Sang Pewaris Tunggal

Sang Pewaris Tunggal
Pedagang misterius


__ADS_3

"Salam tuan senior!" Sapa Hans ramah pada tuan Birawa


"Ada apa Hans?" Respon Birawa penasaran


"Waktu saya dan tuan besar, sedang lari pagi di jalanan kota B pagi tadi. Secara tidak sengaja, tuan besar menabrak seseorang, hingga membuatnya jatuh ke aspal."


"Terus apa istimewanya?" Ucap tuan Birawa memotong perkataan Hans


"Antara ingat dan lupa, saya seperti pernah mengenal orang itu tuan." Jawab Hans menduga duga saja


"Lalu?" Tanya tuan Birawa datar


"Untuk saat ini saya belum bisa menyimpulkan. siapa orang itu sebenarnya."


"Cuma yang menjadi keraguan saya, orang itu kelihatan lemah dan renta, tapi dari gaya bicara, juga sorot matanya itu, seperti sedang menyimpan bahaya yang sangat besar! dan bisa meledak kapan saja!"


"Yang menjadi keheranan kedua saya adalah, orang itu seperti sedang diawasi oleh orang lain, yang saya duga, mereka itu adalah pengawalnya." Jawab Hans apa adanya


"Lalu apa hubungan dengan Dion?" Tanya tuan Birawa bingung, seperti belum begitu memahami arah pembicaraan Hans itu


"Saya takut ada maksud tersembunyi dari orang itu tuan, karena saya seperti pernah mengenalnya. tapi dimana dan kapan itu saya lupa." Jawab Hans berterus terang


"Apakah orang itu ada mengatakan sesuatu yang menyiratkan niat kurang baiknya tersebut?" Tanya tuan Birawa sudah mulai tertarik


"Ucapannya biasa biasa saja tuan. Tapi dari sorot matanya bisa terlihat, kalau dia sedang merencanakan sesuatu." Jawab Hans cepat


"Secara tidak sengaja, saya melihat seringainya yang menyeramkan itu, saat tuan besar mencoba menolongnya untuk berdiri."


"Terlihat jelas kalau saat itu, dia seperti ingin mencelakai tuan besar, tapi hebatnya orang tersebut bisa mengendalikan emosinya."


"Tapi naluri saya mengatakan, kalau orang itu keberadaannya sangat berbahaya bagi tuan besar."


"Untuk itu saya ingin tuan senior mengingatkan tuan besar, agar selalu hati hati, dan tidak mudah percaya pada orang yang baru dikenalnya itu." Ucap Hans sangat khawatir


Tuan Birawa tidak langsung beraksi, saat Hans selesai memberikan laporan itu. Tapi otaknya berpikir keras, dan mengaitkan masa sekarang dengan masa lalu


Tak lama kemudian dia berkata." Besok temani tuan besar mu itu seperti biasa. Buat seolah olah tidak terjadi apa apa."


"Tapi kerahkan puluhan pengawal dan mata mata, untuk mengawasi orang tersebut. Siapa tahu dia muncul kembali dengan sandiwaranya itu."


"Berangkatkan mereka satu jam sebelum kalian turun, dan tempatkan mereka ditempat tempat yang akan kalian lalui."


"Sergap siapa saja yang dicurigai sebagai mata mata orang itu, dan bawa ke markas kalian!" Ucap tuan Birawa memberi perintah


"Baik tuan senior!" Jawab Hans tegas dengan hati lega, kemudian meminta izin untuk undur diri


Sepeninggal Hans, tuan Birawa kembali teringat dengan apa yang disampaikan oleh Hans tadi.


Ada banyak kekhawatiran yang timbul di hatinya, akan keselamatan cucu semata wayangnya itu


Memikirkan itu semua. Tuan Birawa kembali teringat, awal awal bertemu dengan Dion, dan saat menyerahkan tugas sebagai pemimpin tertinggi Birawa Group padanya.


Tak lama kemudian berkata.


