Sang Pewaris Tunggal

Sang Pewaris Tunggal
Suasana memanas


__ADS_3

"Jaga sikapmu brengsek!. Respon bumi marah


"Siapa kau?. Jangan berani ikut campur urusan ku anak kecil!" Ucap Bajra kurang senang


"Aku orang yang akan membungkam kesombongan mu Bajra!" Jawab Bumi cukup berani sekali


"Kurang ajar!. Dasar cari mati!. Hiaaat!" Teriak Karlos marah, dan berkelebat ke arah Bumi untuk menghajarnya


Dia tidak terima jika tuan mudanya direndahkan seperti itu. Maka tanpa meminta izin dari tuannya lagi, dia maju untuk menghajar Bumi, demi untuk melampiaskan kemarahannya


Wus!


Bug!


Bam!


Akibat benturan dua kekuatan besar, tubuh salah seorang dari mereka terdorong beberapa langkah. Bukan hanya itu saja sebuah tendangan yang cukup kuat dari seseorang, membuat sesosok tubuh terpental jauh, dan jatuh menimpa pot bunga hingga pecah


Sontak beberapa orang berlarian ke arah sosok yang terjatuh itu, karena yang jatuh tersebut adalah komandan tiga mereka.Terdengar rintih kesakitan keluar dari mulutnya. Darah segar juga terlihat merembes dari mulut Karlos tersebut


Tak lama sesudah itu, umpatan sakit hati keluar dari mulut Karlos, dan membuat anak buahnya terbakar emosi


"Kurang ajar!. Badjingan!. Baru kali ini aku dihajar seperti ini!"


"Hebat juga kau anak muda!"


"Sebutkan siapa namamu, agar aku bisa buatkan nisan atas kematian mu nanti!" Ujarnya penuh ejekan


"Kau tidak perlu tahu siapa aku!. Selamatkan saja dirimu dalam duel yang sesungguhnya!" Jawab Bumi sangat mantap sekali


Melihat kejadian yang tidak mengenakkan tersebut, Abhicandra menjadi kesal, marah dan kecewa, karena tuan rumah tidak menghormati mereka, terutama tuan besarnya


Padahal sudah ada perjanjian yang telah di sepakati sebelumnya, dalam pertemuan pertama beberapa hari yang lalu. Tapi entah mengapa situasi tidak mengenakkan tersebut menimpa mereka juga


Abhicandra tidak tahu, menurut perkiraannya. Bagaimana kalau belum apa apa, jati diri Dion sudah terungkap. Apakah Bajra Napoleon mempunyai jaringan intelejen yang sangat mumpuni, atau hanya kebetulan saja?


Semua itu masih menjadi misteri buat Abhicandra, apalagi bagi Dion sendiri


Sebenarnya tadi Dion sempat juga terkejut, karena tiba tiba tuan rumah menyebutkan namanya. Tapi sebagai seorang yang cukup berpengalaman dalam hidup dan jebakan seperti itu, membuat Dion tidak terpancing emosi, dan bersikap biasa saja, padahal dalam hatinya bergejolak marah, bagai lahar panas yang siap dimuntahkan


Namum Bumi tidak demikian. Dia langsung emosi, karena ada orang yang berani menyebutkan nama tuan besar mereka, dengan tidak sopan begitu saja di hadapannya


Tapi karena sudah diingatkan akan segala kemungkinan yang bakal terjadi, Bumi pura pura berakting marah, bukan karena nama Dion disebutkan salah, Namun marah nya karena penyebutannya yang kurang benar


Dalam rapat sebelum keberangkatan mereka ke tempat itu, Dion memutuskan untuk merubah namanya dengan nama lain. Begitu juga dengan beberapa nama anak buahnya


Dion berganti nama dengan nama samaran yaitu tuan besar Brawijaya Mahesa, atau biasa dipanggil dengan panggilan singkat tuan Wijaya ataupun Mahesh saja


Iron berganti nama menjadi Tangan Besi, diambil dari nama julukannya. Sedangkan yang lain hanya diambil atau dibalik dari nama aslinya saja


"Tuan Arja!. Jika anda tidak bisa menghentikan kekacauan kecil ini, maka aku akan tarik formasi pelindung di perumahan mu, dan aku kembalikan kartu ini pada mu!" Ucap Abhicandra penuh ancaman, dan berakting pura pura marah


"Maafkan sikap tidak terpuji kami tuan penolong!. Kami akan mematuhi apa kata mu!" Jawab Arjaya patuh. Kemudian mendekati Bajra untuk mengatakan sesuatu

__ADS_1


"Tuan muda!. Demi menghormati tamu kita, lebih baik anda perintahkan pada bawahan mu, agar bisa untuk sementara menahan diri."


