
"Ibu!. Apakah ini tidak terasa aneh, tadi kita diperlakukan secara tidak manusiawi, dan diseret seret seperti binatang, tapi sekarang, kita malah diberi tempat tinggal. Apa arti semua ini bu?" Tanya Everly bingung dan tidak mengerti
"Ibu juga bingung dengan perubahan sikap Dion. Tadi kelihatan dia sangat marah dan membenci kita, tapi ternyata, dibalik marahnya itu, ada kebaikan yang tersembunyi, kalau tidak, bagaimana mungkin dia mau memberikan kita tempat tinggal yang besar ini" Jawab ibunya juga kebingungan, lalu melanjutkan berkata..
"Tapi apapun alasannya, kita wajib berterima kasih kepada Dion, karena telah mau menolong kita, walaupun nenek tidak yakin, apakah Dion sudah memaafkan kita atau belum." Sambung ibunya lagi sambil menggigil kedinginan
Melihat ibunya menggigil kedinginan seperti itu, Everly berinisiatif untuk mengajak ibunya masuk ke dalam rumah, yang diberikan oleh Dion itu, Lalu berkatai. "Ibu! aku rasa ini sudah malam, apa tidak sebaiknya kita masuk saja?" Tanya Everly sudah mulai kedinginan juga
"Ya kau benar, mari kita masuk!" Jawab ibunya sambil melangkah pergi, dibimbing oleh anaknya Danish
***
Keesokan harinya saat mereka bangun, barulah mereka menyadari, bahwa rumah yang diberikan oleh Dion itu, sangat besar sekali
Halamannya sangat luas, bisa untuk bercocok tanam berbagai macam jenis komoditas sayur dan tanaman holtikutura lainnya
Peralatan rumah tangga yang diberikan pun cukup lengkap, kebutuhan pokok yang tersedia cukup untuk 4 bulan kedepan, hanya tinggal mengolahnya saja
Mereka benar benar dibuat terpana atas perubahan sikap Dion, dari sombong, arogan angkuh, dan tidak mau tahu, berubah 180 derajat, itu menurut perkiraan mereka saja, tapi apakah fakta yang sebenarnya seperti itu?
Pagi ini adalah hari pertama, dimana mereka tinggal di daerah lain, yang sampai saat ini belum diketahui, apa nama daerah yang mereka tempati itu
Setelah lewat setengah hari, barulah mereka mengetahui, apa nama daerah tersebut. Hal itu mereka ketahui, setelah mendapat berita dari Brian, yang baru saja pulang dari mengecek saldo yang ada di ATM, serta menariknya
Nama daerah yang mereka tempati itu masih berada di wilayah provinsi SS, tepatnya di kabupaten L, distrik KA yang memang sangat cocok untuk daerah pertanian
Ke tempat itulah mereka sekarang dibuang, dan diharuskan berprofesi sebagai petani oleh Dion
***
Top Sky Restaurant, pukul 12,30
"Berapa persen kemajuan yang sudah dicapai di kota S itu Ivo?" Tanya Dion sesaat setelah mereka berdua selesai makan
"Baru sampai tahap negosiasi dan observasi tuan." Jawab Ivory cepat, sambil mengambil tissu di atas meja, untuk membersihkan mulutnya, setelah selesai makan, kemudian melanjutkan lagi berkata tanpa ditanya lagi
"Seratus persen pemilik tanah, mau melepaskan tanahnya pada kita, karena harga permeter yang ditawarkan cukup tinggi, sehingga mereka tergiur karenanya."
"Lusa direncanakan akan dilakukan pembayaran secara serentak. Bagi tanah yang tidak mempunyai bukti kepemilikan, tapi di akui oleh perangkat desa, bahwa tanah itu milik yang bersangkutan, maka pihak perusahaan akan membayar tanahnya itu dengan perhitungan biasa"
"Tanah yang mempunyai surat kepemilikan walau cuma seporadis, akan di bayar di bawah harga standar kota, sedangkan yang memiliki sertifikat hak milik, akan dibayar sesuai dengan harga kota yang berlaku di sana" Ucap Ivory secara profesional menjelaskan pada tuan muda Dion
__ADS_1
"Kedengarannya cukup menarik, kau memang bisa di andalkan Ivo!" Ucap Dion tulus memuji kinerja sekretarisnya
"Itu memang wajib dilakukan tuan muda, jika kita menyamaratakan harga, maka hanya kerugian besarlah yang akan kita dapatkan" Jawabnya
"Untunglah pemilik tanah bisa diajak berunding dan diberi pengertian. Jika mereka ngotot menuntut harga yang sama, maka proyek bisa terancam gagal tuan"
"Heemm.. ternyata begitu." Guman Dion lirih, lalu berkata lagi
"Apakah ada kendala sewaktu pendataan, atau waktu proses observasi dan negosiasi? Tanya Dion tanpa menoleh ke arah Ivory
"Selama ini belum ada tuan muda, kalaupun ada, hanya masalah kecil, dan itupun cuma protes sepihak saja!" Jawab Ivory sambil mengepalkan kedua telapak tangannya erat erat dibawah meja
Reaksi yang ditunjukkan oleh Ivory, sempat tertangkap oleh Dion, walau hanya sekilas,tapi bisa dipahami oleh Dion maksudnya
"Apakah ada yang mengganggumu di sana?" Tanya Dion tiba tiba
"I..itu cuma masalah kecil tuan muda, tapi sudah bisa diatasi saat itu juga" Rutuk Ivory geram
"Bisa kau ceritakan itu!" Ucap Dion dingin
"Baiklah tuan muda!" Jawab Ivory mantap, lalu berhenti mengambil nafas sebentar, kemudian melanjutkan berkata..
