
"Minggir!. Kenapa kau menghalangi jalan ku?" Teriak Rojak marah, sesaat sebelum masuk ke dalam pekarangan rumah besar berlantai tiga tersebut
"Maaf bos!. Saya sedang melayani pelanggan ini." Jawab pedagang bakso tersebut beralasan. Kemudian tetap mengambilkan pesanan bakso yang ingin dibeli oleh pembeli yang ada di depannya
"Tetap saja kau harus memindahkan gerobak mu!karena telah menghalangi jalanku!"
"Kalau kau tak mau juga, jangan salahkan aku jika harus menabrak gerobak mu itu!" Respon Rojak tiga emosi
"Baik!. baik!. Saya akan mendorong gerobak dagangan saya ke pinggir " Jawab pedagang bakso tersebut ketakutan. Kemudian buru buru mendorong gerobak miliknya, agar menjauhi pintu gerbang rumah besar tersebut
"Mengganggu saja!" Ucap Rojak kesal, setelah gerobak yang menghalangi jalannya di dorong menjauh, dan mobil yang ditumpanginya pun berhasil masuk ke dalam pagar
Tapi belum juga penumpangnya keluar semua. tiba tiba terdengar sebuah suara lantang cukup menyakitkan telinga
"Hey kau!. Tidak bisakah bersikap sopan pada pedagang kecil?"
"Kau pikir kau itu siapa?" Hardik seorang wanita kisaran 40 tahun, berpenampilan menor pada Rojak cukup berani sekali
"Kurang ajar!. Mau cari mati kau!" Respon Rojak marah
"Sini kalau kau berani!. Bunuh aku!"
"Laki laki macam apa kau!. Berani nya cuma sama perempuan!" Jawab perempuan menor tersebut malah menantang
"Ini rumah ku, juga rumah bos besar kami. Jadi kami berhak mengusir siapa saja yang ada di depan rumah kami!" Ucap Rojak ketus
"Hellow!. Ini jalan umum! Siapapun berhak menggunakan nya, kecuali kalau berada di dalam pekarangan rumahmu. Tapi ini jalan umum!"
"Sadar diri dong!" Balas wanita tersebut juga ketus
"Kalau kau bukan perempuan tua, nenek-nenek, sudah lama ku cabut nyawamu!" Sambut Rojak benar benar kesal
"Apa katamu!. Suamiku seorang pejabat kota!. Kalau kau berani macam-macam. akan aku adukan kalian pada suamiku!" Jawab perempuan menor tersebut bernada mengancam
"Hahahaha!. Mana ada istri pejabat membeli jajanan di pinggir jalan. Ngaca dong!" Teriak anak buah Rojak geli, sambil tertawa terbahak bahak
"Kalian tidak percaya kalau suami ku penguasa di kota ini?"
"Tunggu sampai aku menghubunginya, baru kalian akan merasa takut dan hormat pada ku!. Tunggu saja!" Balas perempuan tersebut geram
"Bos!. Jangan layani perempuan sinting itu. Lebih baik fokuskan pada dua orang pedagang yang sedang melayaninya." Ucap Kerry pada Rojak tiga
"Ada apa dengan pedagang tersebut?" Respon Rojak tiga penasaran
"Ada yang aneh dengan dua orang pedagang itu."
"Lihat kulitnya cukup bersih, pakaiannya pun mungkin berbahan mahal."
"Apakah bos percaya kalau mereka benar benar seorang pedagang keliling?" Ucap salah seorang anak buah Rojak mulai curiga
"Maksudmu mereka mata mata yang sedang mengawasi kita!. Begitu?" Tanya Rojak tiga mulai mengerti
"Benar bos!. Aku curiga mereka bukan pedagang, tapi mata mata!" Jawab Kerry asal menebak saja
"Lalu siapa perempuan gila itu?. Apakah dia juga orang yang berpura pura sebagai pelanggannya?" Tanya Rojak sudah termakan hasutan anak buahnya sendiri
"Bisa jadi juga bos!"
"Untuk memastikan bahwa mereka bukan mata mata. Suruh mereka masuk dengan berpura pura ingin membeli barang dagangannya." Jawab Kerry, seorang mata mata andalan kelompok Rojak tersebut mengiyakan
"Ada benarnya juga. Ayo kita berakting, seolah olah ingin menjadi pelanggannya." Respon Rojak senang. Kemudian memanggil Bowo dan Karno agar masuk ke dalam.
