Sang Pewaris Tunggal

Sang Pewaris Tunggal
12. Siapa Pemilik Kartu Ini


__ADS_3

"Kalau ukuran kalian hanya masalah uang. Tuh lebih dari uang!" Seru Dion kesal


"Periksa dengan alat pembaca kartu. Apakah kartu itu ada uangnya atau tidak!" ucapnya lagi ketus


Manajer Sherly yang melihat Dion melemparkan benda berwarna kuning ke atas meja, menjadi terkejut. Walau dia belum pernah melihat bentuk kartu itu, tapi dia pernah mendengar ada orang yang mempunyai kartu itu. Pemiliknya adalah orang yang tidak bisa di singgung


Kalau benar kartu itu ada uangnya, dan pemiliknya adalah Dion, habislah mereka!


Sedari tadi mereka terus merendahkan dan menghina Dion, tanpa mau mendengar alasan Dion sedikit pun


Sepatah kata Dion, dua patah dijawab, lebih banyak Dion berkata, mereka menjawab lebih banyak lagi


Sekarang saat Dion melemparkan sebuah kartu berwarna kuning ke depan mata resepsionis, barulah mereka terdiam, termasuk manager Sherly


Tubuhnya gemetar, membayangkan apa yang akan dikatakan oleh bosnya, apabila tahu kejadian yang terjadi di lobby hotel tersebut


Ternyata apa yang ditakutkan oleh manajer Sherly menjadi kenyataan. Bos hotel yang menjabat sebagai general manager datang dengan muka berkerut penuh tanda tanya


Kebetulan saat itu, dia ingin meninggalkan hotel tersebut untuk pulang. Tapi begitu tiba di lobby hotel, dia melihat ada keributan kecil di sana


Serta merta dia menghampiri mereka dan bertanya


"Ada apa Sherly! Kenapa membuat keributan di sini?" Tanya general manager itu dengan suara datar


"Tuan William! Ini tidak seperti yang tuan pikirkan, ini hanya kesalahpahaman kecil saja." Jawab Sherly ketakutan


Pria paruh baya yang dipanggil dengan tuan William, menoleh kearah Dion, dan juga resepsionis scara bergantian


Begitu matanya tertuju pada benda berwarna kuning, yang tergeletak di atas meja resepsionis itu, dia sangat terkejut, dan buru-buru mendekatinya serta mengambilnya


Sebentar dia mengamati kartu itu. Sesaat kemudian, tubuhnya gemetar pertanda dia mengenali kartu tersebut


..."Siapa pemilik kartu ini" Ucapnya gugup...


"Peng.. eh tidak, orang ini tuan." Jawab resepsionis itu gugup. Dia mau menyebut Dion itu dengan sebutan pengemis, tapi tidak jadi


Tuan William sekilas melihat Dion dengan raut kening berkerut, pertanda tidak paham akan situasi


Dion yang berpenampilan lusuh seperti itu, tidak mungkin pemilik kartu diamond tersebut. Tapi hati kecilnya berkata untuk mempercayainya


"Apakah benar kartu ini milikmu?" Tanya William penasaran


"Anda buktikan sendiri kebenarannya. Setelah itu baru boleh menghakimi ku." Jawab Dion datar


Mendengar jawaban yang sekenanya itu, kening William semakin berkerut, dia memandang Sherly dengan rasa penasaran


"Benar tuan. Kartu itu diberikan olehnya tadi, untuk melakukan pembayaran kamar yang mau dipesannya."


"Memangnya kamar apa yang ingin dipesannya?" Tanya William penasaran

__ADS_1


"President suite yang berada di lantai paling atas tuan."


"Apa!" Teriak William tidak percaya


"Sherly!. Segera periksa kartu itu! Jangan tunggu lagi!"


"Baik Tuan." Jawab Sherly gugup


Sherly segera menggesekkan kartu diamond tersebut, setelah memasukkan nominal harga sewa President suite semalam kali 7 hari. Tak lama kemudian, terdengar bunyi "Ting" pertanda transaksi berhasil


Seluruh orang yang berada di situ terkejut, tidak percaya, bahwa orang yang dihina nya dari tadi, benar-benar mampu membayar uang sewa kamar sebanyak itu


Di mesin pembaca kartu, tertera angka 1,75 miliar rupiah, untuk pembayaran 7 hari menginap di hotel itu


Tuan William, manager Sherly gadis resepsionis, juga tamu tamu lain, terkejut begitu mendengar, bahwa Dion berhasil melakukan pembayaran untuk kamar yang paling mewah juga mahal di hotel itu


Mereka saja tidak mampu menempati kamar itu. Jangankan untuk 7 hari. sehari saja masih mikir mikir


Mereka hanya mampu menyewa ditingkat deluxe atau yang lebih tinggi darinya. Tentu latar belakang Dion tidak sesederhana penampilannya


"Tu.. tu..tuan. Maafkan kelalaian kami, yang tidak melayani mu dengan baik." Ucap William gemetar


Dia gemetar karena dia tahu, jika seseorang telah memiliki kartu diamond juga kartu hitam, berarti orang itu wajib diutamakan


Tapi apa yang terjadi di hotel yang dipimpinnya? Pemilik kartu yang sangat tinggi itu, malah diperlakukan dengan tidak baik, dianggap gembel, pengemis dan sebagainya


"Siapa yang melayani tuan yang mulia ini tadi?"


