Sang Pewaris Tunggal

Sang Pewaris Tunggal
Sudah terlambat


__ADS_3

Berita terbunuhnya Benyamin dengan cepat tersebar di seantero kota Paris, bahkan sampai ke beberapa negara


Ini terjadi karena Benyamin masih memegang kendali ketua asosiasi perdagangan Eropa umumnya, dan Paris pada khususnya


Mereka sangat menyayangkan terjadinya pembunuhan itu. Di mana orang hanya tahu, bahwa kejadian itu adalah akibat komplik antarsesama anggota mafia, yang dipimpin oleh Benyamin itu


Orang orang luar tidak mengetahui kejadian yang sebenarnya, karena tidak ada saksi mata yang bisa dijadikan bukti, bahwa kejadian itu memang disengaja


Pihak luar yang tidak tahu menahu akan masalah tersebut, malah mengirimkan ucapan belangsungkawa kepada Adeline, sebagai anak Benyamin itu, dan berharap, agar Adeline bersabar dalam menghadapi musibah yang menimpa ayahnya tersebut


Banyak pihak yang menghendaki, agar Adeline dan suaminya itu, membangun kembali organisasi yang telah dibesarkan oleh Benyamin dan sekaligus menjadi ketuanya


Seperti gayung bersambut. Apa yang direncanakan oleh Adeline, telah menjadi kenyataan. Pihak luar tidak ada yang menyangka, bahwa terbunuhnya Benyamin itu, karena ulah dari anaknya sendiri


Rata rata mereka mengutuk dalang kejadian itu, dan berjanji akan membantu Adeline untuk mengusutnya, tetapi adeline menolaknya secara halus, dengan alasan kematian orang tuanya baru saja terjadi, dan masih dalam suasana berkabung


Di suatu hari, mansion mewah milik Adeline, sekitar pukul 4 sore


"Apa yang kita rencanakan telah berjalan dengan baik. orang orang di luaran sana terus menerus berdatangan, untuk memberikan dukungan dan ucapan turut berduka cita kepada kita." Ujar Adeline memulai pembicaraan dengan suaminya itu


"Jika ini berjalan mulus dan tidak ada hambatan sama sekali. Tiga hari kedepan, aku akan mengumumkan bahwa tampuk pimpinan organisasi mafia, juga perusahaan yang dimiliki oleh ayahku, akan dipimpin oleh mu Tommy!" Sambungnya lagi


"Persiapkan dirimu dengan baik!. tiga hari kedepan, kedudukanmu akan dikukuhkan, sehingga orang orang luar mengetahui, bahwa organisasi yang dulunya dipimpin oleh ayahku masih tetap berdiri." Ucapnya penuh kuasa dan bersemangat sekali


"Sungguh aku tidak mengira, bawa istriku yang cantik ini, ternyata adalah ahli strategi, sekaligus monster yang sangat mengerikan!" Jawab Tommy dengan niat untuk bercanda


"Walaupun monster tapi tetap cantik!" Balas Adeline ikut merespon candaan dari suaminya itu


"Bisa saja kamu!" Ujar Tommy sambil mencubit hidung istrinya


"Aku tidak boleh terus menerus bergantung padamu. Dengan kondisimu yang lumpuh seperti itu, apa yang bisa kau lakukan?" Respon Adeline biasa biasa saja, kemudian menyambung lagi perkataannya


"Oleh karena itu, aku bergerak cepat, menyingkirkan penghalang penghalang mu, dengan menggunakan tangan orang lain." Ujarnya tanpa ragu ragu lagi


"Jadi setelah ini, apa yang akan kau lakukan?" Tanya Tommy penasaran


"Kematian ayahku belum genap satu minggu. atau baru tiga hari. Aku menginginkan setelah enam hari, keadaan akan kembali normal, dan secara perlahan, organisasi besar yang telah didirikan oleh ayahku itu, bisa bangkit kembali." Jawab Adeline apa adanya


"Disamping itu, aku juga memikirkan dampak dari perbuatan ku tersebut. Aku ingin melihat, sampai sejauh mana kesetiaan orang orang yang telah mendukung kita itu."


"Jika di kemudian hari mereka membuka mulut, atau berbalik menyerang kita. maka ini akan menjadi preseden buruk bagi organisasi, terutama bagi kita."