__ADS_1
"Hey kalian berdua. Setelah selesai melayani perempuan gila itu, bawa gerobak mu masuk, karena kami ingin memborong semua dagangan mu!" Ucap Rojak pada pedagang bakso dan nasi goreng itu bernada kasar
"Baik bos!" Jawab keduanya senang
Setelah itu, Rojak serta 30 orang anak buahnya pun masuk ke dalam rumah besar tersebut, untuk menemui bos besar mereka, yang sedari tadi terus mengawasi dari dalam rumah
Tak lama kemudian dia keluar lagi, hanya ditemani oleh Kerry, dan tiga anak buahnya
Sementara di depan pagar, kedua pedagang keliling tersebut telah selesai membungkus pesanan dua orang pelanggannya. Kemudian bergegas untuk membawa gerobaknya masuk ke halaman rumah Rojak
Tapi sebelum mereka masuk, perempuan menor tersebut bersuara lagi
"Lebih baik abang berdua hati hati.Takutnya mereka bakal merampok dagangan serta uang kalian!"
"Di wilayah ini, mereka terkenal dengan sebutan begal alias perampok, karena kerjanya merampok orang kecil seperti kalian!" Ucap perempuan menor tersebut lantang
"Dasar jhalang!. Cepat enyah dari sini!"
"Kalau masih tetap berkata kasar, jangan salahkan kalau kami bersikap tidak sopan pada mu!" Ucap Kerry sudah mulai kesal dan terpancing emosi
"Dasar begundal!" Respon perempuan tersebut cukup kasar, lalu buru buru pergi dengan menaiki mobil bak terbuka
"Hahahaha!. Istri pejabat sampah!" Ledek Rojak dan anak buahnya cukup menohok sekali
Sementara itu, kedua pedagang keliling yang sudah berada di dalam pekarangan rumah Rojak. tidak terpengaruh oleh intimidasi candaan mereka
Keduanya tetap asik merapikan gerobak dagangannya lalu berkata. "Bos mau pesan apa soto atau nasi goreng ?" Ujarnya
"Tidak usah berpura pura bhangsat!"
"Kalian berdua bukan pedagang, tapi mata mata!"
"Belum pernah ada pedagang keliling yang berani berjualan di sekitar sini!"
"Katakan, siapa kalian sebenarnya?" Bentak Rojak kasar
"Bos berkata apa!. Kami memang pedagang bos!. Baru beberapa bulan ini bergabung dengan juragan Gembul."
"Kalau bos tidak percaya, ini kartu anggota saya!" Jawab pedagang bakso yang menyamar sebagai Bowo tidak terima
Kerry dengan sigap mengambil kartu itu, dan menelitinya cukup lama. Setelah itu kartu tersebut diberikannya pada Rojak, lalu berkata.
"Itu memang kartu anggota anak buah Gembul bos!. Saya pernah melihat kartu tersebut dipegang oleh anak buahnya." Ujarnya
"Kau yakin mereka bukan mata mata Kerry?"
"Bukankah kau sendiri yang mengatakannya tadi. bahwa mereka berdua adalah mata mata?" Ucap Rojak protes
"Awalnya memang iya bos!. Tapi setelah melihat tanda pengenal itu, saya jadi percaya, bahwa mereka itu memang benar benar pedagang Keliling." Jawab Kerry membela diri
"Dari mana kau tahu tentang itu?" Tanya Rojak kesal
"Dari kartu yang dia pegang!. karena tidak mudah untuk mendapatkan kartu tersebut bos."
"Hanya orang orang jujur, ulet, rajin dan berkemauan keras serta setia, yang bisa mendapatkan tanda pengenal tersebut!"
