
Dengan matinya Torangga, otomatis perseteruan antara Burgon dan dirinya telah berakhir
Bramantyo yang sudah ikhlas atas meninggalnya Torangga. Dengan kesadaran sendiri dan tidak dipaksa, tiba tiba Bramantyo menjatuhkan lututnya ketanah, diikuti oleh anak buahnya yang lain, baik yang didalam gua maupun yang diluar gua. lalu berikrar
"Saya Bramantyo, dengan ini bersumpah, bahwa saya dan seluruh anggota saya, menyatakan takluk serta tunduk pada tuan besar dan keturunannya!"
"Permusuhan antara Torangga dan komandan Burgon, dengan ini dinyatakan selesai, dan tidak ada lagi dendam pribadi maupun kelompok!"
"Jika dikemudian hari ada timbul selisih paham dan kesalahan, maka saya dan seluruh anggota saya, bersedia dihukum tanpa ada tuntutan!"
"Mohon tuan besar, menerima ikrar kesetiaan kami ini!" Ucap Bramantyo tegas sambil mengangkat tangannya keatas
"Ikrar mu aku terima. Kedepannya aku mau, kau membantu cucuku ini juga keturunannya, untuk menjaga stabilitas Birawa Group dan orang orangnya di kota P, juga kota kota lain di pulau S ini!"
"Dia adalah cucuku, Dion Mahesa Birawa. Pewaris sah perusahaan ku itu, adalah tuan besar kalian sekarang. Sedangkan aku adalah tuan senior bagi kalian!" Respon tuan Birawa senang serta lagi. Kemudian meminta cucunya untuk memberikan perintah dan instruksi
"Mulai hari ini, kalian adalah orang orang ku. Masalah kalian adalah masalah ku, juga masalah kita semua"
"Aku sebagai pewaris Birawa Group, akan melindungi kalian dengan segala kemampuan yang ada."
"Mulai hari ini. hindari pekerjaaan yang haram dan melanggar hukum. Benar katakan benar, salah katakan salah!"
"Sekarang kalian semua bangunlah. Bantu Birawa Group untuk semakin kuat dan jaya di pulau ini."
"Aku akan mendirikan beberapa buah perusahaan di pulai S, kalian lah yang akan menjadi prioritas utama untuk menjadi karyawannya."
"Setelah perusahaan itu selesai, silakan pilih perusahaan dan jabatan apa yang akan kalian tempati, sesuai dengan keahlian dan kualifikasi kalian yang sudah kalian miliki."
"Mulai hari ini, tidak ada lagi kelompok hantu malam dan sebagainya itu, yang ada hanya Birawa Group. Karena kalian mulai saat ini, adalah karyawannya!"
"Aku tidak mau mendengar lagi, ada keluhan dari masyarakat bahwa kalian menindas mereka, atau menakut nakuti mereka dengan status kalian sebagai kelompok sebelumnya."
"Bekas orang orangnya Bagaspati, juga akan aku rekrut menjadi orang orang ku, dan bertugas membuat kota ini aman dari segala gangguan, yang tentunya akan dibantu oleh kalian juga."
"Bekerjalah dengan sungguh sungguh, agar kedepannya menjadi orang baik dan berguna!"
"Untuk hari ini!. karena masalah telah selesai, kembalilah ke tempat kalian masing masing."
"Urus anggota mu yang terluka dan mati.Jangan ada dendam maupun perselisihan lagi."
"Sekarang bubar lah!" Ucap Dion tegas dan penuh wibawa
"Terima kasih tuan besar!, Kami bersumpah akan selalu tunduk dan patuh, serta setia pada tuan senior, dan tuan besar beserta keturunannya!" Respon seluruh anggota hantu malam pada Dion semangat
"Baiklah!. Ikrar kalian aku terima!" Jawab Dion senang. Kemudian mengajak kakek dan sebagian orang orangnya, untuk meninggalkan tempat itu
Sementara sebagiannya lagi, mengurus pemindahan kepemilikan aset aset Bagaspati untuk mengembalikan hutang hutangnya pada Birawa Group
***
Sore harinya, sekitar pukul 2 sore
Bramantyo telah selesai mengurus seluruh pekerjaan yang dibebankan padanya oleh Dion
Anak laki laki Melviana atau Meri. dari suami pertamanya itu, saat ini di bawa ke markas hantu malam yang sudah dihapus oleh Dion, untuk dipelihara, karena anak tersebut sudah tidak mempunyai siapa siapa lagi
Ibunya mati karena terbunuh secara tidak sengaja. sedang ayah kandungnya belum diketahui dimana rimba nya.
