
Front kick, itulah nama tendangan yang digunakan oleh Danson, seorang mantan tentara asal Brazil, berkulit hitam yang menjadi lawan terakhir Eric
Manuver dan perubahan gerakan cepat kakinya sangat tidak terduga, dipadukan dengan gerakan tinjunya yang juga super cepat, berkali kali mengenai tubuh Eric, sampai membuat tubuhnya terpental dan jatuh ke lantai
Bangun lagi dan bangun lagi, itulah yang selalu di lakukan oleh Eric setelah jatuh, kemudian bangun dan melakukan pukulan serta tendangan balasan yang sama, yang juga mengakibatkan tubuh Danson terguling guling di lantai, tapi masih bisa bangun juga
Wasit sampai dibuat bingung karenanya, apakah harus menghentikan pertarungan itu atau meneruskannya
Dia meminta pendapat tuan Birawa dengan cara memandangnya. tuan Birawa yang dipandang cukup mengerti arti tatapan itu
Dengan hanya mengangguk kan kepalannya saja, wasit tersebut sudah paham, bahwa pertandingan harus dilanjutkan
Waktu penentuan, akhir pertarungan yang sangat menegangkan itu pun akhirnya tiba. Dimenit ke 27, ketika tendangan Danson masuk ke garis pertahanan Eric, dengan gerakan yang tak terduga, Eric memutar tubuh nya mendekati lawan
Ketika kaki lawan masih berada di udara, pukulan memotong telapak tangan Eric masuk, dan mengenai paha lawan atas dengan kuat
Kaki yang sedang menggantung itu terdorong kebawah, tubuh lawan hilang keseimbangan, tiba tiba saja tubuh Danson menjadi lemah
Dengan kondisi paha atas sebelah kanan kesakitan, berdiri pun tidak stabil, tubuh Danson hilang keseimbangan, tangan kanannya memegang kakinya agar tidak roboh
Kesempatan itu digunakan oleh Eric untuk melancarkan tendangan terbangnya, dan sukses memengenai tubuh Danson dengan telak
Pangkal leher, itulah tempat mendarat nya tendangan Eric yang cukup kuat itu, sampai tercetak tapak sepatu di atasnya
Danson terkulai lemah dengan nafas memburu, dan tidak bisa melanjutkan pertarungan lagi. Saat itu juga dinyatakan gugur dalam seleksi pemilihan komandan tim pengawal
Dia harus puas dengan posisi pengawal elit, tapi kedudukannya dalam tim itu tentu saja menempati level pertama, sedangkan pengawal lain yang sudah mendapat gelar yang sama, menempati pengawal elit level dua
Sementara Eric, ditetapkan sebagai komandan tim, yang membawahi seratus orang pengawal, termasuk 10 anak buahnya itu
Mereka sudah lama ditetapkan sebagai pengawal level menengah, karena dalam babak ketiga, mereka dikalahkan oleh lawan lawannya dengan mudah
Maka jadilah mereka semua masuk kedalam tim pengawal yang dikomandoi oleh bosnya tersebut
Dalam seleksi akhir hari ini, dari 200 peserta, yang berhak menyandang posisi komandan hanya 40 orang saja, sedang kan sisanya ditetapkan sebagai pengawal elit tingkat pertama
Diantara yang mendapat gelar komandan itu adalah Eric, empat gadis karateka termasuk Anjani, 6 mantan tentara dari berbagai negara, 4 mantan kepolisian, ,2 mantan security, 3 orang petinju juga dari berbagai negara, 2 petarung mma, 4 petarung ufc, dan sisanya berasal dari berbagai keahlian, seperti assassin, samurai serta ninja dan lain sebagainya
Dengan menangnya Eric dalam seleksi kali ini, maka adu otot babak keempat dinyatakan usai, dan para pemenangnya di didapuk secara resmi oleh tuan Birawa secara langsung
Suasana haru tentu saja melingkupi seluruh peserta. Dengan ini mereka telah resmi diangkat menjadi tim pengawal keluarganya, dengan jaminan gaji tinggi dan jaminan sosial lainnya
***
__ADS_1
Taman indah milik Dion, sekitar pukul 10.15 malam
Dion tidak bisa memejamkan matanya, walaupun sedang berada di atas kasur empuk miliknya, tapi tetap tidak mampu memaksa matanya untuk terpejam
Lalu memilih untuk keluar vila saja, duduk di taman indah samping vilanya tersebut, sambil menikmati gemerlap kota Golden City dari puncak bukit
Dari lokasi itu dia juga bisa melihat laut dari kejauhan, karena banyaknya kapal serta perahu yang lalu lalang di atasnya
Dion dengan tenang duduk bersandar pada kursi empuk bawah bangunan mirip tenda, tapi dibuat secara permanen, untuk pemilik vila menikmati pemandangan yang ada disekitarnya
Sudah hampir setengah jam Dion duduk di situ, sambil pikirannya berselancar kemana mana
Dion masih kepikiran dengan ucapan kakeknya kemarin, yang tiba saja menjodohkan nya dengan Maya, sesuatu yang paling ditakutinya untuk saat ini
Dalam selancar pikirannya itu, Dion juga kepikiran dengan Ivory, yang dia tau, seorang gadis terlepas dari posisinya sebagai seorang sekretaris, saat ini juga sedang mencintainya. dan itu diketahuinya sudah cukup lama, tapi Dion cuek cuek saja
Tidak kepo, tidak gabut dan tidak galau, itulah kondisi Dion selama ini
Namun ketika tiba tiba dijodohkan dengan seorang gadis cantik anak dari Tiger itu, barulah Dion merasa kalang kabut
