Sang Pewaris Tunggal

Sang Pewaris Tunggal
Kemunculan Brawijaya


__ADS_3

Namun ditunggu sampai satu menit, belum juga ada yang mencoba memulai, dan mengambil kesempatan untuk mengutarakan maksudnya, kenapa ingin bertemu dengan Dragon


Padahal kesempatan itu hanya diberikan sekali, dan sebentar lagi kemungkinan Dragon akan kembali ke perguruan, atau mengerjakan hal hal lain yang dianggap penting


Beruntung tak lama kemudian. Gilmer Aldrich memberanikan diri membuka suara dengan berkata."Terus terang saya katakan. kedatangan ku ke Indonesia, bukan hanya ingin menjadi bagian dari Birawa Group."


"Tapi masih ada satu alasan yang bisa dipertanggung jawabkan, yaitu tentang niat ku untuk memperdalam ilmu metafisika di negara ini."


"Sudah banyak negeri dan tempat yang saya kunjungi, demi mendapatkan apa yang saya cari dan inginkan."


"Baru di negara inilah saya bisa mendapatkan jawabannya!" Ucap Gilmer Aldrich berterus terang. Kemudian mengambil nafas sejenak, lalu melanjutkan kembali dengan berkata.


"Melalui nona Jenifer. mata saya jadi terbuka, bahwa sesungguhnya ilmu ku masih terlalu dangkal!"


"Dan belum ada apa apanya, jika dibandingkan dengan ilmu yang dimiliki oleh tuan Abhicandra dan muridnya itu."


"Setelah sampai disini, mata saya menjadi semakin terbuka, dan merasa diri sangat kecil sekali."


"Tuan besar dan tuan muda serta yang lainnya, adalah penyebabnya."


"Untuk itu sudi lah kiranya mengangkat kami menjadi murid, walau siapapun yang menjadi gurunya!" Ucap Gilmer Aldrich sangat berharap, dan terkesan tulus


"Hemm!. Ternyata begitu!" Guman Dion lirih, kemudian bertanya pada Aldrich. "Sudah sampai dimana kemampuan metafisika mu Aldrich?" Tanya Dion ingin tahu


"Baru level tujuh tuan besar, dan itupun pondasinya tidak begitu kuat!"


"Maka saat tuan menekan kami. Kekuatan ku mendadak lumpuh, dan sulit untuk bergerak."


"Untuk itu, mohon salah satu dari kalian, menjadikan ku sebagai murid!" Jawab Aldrich berterus terang


"Draco. Apakah fisik orang ini cocok untuk salah satu ilmu yang ada di kitab Kalamurka?" Tanya Dion ingin tahu, sesaat setelah Aldrich selesai mengutarakan maksudnya


"Draco sudah mengamati sejak tadi ayah!"


"Ada salah satu ilmu yang cocok untuknya."


"Tapi resikonya cukup berbahaya!" Jawab Dragon menggantung


"Ada masalah apa dengan ilmu tersebut, hingga kau berkata seperti itu?" Tanya Dion penasaran


"Apa yang sudah dia pelajari selama ini, sifatnya berlawanan dengan ilmu yang akan Draco berikan padanya."


"Tapi jika mau mempelajari juga, maka dia harus membuang ilmunya itu, dan diganti dengan ilmu yang berasal dari kitab Kalamurka."


"Jika tidak, maka akan sia sia saja. Dan akan membunuh nya secara perlahan!" Jawab Dragon berterus terang


"Lalu apa yang akan kau lakukan padanya Draco?" Tanya Dion pula


"Ayah lihat saja sesudah ini." Jawab Dragon penuh tanda tanya


Kemudian mengalihkan perhatiannya pada Aldrich, lalu berkata." Aku akan membimbing mu secara langsung!. Tapi bukan dalam hubungan murid dengan guru "


"Namun apa yang telah kau pelajari itu akan aku hancurkan, dan diganti dengan ilmu baru, yang jauh lebih kuat dari ilmu mu itu!"


"Namun sebelumnya aku wajib bertanya padamu, agar tidak timbul salah paham dikemudian hari."


"Pertanyaan ku adalah!. Apakah kau bersedia jika ilmu mu itu aku hancurkan?" Tanya Dragon cukup tegas


"Saya bersedia tuan muda!" Jawab Aldrich tanpa ragu ragu lagi


"Bagus!. Sekarang bersiaplah!"


"Duduk dan ambil sikap lotus!. Jangan bergerak sebelum aku perintahkan!" Ucap Dragon berwibawa sekali


"Siap tuan muda!" Respon Aldrich patuh, dan hatinya sangat senang sekali


Tak lama sesudah itu dia segera duduk dilantai, dan siap menerima apapun yang akan diperbuat oleh Dragon terhadapnya


"Redakan emosimu, dan jangan melawan saat ku cabut ilmu yang mengurung jiwa mu tersebut!"


