zu Xian cepat
"Kalau begitu kau berikan obat tersebut pada paman Wijaya untuk diberikan pada putrinya itu!" Balas Dion tegas
"Baik tuan besar!" Jawab Pai Zu Xian patuh
"Satu masalah telah teratasi, tinggal bagaimana melaksanakannya" Ucap Dion senang
"Oh ya!. Selain obat penenang itu, apakah ada obat lain yang paman Zu punya?"
"Ada tuan besar!. Seperti obat pembersih paru, peningkat stamina pria, obat awet muda, meremajakan kulit, dan masih banyak lagi yang saya punya." Jawab Pai Zu Xian lancar
"Hum ternyata begitu!" Batin Dion dalam hati
"Nanti kalau paviliun obat telah selesai, segera produksi dalam jumlah banyak obat obat tersebut."
"Aku ingin dalam waktu dekat ini, rencana ku sudah terlaksana!" Respon Dion senang
Tapi dalam hatinya membatin, suatu saat nanti, akan meminta pada dewa obat atau dewa tabib, sebuah anyelir atau pil penguat stamina pria. Tapi malu untuk di utarakan nya di tempat umum
"Bagaimana tentang rencana pembangunan paviliun itu paman Mandala dan Upasama?" Tanya Dion cepat, mengalihkan pembicaraan, karena wajahnya mendadak bersemu merah, pertanda malu jika ketahuan niatnya
"Sudah berapa persen kemajuannya?" Tanya Dion terkesan maraton
"Sampai saat ini, sudah sekitar 25 persen tuan besar. dan itupun dilaksanakan bersamaan dengan pembangunan gedung gedung lainnya." Jawab Mandala, kepala proyek pembangunan itu mantap
"Bagus!. Untuk itu aku ingin murid murid kalian, juga terlibat dalam pembangunan tempat tersebut, agar bisa fokus dalam satu pekerjaan dan tempat!" Respon Dion senang
"Paman semua!. Maaf kalau kalian harus mendengar ocehan ku ini!"
"Selain menyampaikan berita kematian Vincent pada kalian, terutama pada paman Wijaya. Aku juga ingin menyampaikan berita dan instruksi lain pada anak buah ku."
"Jadi sekali dayung, dua tiga pulau terlampaui!" Ucap Dion semangat
"Tidak masalah tuan besar!. Justru kami senang dan beruntung, karena bisa belajar secara langsung dari ahlinya."
"Sangat jarang, bahkan tidak pernah sama sekali, kami yang sudah tua tua ini, melihat dan mendengar instruksi, juga perintah yang sangat tegas tapi tepat guna seperti itu!:
"Jika malam ini kami tidak diundang oleh tuan ke sini, maka kami merasa rugi, dan termasuk golongan orang yang tidak beruntung." Jawab Pambudi cepat dan didukung oleh yang lainnya
"Hahahaha!. Itu memang salah satu keahlian dari cucu ku!"
"Setiap instruksi dan perintah sudah dipikirkan sebelumnya, hingga yang mendapat perintah, akan paham dan tidak perlu bertanya berulang kali!" Ucap tuan Birawa datang menyela
"Luar biasa!" Ucap Pambudi dengan ekspresi kagum, saat memuji kinerja cucu sahabatnya itu
__ADS_1