Sang Pewaris Tunggal

Sang Pewaris Tunggal
Akhirnya terkuak


__ADS_3

Dengan susah payah Riska, Mona dan teman temannya itu keluar dari dalam ruang VIP tersebut, begitu juga dengan Tommy si pembawa petaka itu


Obat tidur yang dicampurkan kedalam minuman mereka, pengaruhnya sampai saat ini masih terasa. Badan lemah, mata berat, kepala pusing dan persendian ngilu


Apakah benar itu obat tidur, atau obat jenis lain. Kalau itu memang obat tidur, tapi kenapa efeknya sampai sebegitu mengerikan


Tommy si pembuat angkara pun sampai keheranan. Dia kira cuma obat tidur biasa, jadi Tommy memasukkan semua cairan bening itu kedalam jarum suntik, yang didapatkannya dari penjual obat tersebut. maka akibatnya jadi seperti itu


Karyawan restoran, termasuk manajernya pun keheran heranan, ketika melihat kondisi tubuh mereka yang lemah itu. Mau bertanya takut mengganggu privasi, jadi akhirnya mereka hanya diam saja, namun tetap mengangguk, dan tersenyum ramah pada rombongan Tommy itu


Dua belas menit kemudian, mereka sudah berada di kamar hotel. Ada yang langsung tidur, dan ada pula yang langsung mandi, walau hari sudah malam


Tommy yang kondisi tubuhnya sudah pulih, karena memang tidak terjadi apa apa padanya, saat ini sedang berpura pura tidak berdaya, terbaring lemah ditempat tidur, bagai orang tua yang sudah lumpuh, sedangkan Raymond begitu juga


"Apa yang harus aku lakukan sekarang?. Kalau Riska atau Mona menyelidi masalah ini, dan menemukan bukti keterlibatan ku. Aku yakin, nama baikku akan hancur. Ini tidak bisa dibiarkan!" Monolog Tommy dalam hati, sambil pura pura tertidur itu


"Ruang VIP itu tidak dipasangi CCTV, jadi aksiku ketika memasukkan obat itu tidak akan ketahuan. Untuk sementara ini, aku masih bisa bernafas lega." Sambung batinnya lagi dalam hati


"Mungkin sebaiknya besok pagi pagi, aku keluar saja dari hotel ini, dan kembali ke kota M, agar mereka tidak sempat bertanya pada ku ?"


"Atau bisa saja aku keluar bersama dengan mereka, karena besok, mereka juga harus keluar dari hotel ini, karena sewa kamar, hanya sampai pukul 12 siang. Untuk menyambungnya lagi, bukan perkara mudah."


"Uhh!. Benar benar pilihan sulit!" Keluh Tommy lirih, kemudian mencoba memejamkan matanya untuk tidur


***


Keesokan harinya, sekitar pukul 8, 25 pagi


"Walau sudah semalaman tidur, tapi kenapa tubuhku masih lemas juga. Apa yang sebenarnya terjadi pada ku?" Ucap Mona bingung, sesaat setelah dia bangun, itupun sudah kesiangan


Kemudian dia mengalihkan pandangannya ke teman sekamarnya itu, dan mendapati, mereka belum bangun juga, padahal hari sudah beranjak siang


"Mau sampai kapan kalian tidur mati seperti itu. Ayo cepat bangun. Hari sudah siang!" Ucapnya kuat, sambil menepuk pelan wajah kedua temannya tersebut


"Aku tidak bisa bangun, badanku lemas sekali, matapun masih berat, ngantuk!" Jawab temannya masih dalam kondisi mata terpejam


Mona terdiam, mendengar jawaban dari teman sekamarnya itu. kemudian membatin dalam hati. "Ini tidak bisa dibiarkan, aku harus mencari cara, agar kondisi ku, juga teman temanku pulih kembali. Kalau tidak, terpaksa harus memperpanjang sewa kamar lagi, padahal siang nanti, kami harus keluar dari hotel ini." Batinnya


"Sebaiknya aku telepon Riska saja, siapa tahu dia punya solusi bagus." Ujar Mona menduga duga


Beberapa saat kemudian, handphone milik Riska berdering. Di layar tercantum nama Mona sedang memanggil. Kebetulan Riska juga sudah bangun, dan bergegas mengangkatnya, lalu berkata..