"Bersiaplah!" Ucap Dragon dengan suara mengintimidasi


Kemudian merilis Wahyu Taqwa nya, serta dikirim ke arah Aldrich


Setengah menit kemudian, ada reaksi yang keluar dari tubuh Aldrich, dan tiba tiba saja tubuhnya bergetar hebat, Lalu..

__ADS_1


"Aaargh!" Teriaknya kuat, dan berusaha melawan kekuatan yang berasal dari Dragon


"Jangan dilawan!. Bantu dan terima usahaku, agar jiwamu tidak ikut tertarik!"


"Proses penghilangan ilmu yang salah itu, bisa membuat nyawa mu melayang!" Ucap Dragon di sela sela usahanya tersebut


"Tolong hentikan!. Aku sudah tidak tahan lagi!" Teriak Aldrich penuh permohonan


"Tidak bisa!. Sudah sejauh ini!"


"Jika aku hentikan!. Maka kau akan mati!" Jawab Dragon tegas, kemudian menerapkan Wahyu taqwa nya sampai level lima dan dikirimkan kembali ke arah Aldrich. Lalu tiba tiba..


Bam!


Wus!


Bruk!


Tubuh Aldrich terkulai dilantai, hingga membuat anak buahnya marah, dan hampir saja meledakkan emosinya, serta ingin menyerang Dragon


Tapi reaksi itu langsung padam, sesaat setelah Dragon mengarahkan aura kesadarannya pada pengawal Aldrich, dan langsung tidak sadarkan diri


"Huh!. Ilmu baru seumur jagung mau memprovokasi pemimpin utama kami!" Ucap Argani marah. Kemudian seperti ingin melakukan sesuatu pada Aldrich dan anak buahnya


"Hentikan!. Biarkan mereka seperti itu!"


"Reaksi yang mereka tunjukkan itu wajar, dan tidak menyinggung ku!"


"Sebentar lagi mereka akan sadar, dan mendapati tuan nya itu telah menjadi orang baru." Ucap Dragon tegas


"Baik pemimpin muda!" Respon Argani patuh. Kemudian duduk kembali di kursinya


Tapi tiba tiba ada aura yang sangat kuat keluar dari tubuh Dragon, dan langsung mendominasi keadaan


Tak lama kemudian Dragon pun berkata pada Jenifer. "Apa kabar Dewi Sukowati "


"Sudah lama kiranya aku tidak melihat mu!" Ucap siluet pangeran itu penuh wibawa


"Aku Jenifer!. Bukan Dewi Sukowati tuan muda!" Respon Jenifer keheranan


"Perlihatkan dirimu Sukowati!"


"Apakah aku harus memaksamu untuk keluar? Ucap siluet pangeran tersebut sangat menakutkan


"Bagaimana tuan muda bisa tahu, kalau ditubuh murid ku bersemayam mahluk itu?" Tanya guru Jenifer keheranan


"Hewan yang ada ditubuh murid mu itu adalah abdi ku, lima ratus tahun yang lalu!"


"Saat itu aku telah menyegelnya di sebuah buku, dan ku berikan pada murid ku, untuk disimpan ."


"Setelah ratusan tahun berlalu. Ternyata buku itu ada pada mu, dan malah kau berikan pada murid mu itu!" Jawab Dragon sangat berwibawa sekali


Tiba tiba siluet sosok laki laki muncul dibelakang Dragon. Berpakaian kuning emas, bermahkota emas juga, yang ditaburi permata berkilauan


Di pinggangnya terselip keris berukuran sedang. Gagangnya terbuat dari emas dan kerisnya juga berwarna kuning emas


Pandangannya sangat tajam. Setajam mata elang. Dan itu sangat mendominasi sekali


"Leluhur pangeran!" Ucap Gentala dan yunior yuniornya itu dengan ekspresi terkejut, kemudian bergegas berdiri, dan menjatuhkan lututnya ke lantai dengan tubuh gemetar. Tak terkecuali Jenifer


Sedangkan Dion, tuan Birawa hanya duduk bengong saja serta termangu diam. Tapi lain halnya dengan Ivory serta Dyah yang sudah pandai berbahasa itu


Mereka juga segera menjatuhkan lututnya ke lantai, dengan lidah kelu dan ketakutan juga


Dion dan tuan Birawa yang melihat itu juga terbawa suasana ngeri, karena perbawa Dragon yang sangat luar biasa itu


Kekuatan auranya mampu menekan aura dari semua orang, dan tidak satupun yang mampu menahannya


Tak lama kemudian karena tertekan begitu. Gentala yang paling dituakan disitu, segera membuka suara


"Yang mulia pangeran!. Ada gerangan apakah anda datang mengunjungi cucu semua di sini?"


"Apakah kami telah berbuat salah, dan tidak menghormati cucu pilihan mu ini?" Ucap Gentala dengan sikap sopan


"Ketahuilah oleh mu Sambudi!.

