
"Ada apa dengan mereka?. Kenapa mereka sangat senang, begitu melihat Danu mati?" Tanya Gentala penasaran pada murid muridnya yang sekarang telah menjadi guru
"Murid juga tidak tahu guru!. Baru pertama kali ini saya melihat ada kejadian seperti ini!' Jawab Adiwilaga, salah seorang dari murid utama Gentala, dan di benarkan oleh teman temannya yang lain
"Coba kau panggil lima diantara murid murid wanita pemula itu kemari!'
"Guru ingin mendengar secara langsung alasan mereka bergembira seperti itu." Perintahnya tegas
"Baik guru!" Jawab Adiwilaga patuh, kemudian berdiri dan langsung menuju ke tempat duduk murid perempuan di perguruan tersebut
Tak lama kemudian, lima orang murid perempuan, dan tiga murid laki laki datang menghadap Gentala, dan mereka hanya berdiri saja tidak berani duduk di dekat gurunya
"Aku penasaran melihat dan mendengar, kalian juga yang lain sangat bergembira ketika guru kalian itu mati."
"Bisakah kalian katakan apa alasannya?" Tanya Gentala langsung pada intinya
"I,,i,,itu!" Jawab seorang murid ragu ragu
"Itu kenapa?. Jawab dengan benar alasan kalian bersorak tadi!' Bentak Gentala keras
"Ma..ma..maaf guru besar jika saya menyela!"
"Mereka hanya senang karena bisa terlepas dari cengkeraman tangan guru Danu." Ucap salah seorang murid laki laki cukup lancar
"Maksud mu?"
"Mereka selalu mendapatkan pelecehan saat berlatih, juga di luar pelatihan, dan sialnya mereka tidak boleh mengadukannya pada siapapun termasuk pada guru!'
"Jika kami berani mengadukannya, maka kami akan di hukum, dan tidak akan di ajari teknik atau jurus apapun."
"Selain itu, kami juga diancam akan di habisi, jika berani mengatakannya pada orang lain."
"Bukan hanya itu saja guru, Dia juga mempengaruhi kami agar mengikutinya memberontak pada perguruan, dengan cara mengadu domba antar sesama murid di sini."
"Tapi kami selalu menolak, dan secara diam diam melakukan perlawanan."
"Tapi apalah daya, kekuatan kami belum sebanding dengan kekuatannya."
"Maka kami hanya bisa pasrah dan menerima perlakuan buruk dari guru Danu itu."
"Begitulah yang terjadi guru besar." Jawab seorang murid dengan lancarnya
"Hem!. Ternyata ada kejadian seperti itu di perguruan ku."
"Bahkan manusia serigala berbulu domba seperti itu, tidak kami ketahui keberadaannya."
"Tapi kenapa aku tidak mendengarnya dari dulu ya?"
"Sungguh perbuatan tidak terpuji, sekaligus biadab dari si danu ini."
"Wajarlah murid murid ini begitu gembira, saat melihat gurunya mati, dan tidak ada rasa kasihan atau rasa dendam sedikitpun"
"Ini benar benar aneh!" Batin Gentala dalam hati, dan berlangsung cukup lama
Tak lama sesudah itu, dia tersadar bahwa di depannya masih ada murid murid yang sedang menunggu keputusannya, lalu buru buru berkata.
"Baiklah kalau begitu!. Kalian boleh pergi!" Perintah Gentala tegas
"Baik guru besar!" Jawab mereka serempak
"Dengarkan kalian semua!"
"Aku sudah mendengar kesaksian dari delapan murid ini, mereka mengatakan, bahwa si Danu tersebut, telah melakukan pelanggaran."
"Selain berkhianat, ternyata dia juga selalu merundung murid muridnya, bahkan melakukan perbuatan tidak terpuji pada murid murid perempuan!'
"Wah!. tidak disangka!'
"Manusia serigala!'
"Manusia bejat!'
"Syukurin dia mati!"
__ADS_1
Celetuk sebagian murid merasa geram, di sela sela guru besar mereka sedang memberi pengarahan
"Untuk itu dengan perintah tegas aku nyatakan, bahwa mulai saat ini. Danu dinyatakan bukan murid perguruan ini lagi, dan catatannya akan di hapus!'
"Jadi tidak ada lagi nama Danu Satya, walaupun dia sudah mati, dalam sejarah perguruan ini, dan namanya tidak akan di catat dalam buku sejarah perguruan."
"Untuk murid ku Dion juga pendekar Bumi!"
"Aku sebagai perwakilan dari perguruan wahyu taqwa, mengucapkan terima kasih banyak, karena kalian telah membantu menghapus riwayat para pengkhianat perguruan seperti si Danu itu!"
"Untuk itu kedepannya, kami harap agar kalian semua selalu mengingat, bahwa mereka yang ada di depan kalian ini, adalah orang orang baik, dan berdedikasi tinggi pada perguruan!'