"Apalagi itu tanda pengenal kuning keemasan. Berarti mereka orang yang paling bisa di percaya oleh juragan Gembul." Jawab Kerry menjelaskan
"Kalau kau sudah mengatakan seperti itu. Aku percaya saja!" Sambut Rojak sudah mulai lega
"Bagaimana bos?. Apakah jadi memesan dagangan kami?" Tanya Bowo ingin tahu
__ADS_1
"Ya!. Buatkan 50 mangkok bakso, dan 10 piring nasi goreng, untuk anak buah ku!" Jawab Rojak tiga kesal
"Baik akan segera kami siapkan!" Jawab Bowo senang
Lalu dengan cekatan mempersiapkan mangkok serta yang lain, demi memenuhi pesanan Rojak tersebut
Setelah satu jam, semua pesanan itu telah selesai. Hanya tinggal menunggu pembayarannya saja
***
Sementara itu, di dalam rumah bos utama komplotan begal yang bernama asli Babu Sumarso, atau yang sering dipanggil dengan Rojak Babu, sedang asik mengawasi kedua pedagang tersebut, dengan coba mengenali siapa mereka berdua
"Untuk sekarang kita harus berhati hati, walau terhadap pedagang keliling seperti mereka!"
"Siapa tahu mereka mata mata yang sedang menyamar menjadi pedagang, padahal sebenarnya sedang mengawasi kita!" Ucap Rojak Babu pada anak buahnya
"Jadi apa yang harus kita lakukan bos?. Apakah harus menangkap mereka?" Tanya anak buahnya ingin dukungan
"Tidak perlu!. Cukup awasi mereka saja dan ikuti kemana mereka pergi."
"Pastikan apakah mereka berdua benar-benar pedagang atau bukan!" Jawab Rojak Babu tegas
"Baik bos!"
"Cepat turun dan suruh Rojak tiga membayar pesanan yang sudah mereka terima itu, lalu suruh pedagang keliling itu pergi!"
"Buat seolah olah kejadiannya terjadi secara wajar. Mengerti?" Perintah Rojak Babu cukup tegas
"Siap bos!" Jawab Bono salah seorang komandan operasi dalam kompolotan tersebut patuh
Sepuluh menit kemudian, tukang bakso dan penjual nasi goreng sudah meninggalkan pekarangan rumah Rojak Babu, dan sekarang sedang meneruskan perjalanannya menuju rumah Gembul untuk kembali
Tapi ditengah perjalanan, mereka saling berkomunikasi satu sama lain dengan menggunakan sebuah alat canggih berukuran kecil, yang mereka masukkan di kerah baju mereka
Bukan hanya itu saja. Di topi yang mereka pakai itu, juga terdapat kamera pengawas, walau ukurannya sangat kecil sekali, tapi bisa merekam seluruh objek yang berada dalam jangkauannya, serta dikirimkan ke pusat data ruang operator milik Birawa Group di kota emas
Hasil pantauan itu juga dikirimkan pada Robin serta Burgon, agar mereka bisa cepat bertindak, jika rumah yang di diamini oleh Rojak Babu itu merupakan markas penjahat atau bukan
"Terus berjalan seolah olah sedang tidak di awasi. dan tawarkan barang dagangan kalian pada orang orang yang duduk di depan rumah mereka." Ucap Burgon memberi perintah
"Siap ketua!" Jawab Bowo lirih. Kemudian melakukan apa yang diperintahkan oleh Burgon ketua mereka itu
"Sialan!. Mereka benar benar pedagang keliling, bukan mata-mata seperti yang dikatakan oleh bos kita!" Ucap salah seorang penguntit itu merasa geram
"Kau benar!. Kita bertindak seolah olah mereka musuh, padahal orang miskin yang sedang mencari sesuap nasi!" Jawab temannya
"Salah dia sendiri!. Nasi yang sudah ada malah di jual pada orang lain!"
"Padahal tinggal memakannya saja, beres!" Respon temannya berkelakar
"Kalau begitu bukan pedagang nasi goreng namanya!" Jawab temannya juga berkelakar, untuk mengusir rasa bosan mereka
"Lalu apa namanya?" Tanya temannya pula
"Pedagang yang tak tahu diri!"
"Bilang mau mencari sesuap nasi. Eh ketika nasi sudah ada, malah di jualnya pula!. Apa bukan pedagang tak tahu diri namanya?" Jawab temannya asal bicara
"Pandai lah kau!" Respon temannya sedikit kesal karena dipermainkan
"Sudah! sudah!"
__ADS_1
"Lihat ke sana!. Apa yang sedang mereka lakukan di tempat itu ?" Ucap seorang mata mata pada dua orang temannya penasaran