Sang Pewaris Tunggal

Sang Pewaris Tunggal
Belum ada keputusan


__ADS_3

Jasmine menyangka, setelah kembali ke Indonesia, hidupnya akan semakin membaik, tapi tidak diduga malah semakin terpuruk


Di negara ini, dia tidak tahu apa yang akan dilakukannya lagi. Apakah akan tetap mempertahankan obsesinya untuk kembali ke Dion, atau berusaha di bidang lain?


Sejuta kali pun dia berpikir, tetap akan mendapatkan jalan buntu. Di dalam hati kecilnya menyadari, bahwa Dion tidak mungkin mau menerimanya kembali, setelah apa yang dia lakukan pada Dion selama ini


Lagipula, Dion sekarang bukanlah orang yang bisa mereka atur atur lagi. Dion sudah menjadi orang kaya, dengan pengawalan super ketat. Tentu saja pengawal pengawalnya itu, tidak akan membiarkan Dion didekati oleh orang yang tidak dikenal, walaupun oleh Jasmine sendiri


Ditambah lagi, Dion pasti tidak kekurangan wanita cantik, yang ingin menjadi istrinya. Jadi tidaklah mungkin bagi Dion, akan menuruti kehendak Jasmine tersebut


Tapi pikiran gelap matanya itu, terus mempengaruhi dan mendorongnya, untuk tetap berusaha mendapatkan hati Dion kembali


Berhasil atau tidak, itu urusan nanti!" Batinnya terus berkata, sambil mengenang kembali, apa saja yang dia lakukan selama 3 hari yang lalu, di kota Hongkong bersama dengan adik nya itu


Sambil duduk di sofa usang, pikiran nya malayang jauh. ada setitik air bening yang jatuh dari sudut matanya, saat terkenang, dimana dia harus melayani lelaki hidung belang, yang menginginkan tubuhnya itu, demi untuk bisa memujudkan obsesinya, pulang ke Indonesia


Saat itu, Jasmine mencari rezeki tidak di tempat kumuh lagi, tapi di tempat tempat elit, dimana orang orang kaya selalu nongkrong di sana


Demi untuk bisa pulang ke indonesia, Jasmine rela kehilangan harga dirinya ketika mengemis itu


Banyak lelaki hidung belang yang mau memberi uang pada Jasmine, asal mau menemani mereka minum di tempat haram tersebut


Sejujurnya dia tidak mau melakukan perbuatan kotor seperti itu, tapi demi ambisinya, dia rela diperlakukan tidak manusiawi bahkan rendah oleh orang lain


Dengan berlinang air mata, Jasmine akhirnya melakukan perbuatan tidak terpuji itu. walau hasilnya dia mendapatkan sejumlah uang yang cukup banyak, yang bisa digunakan nya untuk membeli tiket pesawat, tapi hatinya tetap sedih


Sedangkan Chalista lebih parah lagi, dengan pujuk rayu maut, dibumbui kata kata manis, sikap manja mirip cacing kepanasan, mampu meluruhkan beberapa pria hidung belang, termasuk pria yang menyimpannya itu


Setelah uangnya terkumpul cukup banyak, baru dia berhenti dari perbuatan kotor tersebut. Tiga hari kemudian, tanpa sepengetahuan pria simpanannya itu, Chalista dan keluarganya kabur ke luar negeri


Dengan perasaan senang dan puas, Chalista dan jasmine berhasil mendapatkan jutaan dolar Hongkong, sebahagian nya dia tukarkan dengan mata uang negara lain, termasuk IDR itu


Tapi akhirnya apa yang dia dapat, hanya kesenangan sesaat dan putus asa terdalam di hatinya


Jasmine seperti menyesali keputusannya itu. Andai saja dia tetap bertahan di kota Hongkong, dan ikhlas menjalani hidup nya sebagai pengemis, mungkin saat ini, dia tidak akan mendapat perlakuan kotor dari orang lain


Tapi nasi sudah menjadi bubur, mau menyesal pun tiada guna lagi


Ketika neneknya datang ke kamar penginapannya itu, Jasmine sedang menangis, karena menyesali perbuatannya, dan tak sempat menyeka air matanya. tapi untunglah, neneknya tidak menyadari hal itu

__ADS_1


Bagitu diperintahkan untuk memanggil Danish dan Everly, Jasmine bergegas pergi, dan langsung menuju kamar kedua orang tuanya dengan tergesa gesa


***


Malam ini udara tidak bersahabat dengan lingkungan, termasuk kamar Jasmine yang sempit itu


Udaranya benar benar panas, mungkin karena kurangnya pepohonan di sekitar kota J, atau karena memang sedang musim kemarau


Apalagi kamar yang Jasmine tempati, tidak ada AC sama sekali, yang ada cuma kipas angin gantung, di langit langit kamar


Di kamar ukuran 4×4 itulah, nenek Elina, Danish, Everly, Jasmine dan Chalista, sedang melakukan pembicaraan, yang mereka anggap penting


Chalista yang sedang tidur pun dipaksa bangun, padahal belum lama waktunya juga dia tidur, mungkin karena kecapean


Walau dengan wajah bersungut sungut dan kesal, dia terpaksa harus mengikuti pembicaraan tersebut


"Sekarang kita telah berada di negara ini, rencana selanjutnya, tentu harus kita pikirkan masak masak. tidak bisa langsung memutuskan begitu saja." Ucap nenek Elina memulai pembicaraannya


"Walau semula nenek ingin pergi ke pulau K, tapi setelah dipikir pikir, nenek batalkan rencana itu, karena banyak pertimbangan yang mendasarinya."


