
Keesokan harinya, di ruang makan vila milik Dion
"Salam kakek!" Sapa Dion sesaat sebelum duduk di kursi ruang makannya
"Wah sudah bangun ternyata!. Ayo kita sarapan dulu baru minum teh sesudahnya." Sahut kakek Birawa penuh kasih sayang
"Terima kasih kek!" Sambut Dion sambil duduk
"Bagaimana kondisi mu pagi ini?" Ucap kakeknya basa basi saja
"Seperti yang kakek lihat, Dion segar bugar saja!" Jawab Dion berbohong, padahal tubuh nya masih lemas akibat tidur terlalu larut malam tadi
"Kemana si Tiger itu, juga calon cucu menantu ku. kenapa belum gabung juga untuk sarapan?" Tanya kakek Birawa lagi
"Dion juga tidak tahu kek, mungkin mereka sedang lari pagi, karena kebiasaan mereka suka melakukan itu setiap hari." jawab Dion sekenanya
"Ha!, kenapa kau tidak ikut lari pagi juga, kan bagus untuk kesehatan mu?" Usul kakek Birawa kena kena saja
"Lagi pula dengan lari pagi bersama Maya, kalian bisa saling mengenal dan akrab satu sama lain?" Sambung nya lagi mengharap
"Lain kali sajalah kek, toh masih tiga hari lagi mereka di kota ini, jadi masih ada waktu." Tolak Dion sudah mulai jengah
"Hari ini, Dion akan mengunjungi pabrik baru di kota B itu, Dion harap kakek bisa ikut ke sana." Ucap Dion mengalihkan pembicaraan
"Ya tentu saja ! kakek memang ingin kesana, sekalian ingin mengecek, seperti apa bentuknya." Jawab kakeknya sedikit sewot
"Tiga hari kedepan, Dion mau mengunjungi kota Teluk Berlian pula, untuk mengecek kesiapan pembuatan tambang emas baru di sana." Sambung Dion membahas topik lain lagi
"Kakek juga sudah lama ingin pergi kesana, sekalian juga melihat lihat hasil karya cucu kakek yang tampan ini!" Ucap kakek Birawa mencoba menggoda cucunya, dan sudah mulai melupakan pembahasan tentang Maya tadi
"Menurut kabar, kau, melalui James dan Erisha telah mampu merubah sebuah desa miskin dan tertinggal, menjadi sebuah kota maju dan menjanjikan, apakah itu benar Dion?" Tanya kakeknya penasaran
"Kakek lihat lah sendiri nanti, bagaimana megah dan indah nya kota hasil karya orang orang kita di sana." Sahut Dion mempromosikan hasil karya orang orang nya itu
"Kakek jadi tidak sabar, ingin secepat nya pergi ke sana, ingin rileks, sambil menikmati panorama resor mu di teluk berlian itu." Respon kakeknya senang
"Disana kakek juga ingin berendam di air panas, yang katanya sangat bagus. Benarkah itu Dion?"
"Benar kek!. mata, tubuh dan jiwa kita, nanti akan di manjakan oleh semua fasilitas yang ada di sana." Sahut Dion membenarkan, sekaligus menjawab pertanyaan kakeknya itu
"Baguslah!. Tidak percuma kakek mempercayakan perusahaan kakek itu pada cucu kakek yang pintar ini. Hebat hebat!" Puji nya tulus
"Oh ya kek!. menurut informasi Govin, katanya luka di lambung kakek itu sudah sembuh seratus persen. Apakah itu benar kek?" Tanya Dion mengalihkan pembicaraan lain
"Kau benar, perut kakek tidak lagi merasa begah sehabis makan atau minum. Ini semua berkat ramuan ginseng dan bahan bahan lain yang di wajibkan oleh si Govin itu untuk kakek minum."
"Baguslah kalau begitu, Dion senang mendengarnya." Respon Dion apa adanya
"Ngomong ngomong, bagaimana rasanya bakal memperistri seorang gadis cantik seperti Maya itu?" Tanya kakek Birawa mengalih kan topik pembicaraan, dan kembali lagi membahas tentang Maya
"Phuuff !"