Mendapat pandangan yang menyudutkannya. gadis tersebut menjadi ketakutan


"Kamu! Apakah kamu yang telah melayani tuan ini dengan tidak sopan?"


"B..b..benar tuan." Hanya itu yang bisa di jawabnya, selanjutnya dia diam, lalu menunduk ketakutan


"Kemasi barang barang mu. Hari ini juga kau dipecat! dan hak magang mu dicabut. Pergi!"


Suara William tegas tanpa memberi kesempatan kepada gadis itu untuk menjawab


"Dan untuk yang lain, ini jadi pembelajaran bagi kalian, juga kau Sherly."


"Jabatan mu diturunkan. Kau sekarang menjadi staf biasa di hotel ini!" Suara William penuh emosi


Kemudian William menghampiri Dion dengan sikap hormat, dan membungkukkan badannya ke arah Dion lalu berkata


"Saya atas nama pribadi dan karyawan, meminta maaf atas pelayanan yang kurang menyenangkan pada tuan."


"Untuk menebus kesalahan itu, saya pribadi yang akan mengantarkan tuan ke kamar yang sudah tuan bayar itu." Ucap William merendah di hadapan Dion


Dia berbuat begitu karena, sangat jarang menemui tamu, yang mampu membayar lunas sewa kamar termahal di hotelnya selama seminggu,

__ADS_1


bahkan tidak pernah ada selama dia berkarir di sana


Sepanjang karirnya bekerja di hotel tersebut, Hanya beberapa delegasi pemimpin dunia, yang sering memakai hotelnya, yang mampu melakukan hal yang sama. Tapi mereka paling lama cuma tiga hari, itu pun telah mendapat potongan harga


Tapi hari ini, orang yang dianggap biasa, mampu membayar kamar termahal selama seminggu, apa tidak luar biasa namanya


Menyadari hal itu, tuan William mencoba mendekati Dion dengan alasan meminta maaf, padahal dia punya tujuan tersembunyi untuk kepentingannya sendiri


Dia ingin tahu siapa sebenarnya Dion itu, dari mana orang biasa sepertinya bisa memiliki kartu diamond tersebut


Seandainya dia tahu akan jati diri Dion, tentu dia tidak akan berani bersikap seperti itu pada Dion


Di mana mana penuh dengan orang serakah. Sudah kaya ingin bertambah kaya. Sudah berkuasa, ingin semakin berkuasa dan ingin selamanya pula


Hal itu berlaku bagi tuan William. Padahal selama ini, dia leluasa memimpin hotel yang bukan miliknya. Dia hanya dipercaya untuk memimpin nya sementara


Setelah pemilik sebenarnya datang, dia harus mundur dan jadi asisten nya. Itu yang harus terjadi


Hari ini atau hari lain. Dia harus menelan pil pahit, karena pemilik sejati hotel itu telah datang


Beberapa saat kemudian, Dion sudah sampai di kamar mewah yang dipesannya. Tuan William sendiri yang membukakan pintu untuknya, serta melayani Dion


Sikapnya sangat patuh dan nurut pada Dion, entah apa maksudnya


Setelah barang barang Dion yang tidak seberapa itu ditempatkan di dalam lemari mewah, tuan William membuka lemari pendingin, dan mengambil air kemasan yang harganya cukup mahal, lalu disajikan untuk tamu terhormat nya


Dion yang mendapat perlakuan istimewa itu menjadi risih. Sambil mengerutkan keningnya, memandang seorang general manager hotel sampai merendahkan diri untuk melayani nya


"Tuan muda!, maaf sebelumnya, dan kalau tidak sopan. Apakah saya boleh tahu latar belakang tuan?" Tanya William ragu ragu


"Tentang kartu diamond itu kan? Dari mana aku yang gembel ini, bisa memilikinya. Begitu kan?" Tanya Dion menohok langsung pada intinya


Tuan William yang mendapat pertanyaan to the poin dan tepat itu tergagap, tidak menyangka Dion bisa menebak apa yang ada dalam pikirannya


"B..be..benar tuan." Jawabnya malah gugup


"Belum saatnya anda tahu tentang ku, dan terima kasih karena telah mengantarku ke ruangan ini."


Dion memotong pembicaraan agar segera selesai, karena dia sudah lelah dari pagi tadi, terus dipermasalahkan karena penampilannya yang lusuh itu


Dia ingin segera istirahat, dan memulihkan tenaga, juga menyegarkan pikirannya yang kacau seharian ini


"Baiklah kalau begitu tuan. Saya permisi!"


William sadar diri, tak mau lama lama mengganggu tamu pentingnya


"Masih ada hari lain." Batin tuan William memberontak, kemudian buru buru keluar dari ruangan tempat Dion menginap


Dia saja selama bekerja di hotel itu, belum pernah sekalipun tidur di ruangan yang istimewa tersebut, karena pantangan bagi karyawan hotel, untuk masuk ke dalamnya, kecuali room servis untuk make up kamar

__ADS_1


"Wah! Ini saatnya menikmati kenyamanan hidup yang selama ini hilang."


__ADS_2