"Aku khawatir ini akan menjadi perang besar, yang akan berimbas pada keselamatan seluruh penghuni perumahan ini." Bisik Arjaya pada Bajra Napoleon atas saran dari Abhicandra tersebut


"Baiklah Arja!. Aku ikut saran mu!" Jawab Bajra nurut, tapi seringainya terlihat misterius sekali


"Tuan..!" Ucap Bajra pada Dion terputus, karena dia belum tahu nama Dion yang sebenar nya


"Aku Brawijaya Mahesa!. Anda boleh memanggilku dengan Wijaya atau Mahesh saja!" Respon Dion cepat, dengan menyebutkan nama samarannya semata


"Oh!. Maafkan lidah ku yang salah dalam menyebutkan nama anda tadi tuan Mahesh!"


"Sungguh kami tuan rumah yang tidak berbudi!"


"Mari silakan masuk ke gubuk saya!" Ucap Bajra Napoleon merendah, dan seperti tulus saat mengucapkannya


Sepuluh menit kemudian. Dion dan sebagian besar anak buahnya, sudah memasuki rumah elit yang disebut oleh pemiliknya dengan sebutan gubuk tadi


Ternyata ada aula atau lapangan yang cukup besar berukuran 100x100 meter di dalamnya. Benar benar rumah yang disiapkan untuk berlatih olah kanuragan dan sebaginya


Di tiap tiap sudut lapangan, ada puluhan rak kayu jati berukir, yang didalamnya berisi berbagai macam senjata tajam, seperti tombak, pedang, katana golok, stik pendek, samurai dan lain lain sebagainya


Sejenak Dion sempat terkesiap melihat peralatan tempur yang lumayan banyak itu, karena ditempatnya tidak ada disediakan senjata seperti itu


Namun walau demikian, pengawalnya juga mempunyai senjata andalannya masing masing. Senjata serupa, masih banyak di simpan di beberapa gudang penyimpanan senjata, tapi tidak disediakan di arena latihan, sama seperti saat ini


"Selamat datang di gubuk reyot ku tuan Mahesh dan rombongan!"


"Silakan mengambil tempat yang diinginkan!. Mari tuan Mahesh!" Ucap Bajra Napoleon berusaha bersikap ramah


"Jangan khawatir!. Tidak ada racun di dalam makanan tersebut!" Ucap Bajra blakblakan saja


"Terima kasih tuan Baja!" Jawab Dion cepat. kemudian mengalihkan pandangannya ke arah Abhicandra


Sementara itu. Abhicandra yang tengah diperhatikan oleh Dion, terlihat sedang duduk diam, seperti tengah melakukan sesuatu. Dan benar saja, ternyata dia sedang memindai seluruh ruangan, termasuk memindai makanan dan minuman yang disajikan untuk mereka


Ternyata apa yang dikatakan oleh Bajra tadi bohong belaka . Dengan liciknya dia meramu makanan berbumbu racun ganas, yang bisa melumpuhkan syaraf yang sempat memakan makanan yang disajikan tersebut


Pai Zu Xian mengerti kode dari yuniornya. Dengan gerakan cepat dan tak kasat mata, dia mengirimkan bubuk penawar dan penghancur racun pelumpuh syaraf itu dari jarak jauh, terutama pada makanan dan minuman yang ada di depan tuan besarnya itu


Satu menit kemudian, seluruh makanan itu sudah aman untuk dimakan, dan Dion yang pertama kali mencicipinya tanpa ada rasa takut atau curiga


Pemandangan itu membuat Bajra Napoleon, terutama anak buahnya tersenyum ditahan, agar tidak ketahuan akal bulus mereka, meracuni dan ingin membuat syaraf gerak tamunya menjadi lumpuh saat pertandingan nanti


"Mampus kau Dion!. Kau pikir aku tidak tahu siapa kau yang sebenarnya?"


"Kau pikir begitu mudah untuk menipu si Bajra ini dengan menyamar sebagai Brawijaya ha?!" Batin Bajra Napoleon dalam hati


"Paman Adi dan juga kalian, yang bisa mendengar suara ku, dengarkan baik baik perintahku ini!"


"Si Bajra itu sudah tahu siapa aku dan kalian. Jadi berhati hati lah dalam bertindak dan berbicara."


