
"Akan ku kuliti dia, dan ku berikan pada anjing!" Jawab Togar bengis
"Memang kau berani" Tanya Delvin terkesan mengejek
"Ya tidak sih!. Aku mengandalkan kalian, dan beberapa orang kampung sini." Jawab Togar terus terang
"Itu namanya lempar batu sembunyi tangan tulang!" Protes Delvin kurang senang
"Kenapa pulak?" Bantah Togar tidak mengerti
"Kau memprovokasi kita semua, agar membuat perhitungan dengan si Parto itu!"
"Sedangkan kau tidak mau ikut, karena tidak punya kemampuan untuk berkelahi dengan mereka!" Jawab Irfan meledek Togar tersebut
"Siapa bilang aku tidak akan ikut?. Aku akan membantu kalian dari belakang." Bantah Togar tidak terima
"Kalau kami diserang, apakah kau akan membantu kami?" Tanya Irfan ingin tahu
"kalau kalian mampu menghadapi mereka, maka aku akan menyemangati kalian. Sedangkan kalau kalian terdesak atau kalah, maka aku akan melarikan diri dari sana untuk meminta bantuan!" Jawab Togar tidak kenal malu
"Huuuu!" Teriak semua yang hadir di situ meneriaki si Togar tersebut
"Begini saja!. Bagaimana kalau kita datangi juragan Parto, secara baik baik, dan minta pertanggung jawabannya, atas perbuatan dari anak buahnya waktu itu?" Ucap Pambudi memberi usul
"Bukan aku tidak setuju dengan usul mu tersebut. Cuma masalah ya, kita semua tahu siapa si juragan Parto itu!"
"Kepala kampung sudah pernah menyampaikan itu, tapi ditolaknya mentah mentah. Malah balik mengancam kepala kampung kita!" Sanggah Delvin, ikut urun rembuk dalam permasalahan tersebut
"Kita tanya pada ketua kita. Siapa tahu dia mempunyai usul?" Jawab Pambudi tegas
"Ketua!. Silakan utarakan apa yang ingin ketua lakukan pada si Parto badjingan itu!" Ucap Irfan datang menyela
"Aku tidak akan melabrak Parto dan anak buahnya tersebut."
"Tapi aku akan langsung menempuh jalur hukum, untuk menyelesaikan permasalahan ini." Jawab Mahesa cukup tegas
"Ha!. Itu seperti yang ada dalam pikiran ku, cuma tidak mau ku sampaikan saja tadi!" Sambung Togar datang berlagak sebagai pahlawan
"Dasar plin plan!" Maki Delvin tidak senang
"Sudah! sudah!. Mau sampai kapan kalian akan bertengkar!" Hardik Mahesa Birawa
"Besok pagi aku akan membuat laporan ke kantor polisi, Karena aku telah mendapatkan dukungan dari orang kuat di kota."
"Wah itu bagus!. Aku berharap dengan laporan itu, juragan Parto akan ditangkap, dan kejahatannya akan terungkap ke permukaan!" Respon Pambudi senang
"Aku setuju!"
"Aku juga setuju!"
"Kami semua mendukung dan setuju!" Jawab teman temannya serempak, termasuk semua anak buah Mahesa, juga beberapa penduduk kampung yang berempati padanya
"Baiklah!. Kalau begitu kalian boleh bubar, dan kembali ke rumah masing masing!" Respon Mahesa Birawa senang. Kemudian mempersilakan teman temannya untuk keluar dari rumahnya
***
"Apa kau bilang?. Si Birawa itu akan mengadukan kita ke kantor polisi?" Tanya Parto berang
"Benar juragan!. Malah rencana itu didukung oleh teman karibnya, termasuk juga oleh tujuh karyawannya itu."
"Bukan hanya itu saja. Lima penduduk kampung, yang tanahnya telah disita oleh juragan. Juga mendukung rencana Birawa tersebut."
"Malah mereka yang paling getol, agar si Mahesa itu menjebloskan juragan ke penjara!" Jawab seorang penduduk kampung, yang waktu itu ikut rapat dengan si Birawa dan teman temannya tersebut
"Kurang ajar!. Ini tidak bisa dibiarkan!" Respon Parto sangat marah sekali
"Deden!. Bawa 30 anak buah kita, untuk memberi pelajaran pada tujuh karyawan Birawa tak tahu diri itu!"
__ADS_1
"Bakar rumah mereka!"
