
"Berhenti!. Siapa kalian?" Tanya salah seorang tamu penginapan tersebut dengan ekspresi marah
"Tenang!. Kami juga tamu penginapan ini, sama seperti kalian." Jawab Tomo enteng
"Kurang ajar!. Tidak tahukah kau, bahwa tempat ini sudah kami booking semua?" Respon tamu tersebut bertambah marah
"Apa hak mu memesan seluruh tempat ini, sedangkan kamarnya masih banyak yang kosong?" Jawab Tomo tidak kalah gertak
"Terserah kami mau bagaimana!. Yang penting cepat kalian pergi dari sini!. Kalau tidak kami akan berbuat kasar!" Jawabnya penuh ancaman
"Aku mau lihat, bagaimana caranya kalian berbuat kasar pada ku."
"Jangan jangan hanya gertakan anak kecil saja." Jawab Tomo terkesan meremehkan ?
"Brengsek!. Dasar tidak tahu diri!" Ucap laki laki tersebut marah, kemudian merangsek ke arah Tomo, dengan melancarkan pukulan mematikannya
Wus!. Buk! buk!
Plak!, des!
"Hugh!"
Sesosok tubuh terpelanting jauh, dan jatuh menimpa kursi yang ada di lorong penginapan tersebut, karena terkena tendangan kuat di perutnya
Anak buahnya yang melihat itu, mendadak terpaku diam. Mereka tidak menyangka, kalau pemimpinnya akan kalah dalam serangan singkat tersebut
"Apakah cuma segitu kebisaan mu kawan?"
"Tadi bukan main ancaman mu!. Luar biasa menakutkan buat anak kecil seperti anak buah mu itu!" Ucap Tomo penuh ejekan
"Kau hanya beruntung saja tadi!. Tapi kali ini kau tidak akan lepas dari serangan ku!" Jawabnya emosi
"Oh ya!. Aku jadi penasaran! dan ingin melihat, seberapa kuat serangan yang kau katakan barusan!"
"Apakah sama dengan yang tadi?. Atau jangan jangan cuma gertakan mu saja!" Jawab Tomo enteng
"Kalian semua tunggu apa lagi!. Cepat serang mereka, dan sisakan orang itu!" Perintah laki laki tersebut melenceng dari rencana semula
"Tunggu!. Kau bilang akan menyerang ku dengan kekuatan sendiri. Tapi mengapa kau malah menyuruh anak buah mu untuk menyerang ku?"
"Atau jangan jangan kau takut terkena pukulan dan tendangan ku lagi?" Ucap Tomo memancing emosi lawannya
"Untuk menghadapi orang brengsek seperti mu, tidak perlu mengotori tangan ku sendiri!"
"Cukup orang orang ku saja, sudah cukup untuk mengusir kalian dari sini!" Jawab laki laki tersebut cukup percaya diri
"Benarkah?" Respon Tomo penuh ejekan
"Berhenti semua!. Kenapa ribut ribut dalam penginapan?"
"Apakah kalian ingin menghancurkan barang barang di dalamnya?"
"Kalau mau bertarung, jangan di sini, tapi di luar!" Ucap seseorang secara tiba tiba, dan ternyata adalah pemilik penginapan itu sendiri
"Siapa kau?. Kenapa berani mencampuri urusan kami?"
"Aku pemilik penginapan ini!" Jawabnya cepat
"Sebagai pemilik, tentunya aku berhak mengusir kalian, karena tidak ingin melihat, kalau penginapan ku jadi hancur, hanya gara gara ulah kalian yang tidak terpuji itu!" Jawabnya lagi
"Itu bukan urusan ku!"
"Kau timpakan saja kesalahannya pada orang orang itu!, karena merekalah yang mencari gara gara duluan dengan kami!" Jawab Sonny, pemimpin kelompok 35 orang itu lepas tangan
"Aku tidak mau tahu urusan kalian!. Kalau aku bilang pergi ya pergi, dan keluar dari penginapan ini sekarang juga!" Jawabnya penuh emosi dan cukup berani juga
Krep!
"Arg!" Keluh Utomo kesakitan, karena lehernya terasa tercekik oleh perbuatan seseorang
Kerah baju bagian belakangnya, dicengkeram cukup kuat oleh seseorang itu, yang tiba tiba saja keluar dari dalam kamar penginapannya
Tidak cukup disitu saja!. Dengan kasarnya dia mendorong tubuh pemilik penginapan tersebut, hingga maju beberapa langkah ke depan, kemudian jatuh ke lantai, karena hilang keseimbangan
"Beraninya kau mau mengusir anak buah ku!. Apakah kau tidak takut mati?" Tanya orang tersebut dengan suara kuat
"Vincent!. Ternyata kau bersembunyi di sini?" Ucap Tomo terkejut
"Siapa kau?. Kenapa bisa tahu nama ku?" Tanya orang tersebut yang ternyata adalah Vincent
__ADS_1
"Aku adalah malaikat maut! orang yang diutus untuk mencabut nyawa mu!" Jawab Tomo enteng
"Kurang ajar!" Kau pikir kau siapa?" Reaksi Vincent marah. Kemudian berkata lagi.