__ADS_1
Oleh karena itu, Bramantyo memutuskan untuk membesarkan anak tersebut di markasnya saja, sebagai bentuk tanggung jawab dan penghormatan pada sahabatnya Torangga
Sementara itu. para pengawal Dion telah selesai mengakuisisi seluruh aset aset Bagaspati, dibawah komandan Shio Lung, James serta Erisha
Perusahaan yang tidak disita, diserahkan pada kakak kandung Bagaspati, Anggoro
***
Grand Sriwijaya Hotel, sekitar pukul 5 sore
Dion dan keluarganya, saat ini tengah berada dalam satu ruang, sedang berbincang bincang ringan tapi cukup berisi juga
"Sudah lima hari kita berada di kota ini. Baru lima rencana yang sudah terealisasikan."
"Kakek ingin segera mendapat legalitas dari otoritas setempat, tentang rencana kakek untuk mendirikan tiga perusahaan tambang di pulau ini." Ucap tuan Birawa sangat berharap
"Mungkin kakek harus sedikit bersabar, karena pengurusan disini sedikit lambat dari tempat lain."
"Tapi Dion yakin besok atau lusa, semua surat surat yang diperlukan sudah bisa kita terima."
"Setelah itu baru kita bisa bergerak bebas, membeli atau membebaskan lahan yang diperuntukkan sebagai lokasi ekploitasi bahan tambang tersebut."
"James beserta orang orangnya sudah mulai bergerak, mencari lokasi yang cocok sebagai tempat usaha itu nanti."
"Dari usaha mereka itu, sudah ada laporan yang masuk ke kita, bahwa James sudah menemukan lokasi yang kaya akan bahan tambang. yang belum atau tidak di miliki oleh perusahaan manapun."
"Dengan restu kakek, tempat itu akan segera berpindah tangan menjadi milik kita."
"Dion sudah memerintahkan pada James, Shio Lung dan Erisha, untuk menawarkan harga tinggi, demi mendapat kan lokasi tersebut."
"Dion berharap, agar rencana kakek sudah bisa terlaksana, sebelum kita kembali ke kota Golden City." Ucap Dion mencoba membesarkan hati kakeknya itu
"Itu terserah pada keputusan kakek saja. Dion hanya mendukung apa yang kakek mau kan." Jawab Dion cepat
"Oh ya ma!' Bagaimana tentang Emily itu?. Sudah lama tidak dengar kabarnya. Tinggal tidak jauh tapi jarang ketemu. Nanti setelah kita kembali ke kota Golden City. Panggil dia untuk menghadap papa. Ya!" Ucap Dion tiba tiba mengalihkan topik pembicaraan
"Terlanjur kau membicarakan tentang cucuku itu, kakek juga ingin menanyakan tentang Maya juga keluarganya tersebut."
"Akhir akhir ini, komunikasi antara kita dengan mereka seperti terputus. Mungkin karena kesibukan kita masing masing, jadi lupa untuk menanyakan kabar." Sela tuan Birawa tiba tiba
"Apa tidak sebaiknya kita sambangi mereka setelah kembali dari sini?" Ucap tuan Birawa lagi
"Menurut Ivo. sebaiknya kakek suruh mereka untuk datang ke kota Golden city saja. lagi pula mereka juga sudah lama tidak berkunjung ke sana!" Ucap Ivory memberi usul
"Usul mu benar juga, Nanti setelah kita kembali kakek akan menghubungi mereka untuk datang ke kota kita." Respon tuan Birawa setuju
"Tapi ngomong ngomong!. Orang orang kita yang ada di Paris itu bagaimana kabarnya ya. Tinggal berapa hari lagi mereka ada di sana. dan digantikan dengan orang lain?" Tanya tuan Birawa ingin tahu
"Dengan bulan ini, berarti mereka di sana sudah hampir satu tahun, tinggal 20 hari lagi genap satu tahun." Jawab Dion apa adanya
"Apakah kau berencana untuk memulangkan mereka ke negara ini, dan menggantikannya dengan orang lain?" Tanya tuan Birawa penasaran
"Dion sudah memberi batasan pada mereka, untuk tinggal di sana selama tiga tahun. Tapi setiap setahun sekali mereka boleh berlibur, dan pulang kesini, untuk bertemu dengan keluarganya."
"Namun jika dalam tiga tahun mereka betah bekerja di sana, Dion serahkan keputusan itu pada diri mereka masing masing."
"Apa tidak sebaiknya kau ganti mereka setiap dua tahun sekali, tidak harus menunggu selama tiga tahun?" Sela tuan Birawa memberi usul
__ADS_1
"Jika itu kemauan kakek, Dion bisa merubah keputusan itu kapan saja, hitung hitung sebagai penyegaran." Jawab Dion nurut
"Baik, bukan mencampuri urusanmu, tapi kakek merasa kasihan dengan keluarga yang mereka tinggalkan disini. Atau?"
"Ivo juga setuju dengan usul kakek itu. Bahkan kakek menginginkan. agar papa mengirimkan keluarga mereka juga ke sana. Jadi akan membuat mereka semakin semangat dalam bekerja."