Dion menyemburkan sedikit teh yang hampir habis di minumnya itu ke arah samping, karena terkejut mendapat pertanyaan kakeknya yang tiba tiba membelokkan arah pembicaraan mereka
Tak lama kemudian, Dion mendapatkan ide untuk tidak menjawab pertanyaan dari kakeknya itu, dengan berkata
"Oh ya kek, rencana kunjungan ke pabrik baru itu masih dua jam lagi, karena sudah selesai sarapan, Dion pamit undur diri dulu. mau siap siap, lagipula perut Dion mules!" Ucap Dion sambil berdiri, dan tanpa menunggu jawaban dari kakeknya, Dion buru buru kabur dengan langkah cepat
"Huh!, dasar anak muda tidak punya sopan santun, ditanya baik baik, malah kabur begitu saja!" Rutuk kakek Birawa kesal
__ADS_1
***
Dion bukannya benar benar pergi ke kamar mandi, tapi malah duduk di gazebo samping depan vilanya itu, sambil menelepon seseorang
"Sebenarnya aku malas mengajak Tiger dan Maya itu, tapi tak enak saja dengan kakek. Takutnya dia tersinggung." Kata Dion dalam teleponnya itu
"Tuan muda bisa saja beralasan lain, kalau memang tidak mau mengajak mereka."
"Tapi menurut ku, akan lebih baik jika mereka di ajak serta, karena bagai manapun, paman Tiger dulunya adalah pemilik tanah tempat pabrik baru itu di bangun." Jawab seseorang di seberang telepon sana yang ternyata adalah Ivory
"Tapi apakah tidak menjadi masalah bagimu, jika nanti kakek terus membicarakan masalah itu di sana?"
"Tidak tuan muda, karena bagaimanapun, Maya itu calon istri anda, jadi setidaknya akan lebih mengenal dan dekat satu sama lain." Jawab Ivory enteng, tapi hati nya perih dengan kenyataan yang ada
"Kalau kau juga ikut ikutan membicarakan masalah itu, kau sama saja sifat nya dengan kakek ku itu!" Sergah Dion mulai tidak senang
"Ma maafkan Ivo tuan muda!" Jawab Ivory gugup dan mulai merubah sebutan aku ke saya, dan sekarang ini menyebutkan namanya pula
"Sekali lagi aku tegaskan!, untuk saat ini aku belum mau menikah, tidak dengan Maya juga dengan siapapun, mungkin termasuk dirimu !"
"Walau kakek ku telah menjodohkan ku dengan Maya, tapi aku tetap menolak, karena aku masih memikirkan orang lain!" Tegas Dion dengan suara kuat
"Jadi kau menolak perjodohan itu Dion, berani nya kau !" Ucap seseorang yang tiba tiba saja datang dengan suara cukup keras
"Kakek?" Respon Dion gugup
"Kakek pikir kau akan senang dengan perjodohan itu, tapi ternyata perkiraan kakek itu salah!"
"Coba katakan!, apa yang menghalangi mu hingga kau menolak perjodohan itu!"
"Atau jangan jangan! kau sudah ada yang lain Dion !" Ucap kakeknya emosi, sambil melirik ke arah tangan Dion yang sedang memegang handphone nya
"Sedang telepon siapa kau dion?. Sini!, kakek mau bicara!" Ucap kakek Birawa sambil merebut handphone milik Dion
"Kakek, jangan!" Respon Dion terkejut, tapi sudah terlambat
"Halo!, dengan siapa aku bicara?" Ucap kakek Birawa cepat, tanpa melihat lagi nomor kontak dan foto yang ada di dalam kontak tersebut
"Tu tu tuan besar!. Sa sa saya Ivory tuan!" Jawab orang di seberang sana, yang ternyata adalah Ivory
"Oh ternyata kau!. Jadi alasan Dion menolak perjodohan itu karena kau Ivory?" Bentak tuan Birawa marah
"Bu bukan seperti itu tuan besar, saya hanya ..!"
"Diam ! beraninya kau mencoba membatalkan perjodohan itu. apa kebisaan mu hingga mempunyai keberanian semacam itu, Ha!" Hardiknya penuh emosi
"Tuan besar!. ini tidak seperti yang tuan besar sangka, saya mana berani dan punya hak untuk membatalkan perjodohan itu!" Bela Ivory ketakutan
"Bagus!. ternyata kau sadar diri!. Dengar baik baik Ivory, Dion sudah dijodohkan dengan Maya, dan tidak ada seorang pun yang boleh membatalkannya!" Tegas tuan Bhirawa dengan suara tinggi
"Tapi dion bisa kek." Sanggah Dion tiba tiba
"Dan saya juga tuan besar." Sambung Maya tiba tiba, didampingi oleh Tiger, ayahnya itu
"Kalian !" Respon kakek Birawa terkejut sekali
"Apa maksud semua ini?. Kakek sudah dengan tulus menerima mu sebagai calon cucu menantu kakek, tapi kenapa kau berani menolak keinginan kakek ini?"