"Ada apa mon. pagi pagi gini udah nelepon. mengganggu saja?" Jawab Riska kesal, masih dalam posisi berbaring di atas tempat tidur


"Pagi apanya, udah hampir pukul 8.30 juga. Bagaimana kondisimu apa masih lemas?" Protes Mona geram


"Iya nih, badan ku pegel pegel semua. Mau bangun pun mata masih berat." Jawab Riska apa adanya


"Apa kau tak kepikiran, kenapa kita bisa jadi seperti ini Ris?" Tanya Mona menguji, apakah pikiran Riska sama dengan pikirannya

__ADS_1


"Karena semalam kepalaku pusing, mata mengantuk dan badan lemas, maka aku tak sempat mencerna semua itu. Tapi begitu kau tanyakan, aku jadi teringat dengan dugaan ku itu." Jawab Riska mengandung misteri


"Apa maksudmu Ris?" Tanya Mona penasaran


"Kita ditraktir oleh Tommy, dan dia yang pertama kali datang, serta masuk ke ruang VIP itu. Begitu kita masuk, hidangan sudah tersedia diatas meja." Jawab Riska masih juga belum dipahami tujuannya


"Aku menduga, mungkin makanan yang kita makan itu, mengandung obat tidur atau obat bius dalam dosis tinggi."


"Kalau obat bius, kenapa reaksinya lama, sedang kita di ruang itu satu jam lebih, tapi kalau obat tidur itu mungkin!" Banyak Mona tidak setuju


"Tapi kalau benar dimakanan itu ada obat tidurnya, lalu siapa yang dengan tega melakukan itu pada kita. Apakah Tommy?" Tanya Riska langsung pada intinya


"Itulah yang aku heran kan, kalau Tomy yang melakukannya, kenapa dia juga mengalami itu?" Bantah Mona tidak percaya


"Lebih baik kita tanyakan pada pihak restoran, siapa tahu mereka bisa menemukan pelaku kejahatan itu." Usul Riska memberi solusi


"Aku setuju dengan ide mu itu, Nanti jam 10 lewat, kita temui manajernya." Sambut Mona setuju


"Bukankah pukul 12 ini, kita harus check out?" Bantah Mona mengingatkan teman nya itu


"Benar juga kata mu. kenapa aku bisa lupa?" Ucap Riska geli, tapi kemudian dia berucap lagi


"Tapi maaf ya mon, aku bukannya menuduh pacar baru mu itu yang melakukannya , tapi aku hanya menduga duga saja." Ucap Riska merasa tidak enak hati


"Tidak masalah Ris, demi kebaikan kita juga. Lagipula, apakah kau tidak marah, ketika anggota tubuhmu dilihat oleh pelaku kejahatan tersebut?" Jawab Mona enteng, dan malah balik bertanya


"Bukan hanya marah Mon!. tapi sakit hati!. Kalau pelakunya tertangkap, aku bersumpah, akan membutakan matanya itu, karena telah berani melihat yang bukan haknya." Jawab Riska berapi api


Riska pun mengangguk setuju, kemudian mencoba mencari informasi, nomor kontak Paradise Restoran tersebut. Setelah dia menemukannya, Riska menghubungi pihak restoran, untuk menanyakan sesuatu


***


Dua jam kemudian. atau tepatnya pukul 10.40 pagi


Tommy, Riska, Raymond, Mona dan lain-lainnya itu, sudah berkumpul dilobby hotel, sedang membicarakan, apakah mereka akan check out dari hotel hari ini juga, atau besok


"Aku sudah memutuskan, untuk kembali kedaerah ku, karena sudah dihubungi oleh ayahku, agar segera pulang ke kota M."


"Jadi maaf!, kalau aku tidak bisa menemani kalian lama lama disini." Ucap Tommy mengutarakan maksudnya


"Apakah tidak bisa ditunda sampai besok Tom, agar Mona tidak kesepian?" Sanggah Riska mencoba menahan Tommy agar tidak pulang dulu, karena dia ingin, menyelidiki pelaku asusila yang menimpa nya, juga teman temannya itu


"Aku bukannya tidak mau berlama lama dengan kalian, tapi aku harus pulang, karena tempatku yang paling jauh. Lagipula jadwal penerbangan ku bertepatan hari ini, pukul 2 sore. Jadi sekali lagi aku minta maaf!" Jawab Tommy diplomatis


Riska tidak bisa menjawab apapun. Walau dalam hatinya kesal, tapi dia tidak bisa memaksa Tommy untuk tetap tinggal, dan besok pulang bersama mereka


Hal itu juga terjadi pada Mona, hatinya juga kesal, ditambah sudah mulai ada benih benih benci pada Tommy pacar barunya itu


Kalau prasangka nya itu benar, maka dia akan menyesal seumur hidup, kerena telah menerima psikopat seperti Tommy jadi kekasihnya

__ADS_1


"Oh ya, kalau kalian masih ingin menginap satu hari lagi disini, aku yang akan membayar sewa kamarnya. jadi kalian tenang saja!" Ucap Tommy mencoba mencari simpati dari teman temannya tersebut