Bukan karena senang, takut atau lain sebagainya, tapi karena tidak enak dengan Ivory, gadis yang dia tau sangat mengharap dan mencintainya sudah cukup lama
Dion tau Ivory sedang terluka, maka Dion berniat ingin meneleponnya malam ini, untuk sekedar menyapa atau menenangkan nya, tapi tidak juga dilakukan
"Selamat malam tuan muda!" Sapa seseorang sambil menunduk kan kepalanya ke arah Dion
"Oh paman Tiger!. aku kira siapa?" Jawab Dion terkejut sambil kembali berkata. "Mari paman, Ayo silakan duduk!" Sambut Dion ramah
"Terima kasih tuan muda!" Balas Tiger ragu ragu
"Apakah ada yang ingin paman bicarakan dengan ku?" Tanya Dion to the point saja
"A..anu tuan muda!" Jawabnya gugup, karena tidak menyangka, bahwa Dion akan secepat itu bertanya
Dengan mencoba menenangkan diri, Tiger merespon pertanyaan dari Dion itu
"Maaf tuan muda!. Mengenai ucapan tuan besar kemarin, apakah menurut anda, tidak terkesan terburu buru?" Ucap Tiger terkesan ragu ragu
"Heemmm!". Tentang masalah itu?" Respon Dion datar. Kemudian diam dalam beberapa saat, sambil berpikir jauh, apa yang harus dikatakannya pada ayah Maya itu
Namun tak lama kemudian Dion membuka suara. "Aku belum bisa memutuskan, setuju atau tidak paman, karena itu harus melalui pertimbangan yang masak, tidak bisa langsung seperti itu." Ujarnya lancar. Diam lagi sambil memikirkan, apa kata bagus yang harus di ucapkan selanjutnya
Tapi kemudian Dion berkata. "Lagipula antara kami berdua, belum begitu mengenal satu sama lain. Jadi menurutku, kita iyakan saja kemauan kakek ku itu, nanti aku yang akan memberi pengertian padanya secara pelan pelan."
__ADS_1
"Maaf ya paman Tiger, bukan aku tidak menyukai si Maya itu, tapi untuk saat ini, aku masih ingin fokus dalam pekerjaan ku dulu." Kata Dion sambil melirik Tiger, dan menunggu respon darinya, apakah marah atau kecewa atas keputusannya itu
Tapi setelah ditunggu sekian detik, respon Tiger biasa biasa saja , maka Dion melanjutkan berkata
"Nanti setelah sebagian pekerjaan ku telah selesai, dan antar kami berdua sudah saling mengenal secara dekat, baru kita boleh membicarakan masalah perjodohan sepihak itu." Ucap Dion panjang lebar tanpa ditutup tutupi sedikitpun
"Tapi aku tidak bisa berjanji dan memastikan tentang perjodohan itu, lanjut atau tidak!" Sambung Dion cepat
"Apakah paman kecewa dengan pendapatku ini?" Tanya Dion tidak enak hati
"Tidak sama sekali tuan muda, malah paman merasa lega kalau keputusannya seperti itu." Respon Tiger sudah mulai tenang. kemudian mencoba membahas masalah lain
"Maaf tuan muda kalau paman lancang, karena tidak sepantasnya berbicara masalah ini dengan anda." Sambung Tiger tiba tiba
"Ada apa paman?" Tanya Dion dengan reaksi keheranan
"Tidak tuan muda, tidak jadi!" Tolak Tiger merasa tidak enak hati dan tidak pantas
"Aku tau apa yang ingin paman katakan itu, tentang sekretaris ku itu kan?" Tebak Dion langsung mengena dan tepat sasaran
"Ba bagaimana tuan muda tau?" Tiger terkejut bukan kepalang
"Tentu saja aku tau paman, karena waktu kakek ku membahas masalah perjodohan itu, ku lihat paman juga Ivory sangat gelisah sekali. Ingin membantah tentu saja tidak punya keberanian, jadi terpaksa mengiyakan saja waktu itu. Benarkan begitu paman?" Tembak Dion cukup mengena
"Benar tuan muda, apa yang anda katakan itu seratus persen benar. Seperti itulah kondisi kami saat itu." Jawab Tiger teus terang
"Paman tenang saja, masalah ivory itu mudah, dan aku yang akan menyelesaikannya sendiri." Dion berkata dengan yakin sekali
"Baiklah kalau begitu tuan muda, paman rasa masalah ini sudah selesai, dan paman akan bisa tidur dengan nyenyak. Kalau begitu paman undur diri!" Ucap Tiger benar benar tidak enak hati sekaligus lega
Seharusnya dia tidak ikut campur dalam masalah orang lain, dan dia telah menyesalinya begitu dalam
Tujuannya menemui Dion adalah untuk membicarakan masalah perjodohan itu. karena bagaimana pun, itu menyangkut masalah hati dan kemauan orang yang bersangkutan, dan tidak bisa di paksa oleh siapapun
Tapi tidak disangka, Dion akan merespon dan mengambil keputusan secepat itu. Tentu saja Tiger merasa sangat senang karena beban pikiran nya sedikit berkurang
Masalah inipun telah dibicarakannya dengan Maya , dan dia cukup mengerti kesulitan yang tengah dihadapi oleh ayahnya itu, jadi Maya dengan lapang dada, menerima pendapat dan saran dari ayahnya
Jika memang berjodoh walau bukan dalam kondisi pertama, dia akan tetap menerima Dion apa adanya, karena cinta menurutnya, tidak memandang status pertama atau kedua
Asal bisa bersama dan bahagia, maka akan diarunginya dengan tabah dan bijaksana
Itulah kakekat cinta menurut Maya
__ADS_1