
"Jangan berbohong!. Katakan terus terang!. Apa yang membawamu sampai kesini?" Bantah Abhicandra tegas
"Saya penasaran dengan murid tuan itu."
"Bagaimana dia bisa mengeluarkan aura yang begitu kuat malam tadi?"
"Guruku saja tidak mampu berbuat seperti itu. Tapi yang terjadi malam tadi sangat luar biasa!"
"Jadi jika diizinkan, saya ingin berguru padanya atau pada tuan guru!" Jawab Gilmer Aldrich berterus terang
"Apakah tidak ada yang lain?" Tanya Abhicandra sekedar menguji, sambil mengirimkan aura intimidasi nya pada Aldrich
"I i itu tidak penting tuan!" Jawab Aldrich gugup, karena tidak mampu menahan aura penekanan yang dikirimkan oleh Abhicandra itu
"Kekuatan mu masih lemah!"
"Bagaimana kau bisa melindungi murid ku nanti?" Respon Abhicandra berterus terang. Karena dia sudah tahu kemana arah pembicaraan Aldrich itu, serta apa tujuannya datang kemari
"Belajarlah lagi!. Setelah kau berhasil. baru boleh datang menemui ku!" Ucap Abhicandra tegas
"Tapi tuan!. Saya benar benar tulus ingin mengenal murid anda, sekaligus ingin berguru padanya!" Ucap Aldrich tetap ngotot
"Ilmu yang dikuasainya tidak cocok buat mu. Jadi sia sia saja kalau berguru padanya!" Jawab Abhicandra berterus terang
"Lalu apa yang harus saya lakukan tuan. demi memperdalam pengetahuan saya tentang kekuatan seperti itu?" Tanya Aldrich pula
"Apakah kau tulus mengatakannya?" Ucap Abhicandra malah balik bertanya.
"Saya tulus tuan!. Apapun akan saya lakukan demi dapat mempelajari ilmu seperti itu!" Jawab Aldrich mantap
"Hemm!. Nampaknya kau sedang tidak berbohong!"
"Tapi resikonya kau akan kehilangan pekerjaan, atau posisi mu saat ini?"
"Tidak masalah tuan!. Kebetulan saya sudah bosan dengan rutinitas yang begini begini terus tanpa kemajuan!" Jawab Aldrich mantap
"Kalau boleh tahu. apakah kau seorang ketua klan atau pemimpin perusahaan?"
"Karena jika dilihat dari penampilan mu, kau sepertinya bukan orang sembarangan?" Ucap Abhicandra penuh selidik
"Saya bukan siapa siapa tuan guru!. Saya hanya seorang CEO perusahaan, yang berkantor di gedung lantai 70 itu!"
"Kebetulan gedung itu milik perusahaan ku sendiri!" Jawab Gilmer Aldrich apa adanya
"Berarti kau orang hebat!. Masih muda begini tapi sudah mempunyai perusahaan sendiri!"
"Jika bukan orang hebat apa lagi namanya itu?" Respon Abhicandra sudah mulai merasa sedikit kagum
"Tapi itu bukan perusahaan saya tuan guru. Itu perusahaan orang tua saya!"
"Kebetulan dia sudah tidak ada. jadi saya yang meneruskannya!" Jawabnya lagi mencoba merendah
"Sama saja namanya itu anak muda!. Bagaimanapun kau termasuk orang hebat"
"Tapi sayangnya walau kau hebat. Kau belum bisa memenuhi kriteria murid ku!"
"Jadi aku sarankan!. Belajarlah lagi dengan guru mu itu, dan setelah mencapai level tinggi, baru datang lagi!" Ucap Abhicandra tegas, hanya sekedar menguji tekad lawan bicaranya tersebut
"Guruku sudah tiada!"
"Jadi sejak saat itu, level ku tidak bisa naik lagi, karena guru mengajariku tidak menggunakan buku panduan!"
"Tapi langsung praktik saja!"
"Oleh karena itu, mohon tuan guru mengajari ku, dan mengangkat ku menjadi murid!" Jawab Gilmer Aldrich penuh permohonan, sambil menyilang kan tangan kanannya di dada
Tapi Abhicandra tidak langsung menanggapi permintaan dari orang yang baru dikenalnya itu. Dia malah menoleh kearah Jenifer, yang hanya berdiri diam di sampingnya
Namun reaksinya biasa biasa saja. dan ini membuat Abhicandra keheranan
Bagaimana tidak heran. Pria tampan seperti Aldrich itu, tidak membuat Jenifer tertarik, atau setidaknya merespon kebaikannya
__ADS_1
Ini malah lain. Sikapnya cuek dan terkesan tidak tertarik. Mungkinkah dia sedang menjajaki isi dalam aldrich tersebut
Sementara yang sedang diperhatikan. hatinya menjadi harap harap cemas. Takut jika niat baik nya disalah artikan oleh Jenifer
Namun tak lama kemudian Jenifer membuka suara. "Kalau kau bisa menahan satu serangan ku, kau bisa mengenalku lebih dekat!"