"Untuk itu, sesuai dengan janjiku pada orang orang yang telah membantu kita, aku akan memberikan jabatan kepada mereka, sesuai dengan perannya masing masing." Ucap Adeline mengutarakan strateginya


"Aku serahkan semua itu padamu. Aku percaya apa yang kau rencanakan pasti akan terlaksana." Respon Tommy berharap banyak pada istrinya itu


"Terima kasih suamiku!. Kau memang partner ku yang terbaik!" Sambut Adeline senang

__ADS_1


"Kau juga adalah partner ku yang tidak ada tandingannya selama hidup!" Balas Tommy juga senang


"Oh ya!. Bagaimana dengan si Austin itu, apakah kau melepaskannya, atau kau biarkan dia mengoperasikan komputernya lagi?" Tanya Tommy dengan ekspresi khawatir


"Percuma aku dijuluki iblis betina, jika mengatasi hal sekecil itu saja tidak bisa!" Jawab Adeline sambil tersenyum


"Walaupun Austin sudah berjasa bagi kita, tetapi dia orang yang berbahaya. Kita tidak tahu apa yang ada di dalam hatinya itu."


"Di depan kita memang dia menyatakan tunduk, tapi di belakang kita, apalagi di depan komputernya itu, kita tidak tahu apa yang dilakukannya."


"Oleh karena itu, aku melarangnya untuk memegang alat elektronik apapun, terutama komputernya tersebut."


"Untuk saat ini, orang orang kita sudah mengurung Austin di suatu tempat yang tidak akan mungkin bisa ditemukan oleh orang lain." Ucap Adeline penuh perhitungan matang


"Benar benar jenius sejati!" Ucap Tommy mengagumi istrinya itu


"Jenius di atas jenius!" Respon Adeline membanggakan diri sendiri


***


Kota Golden City pada waktu yang sama, walau 5 jam lebih cepat dari waktu Prancis


"Bagaimana menurut kakek? apakah kita akan memberikan bantuan pada di Austin itu?" Tanya Dion pada kakeknya tersebut


"Sebenarnya ini sudah sangat terlambat sekali, tapi apa salahnya kalau kita coba. Mari kita cari di mana posisi Austin itu!" Jawab tuan Birawa tidak semangat


"Saya tidak tahu tuan besar, cuma tadi guru ada mengatakan, bahwa dia turun bukit untuk berjalan jalan di kota. Ada sesuatu yang ingin dia beli." Jawab Rams apa adanya


"Malam malam begini?" Respon tuan Birawa keheranan


"Saya juga tidak tahu tuan besar." Jawab Rams apa adanya


"Kalau begitu, bisakah kau melacak keberadaan Austin!" Tanya tuan Birawa ingin tahu


"Akan saya usahakan tuan besar!" Jawab Rams cepat, kemudian segera mengoperasikan komputernya


Setelah satu menit, Rams mengotak atik komputernya itu, tidak ada petunjuk apapun yang ditemui


Biasanya posisi Austin sangat mudah sekali dilacak. Tapi kali ini, keberadaannya benar benar tidak terlihat, seperti telah hilang ditelan bumi


Sebenarnya apa yang terjadi pada Austin tersebut


"Maafkan saya tuan besar!. saya tidak bisa melacak posisi Austin, karena tidak ada petunjuk atau alat apapun yang ada di dekatnya." Ucap Rams kecewa


"Mungkin saat ini Austin sedang dikurung dibawah tanah, atau di tempat yang tidak bisa dimasuki oleh jaringan apapun." Sambungnya lagi tidak pasti


"Bagaimana Dion, apa usaha kita selanjutnya. Apakah sebaiknya kita mengirim orang orang kita ke sana, untuk membantu Austin?" Tanya tuan Birawa mencoba mencari solusi

__ADS_1


"Sama seperti yang kakek katakan tadi, kita sudah sangat terlambat sekali, karena saat ini, organisasi yang dulunya dipegang oleh Benyamin, sekarang telah dipegang oleh Tommy dan istrinya itu." Jawab Dion pesimis


