Sang Pewaris Tunggal

Sang Pewaris Tunggal
Terus awasi dia


__ADS_3

Rombangan Riska, yang terdiri dari Tommy, Raymond Mona dan lain lain itu, saat ini sedang makan di ruang VIP restoran mewah, yang sengaja dipesan oleh orang tua Riska, untuk melangsungkan pesta ulang tahunnya yang ke 25


Mereka sengaja datang ke kota Golden City, karena tertarik dengan kemegahan dan kepopuleran kota tersebut. Walaupun masing masing dari mereka, tidak berasal dari kota yang sama, tetapi Riska sengaja mengundang mereka, untuk bertemu di kota Golden City, karena jarak kotanya dengan kota ini, tidak terlalu jauh


Sewaktu sedang makan makan itu, Tommy menyempatkan diri bertanya kepada Riska tentang Dion


"Aku mana tahu siapa dion itu. Aku saja terkejut, ketika mendengar dia mengaku sebagai pemilik kota sekaligus restoran yang sedang kita tempati ini." Jawab Riska apa adanya


"Kalau Dion sudah bisa memiliki sebuah kota, berarti dia bukan orang sembarangan. Apakah kau masih berani untuk mengusiknya lagi Tommy?" Tanya Mona penasaran, ingin mengetahui bagaimana sikap Tommy, setelah tahu Dion telah berubah menjadi orang kaya


"Entahlah!, aku sendiri masih bimbang, apakah akan membuat perhitungan dengan Dion atau tidak. walau hatiku ingin. Tapi melihat para pengawalnya tadi, hatiku menjadi ciut." Jawab Tommy jujur


"Bagaimana denganmu Raymond?, bukankah kau juga menaruh dendam pada Dion itu?" Tanya Riska pula pada Raymond


"Apalagi aku!, yang hanya sedikit menguasai ilmu beladiri. Kalau dibandingkan dengan Dion dulu, aku tidak ada apa apanya!" Jawab Raymond malu malu


"Tapi aku heran!, bagaimana Dion bisa mengalahkan kita seorang diri waktu itu?" Ucap Tommy mengenang masa lalu


"Aku lihat, ilmu beladiri nya sangat mumpuni. Apakah ketika dia kuliah itu, atau jauh sebelumnya, Dion sudah mempelajari ilmu beladiri tersebut?" Sambung Tommy lagi


"Nah!. Kalau itupun aku tidak tahu!" Jawab Raymond apa adanya


"Sudah sudah!.Jangan kita bicarakan orang yang tidak jelas! dan jangan berani lagi kita mengganggu Dion! " Bentak Riska merasa terganggu makannya, tapi tak lama sesudah itu dia berkata kembali


"Satu hal yang perlu kalian ingat!. Aku Riska, akan menaklukan Dion, yang sekarang sudah berubah menjadi orang kaya itu!" Ucap nya percaya diri


Tak seorangpun yang merespon perkataan Riska barusan, malah mereka tersenyum geli, ketika mendengar Riska mengucapkan kata kata bodohnya itu. tapi dia tidak peduli, dengan pede dia melanjutkan berkata


"Kalau benar dia pemilik kota ini, maka aku tidak akan segan segan lagi menggodanya dengan segala macam cara!" Ucapnya spontan, sehingga membuat teman temannya kali ini bereaksi, dan melongo diam, makanan dan minuman yang sudah ada di mulut mereka, tersembur keluar karena terkejut


"Kau itu ya!. pantang melihat orang kaya, walau buruk rupa, langsung saja kau embat termasuk Dion itu. Sebaiknya kau berkaca lah Riska!" Ejek Tommy meragukan tekad Riska itu


"Kau belum tahu dan melihat kemampuanku Tommy!, bagaimana aku menaklukkan seorang laki-laki, apalagi seorang Dion, yang lugu itu!" Sanggahnya kesal, tapi penuh tekad kuat


"Kau jangan percaya diri dulu, dan berpikiran sempit seperti itu Ris. Dion sekarang bukanlah seperti yang dulu. Aku melihatnya sendiri, bagaimana dia menatapmu tadi. Aku yang tidak ditatap saja ngeri melihatnya!" Bantah Mona mengenang kengerian tersebut


"Aku juga sempat merinding melihat tatapan dinginnya itu. Seolah olah tatapannya ingin menelanku hidup hidup!" Jawab Riska membenarkan ucapan dari Mona itu


"Menurutku, sebaiknya kita mencari tahu dulu, dari mana Dion bisa mendapatkan harta kekayaan yang sangat melimpah, dan kita selidiki, apa benar dia pemilik kota ini." Usul Mona menyela perdebatan teman temannya itu, termasuk dirinya

__ADS_1


"Aku setuju dengan rencana mu itu Mon !" Sambut Tommy mendukung pernyataan dari Mona tersebut


"Ayo kita selesaikan makan dulu!. Setelah ini, baru kita pikirkan, langkah apa yang akan kita buat untuk mendapatkan informasi tentang Dion" Ucap Riska menenangkan teman temannya itu


"Kebetulan ayah ku sudah menyewa beberapa kamar hotel di kota ini. Jadi kalian semua boleh memilih salah satu diantara kamar kamar tersebut" Ucap Riska mengejutkan teman temannya semus


"Benarkah apa yang kau katakan itu Ris?" Tanya teman temannya tidak percaya


"Ya benar lah! Kapan aku pernah berbohong pada kalian?" Jawabnya membanggakan diri


"Aku ingin kamar eksklusif!"


"Aku ingin presiden suite!"


"Aku ingin deluxe room!"


