
Sesuai dengan hari yang ditentukan, pesta pernikahan mereka pun dilaksanakan dengan meriah.
Tentu saja di hari bahagia itu, kedua orang tua serta kerabat mereka juga datang, karena memang itu suatu keharusan, kecuali bagi pengawal yang kebetulan orang tuannya jauh dari negara ini
Jadi mau tidak mau, pernikahan mereka tidak dihadiri oleh kerabatnya, tapi cukup disambungkan melalui saluran vidiO
Namun walau demikian, suasana pesta tersebut cukup meriah, karena dihadiri oleh hampir seluruh petinggi pengawal, termasuk juga orang orang Penting Birawa Group, yang memang sengaja diundang untuk menghadiri pesta itu
Teman teman sesama pengawal yang masih melajang, baik pengawal wanita, maupun pengawal pria, saling berlomba lomba untuk mendekati pasangan pengantin itu. walau secara sembunyi sembunyi atau terang terangan
Diantara mereka adalah beberapa pengawal bawahan pasangan pengantin itu atau atasannya langsung
Dalam kesempatan itu, mereka banyak berkata dengan tujuan menggoda atau menguji pasangan pengantin itu dengan ucapannya
"Selamat pengantin baru!. Jangan lupa kabari kami yang masih jomblo ini, apakah bulan madu kalian enak atau tidak." Ucap anak buah Eric menggoda komandannya tersebut
"Hus!. jangan ganggu mereka. Kalau kau mau merasakan bagaimana enaknya pengantin baru. ya cepat menikah. susul bos kita ini!" Hardik temannya yang lain
Eric dan Anjani yang digoda seperti itu hanya menahan senyum saja, tidak berani membantah atau protes, ketika diganggu oleh pengawal lain termasuk juga oleh anak buahnya
"Bagai mana dengan mu Mario. Kemana rencana bulan madunya?" Tanya kawan satu tim menggoda temannya itu
"Ah kau ini!. Acara pesta saja belum selesai. sudah membicarakan bulan madu." Jawab rekannya kesal
"Pergi sana cepat cari jodoh!, jangan kelamaan jomblo, nanti karatan baru tahu!" Ledek kawannya sesama jomblo
"Memang besi, bisa karatan?" Protes kawannya dengan sikap lugu
"Kalau tidak karatan yang minimal tak bangun bangun lagi, baru nyahok loe!" Jawab temannya yang lain
"Memangnya kau sudah menikah?!" Ledek kawan disebelahnya kesal
"Memang belum sih. Tapi kalau merasa ya pernah!" Jawab temannya itu cuek, seperti tak bersalah dan bermuka tembok
"Itu namanya murahan!" Belum apa apa sudah kebablasan gitu!' Ejek kawannya lagi menohok
"Bukan kebablasan, tapi pemilihan sebelum waktunya. Eh maksudnya coblos dulu sebelum hari H, gitu!" Jawab orang itu benar benar bermuka tembok
"Uuu dasar bakul semprul!" Respon temannya kesal
"Sudah! sudah!. Jangan kalian pula yang ribut bertengkar, sementara orang lain bakalan enak enak nanti!" Sergah salah seorang komandan atasan mereka menengahi
"Lihat itu!. Tuan besar sedang mau memberi ucapan selamat pada pasangan pengantin di ikuti oleh pemimpin pemimpin kita!"