"Katakan!. Bagaimana kau bisa tahu nama ku?"
"Apakah kita pernah bertemu sebelumnya?" Tanya Vincent mulai curiga
"Untuk laki laki brengsek seperti mu, mudah sekali untuk mengetahui nya!" Jawab Tomo berkelit
"Badjingan!. Jangan berbelit belit kalau bicara!" Respon Vincent mulai tidak mampu menahan emosinya
"Baik!. Aku akan mengatakannya!"
"Aku harap kau sudah siap untuk mendengarkannya!" Jawab Tomo penuh misteri
"Vincent, seorang pria yang mau menang sendiri, yang hidup bergantung dari seorang perempuan, dengan kedok percintaan!"
"Beralasan cinta itu, dia memaksa calon istrinya, agar membelikannya sebuah rumah, dengan alasan hadiah perkawinan."
"Selain itu, dia juga seorang pemasok, sekaligus pengedar dan bandar narkobanya."
"Yang lebih fantastis lagi adalah, dia sekarang tengah menjadi orang yang sangat di cari oleh pihak berwajib, sekaligus mantan residivis dalam kasus yang sama."
"Puas?" Ucap dan tanya Tomo berterus terang dan lancar sekali
"Sialan!. Bagaimana kau bisa tahu informasi tentang ku?. Apakah kau seorang polisi?" Respon Vincent menyelidik
"Itu masalah mudah bagiku!. Teknologi sekarang sudah sangat canggih sekali!"
"Mudah bagi semua orang, untuk mencari informasi tentang orang lain, termasuk kau Vinod!" Jawab Tomo enteng
"Gawat!. Orang ini tahu nama ku, bahkan nama kecil ku pun dia tahu!"
"Apa hubungannya orang ini, dengan Wijaya dan Tasya , perempuan malang dan bodoh itu?"
"Ini tidak bisa dibiarkan!"
"Kalau orang ini tidak cepat disingkirkan. Aku khawatir keberadaan ku akan ketahuan!" Batinnya dalam hati
"Sonny!" Teriaknya kuat
"Cepat habisi mereka!. Jangan ada satupun yang lolos, termasuk pemilik penginapan ini!" Ucapnya memberi perintah
"Siap bos!" Jawab Sonny, anak buahnya patuh
"Kepung dan habisi mereka!. Jangan biarkan mereka lolos!" Perintah Sonny juga tegas
"Hehehehe!. Kau pikir kami ini ayam, yang tidak akan melawan ketika dikepung?" Respon Tomo cepat, sambil terkekeh geli
"Dasar cari mati!" Bentaknya kesal
"Kalian belum pantas berhadapan dengan kami!" Respon Tomo lagi dan seperti meremehkan lawannya
"Hiaat!" Teriak anak buah Sonny marah, sambil melancarkan pukulan kuat ke arah wajah Tomo, tapi dengan mudah di hindari olehnya
"Anak baru seumuran jagung, tapi sudah berani melawan ku!" Ucap Tomo penuh ejekan
"Jangan banyak omong!. Terima serangan ku ini!" Jawab ya kesal, sambil mengangkat kakinya tinggi tinggi, dan menendang ke arah Tomo, dengan harapan mengenainya, tapi..
Bug!
"Hugh!" Keluhnya kesakitan
Tubuh anak buah Sonny, terguling di lantai, dan tidak bangun lagi pertanda pingsan
Vincent yang melihat itu sempat tercekat diam, dia tidak menyangka, kalau anak buahnya akan begitu mudah dikalahkan
Sejauh dia memandang, 35 anak buahnya tengah menjadi bulan bulanan lawan, termasuk si Sonny sendiri
Menyadari hal itu, Vincent berniat kabur, dan tidak memperdulikan anak buahnya lagi
Tapi rencananya terendus oleh Tomo. Bergegas dia berlari menghampiri Vincent, dan berniat menangkapnya. Tapi..
Dor!