Maya yang ditanya menciut nyalinya, tapi sebagai seorang gadis yang cerdas, dia harus berani mengutarakan kebenaran, dan ganjalan yang ada di hatinya beberapa hari ini
__ADS_1
"Mohon maaf jika saya lancang tuan besar. Saya bukannya menolak perjodohan ini, tetapi melihat kondisi tuan muda yang belum siap, dan sejak dari awal sudah kami amati, maka kami terpaksa melakukan ini." Jawab Maya cukup bijaksana
"Lagi pula tuan muda mungkin masih trauma dengan pernikahan pertamanya yang gagal itu."
"Tapi percayalah tuan besar, Jika kami memang berjodoh maka kami tetap akan bersatu." Sambung Maya, mencoba menenangkan kemarahan dari kakek Birawa tersebut
"Masalah semakin rumit!. Jodoh, trauma, kalau ada jodoh!, kalau ada jodoh! itu terus kata yang selalu ku dengar sejak dari dulu!" Sanggah kakek Birawa mulai melemah
"Kakek! dalam kesempatan ini, Dion ingin berterus terang kepada kakek, agar kakek tidak salah paham nantinya."
"Dion bukannya menolak perjodohan ini kek, tetapi Dion benar benar belum siap, lagi pula Dion belum menjatuhkan hati kepada siapa nanti Dion akan menikah!"
"Saat ini, Dion masih ingin sendiri kek, agar lebih fokus menangani perusahaan yang besar itu.". Dan mohon maaf kek kalau Dion lancang, saat ini masih ada orang yang benar benar tulus mencintai Dion apa adanya, bahkan sudah cukup lama."
"Tapi Dion mengacuhkan saja perhatiannya itu. Dialah yang telah memberikan semangat kepada Dion, sebelum apalagi sesudah kejatuhan Dion itu, hingga menjadi seperti ini."
"Siapa gadis itu?" Tanya kakek Birawa tiba tiba menyela
"Dion harap kakek tidak akan marah, karena bagaimanapun ini keluar dari hati Dion yang paling dalam." Jawab Dion dengan suara pelan
"Ya! cepat katakan siapa?"
"Orang itu adalah Ivory kek!"
"Apa!" Ujar kakek birawa terkejut
"Sejak kapan kalian dekat seperti ini, hingga mempunyai hubungan khusus?. Kenapa kakek tidak tahu, atau tidak dikasih tahu sebelumnya?" Sambung kakek Birawa kecewa
Kemudian diam, sesaat setelah itu berbicara lagi. "Kakek jadi tidak enak hati dengan Ivory, karena sudah memarahinya tadi." Ucapnya penuh penyesalan
"Dasar kau ini Dion!. Kenapa kau tidak mau berterus terang kepada kakek?" Bentaknya Marah
"Bukan Dion tidak mau berterus terang kek, tapi jujur Dion katakan, sampai saat ini, Dion belum menentukan pilihan, apakah Ivory atau Maya." Jawab Dion apa adanya
"Ternyata begitu, dan kakek telah salah menilai Ivory. Kakek harus minta maaf padanya." Membuka layar handphone kemudian berbicara lagi
"Ivory! Apakah kau masih ada di sana?" Tanya Kakek Birawa datar
"Siap tuan besar! saya masih setia mengikuti pembicaraan ini."Jawab Ivory terkejut
"Bagus kalau begitu!. Sekarang aku tegaskan dan kau harus dengar!"
"Siap tuan besar!"
"Yang pertama, aku tidak tahu ada hubungan khusus antara kalian, dan sejak kapan pun aku tidak tahu."
"Jadi tanpa memikirkan perasaanmu dan perasaan orang lain, termasuk Maya, aku dengan serta merta menjodohkan Dion dengan orang lain, sementara kau sudah sejak lama menemani dan memberikan semangat kepada cucu ku itu, aku sungguh salah!"
"Jadi untuk alasan ini, Aku minta maaf!" Ucap kakek Birawa dengan suara kaku
"Apakah kau mau memaafkan ku Ivory?"
"Siap tuan besar!. apapun yang tuan ucapkan, saya siap memaafkannya. Tuan besar tidak salah."
"Bagus kalau begitu!, sekarang kau bersiap siaplah untuk menemani Dion mengunjungi pabrik baru di kota B itu."
"Baik tuan besar! ucap Ivory senang dan lega
"Tiger dan juga kau Maya, jika memang anakmu itu berjodoh dengan cucuku ini, maka mereka akan bersatu, tetapi mungkin dalam situasi yang berbeda
__ADS_1
"Maksud kakek?" Tanya Dion penasaran