
"Ba..ba..bagaimana gelang itu ada pada tuan?" Tanya pedagang keliling itu gugup
"Nanti saja aku jawab!, atau setelah anak buahku menguliti tubuh mu!" Jawab Burgon sekenanya saja
"Tunggu!. Kemarin teman ku di rampok di sekitaran sini, sampai mendapat banyak luka. Jangan jangan kalian pelakunya?" Tanya penjual soto itu mengarang cerita, dan malah menuduh kelompok Burgon yang melakukannya
Buk!
"Uuuggghhh!" Keluh penjual soto itu kuat
Akibat perkataan nya itu, bogem mentah mendarat di perut pedagang tersebut. hingga membuat tubuhnya membungkuk kearah Burgon.
Saat posisinya seperti itu, sebuah tendangan melayang kearah dagunya, dan membuat wajahnya seketika terangkat keatas, lalu jatuh ketanah dan tidak sadarkan diri lagi
Temannya yang melihat kejadian itu menjadi ketakutan, dia tidak tahu apakah penyamaran mereka telah diketahui atau belum. Oleh karena itu, dia lebih memilih diam, dari pada harus kena pukul seperti itu
"Jika kau banyak mulut, maka nasip mu akan sama seperti dia!" Ancam anak buah Burgon dengan wajah serius
"Baik! baik!. Saya akan diam saja!" Jawabnya gugup
"Cepat angkat dan masukkan kedalam mobil!. Bawa mereka ke markas kita!" Perintah Burgon tegas
"Siap bos!" Jawab sebagian mereka secara serempak, kemudian mengangkat tubuh pedagang itu kedalam mobil
Sementara yang satunya lagi tanpa diperintah dua kali, langsung masuk ke dalam mobil juga
Dua gerobak dagangan tersebut, ditinggal begitu saja di pinggir jalan, tapi tidak ada orang yang mengganggunya
Satu jam kemudian, baru terjadi keanehan, dua gerobak yang tadinya terparkir itu, sekarang sudah raib entah kemana
***
Markas pusat intelijen, kota P provinsi SS
Dua orang pedagang yang beberapa jam lalu disergap oleh kelompok Burgon, saat ini telah berada di markas pusat mereka
Kedua pedagang tersebut, dimasukkan kedalam ruang introgasi, untuk diambil keterangannya
"Simbol yang ada di gelang ini, mengindikasikan kepada nama seseorang, yang tentu nya sangat kalian kenal!"
"Aku hanya bicara satu kali!. Jawaban salah, satu jari akan hilang. Dua kali salah satu lagi yang akan terputus, dan begitu seterusnya!"
"Jadi jawablah dengan jujur. Siapa orang yang berinisial M itu?" Tanya Burgon dengan intimidasi yang sangat mengerikan
Penjual soto yang ditanya tersebut tidak mau menjawab. Dia lebih memilih bungkam, daripada harus menghianati tuannya sendiri. Dia lebih memilih untuk kehilangan jari jarinya, daripada harus menjawab pertanyaan dari Burgon tersebut
Dia melakukan itu karena belum pernah merasakan, bagaimana sakitnya, apabila salah satu anggota tubuh terlepas dari badan
"Satu kesempatan lagi!. Siapa orang yang berinisial M itu?" Tanya Burgon mencoba mengintimidasi penjual soto tersebut
Bukan menjawab atau memperdulikan pertanyaan dari Burgon tadi, tapi malah mengalihkan pandangannya ke tempat lain, dan tidak menganggap Burgon itu ada
Sikapnya yang keras kepala tersebut, membuat anak buah Burgon marah, kemudian dengan gerakan cepat, memotong salah satu jari penjual soto tersebut, tanpa ragu ragu lagi, dan ...
Craaasshh!
"Aaaarkkkhh!" Teriak orang tersebut kesakitan, sambil memegang jari kelingkingnya yang sudah terputus, Kemudian
Craaasshh!
"Aaaarrrkkkhh!"
"Biadab!, iblis! badjingan!" Ucapnya dengan segala macam sumpah serapahnya sambil berteriak kuat kuat
"Masih belum mau membuka mulut juga!. Aku ingin lihat! seberapa setianya kau pada tuan mu itu!" Ucap Burgon mengintimidasi
__ADS_1
"Gawat!. Jika tiba giliran ku ditanya, dan tetap berkeras seperti si Mamat itu. alamat aku akan diperlakukan sama sepertinya." Batin Roni ketakutan, ketika melihat dan menyaksikan, bagaimana orang orang tersebut, menyiksa temannya saat di interogasi
"Potong kedua telinganya, karena tidak mendengar pertanyaan ku!" Perintah Burgon tegas dan tidak main main lagi
Craassh! craasshh!