"Atau belajar dengan guru ku ini! Ucap nya dengan ekspresi dingin
"Saya tidak berani nona. Ilmu ku tidak seberapa!"
"Baru saja seumur jagung dan itupun masih terlalu kecil!" Jawab Gilmer Aldrich berterus terang
"Aku tidak peduli!" Respon Jenifer ketus. Kemudian melontarkan serangannya ke arah tamunya tersebut
Serangan yang tiba tiba itu, tentu saja mengagetkan Gilmer. Spontan dia menahan serangan tak kasat mata itu dengan kekuatan penuh
Terjadi tarik menarik dan dorong mendorong antar keduanya. Tapi tak satupun yang ingin mengalah
Masing masing ingin mengungguli satu sama lain. dan itu terlihat jelas dari ekspresi mereka yang serius begitu
Tapi tak lama kemudian Gilmer Aldrich terjatuh, karena tidak mampu menahan kekuatan yang begitu besar
Padahal Jenifer baru saja mengerahkan kekuatannya sebesar 50 persen. Sedangkan lawannya sudah hampir 100 persen. Tapi dia tidak bisa mengungguli kekuatan lawannya
"Saya mengaku kalah!. Anda sangat luar biasa sekali!" Ucap Gilmer tulus
"Tidak juga!. Anda terlihat seperti sedang menahan kekuatan penuh anda. Jadi mudah dikalahkan."
"Kebetulan juga aku sedang beruntung!" Respon Jenifer merendah
"Tidak! tidak! tidak!. Nona memang kuat!"
"Jujur saya katakan!. Tadi waktu bertarung itu, saya mengerahkan kekuatan penuh, tapi tetap kalah juga!"
"Kalau bukan karena kekuatan nona yang luar biasa, apa lagi namanya?" Ucap Gilmer Aldrich bersikap jujur
Kemudian mengalihkan pandangannya ke arah Abhicandra. Seperti mengisyaratkan agar dirinya berbicara pada Jenifer
Tak lama kemudian diapun berkata. "Jadi sekarang apa keputusan mu Jeny?"
"Apakah kau menerima niat baiknya itu?" Ucap Abhicandra ingin penegasan
"Kenapa guru malah bertanya pada Jeny?"
"Bukankah dia ingin belajar dengan guru, bukan pada Jeny?" Reaksi Jenifer keheranan, dan tidak mengerti apa yang diisyaratkan oleh gurunya itu
"Maksud guru!. Apakah kau mau mempunyai saudara seperguruan seperti dia?" Bantah Abhicandra mencoba meluruskan
"Kalau itu memang yang terbaik!, ya terima saja!"
"Toh Jeny hanya murid, dan yang akan mengajarinya adalah guru juga!" Jawab Jenifer sedikit ketus
"Sekarang begini saja!. Guru ingin kau berkata jujur!"
"Kau mau tidak guru mu ini mempunyai murid lagi?" Ucap Abhicandra tidak terduga, dan terlihat gusar dengan keadaan yang tidak mengenakkan tersebut
Melihat itu Jenifer mendadak diam, dan menyesali sikap kasarnya barusan. Padahal bukan itu yang dia maksudkan
Dia hanya kesal, karena gurunya bakal mengangkat murid baru. Padahal dia sudah berjanji tidak akan mengangkat murid lagi
Tapi sekarang, di depan matanya pula, gurunya ingin mengangkat murid lagi. dan Jenifer bisa mengetahui ada maksud tertentu dari gurunya
Namun yang mengherankan. diawal pertemuan dengan Gilmer Aldrich itu. Sikap gurunya terkesan galak. Tapi di pertengahan, sikapnya tiba tiba saja berubah. Entah apa penyebabnya
Mungkinkah ada maksud tersembunyi dari gurunya itu. Jenifer masih belum bisa memecahkannya. Walau hatinya berkata bahwa Gilmer itu menginginkannya tadi. Tapi belum bisa dipastikan kebenarannya
Tapi entah mengapa Jenifer tidak begitu menyukainya
Walau dia menyadari, bahwa Gilmer Aldrich itu orang baik dan tidak ada niat untuk mengganggunya. Tapi entah mengapa, hati Jenifer seperti tertutup. dan tidak menyukai kehadiran Aldrich tersebut
Namun demikian, Jenifer tetap menyembunyikannya, karena dia tidak mau memupus harapan dari gurunya sendiri
__ADS_1
Dalam dia merenung dan diam itu. Tiba tiba Abhicandra mengagetkannya dengan berkata. "Bagaimana keputusanmu Jeny!. Mau apa tidak?"