"Karena Danu telah dikalahkan dan mati, maka kerusuhan yang di perbuat olehnya dinyatakan selesai!"
"Tapi kita tidak boleh lengah!. Mungkin saja di perguruan ini, masih ada pengkhianat seperti nya!"
"Untuk itu, mari sama sama kita selidiki, dan cari siapa pengkhianat selanjutnya!"
"Gawat!, Pernyataan guru besar pasti akan dilaksanakannya!"
"Lebih baik kita pergi dari perguruan ini, sebelum aksi kita di ketahui mereka!" Ucap lirih seorang murid pada sebelas teman temannya yang lain
"Kau benar bopeng!. Sepertinya guru besar sudah mengetahui siapa siapa saja yang selalu membantu Danu teman kita itu!"
"Sebelum terlambat, lebih baik kita pergi dari tempat ini, dan bergabung dengan kelompok kita!" Jawab Tora, si manusia ceking itu dengan cepat
"Jangan bertindak gegabah, acara yang membosankan ini masih berlangsung dan belum selesai!"
"Kalau kita tiba tiba saja pergi, maka kita akan di curigai sebagai pengkhianat itu. walaupun sebenarnya iya."
"Lebih baik setelah acara ini selesai, satu persatu dari kita, menyelinap dan pergi dari perguruan ini."
"Aku setuju dengan usul mu Bopeng, tapi ingat!. jangan terlalu mencolok!'
"Diam!. jangan kuat kuat!. Cepat lihat!. sepertinya guru besar akan memberikan pengarahannya lagi!"
"Kau benar, mari kita pura pura mendengarkan arahannya."
"Murid murid ku semua, juga para tamu penting perguruan!"
"Cucu ku Dragon, kemari lah!' Perintah Gentala dengan lemah lembut
"Baik kakek!" Jawab Dragon patuh, kemudian berdiri dari sisi ibunya, dan berjalan mendekati Gentala dengan langkah pasti
"Ulurkan tangan kanan mu!" Ucap Gentala dengan suara lembut. Kemudian menyentuh telapak tangan Draco dengan cepat
Seketika terjadi keanehan, tubuh Dragon bergetar, pertanda sedang di masuki oleh satu kekuatan kasat mata yang besar
Tiba tiba, sebuah batu kecil berwarna hitam, keluar dari tubuh Draco dan melayang layang di udara
Warnanya berangsur angsur memudar, dan berubah dengan cepat manjadi tujuh warna dominan yang ada di dunia
Semua orang yang melihat kejadian itu menjadi terkejut, termasuk juga Dion, tuan Birawa, Ivory, Iron juga yang lainnya itu
Dalam hati mereka bertanya, batu ajaib apakah yang di lihat oleh mereka tersebut, dan sekarang tengah melayang layang mengitari tubuh Draco dengan cepatnya
Seperti dalam film film fantasi atau pendekar pendekar jaman dulu, tubuh Draco terangkat secara perlahan ke udara, dan sekarang ini tidak lagi menyentuh tanah
Batu tujuh warna yang mengitari tubuhnya semakin lama semakin cepat, dan tiba tiba melesat masuk ke tubuh Draco, lalu menghilang di dalamnya
"Hahahaha!" Sekarang perguruan kita, mempunyai pemimpin yang sah, dan di akui oleh leluhur kita!'
"Dengan telah masuknya batu yang selama ini kita jaga ke tubuh tuan muda ini, maka mulai dari sekarang, tuan muda Dragon adalah pemimpin kita, dan keturunannya adalah pewaris perguruan selanjutnya!" Ucap Gentala dengan ekspresi senang
"Pemimpin muda!. Silakan duduk di kursi kebesaran itu, karena hanya pemimpin terpilih yang bisa mendudukinya." Ucapnya dengan suara rendah
"Tapi kek! Draco tidak berani duduk di kursi itu, karena ayah, mama, juga eyang buyut, serta paman paman lain ada di bawah."
"Jadi biarkan Draco duduk di sini saja!" Jawabnya merendah
"Anak yang baik dan tidak sombong."
"Pantaslah leluhur pendiri perguruan ini, memilihnya sebagai penerus perguruan." Batin Gentala dalam hati
__ADS_1
"Baiklah kalau begitu pemimpin muda, kami akan menurutinya." Jawab Gentala mengalah
"Guru!. Apakah acara ini sudah selesai?"Tanya Dion tiba tiba
"Oh!, sudah boleh dikatakan selesai. Tapi sebenarnya masih ada prosesi yang harus dijalani oleh tuan muda ini, yaitu menunjukkan kekuatan ilmu tertinggi wahyu taqwa pada kita." Jawab gentala penuh harap
"Kalau begitu kami akan menunggunya!" Respon Dion semangat
"Perhatian murid murid semua. kini tiba saatnya kita melihat legenda yang selama ini selalu kita dengar, tapi belum pernah kita lihat selama 100 tahun ini!."
