Sang Pewaris Tunggal

Sang Pewaris Tunggal
Penyamaran


__ADS_3

"I..i.itu bos!. Mata mata yang ditempatkan di lokasi penyerangan itu melaporkan, bahwa Burgon si mata dewa itu, saat ini ada di daerah ini!"


"Keberadaannya di sini, karena ingin menyelidiki, siapa dalang dibalik penyerangan tersebut."


"Yang paling mengkhawatirkan lagi adalah, salah seorang diantara kami, secara tidak sengaja, menjatuhkan gelang penanda ini." Jawab Justin gugup


"Dasar bodoh!."


Plak!


"Bukankah aku sudah mengatakan, agar kalian bertindak hati hati!" Bentak Jasmine marah


"Maafkan kami bos!. Sungguh kami tidak sengaja." Sanggah Justin membela diri


"Beritahukan kepada teman teman mu, agar membuang gelang itu sekarang juga. Aku tidak mau rencana kita gagal hanya karena gelang tersebut!" Ucap Jasmine memberi perintah


"Baik bos!" Jawab Justin patuh, walau dalam hatinya mengutuk perbuatan Jasmine tadi padanya, dan berniat untuk tidak memberitahukan perintah Jasmine tadi


"Jika bukan karena perintah tuan besar, untuk mematuhi perempuan jhalang itu, sudah lama aku ingin merobek mulutnya yang judes itu." Batin Justin dalam hati, sambil melangkahkan kakinya menjauh dari rumah Jasmine tersebut


"Sialan!. Aku yang melapor, malah aku yang kena gampar. Benar benar sial!" Rutuk Justin lirih sambil menoleh kearah rumah Jasmine itu dan meludah kearahnya


"Ayah sudah bilang!, agar kau sudahi aksimu yang tak berguna itu Jasmine." Ucap Danish kesal


"Ayah tidak mau, kau sendiri yang akan binasa karena berani melawan Dion." Sambungnya lagi


"Sudah kepalang basah ayah. Aksi sudah dimulai, dan sudah memakan korban pula. Aku tidak akan mundur walau selangkah pun!" Respon Jasmine tetap membandel


"Ibu!, sebaiknya kita cepat tinggalkan rumah ini, atau jika perlu ibu jual, dan kita pindah ketempat lain, agar nyawa kita terselamatkan." Ucap Danish memberi usul pada ibunya tersebut


"Ibu tidak mau!, karena ibu sudah merasa kerasan tinggal di sini. Lagipula apa yang ditakutkan oleh orang orang selama ini, itu hanya mitos!" Jawab ibu Danish tetap ngotot


"Tapi bu!. mitos atau tidaknya Danish tidak peduli!, yang perlu kita pikirkan adalah, jika perbuatan Jasmine itu diketahui oleh orang orangnya Dion, maka bukan hanya Jasmine saja yang akan mereka habisi, tapi kita semua!. Ibu pikirkanlah baik baik!" Bantah Danish juga ngotot


"Yang harus keluar dari rumah ini adalah Jasmine, anakmu itu, orang yang tidak berguna, yang tahunya hanya membalas dendam saja. Dia tidak sadar, bahwa apa yang telah dilakukannya dulu, itu melukai hati orang lain!" Jawab nenek Elina seperti menggurui Danish anaknya tersebut


"Jasmine berbuat seperti itu karena ajaran dari nenek juga!" Bantah Jasmine tidak terima


"Jangan kurang ajar kau!. Nenek sudah tidak mau lagi berurusan dengan masalah mu. Nenek hanya ingin hidup tenang, di sisa umur nenek ini!" Jawab nenek Elina marah


"Tapi jika kau ingin meneruskan dendam mu itu! Kau pergilah dari sini, dan hapus jejak mu!. Jangan sampai ketahuan, bahwa kaulah pelaku pembunuhan orang orangnya Dion itu!"