"Tidak, titik!" Jawab Jenifer tegas dan tidak mau ditanya tentang itu lagi
"Baiklah!. Guru ikut kata mu saja"
"Walau guru juga ada hak. Tapi guru juga ingin fokus membimbing mu setiba di Indonesia nanti" Respon Abhicandra sedikit kecewa. Kemudian berkata lagi.
"Jadi kapan kita kembali ke Indonesia?"Ujarnya
"Jeny belum bisa memutuskannya guru, karena Jeny masih ingin bebas!. dan belum mau terikat!" Jawab Jenifer tanpa ragu ragu lagi
"Sayang sekali!. Padahal guru ingin kembali secepatnya ke Indonesia."
Guru ingin memperkenalkan mu pada tuan besar juga tuan muda, sekaligus pada seluruh penguasa Birawa Group itu!"
"Tapi ternyata kau menolaknya!" Respon Abhicandra sedikit kecewa
Jeny yang didesak seperti itu pun bingung mau berkata apa. Karena dia masih trauma atas desakan dari keluarganya, agar Jeny secepatnya menikah, dan mengambil alih 22 perusahaan yang menjadi bagiannya
Namun tak lama kemudian dia bersuara juga. "Sulit membuat keputusan disaat seperti ini guru."
"Di satu sisi ingin kembali tapi disi lain hati Jeny masih ragu !"
"Apakah karena pria itu?" Ucap gurunya memotong ucapan muridnya tersebut
"Sama sekali tidak guru!. Hatiku tidak mudah tertarik apalagi dengan laki laki lemah seperti dia!"
"Yang Jeny inginkan adalah, laki laki yang bisa melindungi ku, kapan dan dimana pun Jeny berada!" Jawab Jeny dalam bahasa ibu
"Jadi apa yang akan guru katakan pada pria baik itu?" Tanya Abhicandra kebingungan
"Serahkan saja pada Jeny!" Jawab Jenifer tegas. Kemudian mengalihkan pandangannya pada tamu yang sedari tadi tidak diajaknya masuk kerumahnya itu
Tak lama kemudian dia pun berkata. "Kalau boleh tahu! dengan siapa saat ini saya berhadapan?" Tanya Jenifer membuka kata
"Gilmer Aldrich. Nona boleh memanggil ku Gill saja!" Jawab nya tegas
"Bagaimana dengan nona?. Apakah saya boleh mengetahui siapa nama anda?" Tanya Aldrich cukup sopan, dan masih menggunakan bahasa resmi pada Jenifer
"Jenifer Anindya. Panggil saja Jeny!" Jawabnya tegas juga
"Lalu bagaimana keputusan guru anda!. Apakah saya bisa berguru padanya?" Tanya Aldrich sangat berharap
"Sayangnya tidak bisa. Tapi jika anda ingin juga berguru, silakan ikut guru saya ke Indonesia."
"Di sana ada banyak orang sakti. Bahkan yang jauh lebih sakti dari guru saya juga ada!" Jawab Jenifer acuh
"Benarkah itu tuan guru?" Respon Aldrich kegirangan
"Benar sekali!. Tinggal pilih perguruan mana yang ingin kau masuki. Maka kau akan mendapatkan guru sakti itu. kecuali tuan muda." Jawab Abhicandra apa adanya
"Tuan muda?. Siapakah dia ?" Tanya Gilmer Aldrich penasaran
"Putra penguasa Birawa Group dari Indonesia!" Jawab Abhicandra bangga
"Apakah dia sakti?. dan lebih sakti dari tuan guru?" Tanya Aldrich kembali merasa penasaran
"Lebih dari yang dibayangkan!"
"Tapi kau lihatlah sendiri nanti!" Jawab Abhicandra enteng. Kemudian mempersilakan tamunya untuk masuk
Tapi dia menolaknya, karena ingin segera kembali, dan mencari informasi tentang Birawa Group juga orang orangnya
Tak lama kemudian dia pun berkata. "Terima kasih atas tunjuk ajarnya tuan guru juga nona Jeny!"
"Kapan kapan saya akan mengunjungi Indonesia. Dan terutama anda nona!" Ucap Gilmer Aldrich sopan. Tapi penuh mengandung teka teki. Lalu bergegas meninggalkan tempat itu, untuk kembali ke kantornya
"Huh!. Menyebalkan!"
"Satu lagi yang akan menjadi batu sandungan buat Jeny!" Keluh Jenifer merasa kesal. Kemudian pergi begitu saja meninggalkan gurunya yang kebingungan
__ADS_1