"Jadi sekarang kalian usulkan lah!, ke daerah mana kita akan menetap. Kalau untuk di kota J ini, nenek jelas tidak mau!, karena menurut pertimbangan nenek, udaranya sangat sesak sekali


"Nenek ingin menghabiskan waktu di tempat yang tenang, yang jauh dari keramaian, tapi tidak begitu terisolir dari dunia luar."


"Ibu juga kepikiran seperti itu, tapi ibu tidak mau memutuskan sendiri, karena yang akan menjalani hidup nanti, bukan hanya nenek saja, tapi kalian juga." Jawab nenek Elina cukup bijaksana


"Kalau kembali ke tempat dulu, Lista juga setuju nek!. Karena di sana Lista banyak kawan." Sambung Chalista menguatkan pendapat dari ayahnya itu


"Lalu bagaimana denganmu Jasmine?, Apakah kau setuju kembali ke tempat lama dulu?" Tanya neneknya mendikte


"Sejujurnya Jasmine kurang setuju dengan rencana kalian itu, karena kalau kita di sana, maka akan semakin sulit bagi Jasmine untuk melihat Dion, apalagi untuk menemuinya." Bantah Jasmine benar benar sudah tidak waras pikirannya


"Dion! Dion! Dion!. Itu terus yang kau bicarakan!. Apakah tidak ada kata lain yang bisa kau utarakan saat ini!" Bentak nenek Elina marah


"Tapi nek!" Sanggah Jasmine tidak mau kalah


"Diam!. Kalau kau masih tetap membicarakan Dion yang tidak jelas juntrungannya itu, maka nenek tidak akan segan segan lagi mengusir mu dari sini!" Jawab nenek Elina kesal dan sangat marah sekali pada Jasmine


Danish yang melihat sikap bodoh Jasmine itu, juga jadi geram, kesal dan marah padanya

__ADS_1


Dengan suara tinggi dia berkata. "Jasmine!, kau bukan anak anak lagi. Sekarang kau pikir lah, Dion itu bukan siapa siapa mu lagi, jangan terlalu berharap padanya!"


"Gunakan otakmu itu! Sekarang Dion telah menjadi orang kaya. Apakah kau pikir, dia akan mau sama kau lagi?"


"Untuk orang kaya dan berkuasa seperti dia, tentu banyak perempuan perempuan cantik yang ingin mendekatinya, dan bersedia menjadi istrinya, walau yang keberapa sekalipun!. Kau pikir itu!"


"Dengan kondisi mu yang seperti ini, Apakah kau masih berharap, agar Dion mau menerima mu kembali. Mimpi!"


"Kau itu pungguk yang merindukan bulan!. Dasar sinting!" Ucap Danish panjang lebar, menumpahkan kekesalannya pada jasmine


Jasmine yang di maki hamun oleh ayahnya tersebut, tidak menjawab, membalas atau merespon sedikit pun, dia hanya tertunduk lesu, sambil berlinang air mata


Dia tidak menyangka, ayah yang selama ini menyayangi nya, dan tak pernah marah sekalipun, saat ini telah mengejutkan nya, dengan kata kata yang pedas dan menusuk jantung


"Sekarang kau putuskan sendiri!. Apakah mau ikut nenek atau tidak!. Jika kau masih tetap bersikeras ingin menemui Dion, Maka jangan salahkan nenek, jika hari ini juga, kau akan nenek usir dari sini!" Ancam nenek Elina tidak main main


"Jasmine!. kau dengar apa yang nenek juga ayahmu katakan itu. Untuk saat ini, kau mengalah lah dulu. ikutlah dengan kami ke tempat kita dulu, dan jangan membantah lagi."


"Nanti setelah hidup kita mapan, baru kau boleh meneruskan obsesi mu yang tidak tau diri itu." Ucap ibunya mencoba menenangkan Jasmine, sekaligus menghinanya


Tapi Jasmine tidak meresponnya, dia semakin tertunduk lesu, sambil menangis sesenggukan


Saat ini hatinya benar benar hancur, penuh dengan penyesalan. Andai dia bisa memutar waktu, maka akan diputarnya saat di mana dia masih bersama dengan Dion


Dia bertekad akan menerima, mencintai dan menyayangi Dion apa adanya, karena dia sudah tahu siapa Dion yang sesungguhnya


Tapi apa daya, semua telah terjadi. waktu tidak akan bisa diputar kembali, dan kebersamaan nya dengan Dion hanya sekedar mimpi belaka


Maka mau tidak mau, dia harus menerimanya, walau sepahit apapun, tetap harus dijalaninya. Itulah takdir yang dibuatnya sendiri


***


Kota Teluk Berlian pukul 8,00 malam


Kebersamaan dan kemesraan Dion, Maya dan Ivory semakin membuat orang lain iri dan cemburu saja


Betapa tidak iri, panggilan yang semula terdengar kaku pada Dion, sekarang telah berubah menjadi panggilan Honey atau kakak bagi Maya, begitu juga sebaliknya Dion terhadap mereka berdua


Mau dipanggil dengan sebutan Bebep, sayang, abang atau sweety terasa tidak pantas pada tuan muda Dion, karena bagaimana pun, bawahannya tentu saja akan tersenyum atau tidak terima, kalau tuan muda mereka dipanggil seperti itu, walaupun istrinya sendiri

__ADS_1


Jadi mereka telah sepakat. kalau Dion memanggil Ivory atau Maya dengan sebutan Honey, sementara Ivory memanggil Dion dengan sebutan Honey juga, sedangkan Maya terhadap Dion, dia lebih suka membahasakan kata kakak kepada calon suaminya itu


Hidup benar benar menyusahkan ya!


__ADS_2