"Ini akan semakin sulit. Jika kita mengirimkan orang orang kita ke sana, tentu pihak otoritas setempat akan curiga. Tapi jika kita membiarkan saja, maka mereka akan berkembang menjadi besar, dan suatu saat nanti, akan berbalik menyerang kita." Jawab Dion dengan analisa yang cukup bagus, tapi sulit untuk untuk dilaksanakan


"Satu hal yang paling merisaukan ku adalah, Tommy itu sangat membenciku, dan terus berusaha untuk menghancurkan ku." Ucap Dion lagi


"Bagaimana kalau kita retas sistem pertahanan komputer mereka?" Ucap tuan Birawa memberi usul


"Saya rasa itu sulit untuk dilaksanakan tuan senior. Satu hari setelah kejadian itu, seluruh akses ke komputer mereka tidak bisa lagi kita buka. Apakah mungkin Austin yang melakukannya?" Jawab Rams sambil balik bertanya


"Itu kau yang lebih tahu, karena aku sangat mengandalkan mu, juga gurumu itu!" Jawab Dion tegas, mewakili kakeknya tersebut


"Kalau begitu sebaiknya kita tunggu saja si Deon. Setelah dia kembali, baru kita diskusikan masalah ini lagi." Ucap tuan Birawa memberi solusi


***


Tiga hari kemudian, Dion mengumpulkan orang orang penting Birawa Group, di ballroom hotel bintang lima kota Golden City, untuk membicarakan perkembangan ekspansi usaha, pasca terbunuhnya Benyamin, sebagai rekan kerja di benua Eropa itu


Dalam kesempatan itu, Dion memanggil seluruh direktur, sekretaris, manajer dan orang orang penting perusahaan, termasuk juga Evans, James, Erisha Shio Lung dan Burgon


Sedangkan Iron, Hans, Robin Leon, Govin dan Rams, termasuk juga Deon, sang legenda cyber itu, juga menyempatkan diri untuk datang di pertemuan besar itu


Selain membicarakan tentang isu terbunuhnya seorang maestro ekonomi di benua Eropa, Dion juga berencana akan membahas masalah krusial perusahaan, juga membicarakan kemungkinan untuk merestrukturisasi perusahaannya, agar efektif dan efesien


Selama ini Dion menilai, sebahagian besar karyawan, banyak terpusat di kota kota besar, tetapi sedikit di daerah pedesaan atau pelosok pelosok pulau


Jika ini terus dibiarkan, maka perusahaannya lama kelamaan akan terbebani oleh anggaran besar, untuk menggaji karyawan, yang semakin hari semakin menumpuk di daerah perkotaan


Sementara kinerja nya banyak yang tidak efisien, dan kebanyakan menganggur


Sementara perusahaan yang ada di tempat tempat jauh, jumlah karyawannya malah sedikit


Oleh karena itu, dalam pertemuan akbar ini, Dion berencana akan merombak total atau sebagian, struktur organisasi perusahaannya itu


"Salam tuan besar! salam tuan senior!" Ucap seluruh petinggi perusahaan serempak, ketika Dion dan kakeknya masuk keruangan itu, sambil menundukkan kepalanya tanda hormat


"Duduklah!" Respon Dion datar


"Terima kasih tuan besar!" Jawab mereka serempak lagi


Kemudian dengan tenangnya, Dion mengedarkan pandangannya ke seluruh ruangan. Di situ dia mendapati, banyak sekali wajah wajah baru, yang belum pernah dia lihat atau temui sebelumnya


Mereka yang dipandang dengan serius itu, wajahnya menjadi tegang. Antara takut dan segan, berbaur menjadi satu


Ada tiga puluhan lebih diantara mereka, yang belum pernah bertemu dengan Dion, dan baru di kesempatan inilah, mereka bisa melihat sekaligus bertemu dengan pemilik perusahaan, tempat dimana mereka bekerja selama ini


Penampilan Dion yang elegan tersebut, menjadikan mereka sangat mengagumi jatidiri Dion. Wajahnya yang lumayan tampan, bersih dan rapi, dengan perawakan yang tinggi tegap, dibalut dengan pakaian yang serba mahal, menambah kharisma Dion semakin besar

__ADS_1


Di tengah rasa kekaguman itu, Dion berdiri lalu mengangkat tangannya ke udara seraya berkata


__ADS_2