"Bersikaplah seperti tidak tahu apa apa!"

__ADS_1


"Dia dan orang orangnya telah menaruh racun di tiap makanan dan minuman yang disajikan pada kita."


"Tapi dewa obat sudah memberi penangkal racun tersebut."


"Jadi makan dan minumlah, seperti kalian tidak tahu bahwa di dalam makanan itu ada racunnya."


"Bersikaplah seolah oleh tubuh kalian menjadi lemah, karena memakan racun itu."


"Percayalah pada pada dewa obat!. Cepat cicipi hidangan itu!" Ucap Dion dalam hati, dan dikirimkan pada petinggi anak buahnya serta yang lain


"Baik tuan besar!" Ucap Adiwilaga patuh, mewakili yunior yuniornya. Kemudian tanpa ragu ragu, mengambil makanan yang tersedia diatas meja


Sementara itu. Bajra yang menjadi tuan rumah, saat Dion memberi instruksi, terlihat sedang berbicara pada Arjaya. Entah apa yang dibicarakannya


Tapi tak lama sesudah itu, dia mengalihkan pandangannya pada Dion, lalu berkata.


"Seperti yang tuan Mahesh inginkan. Mungkin latih tanding antar anak buah kita bisa kita laksanakan sekarang!"


"Kebetulan anak buah ku sudah siap semua!"


"Tangan dan kaki mereka sudah gatal ingin menghajar lawan!" Ucap Bajra Napoleon ramah, tapi terkesan merendahkan lawan


"Oh kebetulan sekali!.Anak buah ku juga ingin berolah raga ringan!"


"Siapa tahu tubuh tubuh lemah itu bisa dijadikan samsak buat anak buah ku latihan!" Jawab Dion tak kalah seru dan menohok sekali ketika didengar


"Kurang ajar!. Kau pikir mereka itu karung ha!" Batin Bajra marah dalam hati


"Bagaimana tuan Baja!. Apakah latihan ini sudah boleh kita mulai?" Tanya Dion tegas, hingga membuyarkan lamunan dari Bajra tersebut


"Oh tentu saja!" Jawab Bajra cepat, kemudian menyuruh komandan Karlos untuk maju ke arena


Mendapat perintah seperti itu, dia menjadi senang. Dengan gagahnya dia melangkah turun dari atas podium rendah tempat kursi tamu atau penonton di letakkan


Kemudian dengan pongahnya dia melenting kan tubuhnya ke udara, dan mendarat tepat di tengah arena


Tepuk tangan segera terdengar di aula tersebut, yang tentu saja berasal dari kawan kawannya, dengan niat memuji tidak secara langsung atas penampilannya yang gagah tersebut


Sebaliknya bagi pihak lawan, hal tersebut hanya dianggap mainan anak kecil saja dan kekanakan


Bumi yang dari awal sudah sangat geram dengan si Karlos itu, meminta izin pada Dion untuk menghadapinya


Permintaan itu disetujui oleh Dion, walau Karlos tidak selevel dengan Bumi. Tapi demi tidak mengecewakan anak buahnya, Dion mengangguk tanda setuju, dan mempersilakan Bumi untuk maju melangkah melawan komandan Karlos, yang sedang menunggunya di tengah arena


Tak mau menyombongkan diri atau pamer kekuatan. Bumi hanya melangkah turun, kemudian berjalan pelan menuju arena


Pemandangan tersebut tentu saja menjadi bahan lelucon dan bulian, dari anak buah Baja. Mereka serempak tertawa, bahkan ada yang sengaja melontarkan kata-kata yang tidak enak didengar


"Ku kira jagoan ternyata sampah!"


"Hanya melenting kan tubuh saja tidak mampu, apalagi melawan komandan kami!" Ucap salah seorang anak buah Bajra cukup lantang, dan terkesan merendahkan Bumi


Bumi yang menjadi pusat perhatian dan ejekan dari orang-orang itu, hanya diam saja. Dia terus melangkah dan tidak memperdulikan apa yang diucapkan oleh mereka

__ADS_1


Pemandangan ini tentu saja membuat rekan-rekan Bumi menjadi keheranan. Tidak biasanya dia bersikap seperti itu


Menurut pandangan dan pikiran mereka, sangat aneh jika Bumi sekali ini tidak terpancing emosi. Apakah ada rencana lain untuk menunjukkan kekuatannya pada orang-orang tersebut?


__ADS_2