"Sebenarnya akan lebih seru kalau kau juga ada disini Tom!. Tapi karena kau tidak bisa, dan terpaksa harus pulang juga, ya apa boleh buat." Respon Riska kecewa berat. Hilang sudah kesempatannya untuk membongkar kebusukan Tommy. Tapi itu baru praduga nya saja


"Baiklah kalau begitu, aku akan membayar sewa kamar dulu, lalu berkemas dan langsung menuju bandara."Jawab Tommy seperti menyesal, padahal hatinya bersorak gembira, karena mendapat kesempatan untuk kabur dari mereka


Setelah berkata seperti itu, Tommy berdiri dari duduknya, dan berjalan menuju ke meja resepsionis, lalu membayar sewa kamar untuk temannya temannya itu


"Oke teman teman!. Aku permisi dulu. Nikmati hari hari tersisa kalian dengan baik. Mumpung kalian masih berada di kota mewah ini. kunjungi tempat tempat megah lainnya. Jika perlu, datangi semua restoran, kafe untuk berburu kuliner di sini." Ucap Tommy mencoba tebar pesona


"Aku pergi dulu Mon!, doakan agar penerbangan ku lancar, dan selamat sampai tujuan!" Ucapnya lagi khusus kepada Mona, kemudian buru buru pergi, sambil melambaikan tangannya kepada seluruh teman teman nya itu


Mona tidak menyahut atau berkata. Dia hanya menganggukkan kepalanya saja, tanpa tersenyum sedikitpun, kemudian membalas lambaian tangan Tommy, agar tidak terlihat sombong


***


Tepat pukul 1, 50 sore, handphone Riska berdering berkali kali. Dilayarnya tercantum nama manager Paradise restaurant sedang memanggil


"Selamat sore manajer Irvan!. Aku sudah tidak sabar menunggu laporanmu!" Ucap Riska langsung pada intinya, tanpa terlebih dahulu mengucapkan kata hallo pada manajer tersebut


"Anda memang tidak sabaran nona Riska." Jawab Irvan mencoba protes, pada sikap Riska yang dinilainya tidak sabaran itu


"Baik baik! aku minta maaf. Sekarang apakah anda bisa melaporkan penyelidikan itu sekarang juga?" Ucap Riska masih juga terkesan tidak sabaran


"Tentu saja bisa nona Riska!. Sekarang dengarkan baik baik!" Jawab manajer Irvan tegas


"Pertama, saya atas nama Paradise Restoran dan seluruh karyawannya, meminta maaf atas kejadian yang tidak mengenakkan itu." Ujarnya menyesal


"Setelah mendapat laporan pagi tadi, pihak restoran segera mencari barang bukti, yang kemungkinan ditinggal oleh pelaku asusila tersebut."


"Petugas cleaning servis, menemukan ada tiga jarum suntik ukuran sedang, yang kemungkinan digunakan oleh pelaku kejahatan tersebut, untuk memasukkan obat bius atau obat tidur ke dalam makanan atau minuman, yang telah kalian konsumsi itu."


"Dari temuan itu, pihak pengelola restoran pun membawa barang bukti tersebut, beserta dengan botol minuman, yang belum sempat dibuang oleh petugas kebersihan hotel, ke laboratorium forensik kota B."


"Dari uji laboratorium terhadap cairan yang ada di jarum suntik tersebut, serta sisa minuman didalam botol, mengindikasikan bahwa, minuman yang telah kalian minum tersebut, telah dicampur oleh seseorang dengan obat tidur dalam dosis tinggi."


"Pihak berwajib pun sudah mengadakan uji forensik, pada sidik jari yang ada di jarum tersebut, dan sidik jari itu, mengarah kepada seorang pria yang bernama...?"


"Kenapa anda berhenti manager Irvan?. Apakah ada sesuatu yang mengganjal di hati anda?" Protes Riska kurang senang


"Benar nona!, karena orang tersebut bukanlah orang sembarangan, kami takut apabila membongkar masalah ini, maka prestasi keluarganya akan tercemar. Ditakutkan anda akan mengajukan aduan kepada pihak berwajib." Jawab manajer Irvan khawatir


"Anda tenang saja manager!. Kita lihat dulu bagaimana proporsinya. Jika memang orang itu perlu dilaporkan, ya apa boleh buat. Tapi jika harus dilindungi, ya aku tidak bisa berbuat apa apa. Tapi setidaknya kami tidak penasaran lagi." Respon Riska berani jamin


"Baiklah aku akan mengatakan siapa orang itu sebenarnya."


"Oke!. Aku siap mendengarnya." Ucap Riska tegas


"Pelaku kejahatan itu adalah teman kalian sendiri, Tommy!" Jawab Irvan tanpa ditutup tutupi lagi

__ADS_1


"Apa?" Teriak Riska terkejut


__ADS_2