"Argh!" Teriak Tomo kuat ketika tangan kirinya terserempet timah panas, yang ditembakkan oleh Vincent ke arahnya
Kalau dia tidak cepat menghindar, sudah pasti peluru tersebut akan menembus dadanya
__ADS_1
Tidak mau terulang lagi, Tomo segera berlindung di balik meja, yang kebetulan memang ada di sana, sambil mencari cara untuk menyergap buruannya
Tapi Vincent tidak bodoh. Dengan brutalnya, dia memuntahkan semua peluru yang ada dalam pistol, dan dua diantaranya mengenai orang yang ada di depannya, termasuk anak buahnya sendiri
"Badjingan!. Kau telah membunuh satu anak buah ku!" Teriak Tomo kuat, kemudian merangsek ke arah Vincent, dengan melemparkan kursi lipat ke arahnya
Usaha Tomo berhasil. Pistol yang sudah kosong di tangannya, jatuh kelantai, berikut dengan tuannya
Tak mau kehilangan kesempatan, Tomo segera merangsek ke arah Vincent dan ingin menangkapnya
Tapi tiba tiba, dor!. Bunyi pistol terdengar lagi.
Ternyata Vincent mengeluarkan pistol cadangan, yang dia simpan di balik celana panjangnya. yang di ikatkan di kaki, Kemudian bergegas berdiri, untuk menembak lawannya kembali
Beruntung Tomo cepat menyadarinya, dengan melompat ke samping
Ketika Vincent ingin menembaknya lagi, terdengar dua letusan senjata api secara beruntun, dari arah sampingnya
Seketika tubuh nya roboh kembali ke lantai karena sebelah kakinya, tertembus peluru tajam
Sedangkan pistol yang dipegangnya, terpelanting ke atas, dan jatuh di dekatnya lagi, akibat terkena tembakan jitu dari petugas polisi. Tapi cepat diraihnya kembali, walau kakinya sakit
"Jangan bergerak!. Jatuhkan senjata mu!" Teriak seorang polisi memberi perintah
Dor! dor! dor! dor!
Dor!
Dor!
Teriakan polisi itu, dibalas dengan tembakan beruntun, hingga tepat mengenai perut polisi tersebut
Sedangkan dua polisi lainnya, hanya terluka ringan
Sementara peluru satunya lagi, terpental jauh, dan menyerempet anak buahnya sendiri di bagian kepala, hingga membuatnya tewas seketika
Tubuh Vincent pun roboh ke lantai, karena diterjang dua timah panas di bagian dada dan ulu hatinya
Seketika itu juga perlawanannya terhenti, karena nyawanya terlepas dari badan
***
Setelah kerusuhan reda, komandan polisi yang ada di tempat kejadian, segera memerintahkan bawahannya, untuk mengurus orang yang terluka atau mati, termasuk anak buah Burgon dan anak buahnya sendiri
"Maafkan saya ketua!, karena tidak bisa melindungi rekan sendiri!"
"Saya tidak menyangka, orang itu mempunyai senjata api. hingga saya tidak bisa berbuat apa apa !" Ucap Tomo menyesali diri sendiri, sambil meringis kesakitan
"Itu bukan salah mu Tomo!. Aku yang salah, karena lupa memperingatkan kalian akan hal itu!"
"Selain itu aku datang terlambat, karena harus mendatangi markas polisi, untuk melaporkan tentang keberadaan Vincent buronan mereka tersebut."
"Kalau aku tahu si vincent itu mempunyai senjata api, tentu aku izinkan kalian membawanya juga, hanya untuk berjaga jaga saja." Jawab Burgon terkesan menyalahkan diri sendiri pula
"Mudah-mudahan nyawa teman mu itu masih bisa di selamatkan!" Ucap Burgon, mencoba membesarkan hati anak buahnya kembali
"Tapi walau bagaimanapun, saya harus bertanggung jawab atas insiden ini, karena tidak mematuhi petunjuk dari atasan!" Sanggah Tomo tetap menyalahkan diri sendiri
"Coba kau ceritakan, awal terjadinya pertarungan itu!"
"Bukankan aku hanya menyuruh mu untuk mengawasi saja, plus memastikan kebenaran informasi tersebut?"
"Tapi kenapa bisa ada baku hantam seperti ini?" Tanya Burgon ingin tahu
"Awalnya kami hanya lewat di lorong ini, melalui lorong di sampingnya."
"Terus?"
"Ketika kami lewat, orang itu menghentikan kami. Tentu saja kami tidak terima!"
"Maka terjadilah percekcokan antara kami, sampai merambat ke perkelahian dan penembakan itu."
"Jika mereka tidak memulai duluan, mungkin kejadian ini tidak akan terjadi di sini." Ucap Tomo apa adanya
"Ternyata begitu!. Tapi sudahlah!. Peristiwanya pun sudah terjadi."
"Sekarang yang penting adalah, biang pembuat masalah telah mati, dan tugas kita sedikit menjadi ringan!"
"Tapi bagaimana dengan anak gadis orang tua itu, Apakah dia bisa menerima kematian calonnya tersebut?"
__ADS_1