"Jika Jasmine mati, maka kita harus mati bersama!" Balas Jasmine sekenanya


"Dasar anak gila!. Kau ingin mengajak orang tuamu mati bersama?. Padahal yang melakukan itu adalah kau, dan kenapa harus kau timpakan kepada kami?" Teriak Danish sangat marah sekali


"Ah sudahlah!. Aku mau tidur saja, dan jangan ganggu istirahat ku!" Jawab Jasmine sudah tidak mengenal sopan santun lagi. kemudian berlalu begitu saja memasuki kamarnya


"Dasar gila!. Ibu pikir setelah sekian lama, hidup kita akan damai. Tapi tidak disangka, Jasmine malah menyulut api dendam, dan akan membuat kita mati terbakar karenanya." Respon nenek Elina keheranan, tidak mengerti jalan pikiran cucunya tersebut

__ADS_1


"Makanya bu!. Mari kita pindah dari tempat ini saja. Danish khawatir, kita akan turut menjadi korban." Ucap Danish masih mencoba membujuk ibunya untuk pindah


"Kalau kita mau pindah!, mau pindah kemana Danish?. Ibu tidak begitu mengenal daerah ini. Lagi pula, dari mana kita bisa mendapatkan uang, untuk membiayai hidup kita jika kita pindah nanti?" Sanggah nenek Elina pesimis


"Kita jual saja rumah ini bu, kemudian kita beli rumah baru, atau kita pindah ke ibukota saja." Jawab Danish mulai semangat


"Entahlah!. Ibu masih belum bisa memutuskan, apakah akan pindah atau tidak!" Jawab nenek Elina pasrah, kemudian ikut ikutan meninggalkan Danish seorang diri, di ruangan keluarga tersebut


"Aku tidak boleh tinggal diam!. Aku harus menggagalkan rencana Jasmine itu dan membujuknya, agar membuang dendamnya pada Dion!" Batinnya dalam hati, kemudian beranjak pergi, keluar dari dalam rumahnya tersebut


***


"Sampai sejauh ini, belum ada petunjuk, yang mengarah pada siapa dalang dari semua kejadian ini."


"Jika terus dibiarkan, maka akan menjadi preseden buruk bagi tim kita. dan jika ini diketahui oleh tuan besar, bahwa kita sampai saat ini belum juga bisa menemukan dalangnya, aku khawatir tuan besar akan menghukum kita!" Ucap Burgon merasa khawatir


"Bagaimana kalau kita melakukan penyisiran lokasi bos, siapa tahu bisa mendapatkan petunjuk!" Jawab seorang mata mata memberi usul


"Usul mu boleh dicoba, tapi jangan terlalu memaksa." Respon Burgon sedikit pesimis


Kemudian secara serentak, seluruh mata mata itu menyisir tempat tempat yang dicurigai sebagai markas kelompok penyerang tersebut, walau itu sangat tidak mungkin


Tapi tanpa mereka sadari, perbuatan mereka tengah diawasi oleh 2 orang, yang sedang menyamar sebagai pedagang keliling


Sudah dua kali mereka mondar mandir di lokasi tersebut, sambil menjajakan dagangannya, dan berteriak teriak kuat. Kemudian mendekati kelompok Burgon tersebut, dan pura pura menawarkan dagangannya itu


"Es nya Bang!" Ucap pedagang itu pede sekali


"Atau barangkali, tuan ingin makan soto?" Tanya seorang pedagang keliling itu menawarkan dagangannya


Mata mata tersebut tidak langsung menjawab, tetapi matanya beralih ke wajah Burgon, seperti meminta persetujuan darinya


Tapi harapannya tidak terkabul, karena Burgon memberi kode, agar tidak melayani penjual keliling tersebut, kemudian dia berkata


"Oh sekali lagi tidak!. terima kasih!" Jawabnya lemah


Kedua pedagang keliling tersebut, yang dua kali tawaran nya di tolak, bergegas pergi meninggalkan lokasi itu, lalu sambil berteriak teriak, menjajakan dagangannya kepada orang orang yang kebetulan sedang lewat di tempat sepi itu


Tapi belum 10 langkah, tiba tiba Burgon berteriak


"Berhenti!"


Langkah kedua pedagang keliling itu, mendadak berhenti, dengan raut wajah penuh tanda tanya, tapi akting mereka sebagai pedagang keliling, patut diacungi jempol


Hanya per sekian detik, wajah mereka mendadak pias tadi, tapi di detik berikutnya, sudah normal kembali. Kemudian mereka membalikkan badan secara serempak, lalu bertanya kepada Burgon


"Apakah tuan memanggil saya?" Tanya salah seorang di antara mereka kebingungan


"Keduanya!" Jawab Burgon singkat

__ADS_1


Kemudian dengan langkah pasti, Burgon mendekati kedua pedagang tersebut, lalu bertanya." Apakah kalian berdua sudah lama menjadi pedagang keliling seperti ini?"