"Aduh aku jadi iri!." Ucap salah seorang pengawal itu dengan mimik lucu
"Mak!. Tolong kawinkan aku! Aku sudah tidak tahan dan tidak mau karatan!" Pekiknya kuat hingga sempat terdengar ke telinga Dion, sampai membuat nya menoleh dan tersenyum geli
Melihat tuan besar mereka tersenyum seperti itu, membuat orang yang tadi berteriak menjadi malu malu, kemudian menghilang di kerumunan pengawal yang lain, takut kena marah
Benar saja, tak lama kemudian Dion menyuruh Leon untuk memanggil pengawal yang berteriak kuat tadi untuk menghadapnya
"Panggil pengawal yang tadi berteriak itu!. Aku ingin mendengar teriakannya sekali lagi." Ucap Dion memberi perintah
"Baik tuan besar!" Jawab Leon yang berada tidak jauh dari Dion itu patuh
"Siapa namamu?. dan dibawah komando siapa?" Tanya Leon tegas, sesaat setelah menemukan orang tersebut
"Ma..ma..maaf bos!.Saya tidak sengaja berteriak tadi, saya hanya bergurau saja!" Ucapnya terbata bata sekaligus ketakutan itu
"Tuan besar memanggil mu untuk menerima hukuman!" Ucap Leon dengan wajah serius
__ADS_1
"Matilah aku!" Batinnya dalam hati, kemudian mengikuti Leon untuk menghadap Dion
"Siapa namamu?" Tanya Dion tegas, sesaat setelah pengawal itu sudah ada didepannya
"Sa..sa..saya Doni tuan besar!" Jawabnya gugup
"Apa yang kau teriakkan tadi?. Apakah kau tidak puas atau berniat menghina pesta pernIkahan ini?" Tanya Dion lebih tegas lagi
"TI...ti tidak tuan besar!" Jawab Doni terbata bata
"Lalu kenapa kau berteriak tadi?" Bantah Dion sambil menahan tawanya
"Saya mau kawin tuan besar.! Eh maksudnya. saya benar benar kepingin kawin tuan besar?" Jawabnya gugup dan dan tidak sengaja berterus terang seperti itu
"Hahahaha!" Terdengar tawa dari semua orang yang ada ditempat itu, termasuk juga tuan Birawa, sedangkan Ivory dan Dion hanya tersenyum di kulum saja
"Mau kawin dengan siapa?. Apakah kau sudah punya calon?" Ucap Dion cepat, dan tanggap melihat kegugupan pengawalnya itu
"Saya belum mempunyai calon tuan besar!. Tidak laku karena wajah saya pas pasan!" Jawabnya jujur
"Hahahaha!" Sekali lagi tamu yang hadir tertawa terbahak bahak mendengar jawaban konyol dari pengawal tersebut
"Kalau belum ada calon, kenapa kau ingin kawin cepat cepat?, sampai memanggil ibumu seperti itu?" Tanya Dion sambil menahan tawa
"Si Rendi tadi ada mengatakan, katanya kalau lambat kawin nanti bakalan karatan tuan besar!" " Jawabnya lugu
"Apanya yang karatan itu Doni?" Tanya Dion geli, dan sudah tidak mampu lagi menahan tawa nya untuk keluar
"I..I..itu tuan besar!" Jawabnya terbata bata, sambil menunduk
"Apakah kau benar benar ingin cepat kawin Doni?"
"Kalau begitu kau pilih pengawal perempuan yang belum ada pasangan, dan lamar mereka sekarang juga!" Ucap Dion sambil bergurau
"Wajah seperti saya mana bisa cepat laku tuan besar. Paling paling kalau diobral murah, nenek nenek yang akan menerima lamaran saya." Jawabnya kocak dan meluncur alami begitu saja
"Memang wajah yang laku keras itu wajah yang bagaimana Doni?" Tanya Dion penasaran
"Seperti wajah tuan besar!. Tampan, gagah, kuat dan kaya lagi. tidak seperti saya.!" Jawab Doni jujur dan berani sekali, dan memuji tuan besarnya dihadapannya langsung
Seumur umur baru kali ini ada orang yang berani berbicara akrab seperti itu pada Dion, dan langsung mendapat tanggapan bagus pula. Jangankan mau berhadapan santai seperti itu, mimpi saja tidak pernah
Tapi kali ini. benar benar terjadi
"Memang wajah kamu bagaimana?" Tanya Dion setelah mampu menenangkan hatinya karena terbawa suasana konyol anak buahnya itu
"Hitam. rambut keriting, hidung pesek, mata besar, eh hidup lagi!" Jawabnya semakin konyol
"Hahahaha!"
"Hahahaha!"
Gelak tawa segera pecah di areal pesta tanpa terkecuali, ketika mendengar jawaban yang benar benar konyol tersebut.
Bagi mereka, baru kali inilah ada orang yang bermuka tembok seperti itu, dan berani bercanda pada tuan besarnya
Didalam hati mereka membatin, sekaligus memuji keberanian pengawal itu, termasuk juga komandan yang membawahi Doni tersebut
"Bagaimana kalau aku yang mencarikan jodoh untuk mu Doni?" Tanya Dion setelah suasana tawa sedikit mereda
"Dengan dengan hati tuan besar!" Jawabnya senang, kemudian mengedarkan pandangannya pada gadis gadis pengawal untuk dia pilih
__ADS_1
Tapi satu persatu mereka lari dari tempat itu, dan menghilang dari kerumunan pesta
"Nah kan tuan besar!. Muka pas pasan seperti saya, mana laku, dan mana ada yang mau saya lamar!. Kalau begitu alamat.. "
"Karatan ya?" Ucap Dion memotong perkataan pengawalnya itu
"Benar tuan besar!" Eh maksud saya..."Jawabnya jujur tapi dibantahnya sendiri
"Hahahaha!" Kali ini Dion sudah tidak mampu lagi menahan tawanya. lepas begitu saja. Begitu juga dengan semua orang yang hadir ditempat itu
Suasana pesta benar benar meriah dan beda, dengan hadirnya Doni. seorang pengawal level menengah, sekaligus pelawak tersebut
Dion tidak marah atau tersinggung, ataupun merasa direndahkan oleh anak buahnya itu
Dia malah mendapatkan pembelajaran secara langsung, bahwa ikatan batin dan kedekatan antara pemimpin dengan bawahannya itu, jauh lebih penting dari segalanya
Setelah semua itu terjalin dengan baik, maka kedepannya akan mudah diatur dan di kelola oleh seorang pemimpin sepertinya
"Untuk hari ini!, kau harus bersabar. Aku yakin suatu hari nanti, kau akan mendapatkan jodoh yang sesuai dengan mu."