"Akhir akhir ini, insting bertahan cucuku sudah mulai menurun. Hatinya terlalu lembut, tidak seperti di awal awal dulu."


"Sikap waspada nya sudah mulai kendor. Gerakannya juga sudah mulai lamban."


"Mungkinkah karena terlalu lelah, atau karena perhatiannya banyak terkuras dalam menghadapi musuh musuhnya itu, sehingga dia kurang waspada pada orang yang dianggapnya baik."


"Aku tidak boleh tinggal diam!. Demi keselamatan cucuku dan keluarganya!. Akan aku temukan siapa orang itu, dan apa tujuannya!" Ucap tuan Birawa pada diri sendiri. kemudian berlalu pergi


***


"Iron!. Cucuku Dion itu, sekarang sedang dalam bahaya besar. Secara tidak sadar, dia telah masuk kedalam perangkap seseorang, atas sikap baik orang yang baru saja dikenalnya pagi tadi."


"Aku ingin kau cari tahu, siapa orang itu!" Perintah tuan Birawa tegas


"Kalau boleh tahu, dimana tuan besar bertemu dengan orang itu tuan?" Reaksi Iron penasaran


"Menurut keterangan Hans, mereka bertemu dengan orang itu di jalanan kota B, yang menuju ke kota ini."

__ADS_1


"Hans merasa curiga, kalau orang tersebut mempunyai maksud yang kurang baik pada cucuku itu."


"Jadi aku ingin kau temukan siapa orang itu!. Minimal orang yang dilihat oleh Hans, yang sedang mengawasi orang tersebut."


"Aku juga sudah memerintahkan kepada Hans untuk menjebak mereka. Dengan menyebarkan puluhan pengawal juga mata mata, di tempat tempat yang akan dilalui oleh mereka besok pagi."


"Malam ini!, aku ingin kau sebarkan orang orang mu, untuk mendahului pengawal yang akan dikirim oleh Hans itu."


"Sisir semua lokasi yang dicurigai sebagai tempat tinggal mereka!"


"Tapi jangan bertindak berlebihan. Buat seolah olah kalian sedang tidak mencari atau mengawasi seseorang."


"Bagaimanapun!, aku ingin orang tersebut ditangkap, agar kita bisa mengetahui, apa maksud sebenarnya dari orang itu!" Perintah tuan Birawa Tegas


"Siap tuan senior!" Respon Iron tegas. Kemudian berlalu dari tempat itu, setelah meminta izin dari tuannya


"Aku harus melindungi cucu ku, bagaimanapun caranya!" Batin tuan Birawa dalam hati. kemudian berlalu pergi menuju ke ruang operator yang ada di lingkungan vila tersebut


***


Malam harinya


Seratus lima puluh orang bawahan Iron, diperintahkan untuk menyusuri kota B, dengan cara menyamar


Ada yang yang berperan sebagai pedagang keliling, ada yang berperan sebagai pembeli, sebagai turis. masyarakat biasa, tukang parkir, bahkan ada yang berperan sebagai preman atau anggota gangster, tugasnya adalah untuk mengacau para pedagang itu juga yang lain


Iron melengkapi mereka dengan senjata api, yang mereka sembunyikan di dalam gerobak, dibalik baju, atau di dalam tas para turis, yang berakting seolah olah sedang membeli dan menikmati dagangan mereka


Malam itu seperti biasa, aktivitas di kota B, berjalan meriah. Banyak pedagang keliling atau yang mangkal, serta pedagang asongan dan para turis yang berlalu lalang di jalanan kota B, karena waktu baru saja beranjak malam, dan cuaca pun sangat mendukung sekali


"Baksonya neng!" Ucap pedagang itu menawarkan dagangannya. Tapi orang yang ditawari jajanan tersebut menolak dengan cara halus


Sementara di bagian lain, tak jauh dari pedagang bakso itu, terdapat sebuah warung yang lumayan besar, yang didalamnya menjual nasi lengkap dengan lauk pauknya