"Untuk itu, mari sama sama kita lihat dan saksikan, wahyu taqwa yang menjadi kebanggaan perguruan kita selama ini!" Ucap Gentala penuh semangat
"Pemimpin muda, silakan!" Ucapnya kemudian dengan suara lembut
"Baik kakek!' Jawab Draco patuh
Tanpa di komando apa dan bagaimana. Dragon seperti sudah memahami gerakan apa yang harus dilakukannya di depan orang orang yang ada di depannya
Sedetik kemudian, dengan gerakan perlahan, dia mengembangkan kedua tangannya kesamping, lalu di angkatnya ke udara
Seketika dari tubuhnya, keluar seberkas sinar kasat mata, dan aura penindasan yang sangat kuat, menerpa apa saja yang ada di dekatnya
Kursi, meja dan barang yang ada di atasnya bergoyang goyang, bahkan banyak yang roboh, dan tertarik ke arah Draco. tapi jatuh ketanah kembali
Tuan Birawa, Dion, Ivory, Iron, Hans, Leon, Bumi dan para pengawal lain, sedaya upaya bertahan dari tempat duduknya, agar tidak tertarik dan bergeser dari sana
Pak Sambudi atau Gentala, para guru, murid, termasuk juga lima murid inti, terlihat juga sedang bertahan dengan mengerahkan kekuatan tenaga dalamnya, agar tidak terseret jatuh dari tempat duduknya tersebut
Sementara Dragon masih juga dengan aksinya, yang dilakukannya secara tidak sadar, karena yang mengendalikan tubuhnya bukanlah dia, tapi leluhur pendiri perguruan
Karena tubuhnya masih kecil, jadi dia tidak mampu mengontrol kekuatannya sendiri
Mungkin seiring usianya bertambah, kekuatan sejati tenaga dalam itu akan mampu di kuasai serta di kontrolnya dengan baik
Tapi hebatnya, tubuh Draco tidak mengalami luka, atau cedera dari dalam
"Sudah cukup anak ku!. Hentikan aksi mu itu!!"
"Kami sudah tidak kuat lagi untuk menahannya!" Teriak Ivory lantang, hingga menyadarkan Draco yang sedang mengirimkan aura penindasan ke arah orang orang yang ada di situ
Dengan cepat dia menghentikan aksinya, dan seketika tempat itu menjadi hening, semua orang bernafas lega walau bekas kengerian masih terasa
Bagi mereka, kejadian seperti itu belum pernah terjadi dan mereka lihat. hingga membuat mereka terpana, seakan tidak percaya dengan kejadian yang baru dialaminya tersebut
Gentala yang paling tinggi ilmunya saja, tidak mampu membendung seluruh kekuatan yang di pancarkan oleh Dragon
Dia cuma berusaha bertahan, agar tidak terluka dalam, Begitu juga dengan murid muridnya
"Sungguh sangat mengerikan kekuatan yang berasal dari tubuh pemimpin muda!' Batinnya dalam hati
"Apakah itu kekuatan sejati milik leluhur perguruan ini?" Ucapnya lirih
"Lebih baik aku diam saja, dan akan aku tanyakan padanya dalam kesempatan lain." Ucapnya lirih, sambil memberi kode pada murid muridnya untuk melakukan sesuatu
Sementara itu di bagian Dragon. Setelah selesai memperagakan kekuatannya, Ia ingin kembali ketempat duduknya, tapi tiba tiba seluruh murid perguruan, beserta guru gurunya, memberi penghormatan tertinggi padanya, dengan cara menjatuhkan sebelah lututnya ketanah dan berkata.
"Salam hormat titisan leluhur!" Ucap mereka serempak, dan terdengar kompak sekali
"Kakek! dan kalian semua!. Apa yang kalian lakukan?. Cepat berdiri dan jangan berlutut seperti itu!' Ucap Dragon tidak enak hati
"Pemimpin!. Ini adalah cara kami memberi penghormatan pada leluhur, yang sejatinya adalah seorang pangeran, dan tokoh agama yang terkenal pada jamannya."
"Jadi pemimpin muda tidak boleh menolaknya!' Jawab Gentala berterus terang
"Ayah!" Teriak Dragon takut
"Lakukan apa yang harus kau lakukan anak ku!. dan jangan menyalahi takdir mu sebagai pewaris perguruan."
"Perintahkan pada mereka agar berdiri dengan tata cara yang benar!"
"Ayah yakin mereka akan menurutinya!" Respon Dion enteng
"Baiklah ayah!" Jawab Draco patuh, kemudian melakukan seperti apa yang ayahnya katakan barusan
__ADS_1
"Kalian semua berdirilah!. Aku terima salam kalian!" Ucap Dragon dengan suara sangat berwibawa sekali
"Terima kasih pemimpin!" Jawab mereka serempak