__ADS_1


"Mahluk yang ada ditubuh anak itu. Suatu hari nanti, akan membuat kekacauan besar!"


"Maka gurunya, Abhicandra itu yang paling bertanggung jawab dalam masalah ini."


"Karena dia telah berani mengajarkan ilmu terlarang pada muridnya itu.!"


"Ketahuilah!. Burung Phoenix, jelmaan dari seorang putri mahkota, yang ada ditubuh gadis itu, sebenarnya sedang menjalani hukuman. karena dia telah berani berbuat salah!"


"Akibat kematian pasangannya, dia tidak bisa mengendalikan amarahnya."


"Untung saat kritis itu aku datang, dan langsung mengalahkannya, serta menyegelnya di sebuah buku."


"Tapi sebelum itu. dia telah bersumpah setia padaku. Sejak saat itu, dia ku jadikan hewan peliharaan!"


"Sampai kapanpun, dia adalah abdi ku. Hanya aku yang bisa membunuhnya!"


"Karena cucu pilihan ku ini adalah jelmaan ku, maka dia juga bisa menghabisi Phoenix tersebut. Termasuk menyegelnya kembali!" Ucap seseorang yang menjelma melalui tubuh Dragon penuh wibawa


"Jadi apa yang harus kami lakukan leluhur?" Tanya Abhicandra ingin mendapatkan petunjuk


"Murid mu itu harus mendapatkan pengawasan khusus, melalui murid ku ini!"


"Tapi jika murid mu tidak mau!. Maka mahluk jadian itu akan aku segel kembali. Dan kutarik dari tubuhnya"


"Tapi resikonya setelah itu, murid mu bukan siapa siapa lagi."


"Dia tidak lagi mempunyai kekuatan. Dan tidak bisa menggunakan ilmunya kembali!" Jawab siluet orang yang dipanggil pangeran itu berterus terang


"Tuan!. Tolong jangan segel aku kembali kedalam buku itu!"


"Aku sudah nyaman berada ditubuh gadis ini!"


"Darah juga aura kesadarannya sangat murni sekali. Hingga membuat luka dalam serta sakit hati ku sembuh, dan tidak lagi menyimpan dendam." Ucap siluet burung Phoenix kecil pada siluet pangeran itu


"Hemm!." Respon Brawijaya singkat. Kemudian mengenang kembali kejadian ratusan tahun yang lalu, melalui aura kesadaran Dragon


"Ini semua bermula dari paman mu sendiri."


"Demi ambisi pribadi. Paman mu berusaha menggagalkan pertunangan mu dengan Jaka Lelana, dan berniat menjodohkan mu dengan anak nya!"


"Tapi ternyata kalian cepat menyadarinya, dan terjadilah peristiwa itu."


"Tapi sayangnya tunangan mu mati karena di bokong oleh paman mu sendiri dari belakang."


"Karena itulah kau menjadi sangat marah, dan menghancurkan apa saja yang ada didepan mu, termasuk istana ayah mu itu"


"Namun orang yang sudah membuat mu marah, telah berhasil melarikan diri, dan tidak tahu rimba nya."


"Tapi tidak disangka. Kau telah menemukan keturunannya di zaman ini"


"Dia adalah Tohpati. Keturunan langsung dari paman mu itu."


"Sayangnya sekarang dia sudah mati."


"Yang masih tersisa adalah Tejamaya dan keturunannya!"


"Jadi saat kau bertemu dengan mereka kembali nanti. Pertimbangkan kalau kau ingin membunuhnya!"


"Pangeran!. Izinkan hamba mengikuti mu kembali, dan akan tetap menjadi abdi mu selamanya!" Ucap jelmaan Dewi Sukowati penuh hormat


"Untuk sementara kau diperbolehkan mengikuti ku!. Tapi tetap dalam hubungan hamba dengan tuan!"


"Jika kau berani macam macam, dan menggunakan kesempatan itu untuk mendapatkan tubuh cucu ku. Maka aku sendiri yang akan menghabisi mu!" Jawab siluet pangeran itu tegas


"Hamba siap mematuhinya pangeran!" Sambut Sukowati ikhlas


"Baik!. Dengarkan kalian semua!. Mulai hari ini murid Abhicandra dan murid Adiwilaga, akan menjadi pengawal cucu ku!"


"Kemanapun dia pergi dan berada. mereka berdua yang bertanggung jawab atas keselamatannya!"


"Jika salah satu ada yang berkhianat!, maka aku sendiri yang akan membunuhnya!"


"Sebelum aku pergi. akan aku sampaikan berita besar!"


"Suatu saat nanti. tubuh yang aku gunakan ini, akan menjadi seorang pemimpin dunia."

__ADS_1


"Dia akan dikenal dengan sebutan Sang Naga!"


__ADS_2