"Mari tuan silakan masuk! Apakah tuan tuan ingin makan?" Ucap seorang penjual nasi dengan sikap ramah


"Ya siapkan empat piring nasi rames, lengkap dengan lauk pauknya, terutama ayam. dan jangan lupa, sambalnya juga!" Jawab seorang pengunjung di warungnya itu dengan sikap ramah juga


Kemudian dengan dibantu oleh dua orang anak buahnya, pedagang tersebut menyiapkan pesanan yang diinginkan oleh mereka


Tak membutuhkan waktu lama, apa yang diminta oleh pembeli itu, dipenuhi oleh pedagang nasi tersebut dengan cepat


"Silahkan dinikmati tuan!. Jika ingin tambah, kasih tahu saja!" Ucapnya sopan


"Terima kasih!" Jawab nya sambil tersenyum


"Siapa yang mengizinkan kalian berjualan di sini?" Bentak seorang ketua preman dengan suara keras


"Jika kalian ingin berjualan disini!.Bayar uang keamanan!" Ucapnya dengan suara lebih keras lagi


"Kami pedagang kecil tuan! Tolong beri keringanan. Sejak siang tadi, baru mereka yang datang." Jawab pedagang itu ketakutan


"Tidak bisa!. Jika dagangan mu ingin tetap aman, cepat bayar uang keamanan. Sekarang!" Bantah ketua preman tersebut sambil mencengkeram kerah baju penjual nasi itu


"Kurang ajar!. Selera makan ku jadi hilang, gara gara kedatangan kalian!" Maki pelanggan, yang saat ini sedang makan di tempat itu


"Siapa kalian?. Jangan campuri urusan ku!" Bentak ketua preman itu garang


"Aku bukan siapa siapa!, Tapi aku tidak senang, jika ada orang yang bersikap sewenang wenang pada pedagang kecil seperti dia!" Jawabnya menantang


"Aku peringatkan!. Sebaiknya kalian cepat pergi dari sini, sebelum kami hajar!" Ancamnya tidak kenal takut


"Beraninya kalian!. Bagas!. Seret orang itu kemari!" Perintah Ungaran, ketua preman itu tegas


Empat orang anak buahnya, bergegas menuju ke tempat orang yang sedang makan tersebut. Tapi tidak disangka, sebelum Bagas sampai, seseorang sudah berdiri dari kursinya, dan langsung menendang Bagas dengan kuat


Buk!


"Uugghhh!" Keluh kesakitan keluar dari mulut Bagas, yang pura pura tidak bisa ditangkisnya itu, tubuhnya terdorong kebelakang, dan berhenti ketika menabrak meja


"Badjingan!" Maki Ungaran marah, kemudian merangsek kearah penyerang itu dengan ganas

__ADS_1


"Tolong jangan kelahi disini!. kasihani kami tuan tuan. Tempat ini bisa hancur karena kalian!" Teriaknya memohon, tapi...


Buk!


"Uuugghh!"


Tubuh penjual nasi itu terpelanting kebelakang, karena terkena tendangan kuat diperutnya, oleh orang yang bernama Ungaran, karena dia kesal gara gara pedagang tersebut, tidak mau membayar uang keamanan, hingga perkelahian itu terjadi


"Selain pemalas!, kalian juga biadab!, Beraninya cuma menindas orang kecil!. Ayo lawan aku!" Tantang Tora, tamu warung makan tersebut dengan ekspresi marah


"Siapa takut!. Hiiiaaatt!" Teriak Ungaran kuat, ketika melancarkan serangannya kearah Tora, dan...


"Des, buk! tap!


Buk!