"Jangan lupa Satroni juga rumah penduduk kampung, yang dulu tanahnya aku ambil!"
"Kau tentu tahu siapa mereka!"
"Baik juragan!" Jawab Deden patuh. Kemudian pergi dari tempat itu, untuk menemui anak buahnya
Setengah jam kemudian, Deden sudah mengumpulkan semua anak buahnya, untuk diberi instruksi
Jam pada saat itu, sudah menunjukkan pukul 10 malam. udara pada malam tersebut, sangat dingin sekali. Tapi tidak sedingin hati juragan Parto, dan anak buahnya
"Dengarkan semua!. Ada orang yang coba coba ingin menghancurkan juragan kita!"
"Jika di hancur, maka kita juga akan hancur!"
"Oleh karena itu!, dia memerintahkan pada kita, agar mendatangi tujuh penduduk kampung, yang menjadi di karyawan Mahesa Birawa badjingan gitu!"
"Juragan Parto juga memerintahkan pada kita, untuk mendatangi 5 orang penduduk kampung yang lain, yang dulu tanahnya kita rampas atas perintah dari juragan Parto."
"Selain itu, juragan Parto juga memerintahkan pada kita, untuk membakar rumah-rumah mereka!"
"Apakah kalian siap dan bersedia?" Ucap dan tanya Deden berapi api membakar semangat dari anak buahnya
"Kami siap dan bersedia ketua!" Jawab seluruh anak buah Deden serempak
"Kalau begitu tunggu apa lagi! Mari kita atur rencana penyerangan tersebut!"
"Tapi ingat!. Jangan sampai ada orang yang melihat pergerakan kalian!. Karena jika ini ketahuan, maka akan berakibat buruk pada juragan Parto juga kita!"
"Sebelum kalian berangkat, kalian akan dibagi menjadi 4 kelompok kecil."
"Kelompok pertama, terdiri dari tujuh orang, bertugas untuk mendatangi 7 penduduk kampung, yang menjadi anak buah Birawa."
"Kelompok kedua, yang terdiri dari lima orang, bertugas untuk mendatangi 5 orang penduduk kampung yang tidak tahu diri itu!"
"Sedangkan kelompok keempat sisanya, akan ikut denganku, dan pura-pura menemui kepala kampung, sebelum kejadian tersebut terjadi"
"Apakah kalian paham?" Tanya Deden ingin kepastian
"Kami semua paham ketua, dan kami sudah siap untuk berangkat!" Jawab mereka penuh
"Baik!. Kalau begitu, jam 11 malam ini, kalian bersiap-siap untuk mendatangi semua target yang telah ditentukan!"
"Berpencar!" Ucap Deden memberi perintah
"Baik!" Jawab 30 anak buahnya yang ada di tempat itu serempak. Kemudian melaksanakan perintah tersebut tanpa di beri instruksi secara detail lagi
Masing-masing dari mereka, bergerak menuju rumah target. Sementara kelompok ketiga, bergerak menyusuri kampung, dengan dalih berpatroli
Sedangkan kelompok yang dipimpin oleh Deden, yang terdiri dari 8 orang, bergegas mendatangi rumah kepala kampung, untuk sekedar bersilaturahmi, yang belum pernah mereka lakukan sebelumnya
"Tumben kalian malam-malam begini mendatangi rumahku?. Apakah ada niat yang kurang baik?" Tanya Selamet, kepala kampung tersebut tanpa tedeng aling-aling lagi
"Jangan berprasangka buruk dulu kepala kampung!"
"Kebetulan kami lewat di tempat ini, dan melihat kepala kampung belum tidur. Maka apa salahnya kalau kami berniat singgah?" Jawab Deden berpura-pura ramah
"Langsung saja pada intinya!. Apa maksud kedatangan kalian kemari?" Tanya Selamet tidak senang, dan tidak kenal takut, walaupun saat itu dia hanya sendiri
"Ternyata pintar juga kau kepala kampung!. Aku sangka kau mudah dikibuli!"
