
"Tidak ada apa apa tuan muda, kami akan sangat berterima kasih sekali, jika tuan ingin mengembangkan daerah itu." Jawab Tiger ragu, seperti ada yang disembunyikannya dari Dion
"Di sana memang ada beberapa prospek yang sangat bagus untuk dikembangkan, untuk menjadi daerah tujuan wisata berskala besar." Sambungnya lagi
"Pemerintah setempat pun sudah selalu mengatakan, ingin mendatangkan investor yang mau mengembangkan daerah tersebut, tapi sampai saat ini, belum ada satupun investor yang mau menginvestasikan uangnya ke sana." Ujar Tiger panjang lebar
"Kalau begitu sangat bagus sekali. Nanti akan kukirim orang orang ku, untuk mengobservasi apa apa saja yang perlu dikembangkan di sana." Ucap Dion senang
"Kemudian untukmu Rudolf, Aku harap kau bisa membantu ayahmu ini, untuk mengembangkan daerah tersebut." Sambungnya lagi
"Maafkan saya tuan muda kalau saya lancang, saya bukan tidak mau membantu ayah ku ini untuk mengembangkan daerah tersebut, tetapi..."
"Tapi apa?" Sambung Dion tidak sabar
"Saya lebih tertarik untuk menjadi bawahan tuan di sini." Jawab Rudolf takut takut
"Maksudmu, menjadi salah satu pengawal ku, begitu?" Tanya Dion tegas
"Benar tuan muda, itupun kalau tuan muda mengizinkan, dan mempercayakan hal itu pada saya." Jawab Rudolf merendah
"Itu tergantung dari keinginan kuat mu, dan perlu kau tahu juga, kau tidak akan diterima begitu saja, sebelum di tes oleh orang orang ku, untuk mengetahui, apakah kau memang benar benar mempunyai kemampuan yang cukup bagus, untuk menjadi seorang pengawal." Ucap Dion menjelaskan pada Rudolf
"Terima kasih tuan muda, saya akan berusaha sekuat tenaga, agar bisa lulus dalam tes itu." Jawab Rudolf mantap
"Bagus kalau begitu." Ujar Dion senang
"Bagaimana dengan pendapatmu paman, apakah paman tidak keberatan?" Tanya Dion santai
"Saya menyerahkan semua keputusan itu kepada Rudolf, dan tentu saja atas persetujuan tuan muda juga." Jawab Tiger senang sambil tersenyum
"Baik kalau begitu, seminggu setelah ini, kau akan di tes." Ucap Dion cukup jelas, kemudian mengalihkan perhatiannya pada Maya dengan wajah penuh tanda tanya, seolah olah ingin mengetahui, bagaimana keinginan dari Maya tersebut
"Terima kasih tuan muda!" Jawab Rudolf benar benar senang
Maya yang diperhatikan seperti itu menjadi maklum, dan mengerti apa maksud pandangan dari Dion itu, kemudian dia berkata." Saya akan mendampingi ayahku, untuk mengembangkan daerah tersebut tuan." Ucap Maya mantap tapi malu malu
"Bagus kalau begitu, aku senang mendengarnya, Ucap Dion sambil tersenyum manis kearah Maya
Deg! bunyi jantung Maya tiba tiba. Entah kenapa, begitu melihat senyum Dion yang sangat manis tersebut, hatinya menjadi semakin berbunga bunga, dan dia pun tidak tahu, kenapa bisa terjadi hal seperti itu padanya
"Selamat sore tuan muda! maaf kalau kedatangan ku mengganggu." Ucap seseorang yang tiba tiba saja datang dan langsung menghampiri mereka
"Ada apa Ivo?" Tanya Dion keheranan
Ivory yang ditanya, bukannya menjawab pertanyaan Dion, tapi malah mengalihkan perhatiannya pada Maya, dan terus memperhatikannya dari atas sampai ke bawah