Semua serangan dari Ungaran, berhasil ditangkis oleh Tora dengan mudahnya. Bahkan satu serangan, berhasil masuk ke arah perut Ungaran dengan telak, hingga membuatnya terdorong sedikit ke belakang


"Kekuatan belum seujung kuku! Sudah berani bertingkah dihadapanku, dan menyebut diri preman pula!" Ejek Tora sambil tersenyum sinis


"Jangan bangga dulu!. Ini belum seberapa, dan belum ada apa apanya!" Reaksi Ungaran tegas sambil tersenyum sinis ke arah Tora


"Kalian semua! Cepat ringkus ketiga temannya itu!. Hajar mereka sepuas kalian!" Perintah Ungaran tegas pada keempat anak buahnya itu


Serentak mereka merangsek ke arah 3 orang pelanggan warung makan tersebut, yang saat ini sudah selesai makan. Tapi lagi lagi langkah mereka dihalangi oleh Tora


"Ternyata kalian bandel juga!. Selain pemalas dan serakah. Ternyata kalian kelompok orang orang penakut, yang beraninya hanya main keroyokan saja!" Ucap Tora kesal, ketika mengejek kelompok preman itu


"Jangan pedulikan apa yang dikatakannya!. Cepat maju!" Perintah Ungaran tegas


Buk! plak! Deez!


Bruk! prang!


Anak buah Ungaran berjatuhan di dalam warung makan tersebut. Ada yang menabrak meja, dan ada pula yang melempar kan peralatan makan yang ada di warung itu


Prang! prang!


Tora dan ketiga kawannya itu, menangkis serangan lawan dengan kekuatan kaki dan tangannya. Sesekali memukul atau menghindari lemparan piring, gelas, yang beterbangan di dalam warung itu


Karena merasa tidak mampu mengimbangi kekuatan 4 orang tersebut, Ungaran segera memutuskan untuk kabur dari tempat itu, dengan berteriak lantang


"Cabuuut!" Ucapnya sambil menahan sakit, dan bergegas keluar dari warung itu, dan lari entah kemana


"Kalian tidak apa-apa?" Tanya pemilik warung itu dengan ekspresi khawatir


"Paman terang saja, kami tidak apa apa!" Jawabnya enteng


"Apakah mereka sering mengganggu aktivitas kalian" Tanya Tora pada pedagang tersebut dengan ekspresi marah


"Ya! Mereka selalu mengganggu kami, juga para pedagang yang mangkal di sini."


"Bukan di tempat ini saja, tapi di merata tempat jalanan kota B ini. Padahal pihak otoritas setempat, sudah berkali kali menertibkan mereka.Tapi hilang satu, datang lagi yang lain. Sangat meresahkan sekali!" Jawab pedagang itu berterus terang


"Kalau boleh kami tahu, kalian berempat dari kelompok mana?" Tanya pedagang itu dengan sikap ramah


"Oh, kami bukan dari kelompok siapa siapa. Kami pendatang di kota ini.!"


"Maaf kan paman yang tidak tahu diri ini!" Respon Duvan penjual nasi itu sambil menangkupkan tangannya di dada


"Tidak perlu bersikap seperti itu paman!. Sudah kewajiban bagi kami untuk menolong kelompok orang orang lemah seperti kalian!" Ucapnya sangat diplomatis


"Oh ya!. Ini bayaran untuk makanan tadi. Dan ini uang untuk mengganti kerusakan di warung paman ini" Ucap Tora ramah, sambil menyodorkan sejumlah uang ke arah Duvan


"Tidak! tidak! tidak!. Terima kasih tuan tuan. dengan telah menolong kami. maka kami sudah sangat berterima kasih sekali!" Respon Duvan tidak enak hati


"Tak bisa begitu paman! Terima saja!" Ucapnya tegas, kemudian menarik tangan Duvan, agar mau menerima uang yang disodorkan kepadanya itu


Tak lama kemudian, mereka berempat meninggalkan tempat tersebut dengan langkah terburu buru


"Aku yakin mereka orangnya!" Ucap orang yang bernama Duvan itu sambil mengusap perutnya, walau tidak begitu sakit

__ADS_1


"Sialan si Ungaran itu! Tendangannya benar benar kuat. Kalau aku tidak sempat mendur tadi, mungkin isi perutku sudah keluar semua." Ucapnya kesal


__ADS_2