"Apa maksudmu?" Tanya kepala kampung tersebut semakin tidak senang
"Tentang usahamu untuk membela si Birawa itu, juragan Parto tidak akan melayaninya, kecuali jika setelah itu, si Mahesa dan empat teman temannya itu pergi dari kampung ini!" Jawab Deden berterus terang
"Itu tidak mungkin!. Mereka semua adalah penduduk kampung ini!. Sementara kalian, adalah para pendatang, yang mencoba keberuntungan di kampung kami!" Jawab Selamet cukup keras
__ADS_1
"Jadi kau tetap akan ngotot, untuk menuntut agar juragan Parto bertanggung jawab, dengan mengganti rugi apa yang telah mereka alami itu?" Tanya Deden geram
"Benar!. Juragan mu harus memberi ganti rugi, kepada Mahesa Birawa, dan 7 anak buahnya tersebut, atas perbuatan anak buahnya yaitu kau!" Jawab Selamet apa adanya
"Bagaimana kalau kami menolak?" Tanya Deden mencoba menantang
"Mahesa Birawa akan melaporkan perbuatan kalian ke kantor polisi di kota besar. Aku yakin kalian tidak akan bisa berbuat apa-apa!" Jawab Selamet berterus terang
"Hahahaha!. Apakah kau cukup yakin Selamet!"
"Kau lihatlah sekelilingmu!. Sementara kau sendiri. Apakah kau tidak takut?" Tanya Deden mencoba mengintimidasi kepala kampung yang bernama Selamet tersebut
"Aku tidak takut!. Karena aku berjalan di jalan yang benar!" Jawab Selamet cukup berani
"Baik!. Kau lihat saja sampai di mana kemampuanmu untuk melawan juragan Parto!" Respon Deden enteng
"Tolong! tolong!. Ada kebakaran!" Teriak beberapa orang kampung yang terbangun karena mendengar Kentongan tanda bahaya
"Kurang ajar!. Apakah itu perbuatan kalian?" Ucap Selamet marah
"Hei!. Bukankah kau sendiri melihat, aku dan anak buahku, sedang ada di sini?"
"Kenapa kau menuduhku yang membakar rumah rumah penduduk kampung itu?" Jawab Deden tidak terima
"Aku yakin Ini pasti ulah kalian!"
"Minggir!. Aku akan pergi ke sana!" Bentak Selamet dengan suara keras
"Hehehehe!. Tidak akan semudah itu kepala kampung!"
Bug!
"Argh!" Jerit Selamet lirih, karena kepalanya dipukul kuat kuat, dengan menggunakan kayu, oleh anak buah Deden dari belakang
Tanpa bisa membela diri, tubuhnya segera ambruk ke tanah, dengan darah mengalir deras dari belakang kepalanya
Kejadian tersebut dilihat oleh istri dan anak Selamet tersebut, dan mereka segera berteriak untuk meminta tolong
"Cepat bungkam mulut ketiga orang yang ada di dalam rumah ini!, dan jangan biarkan mereka hidup!" Perintah Deden tegas
"Baik!"
Beberapa saat kemudian, di dalam rumah kepala kampung yang malang tersebut. Satu perempuan paruh baya, dan 2 anak laki-laki selamat yang masih remaja, berteriak meminta tolong, karena mereka akan dibunuh
"Tolong!. tolong!. ada pembunuhan!"
Jleb! Jleb!
"Argh!"
"Argh!"
Hanya itu suara yang terdengar, ketika leher dan dada mereka, tertembus belati sepanjang 30 centimeter
Tidak sampai di situ saja. istri dari kepala kampung tersebut, juga menjadi sasaran kebrutalan anak buah Deden
Tubuhnya diseret dari dalam kamar, dan dilemparkan begitu kuat, ke arah tubuh kedua anak remajanya tersebut
Setelah itu, datang anak buah Deden yang lain, dan segera menebas leher istri Selamet hingga putus
Kemudian tanpa membuang waktu lagi, mereka segera mencari minyak tanah yang ada di dapur, untuk disiramkan ke seluruh rumah berbahan kayu tersebut untuk dibakar
Setelah semuanya beres, dan teman temannya keluar dari dalam rumah tersebut. Salah seorang di antara mereka, menghidupkan korek api, dan membakar rumah itu
"Cepat tinggalkan tempat ini!, dan bergabung dengan penduduk kampung yang lain untuk pura pura menolong mereka!" Perintah Deden tegas
10 menit kemudian, Deden dan anak buahnya juga yang lain, telah bergabung dengan penduduk kampung, yang mencoba untuk menolong rumah-rumah yang sedang terbakar itu, dengan mencoba menyiram rumah tersebut agar apinya padam
__ADS_1
Tapi karena rumah-rumah tersebut terbuat dari kayu, maka dengan mudah api melahap rumah mereka hingga habis, dan tidak ada barang yang bisa diselamatkan, termasuk para penghuninya