"Teruskan!"
"Sewaktu sedang asyik asyiknya menikmati sinar bulan, sambil duduk duduk disebuah kursi panjang, yang tersedia di desa tersebut, tiba tiba datang sekawanan brandalan yang ingin mencelakai dan menangkapku, untuk dijadikan sebagai sandera."
"Lalu!" Ucap Dion terkejut, dan terkesan tidak sabar mendengarkan kelanjutannya
Ivory kelihatan ragu ragu untuk menjelaskan cerita yang sebenarnya. Kalau dia berterus terang, bagaimana dia menghajar berandalan tersebut, tentu saja tuan muda akan mengetahui rahasianya, tapi kalau dia tidak cerita, tentu dia akan mengarang yang lain jadi serba salah
Pertanyaan Dion tadi tidak langsung dijawab oleh Ivory, dia malah termenung sendiri. sambil memikirkan apa yang harus dikatakan kepada tuan muda Dion, tapi tiba tiba..
"Ivo!" Panggil Dion sedikit kuat, hingga membuyarkan lamunan Ivory
"Iya tuan muda!" Jawab Ivory gugup
"Kalau kau tidak mau menceritakannya, aku tidak akan memaksa. Ayo kita pergi!" Ucap Dion sambil berdiri
"Tunggu tuan muda!. Aku akan menjelaskannya!" Sanggah Ivory tidak enak hati, karena telah membuat Dion menunggu
"Oke, aku akan mendengarkannya, tapi intinya saja, karena masih banyak pekerjaan di luar!" Jawab Dion sambil duduk kembali
__ADS_1
"Kelompok berandalan itu terdiri dari 16 orang, yang dipimpin oleh seorang laki laki kurang ajar, bermuka hitam dan kelihatan kejam" Kata Ivory dengan wajah menahan marah, lalu melanjutkan lagi berkata..
"Berandalan itu mengepung ku dari segala arah, mereka berniat ingin menangkap ku, sambil ingin melecehkan tubuhku tuan!"
"Terus!"
"Tentu saja aku tidak terima atas perlakuan mereka terhadap ku itu, maka terpaksa aku melawannya dengan beberapa jurus yang aku kuasai"
"Dengan keahlian yang kumiliki itulah, aku berhasil merobohkan lima di antara mereka, termasuk wakil ketuanya, Doni"
"Maksudmu kau melawan mereka seorang diri, lalu kemana para pengawal mu itu?. Kurang ajar!. beraninya mereka!" Ucap Dion marah
"Mereka tidak salah tuan. itu murni kesalahanku, karena menganggap bahwa situasi desa cukup aman, maka aku keluar sendiri tanpa mau dikawal, tapi tidak kusangka, ternyata di sana juga ada berandalan pengacau"
"Dengan alasan desa aman, aku menolak ketika mereka ingin mengawal ku berkeliling desa." Jawab Ivory terus terang, karena tidak mau tuan mudanya menghukum para pengawal itu
"Terus apa yang terjadi?" Tanya Dion lagi
"Setelah 5 orang berhasil ku robohkan, aku segera menelepon Light, untuk segera datang dengan membawa anak buahnya, untuk mengatasi masalah itu"
"Light segera datang, diikuti oleh puluhan anak buahnya. Bukan hanya itu saja, paman Tiger dan James juga ikut bersamanya. Setelah berunding sebentar, kami memutuskan untuk menyambangi markas mereka langsung."
"Sesampai di sana, tanpa aba aba lagi, Light langsung meledakkan rumah mereka, walau hanya bagian depannya saja."
"Dengan kejadian itu, ketua berandalan tersebut bergegas keluar, dan tanpa basa basi lagi, bersitegang dengan kami"
"Setelah melalui perdebatan panjang dan klasik, apalagi setelah melihat kekuatan Light dan anak buahnya, ketua berandalan tersebut menyerah, dan malam itu juga diamankan serta dibawa oleh Light entah kemana"
"Cukup menarik sekaligus terkejut, ternyata kau juga menguasai ilmu bela diri yang cukup mumpuni. Aku jadi tertantang, ingin merasakan beberapa jurus yang kau miliki itu" Ujar Dion sambil menatap wajah ayu milik ivory
"Aku tidak sebanding dengan anda tuan, Kekuatan ku hanya kulit luarnya saja dari kekuatan tuan muda." Jawab Ivory merendah
"Tapi aku sempat terkejut, di sebuah desa yang aman yang damai seperti itu, ada juga kelompok berandalan, tapi kenapa paman Tigar tidak mengabarkannya padaku ya?" Pikir Dion sambil memijit keningnya walau tidak sedang sakit
"Mungkin dia punya alasan tersendiri tuan, lagipula selama ini, kelompok berandalan tersebut menurut kabarnya, tidak pernah mengganggu warga desa, kalau mereka tidak diganggu duluan." Bela Ivory panjang lebar
"Mereka berada di sana karena berprofesi sebagai pemburu, di lahan yang akan kita garap itu. Dengan alasan itulah, mereka mencoba protes, dengan berusaha menangkap ku, tapi nyatanya punya niat lain terhadap ku" Rutuk Ivory kesal
"Baik! aku mengerti maksud mu itu Ivo, dan aku sudah cukup paham. Mudah mudahan setelah kejadian itu, tidak ada lagi pengganggu, dan proyek tempat wisata itu, akan berjalan lancar, tanpa ads gangguan yang berarti"
"Mudah mudahan tuan!" Jawab Ivory sambil berdiri, dan mengikuti langkah Dion meninggalkan restoran tersebut
__ADS_1