"Aaaaarrrkkhhh!" Teriak Mamat, nama pedagang soto itu sekuat kuatnya
"Bunuh saja aku!. Sampai matipun aku tidak akan membuka mulut. Kalian semua ibliiiss!. Matilah kaliaann!"
Jleb! jleb!
"Uuugghh!"
Seketika suara si Mamat itu terhenti, karena dileher dan mulutnya, tertancap belati putih sepanjang 25 centimeter, dan saat itu juga dia mati
"Sekarang giliran mu!. Kalau kau tidak mau bekerja sama, maka nasib mu akan seperti dia!" Ucap Burgon mengintimidasi
"Baik! baik!. Aku akan menjawab dengan jujur. Gelang itu memang tanda anggota kelompok kami."
"Sedangkan inisial M itu mengarah kepada tuan besar kami."
"Tuan besar?. Jadi kau bekerja atas perintah tuan besar mu itu?. Lalu siapa dia?" Tanya Burgon dengan ekspresi terkejut
"Di...di..dia adalah tuan..!"
Jleb!
"Aaarrrkkhhh!"
"Kenapa...?"
Jleb!
"Aaaarrrkkh!"
"Siapa M itu?. Jawab!" Teriak Burgon dengan suara kuat, sambil mengangkat belatinya ke atas, dan seolah olah ingin menusukkannya ke mulut orang tersebut
"Melviano!" Jawab Roni ketakutan
"Apa!. Apakah kau sedang tidak membohongi ku?" Tanya Burgon terkejut
"Tidak tuan!. Itu memang inisial dari tuan besar kami." Jawab Roni apa adanya, sambil menahan sakit, akibat kedua pahanya ditusuk dengan belati tajam oleh Burgon
"Ternyata orang lama!. Saingan bisnis yang sangat membenci tuan Birawa. Aku harus segera melaporkannya kepada tuan besar. dan ini tidak bisa dibiarkan!" Guman Burgon lirih
"Omar! lakukan tugas mu!" Perintah Burgon tegas
"Tunggu!. Aku akan berterus terang!. Sebenarnya tuan besar kami tidak salah, dia hanya dimanfaatkan oleh seorang wanita, yang saat ini menjadi simpanan tuan besar kami." Teriak Roni mencoba bernegosiasi dengan Burgon
"Simpanan?" Ucap Burgon keheranan
"Ya!. Wanita itulah yang telah mempengaruhi tuan besar kami, untuk melakukan ini semua, walau pada awalnya dia tidak mau!" Jawab Roni berterus terang
"Apa yang sedang direncanakan oleh tuanmu juga wanitanya tersebut?" Tanya Burgon mencoba menggali keterangan dari si Roni itu
"Berdasarkan apa yang saya dengar, wanita tersebut ingin membunuh orang yang bernama Dion, tapi saya tidak tahu siapa Dion itu sebenarnya." Ucap Roni jujur
"Berani sekali dia!. Memang siapa perempuan itu?" Tanya Burgon marah
"Jasmine!. Perempuan yang paling kami benci!" Jawab Roni apa adanya
"Bos?" Ucap Omar dengan ekspresi terkejut
"Ya aku tahu itu!. Wanita tersebut adalah orang yang selama ini dilindungi oleh tuan besar kita." Jawab Burgon ragu ragu
__ADS_1
"Lalu apa yang harus kita lakukan bos?" Tanya Omar kembali
"Aku akan melaporkannya kepada tuan besar, agar tindakan kita nanti tidak disalahkan olehnya." Jawab Burgon lemah
"Saya sudah berkata jujur pada kalian!. Jadi tolong lepaskan saya!" Ucap Roni memohon
"Apakah tuan besarmu tinggal dikota ini" Tanya Burgon sekali lagi
"Betul tuan!" Jawab Roni singkat. kemudian memandang wajah Burgon, seperti sedang mengharap agar dia dilepaskan, tapi reaksi Burgon biasa biasa saja, sehingga membuat Roni menjadi tidak sabar, kemudian dia berkata
"Tuan, tolong bebaskan saya, karena saya sudah berkata jujur pada tuan!" Ucap Roni penuh harap
"Aku akan melepaskan mu, tapi setelah nyawamu tanggal dari badan." Jawab Omar penuh intimidasi
"Apa yang akan kau lakukan padaku?. Bukankah aku sudah membantu kalian, dan berkata jujur?" Tanya Roni ketakutan
"Kau memang sudah berkata jujur, tapi keberadaanmu tidak kami butuhkan lagi disini!. Jadi aku membantumu untuk pergi!" Jawab Omar sambil menyeringai dingin, lalu...