"Kau benar Ivo!. Kenapa tidak terpikirkan sebelumnya ya?" Respon Dion lugu sekali
"Papa terlalu sibuk meluaskan ekspansi kekuasaan, hingga lupa memenuhi kebutuhan batin setiap orang orang kita!"
"Bahkan papa lupa, para pengawal kita itu, rata rata sudah mempunyai pasangan, tapi mereka takut untuk meminta ijin pada papa untuk menikah."
"Mungkin mereka merasa sebagai seorang pengawal, nasib mereka hanya tergantung dari keputusan papa saja. Padahal mereka juga punya hak untuk berpendapat, dan mendapatkan privasi mereka sendiri pa!" Ucap Ivory menceramahi suaminya
"Jadi maksud mama, papa harus menikahkan mereka sekaligus. gitu?" Tanya Dion kurang paham
"Jika itu memang diperlukan dan itu keputusan papa, mama yakin mereka akan patuh. Bahkan mereka akan sangat berterima kasih pada papa, dan menganggap papa sebagai dewa penolong mereka.'
"Tidak bersikap otoriter, kaku dan mau menang sendiri. itu jauh lebih bagus dari apapun pa!."
"Papa memang kuat, dan itu di akui oleh seluruh bawahan papa. Tapi ada satu kekuatan yang jauh lebih kuat dari kekuatan fisik, yaitu kekuatan hubungan dan ikatan batin satu sama lain."
"Jika itu sudah papa dapatkan. maka mama yakin, kedudukan papa akan semakin kuat di hati dan mata mereka. dan papa akan tetap menjadi panutan dan kiblat dalam berperilaku." Ucap Ivory panjang lebar
"Apa yang dikatakan oleh istrimu itu benar cucuku!. Bukan hanya kekuatan fisik yang harus kau utamakan, tetapi kekuatan jiwa dan hubungan baik antar sesama bawahan dan atasan."
"kakek mau setelah kita kembali nanti, kau benahi seluruh aturan yang ada, dan terapkan tidak terlalu kaku."
"Apakah kau paham cucuku?" Tanya tuan Birawa mendukung pendapat dari Ivory tersebut
"Ya kek!. Dion paham dan akan menerapkan aturan baru. dan akan melaksanakan apa yang diusulkan oleh Ivory tadi
"Draco!. Kau tentu sudah mendengar apa yang mama, papa dan kakek bicarakan tadi. Ambil sisi positifnya, dan buang yang menurut mu kurang baik."
"Kau adalah penerus papa dan mama serta kakek. Jadilah seorang laki laki kuat, baik fisik maupun jiwa."
"Jangan mudah terperdaya oleh glamournya dunia apalagi wanita. Belum tentu yang berkilauan itu permata. mungkin itu ular berbisa.'
"Tidak selamanya yang merdu itu nyanyian, tapi mungkin itu panggilan kematian."
"Oleh karena itu, seiring berjalannya waktu, kau harus belajar banyak hal. Baik tentang dunia maupun tentang kehidupan didalamnya.'
"Mama tidak mau di suatu saat nanti, kau jatuh hanya karena bujuk rayu menyesatkan."
"Jadilah seperti papa, tidak mudah jatuh pada tantangan kecantikan. walau itu sangat menyebalkan bagi mama."
"Tapi akhirnya terbukti, kalau papamu ini walau sedikit kaku dan dingin, tapi sikap kehati hati annya sangat mama puji. Sebenarnya hatinya baik dan lembut, serta bertanggung jawab pada orang orang yang disayang." Ucap Ivory panjang lebar memberi nasihat pada anaknya Draco atau Dragon itu
Dalam setiap kata katanya tadi, tersirat rasa kekaguman nya yang tinggi pada suaminya. tapi di utarakan sebagai nasehat pada anaknya sendiri, hingga membuat angan Dion melambung dan lupa, kalau saat itu sedang bersama dengan kakeknya juga Dragon
Tuan Birawa yang mendengar nasehat cucu menantunya yang sangat bagus tersebut menjadi terdiam. Dalam hatinya membenarkan apa yang dikatakan oleh Ivory tadi memang benar adanya
Dion cucunya itu, memang laki laki kuat secara fisik, tapi sedikit lemah dalam hal urusan batin. Baginya apa yang dilihat didepannya, tapi tidak dirasakan atau peka. maka itulah yang harus diselesaikan
Jika ada yang mencoba menghalangi langkahnya, maka detik itu juga harus disingkirkan
Dengan kata kata Ivory pada anaknya, tuan Birawa berharap, agar Dion bisa berubah sedikit peka pada batin anak buahnya, bukan hanya memenuhi kebutuhan zahir, tapi juga harus memenuhi kebutuhan batinnya
__ADS_1
Itulah yang diharapkan oleh nya juga Ivory, agar Dion melakukan perubahan dalam segala aspek kehidupan orang orangnya nanti