Di dalam hatinya berkata." Datang lagi saingan beratku, untuk mendapatkan tuan muda Dion." Batinnya dalam hati sambil menatap Maya dengan tatapan tajam dan rasa tidak suka, tapi Maya masih tenang tenang saja
Menyadari pandangan Ivory yang tidak biasa itu, Dion buru buru menengahi suasana canggung itu, kemudian berkata." Perkenalkan, ini paman Tiger, mitra kerja kita kedepannya, dan ini Rudolf serta Maya anaknya." Ujar Dion tidak enak hati
__ADS_1
"Oh ya perkenalkan! Aku Ivory Sanders, sekretaris utama Birawa Group, dan asisten tuan muda Dion." Ucap Ivory memperkenalkan diri dan terkesan membanggakan kedudukannya
"Saya Tiger, bawahan tuan muda yang baru, dan ini anak anak saya." Jawab Tiger merendah, ketika membalas perkenalan dari Ivory itu
"Paman Bukan bawahan saya, tetapi mitra kerja saya." Ucap Dion tiba tiba, menimpali pembicaraan mereka
"Walaupun nantinya kita mitra, tetapi bagaimanapun, saya tetap bawahan tuan muda." Jawab Tiger tetap ngotot
"Terserah paman sajalah!" Ucap Dion pasrah
"Oh ya Ivo!. Ada keperluan penting apa, hingga kau terburu buru datang ke sini?" Tanya Dion tegas
"Maaf tuan muda, kalau saya sampai lupa. Apakah tuan masih mengingat Vincent, mantan ipar sepupu tuan itu?" Tanya Ivory hingga mengejutkan Tiger dan kedua anaknya
Selama ini mereka menyangka, bahwa Dion masih belum menikah, tapi ternyata perkiraan mereka salah, walau sekarang sudah tidak terikat lagi
"Ya, aku masih ingat. Memangnya ada apa dengan si Vincent itu, apakah dia masih cacat seperti dulu?" Jawab Dion terkesan biasa saja
"Tidak lagi tuan, luka luka yang dialaminya dulu sudah sembuh." Jawab Ivory
"Lalu ada apa dengannya?" Tanya Dion lagi
"Vincent semalam telah tewas tuan, karena dikeroyok oleh beberapa orang berandalan di kota B."
"Tewas?. Kenapa bisa begitu ?" Tanya Dion sedikit penasaran
"Lalu apa hubungannya dengan ku?" Tanya Dion dingin
"Beberapa saat sebelum dia tewas, neneknya, paman, bibi dan saudara sepupu perempuannya, juga Brian datang menghampirinya."
"Mereka saat itu, sedang berjalan menuju sebuah rumah kosong, yang tidak jauh dari tempat kejadian itu, tapi tidak mereka sangka, di tempat itu, mereka malah menemukan Vincent yang sedang tergeletak tidak berdaya di tanah
"Tentu saja mereka panik dan bertanya tanya, bagaimana sampai Vincent tergeletak tidak berdaya seperti itu."
"Dengan terbata bata, dia menceritakan semua peristiwa yang telah menimpanya, dari awal sampai akhir hingga saat ini, di mana dia dikeroyok oleh beberapa orang berandalan di tempat itu."
"Terus!"
"Sebelum dia menghembuskan nafas terakhirnya, neneknya juga menceritakan semua apa yang mereka tahu tentang tuan muda. Setelah mendengar itu, Vincent merasa sangat menyesal sekali, karena selama ini telah menghina tuan."
"Pada saat itu juga, beberapa pihak yang berwajib, datang menemuinya, kemudian mereka bertanya, siapa yang telah berbuat keji seperti itu pada Vincent."
"Vincent pun menjelaskan dengan terbata bata siapa orang yang telah menganiaya nya itu, tapi tak lama kemudian, dia menyebut nama tuan muda, lalu nafasnya pun terhenti saat itu juga."
"Pihak yang berwajib pun menjadi heran dan bertanya tanya, tentang jati diri tuan muda, kenapa sebelum Vincent menghembuskan nafas terakhirnya, dia menyebut nama tuan muda Dion."