"Aku ingin executive room!" Sambut teman temannya riuh


"Gila kalian!. Kalau kalian mau semua jenis kamar itu, bisa bangkrut ayahku nanti!" Protes Riska sambil menggeleng


"Jadi kamar apa yang telah dipesan oleh ayahmu itu?" Tanya Mona cepat


"Wah kalau begitu aku ingin tidur bersama dengan Riska!" Ucap Mona senang


"Tidak bisa! aku sekamar sendiri. dan kalian pilihlah satu diantara kamar kamar yang sudah dipesan oleh ayahku itu!" Sanggah Riska, menolak keinginan temannya tersebut


"Oh ya Riska!. Setelah selesai makan ini kita mau ke mana?" Tanya Tommy ingin tahu, apa keinginan dari Riska tersebut


"Mumpung hari belum begitu sore, sebaiknya kita berjalan jalan, dan melihat lihat kemegahan kota ini." Jawab Riska lancar


Tommy tidak tertarik dengan perkataan Riska tadi, dia malah berkata


"Aku dengar di Kota Golden City ini, ada sebuah restoran nomor satu, yang sangat mewah sekali. Pelayanan di dalamnya sangat luar biasa!." Ucap Tommy dengan ekspresi senang


"Menurut kerabatku yang pernah singgah ke restoran itu. dia mendengar kabar, bahwa di dalam restoran tersebut, ada sebuah ruang VIP utama, yang di desain sedemikian rupa, cantik, mengagumkan dan indah bagai surga." Sambungnya lagi


"Aku ingin menempati ruang VIP utama itu, berapapun biaya yang mereka tetapkan padaku!" Ucap Tommy bersemangat dan menghayal tinggi


"Mimpi kalau kau bisa menempati ruang VIP utama itu!. Karena menurut kabar yang kudengar, ruang VIP utama itu, belum pernah ada yang bisa memasukinya, kecuali orang orang tertentu, mungkin pemiliknya saja." Bantah Mona meremehkan tekad Tommy tersebut

__ADS_1


"Aku Tommy!, pewaris kekayaan dan perusahaan ayahku satu satunya, bertekad ingin menjadi orang pertama yang bisa masuk ke ruang VIP utama itu!" Bantah Tommy, masih dengan sikap percaya dirinya yang tinggi


"Kalau kau berhasil menempati ruang itu, aku mau menjadi pacarmu untuk semalam." Ucap Mona menantang


"Gila kau Mona!" Protes temen teman wanitanya yang lain


"Biarkan saja!.Si sombong ini tidak akan bisa memenangkan taruhan itu denganku!" Jawab Mona meyakini, bahwa dia akan menang dalam taruhan tersebut


"Oke kau yang sudah bertaruh!. Kau lihat saja nanti, setelah aku bisa reservasi ke restoran mewah itu, maka kau harus tinggal sekamar dengan ku!. Bagaimana?" Ucap Tommy sudah senang sekali dan yakin bahwa dia akan memenangkan pertaruhan itu


"Deal, aku setuju!. Tapi jika kau kalah, maka kau harus memberi uang kepada ku dalam jumlah banyak." Tantang Mona sambil tersenyum licik


"Berapa yang kau inginkan?" Tanya Tommy merasa tidak keberatan


"Tidak banyak, cuma 2 miliar saja!" Jawab Mona sambil tersenyum membayangkan, sebentar lagi, dia akan mendapatkan uang 2 miliar secara gratis


"Kecil..!" Ucap Tommy meremehkan permintaan dari mana tersebut, tanda setuju


***


"Apakah mata mata yang kau tugaskan untuk mengawasi Arnold, masih ada di sana?" Tanya Dion pada Burgon, yang sudah pulang dari kota S, satu hari yang lalu


"Masih tuan muda!, bahkan mereka sengaja menyewa sebuah rumah, yang letaknya, tidak jauh dari rumah mertua Arnold itu." Jawab Burgon cepat


"Tapi selama beberapa hari ini, apakah gerak gerik mereka, tidak dicurigai oleh warga setempat, atau si Arnold itu?" Tanya Dion sedikit khawatir, akan keselamatan dari orang orangnya tersebut


"Sampai saat ini, belum ada tuan muda!, karena menurut informasi dari mata mata itu, keduanya merubah penampilan mereka menjadi orang biasa, dan membuka jasa reparasi alat alat elektronik." Jawab Burgon apa adanya, hingga membuat kening Dion sedikit berkerut


"Kebetulan sebelum menjadi seorang mata mata, mereka berdua, berprofesi sebagai ahli mekanik dan elektronik." Sambung Burgon hati hati


"Ternyata begitu, bagus! Beritahukan kepada mereka, setelah dua atau tiga bulan, hentikan aktifitas mereka, dan biarkan Arnold berbuat sesuka hatinya." Respon Dion sudah mulai tenang


"Aku yakin!, dalam beberapa hari ini, Arnold pasti akan mendatangi teman temannya untuk meminta bantuan." Sambung Dion meyakini, apa yang akan dilakukan oleh si Arnold itu


"Untuk saat ini, dan selama beberapa bulan kedepan, tetap awasi dia!" Ucapnya memberi perintah


"Pantau semua gerak geriknya. Jika ada hal hal yang mencurigakan, cepat laporkan padaku!" Sambungnya lagi


"Jangan lupa!, perintahkan mereka, untuk memberikan bantuan kepada mertua Arnold itu secukupnya, dan jangan terlalu mencolok, agar anak dan istri serta ibu mertuanya itu, tidak mati kelaparan, karena menanggung beban berat, harus memberi makan mereka semua." Ucap Dion panjang lebar, memberi perintah dan petunjuk pada si mata dewa itu

__ADS_1


"Baik dan muda!" Jawab Burgon patuh


__ADS_2