"Nah kan!. tuan besar saja mengakui kalau saya ini jelek. Begitu kan?" Respon Doni apa adanya
"Uh. merepotkan juga berhadapan dengan pengawal yang satu ini, walau sedikit konyol tapi cukup menghibur." Batin hati Dion dalam hati
"Bergabunglah dengan teman teman mu yang lain. dan nikmati suasana pesta ini!" Perintah Dion tegas, lalu memberi kode pada Leon untuk membawa kembali si Doni pelawak itu, untuk bergabung dengan teman temannya yang lain
***
Nun jauh di sana. dua orang perempuan cantik, satu sudah dewasa, dan yang satunya lagi masih anak anak, kisaran 4 sampai 5 tahun atau kurang, terlihat sedang belajar menembak, di suatu cattle farm atau peternakan sapi modern, yang tempat nya lumayan luas, dengan padang rumput yang tampak menghijau
Adeline dan anak nya Clara, kedua orang itulah yang saat ini sedang belajar menembak, walau masih belum begitu mahir apalagi Clara.
Usianya yang tergolong masih muda dan anak anak, menyebabkan tembakannya selalu tidak mengenai sasaran, walau dipandu oleh seorang penembak professional. tapi tetap saja belum bisa
"Fokuskan pandangan mu pada sasaran, dan anggap itu adalah Dion, orang yang ingin kau bunuh itu!" Ucap Adeline mencoba memberi semangat pada putrinya
"Clara tidak bisa ma!. Bunyi letusan pistol ini sangat menyakitkan telingaku. Goncangannya juga sangat kuat!" Protes Clara berterus terang
"Mama yakin!, kau pasti bisa anak ku!. Kalau kau belum apa apa sudah menyerah, bagaimana bisa membalaskan kematian ayahmu itu!" Sanggah ibunya kurang senang
"Martin! Apakah bisa pistol ini dipasangi alat peredam, agar anak ku tidak merasa kesakitan ketika memakainya?" Tanya Adeline kesal, pada seorang asisten suami barunya itu
"Bisa nyonya!. Tapi mohon bersabar sedikit, karena alat itu saat ini sedang kosong di gudang penyimpanan senjata." Jawab Martin apa adanya
"Beberapa hari lalu. tuan Luck sudah memesan alat itu, katanya untuk tuan putri anda." Sambungnya lagi
"Huh!. menyebalkan sekali !. Ayo Clara kita masuk!. Hari sudah semakin sore." Ucap Adeline yang sekarang sudah berubah panggilannya menjadi Rosamonde atau Rosa
Suami barunya tersebut, sangat mengagumi kecantikan istrinya itu, sampai menjulukinya dengan panggilan bunga mawar, atau dalam bahasa Belgia disebut Rosamonde. Hingga sekarang tetap dipanggilnya dengan panggilan itu
Tiga hari setelah Tommy meninggal, Adeline atau Rosalinda, memutuskan untuk pergi dari tempat itu, untuk menghindari kejaran orang orang nya Robin, dan sebulan kemudian, dia menjual cowshed miliknya pada peternak lain
Setelah itu dia mengembara hampir ke seluruh negara negara tetangga Belgia, bahkan sempat menetap di Belanda selama beberapa bulan
Tapi akhirnya kembali lagi ke Belgia, setelah bertemu dengan seorang Pria asal negara itu, dan dua bulan kemudian, pria tersebut menikahinya
Kini dia sudah menjadi nyonya Luck. seorang pria kaya raya, pemilik perusahaan properti, dan peternakan terbesar di Belgia dan Belanda. Setelah menikah dengan Luck, praktis kehidupan Rosa dan anaknya tercukupi. Bahkan berubah drastis menjadi penguasa, di peternakan milik suaminya itu
Sore itu sekitaran pukul 5 sore,Rosa sedang mendampingi putrinya untuk belajar menembak, yang sebenarnya sangat aneh dan langka, dimana anak seusia Clara, sudah dikenalkan dengan senjata api, bahkan diajari menembak pula
Walau senjata yang digunakannya berukuran kecil, tapi tetap saja senjata berbahaya namanya. Namun itulah kenyataan yang ada saat ini
__ADS_1