Jleb! jleb!
"Aaaarrrkkh!. Ibli..!" Teriak Roni keras, dan tidak sempat menyelesaikan perkataannya, karena nyawanya sudah terlepas dari badan
"Masukkan tubuh tubuh yang tidak berguna ini kedalam karung, dan kirim ke rumah Jasmine. Sekarang!" Perintah Burgon tegas
"Baik bos!" Respon Omar cepat, kemudian mengajak 7 orang kawan kawannya itu, untuk mengangkat tubuh Roni dan memasukkannya ke dalam karung
***
Lima jam, lebih 15 menit kemudian. Tubuh Mamat dan Roni, sudah berada didepan rumah nenek Elina, dan masih terbungkus dalam dua karung besar
Saat itu waktu baru menunjukkan pukul 7. 53 malam. Tiba tiba saja datang tujuh orang lelaki dengan memakai penutup kepala ke rumah Jasmine, dengan membawa dua karung besar, dan langsung melemparkannya ke arah teras rumah Jasmine tersebut
Kedatangan mereka disaksikan oleh Danish dan nenek Elina, sementara Jasmine saat itu pergi entah kemana
"Apa yang kalian lakukan?. Kenapa kalian membuang sampah ke rumahku?" Tanya nenek Elina marah
"Itu oleh oleh untuk Jasmine, karena dia yang telah memesannya kemarin. Kalian tidak perlu membayar lagi, karena sudah dibayar lunas olehnya!" Jawab Omar cuek
"Permisi!" Ucap Omar lagi dan bergegas pergi, tanpa menghiraukan keheranan dan kemarahan nenek Elina tersebut
"Danish!. Coba kau periksa! Apa isi karung itu. Sepertinya berisi sesuatu yang berat." Perintah nenek Elina pada anaknya itu
Tanpa menjawab atau mengiyakan, Danish segera mendekati karung karung tersebut, kemudian membukanya secara tergesa gesa. Tapi alangkah terkejutnya dia, begitu melihat di dalam karung itu, bukan berisi barang, tetapi berisi jasad yang sudah tidak bernyawa lagi
"Kurang ajar!. Manusia biadab mana yang telah melakukan ini!" Teriak Danish dengan ekspresi terkejut, sambil mundur beberapa langkah menjauhi ke dua karung itu
"Kenapa kau seperti ketakutan Danish?. Apa isi kedua karung tersebut? Tanya nenek Elina penasaran
"Mayat!. itu mayat ibu!" Jawab Danish gemetar
"Mayat siapa?" Tanya nenek Elina penasaran
"Danish juga tidak tahu ibu. Mungkin anak buah Jasmine." Jawab Danish masih menduga-duga saja
"Apa!. Anak buah Jasmine, tapi siapa yang melakukannya?. Atau jangan jangan..?" Teriak nenek Elina terputus putus, mungkin terkejut
"Benar ibu!. Danish rasa, perbuatan Jasmine telah diketahui oleh musuh musuhnya itu, dan sekarang mereka datang sekedar memberi peringatan kepada Jasmine, agar tidak berani macam macam kepada Dion ." Respon Danish cepat
"Apa yang kau takutkan itu, sekarang sudah menjadi kenyataan Danish!"
"Mereka datang membalas perbuatan Jasmine, karena dia telah berani membunuh 3 anak buah Dion."
"Kalau perkiraanku itu benar, maka kita berada di posisi yang sangat berbahaya sekali. dan ini benar benar gawat!" Ucap nenek Elina merasa sangat khawatir sekali
"Jadi apa yang harus kita lakukan bu?. Apakah kita harus lari?" Tanya Danish seperti kehilangan akal sehat, dan sudah tidak bisa berpikir jernih lagi
__ADS_1
"Cepat telepon Jasmine!, dan perintahkan agar segera pulang. Sekarang!" Perintah nenek Elina gugup