"Kalau saya sudah 4 tahun tuan. tapi temanku ini baru dua tahun." Jawab pedagang itu apa adanya


"Oh begitu!. Bisakah kalian membuat kan ku semangkok soto dan 1 gelas es, dan tolong antar kebawah pohon itu!" Ucap Burgon seperti sedang mengatur strategi


"Bisa tuan sangat bisa sekali. Apakah tidak termasuk anak buah tuan itu?" Jawab salah seorang dari mereka senang


"Boleh juga. Cepat buatkan pesanan ku tadi, kebetulan aku sudah lapar dan haus." Jawab Burgon mengarang cerita dan tidak sabar ingin cepat cepat menyergap mereka, karena Burgon merasa, bahwa mereka bukan pedagang keliling biasa


"Silakan tuan tunggu saja di sana!. Kebetulan ini ada kursi, yang bisa tuan gunakan untuk duduk. Tapi maaf, tidak ada mejanya." Ujarnya merendah


"Tidak masalah!" Jawab Burgon cepat


Tak lama kemudian, handphone Burgon berdering dengan suara nyaring, dan tanpa berpindah tempat lagi, Burgon langsung mengangkat teleponnya itu, sambil matanya jelalatan, menelisik siapa tahu ada petunjuk yang sedang dicari pada mereka


Tiba tiba mata Burgon tertuju kepada gelang hitam, yang dipakai oleh seorang tukang soto tersebut, ketika tangannya terangkat untuk mengambil sesuatu di rak gerobaknya itu


Tanpa disadari oleh tukang soto tersebut, baju lengan panjang yang dikenakannya itu, tertarik ke bawah, ketika dia mengangkat tangannya


Kesempatan itu digunakan oleh Burgon, untuk meneliti, apakah gelang yang dipakai oleh pedagang itu, sama seperti gelang yang ditemukan oleh anak buahnya belum lama ini


Tetapi Burgon hanya diam saja, malah berpura pura, mengajak tukang soto itu untuk berbincang bincang, sambil tangannya memberi kode kepada anak buahnya untuk membuat formasi


"Sejak kemarin, saya melihat tuan dan orang orang tuan, asik mondar mandir di sekitar lokasi ini. Apakah ada sesuatu yang sedang tuan cari?" Tanya pedagang soto itu pede sekali


"Tidak juga!.Kebetulan jam tangan anak buah ku itu, semalam terjatuh di sini, jadi hari ini, kami mencoba mencarinya lagi, siapa tahu jam tersebut masih ada di tempatnya." Jawab Burqon lagi lagi mengarang cerita


"Oh Ternyata begitu. saya kira tuan sedang mengukur jalan. Maaf tuan jika saya lancang." Reaksinya sudah diluar jalur


"Tidak masalah karena kau juga tidak salah!" Jawab Burgon pura pura bersikap ramah


"Tapi ngomong ngomong bagus juga gelang yang kau pakai itu. Aku jadi teringat dengan anakku, dia juga suka menggunakan gelang berwarna hitam seperti itu." Ucap Burgon ingin memancing reaksi yang diinginkan


"Ah tuan ada ada saja!. Ini hanya gelang biasa tuan dan tidak berarti apa apa." Jawab pedagang itu mengelak


"Tapi kenapa kawanmu yang satu lagi itu, juga mengenakan gelang yang sama. Apakah kalian dari 1 kelompok?"


"Oh kalau masalah itu bisa saya jelaskan. Kebetulan kami berdua ini bekerja pada juragan yang sama, jadi untuk membedakan dengan pedagang lain, kami diharuskan memakai gelang seperti ini." Jawabnya enteng


"Oh ya tuan!. Kebetulan sotonya sudah selesai. Mari saya antar ke bawah pohon itu!" Ucapnya seperti mengalihkan pembicaraan


"Oh kalau begitu terima kasih!" Ucap Burgon sambil berjalan menuju ke sebuah pohon rindang, yang tidak jauh dari lokasi tersebut


Sepuluh menit kemudian, soto yang disodorkan kepada Burgon dan anak buahnya itu, sudah licin tidak tersisa, begitu juga dengan es manis yang juga mereka pesan itu, semuanya juga habis


Saat ingin membayar harga makanan dan minuman itu, Burgon memberikan kode kepada anak buahnya, untuk menyergap kedua pedagang itu, dan memasukkannya ke dalam mobil, yang terparkir tidak jauh dari tempat mereka makan tadi


"Apa yang kalian lakukan?. Kenapa kalian menangkap ku, dan mengikatku seperti ini?" Tanya salah seorang dari pedagang tersebut keheranan

__ADS_1


"Diam atau mati!" Jawab Burgon tegas


"Apakah kau mengenal gelang ini?"


__ADS_2