"Apa tujuannya menyebutkan namaku saat itu?" Tanya Dion marah
"Saya aku juga tidak tahu tuan." Jawab Ivory kebingungan
__ADS_1
"Maaf tuan sampai aku lupa, di luar ada beberapa orang petugas penyidik yang ingin bertemu dengan tuan. Apakah tuan mengizinkan mereka untuk masuk?" Tanya Ivory ragu ragu
"Penyidik?. Untuk apa mereka mau menemuiku?" Jawab Dion tambah keheranan
"Aku juga tidak tahu tuan, mungkin sekedar bertanya, dan mengkonfirmasi kepada tuan, tentang ucapan Vincent tersebut." jawab Ivory menduga duga
"Kalau begitu, suruh mereka masuk!" Ucap Dion tegas
"Baik tuan muda!" Jawab Ivory singkat, kemudian berjalan meninggalkan ruang tamu itu
Tak lama kemudian, 4 orang penyidik berpakaian preman datang menemui Dion, yang sedang duduk dengan tenang di atas sofa mewahnya
Tapi begitu petugas itu bertemu dengan Dion, tubuh mereka menggigil ketakutan, dengan terbata bata mereka berkata." Tu..tu..tuan muda!" Ucap mereka serempak sambil sedikit membungkukkan badannya ke arah Dion
"Oh ternyata kalian, kalau boleh tahu, ada keperluan apa kalian menemuiku?" Tanya Dion dingin
"Tidak ada apa apa tuan muda." Jawab salah seorang dari mereka ragu ragu
"Katakan saja jangan sungkan begitu!" Ujar Dion penuh wibawa
"Ini tidak seperti yang tuan pikirkan, kami sungguh tidak mengira, bahwa orang yang dimaksud dan disebutkan oleh Vincent sebelum dia tewas adalah tuan muda."
"Memangnya ada hubungan apa antara aku dengan kematian Vincent?"
"Sebelum dia tewas, dia ada menyebutkan nama tuan muda." Ucap salah seorang petugas itu takut takut
"Lalu?"
"Kami hanya memastikan saja tuan muda, siapa orang yang disebut sebelum dia tewas itu."
"Jadi intinya, kalian berempat ini, menuduhku ada hubungannya dengan kematian Vincent?" Tanya Dion murka
"Kami tidak berani tuan muda." Jawab mereka serempak
"Lalu untuk apa kalian datang ke sini?, bukankah kalian ingin mengintrogasi ku?" Tanya Dion masih marah
"Bukan begitu tuan muda, kami datang hanya ingin melaporkan, bahwa menurut keterangan dari nenek mertua tuan muda dulu, tuan adalah bekas ipar sepupu dari Vincent itu"
"Ya kalian benar!. Dulu mereka adalah keluargaku, tapi sebelum aku dan anak perempuannya bercerai. Tapi sekarang, sudah tidak ada hubungan apa apa lagi antara aku dengan mereka." Ucap Dion dingin, sambil menyilangkan kaki kanannya di atas kaki kiri
"Kalau begitu kami mohon maaf tuan, dan kami undur diri." Ucap mereka buru buru ingin pergi, karena takut akan kemarahan Dion
"Silakan! Jawab Dion dingin
"Terima kasih tuan muda!" Ucap mereka serempak, lalu buru buru pergi dari ruang tamu tersebut, sambil membatin dalam hati." Untung tuan muda tidak marah, kalau sampai dia marah, jangan kan kita, mungkin pemimpin tertinggi kita pun akan tertimpa masalah besar, jika mempersulit tuan muda itu. Benar benar mengerikan." Batin mereka dalam hati
"Baiklah!. Karena sudah tidak ada lagi yang akan kita bicarakan, maka dipersilakan untuk paman Tiger, dan kau Rudolf serta Maya untuk beristirahat saja di sini."
"Terima kasih tuan muda, kami memilih untuk pulang saja ke hotel tempat kami menginap." Jawab mereka serempak
__ADS_1