
"Kalau membunuh secara langsung sih tidak!. Tapi kalau mengetahuinya memang iya!" Jawab Dion berterus terang
"Lalu siapa yang telah membunuhnya?" Reaksi Adeline marah
"Dia sendirilah yang telah membunuh dirinya sendiri." Jawab Dion tenang, dan berusaha menahan marahnya agar tidak meledak
"Bagaimana mungkin dia menghabisi diri sendiri, sedangkan dia berambisi menjadi orang nomor satu di organisasinya?" Respon Adeline kurang senang
"Nyonya Philip!. Sebelum aku menjawab rasa penasaran mu itu, lebih baik kau dengarkan cerita ku ini, tentang alasan, kenapa orang orang menghabisi suami mu yang pertama tersebut!" Ucap Dion penuh wibawa
"Membunuh itu apakah perlu alasan dan perlu cerita?" Jawab Adeline ketus
"Menurut mu, apakah menghabisi anak ku Caisar itu juga perlu alasan?" Ucap seseorang yang tiba tiba masuk ke ruangan itu
"Paman Austin!" Reaksi Adeline terkejut
"Ya ini aku! Terkejut?" Jawab Austin tenang
"Bagaimana paman bisa ada di negara ini?" Tanya Adeline penasaran
"Ceritanya panjang, dan sebagiannya telah kau ketahui nyonya Philip!" Jawab Austin apa adanya
"Jadi?"
"Ya!. Saran ku, sebelum kau memvonis dan menuduh orang lain bersalah, lebih baik kau introspeksi diri mu sendiri dulu, dan mencari tahu siapa sebenarnya Tommy itu!" Jawab Austin cukup bijaksana
"Memangnya siapa Tommy, dan apa yang telah dilakukannya di negara ini?" Ucap Adeline sudah mulai melunak
"Apakah kau bersedia mendengarkannya?" Jawab Dion datang menyela
"Ya. saya bersedia!" Jawab Adeline patuh
"Bagus!. Itu yang ingin kami dengar dari tadi." Respon Dion senang. Kemudian mulai menceritakan satu persatu kejadian yang telah terjadi, bahkan diawali dengan pertemanan mereka waktu kuliah, dan reuni teman temannya di kota Golden City
Dari reunian itu, dimulai pula awal cerita, terjadinya peristiwa yang melatar belakangi kisah tentang Tommy bisa terjadi
Merambat ke hal hal yang telah direncanakan oleh Tommy. Niat teman temannya ingin mengadukan perbuatannya dulu ke kantor polisi
Sampai usahanya membalas dendam, dengan niat menghancurkan Birawa Group dan orang orangnya, serta usahanya melarikan diri ke luar negeri
Dion juga menceritakan, tentang usaha Tommy ingin membunuh Dragon dan Ivory, melalui orang orangnya, tapi yang menjadi korban nyata adalah Ivory istrinya tersebut
Sejak saat itu, Tommy menjadi orang yang sangat dicari, baik oleh Birawa Group maupun oleh pihak polisi, bahkan tentara sekaligus
"Selebihnya nyonya Philip tahu sendiri kejadiannya!" Ucap Dion mengakhiri cerita.
"Ternyata begitu!. Berarti saya yang selama ini salah, bahkan sanggup meracuni hati dan pikiran anak sendiri, demi membalaskan dendam kematian Tommy." Ucap Adeline penuh penyesalan
"Adeline!. Jika ingin membalas dendam, maka akulah orang yang paling berhak melakukannya, karena kau telah terang terangan membunuh Caisar anak ku itu!" Ucap Austin menyela dengan ekspresi marah
"Maafkan saya paman!. Waktu itu saya dan Tommy, menjadi gelap mata karena kekuasaan."
__ADS_1
"Jika saya tahu akan berakhir begini, tentu saya tidak akan melakukannya!" Ucap Adeline menyesal
"Apakah maaf bisa mengembalikan nyawa Caisar?" Respon Austin marah
"Tentu saja tidak paman!. Tapi setidaknya saya sudah menunjukkan itikad baik pada paman dengan meminta maaf." Jawab Adeline malu malu
"Kalau ingin meminta maaf, maka minta maaflah pada tuan besar, karena dia tidak bersalah !"
"Yang bersalah itu adalah Tommy!"
"Tak ada angin tak ada hujan, berusaha menghancurkan keluarga tuan besar, bahkan berniat ingin menghancurkan perusahaannya."
"Padahal yang berbuat salah itu adalah dia sendiri."
"Mendapatkan serangan, intimidasi, ancaman, hingga usaha pembunuhan, apakah tuan besar harus diam saja?"
"Tentu dia harus melawan, agar semua bentuk ancaman, intimidasi dan lain lainnya itu, tidak lagi mendatanginya, dengan menghancurkan sumber masalahnya." Ucap Austin geram, membongkar semua persekongkolan Tommy, dalam keterlibatannya dengan masalah kejahatan
"Apakah kau sudah mengerti nyonya Philip?" Ucap Austin menyambung cerita
"Ya paman!. Saya mengerti!" Jawab Adeline lemah
"Tuan besar!. Saya meminta maaf atas sikap saya yang salah selama ini."
"Kedepannya, saya berjanji tidak akan melakukannya lagi, dan akan mendidik putri saya itu dengan baik, agar menjadi orang yang berguna." Ucap dan tekad Adeline mantap
"Anda tahu nyonya Philip?. Bagaimana suami mu itu berusaha mengacaukan database perusahaan ku, bahkan sudah banyak kali dilakukannya."
"Kedua, dia melalui si Austin ini, mengirim kan virus ke jaringan kami. Beruntung bisa di gagalkan oleh gurunya anak buah ku."
"Ketiga, dia memerintahkan pada Austin, untuk meretas sistem informasi database perusahaan, tapi usahanya gagal, malah database perusahaannya sendiri yang kami bekukan!"
"Cerita selanjutnya, kau tentu sudah mengetahuinya sendiri nyonya philip!" Ucap Dion menambahkan cerita
"Anda benar tuan. Apa yang dilakukan oleh Tommy, saya mengetahui semuanya. kecuali yang terjadi di negara ini."
"Cuma bodohnya, saya mendukung tindakannya itu!" Jawab Adeline kembali penuh penyesalan
"Jadi setelah anda tahu cerita yang sebenarnya tentang Tommy. Apakah anda masih tetap ingin membalas dendam pada kami?" Tanya Dion tiba tiba
"Tentu saja tidak tuan besar!. Justru saya malu, menimpakan semua kesalahan Tommy pada tuan dan orang orang tuan."
"Kalau mau dihukum, maka sayalah orang yang pantas untuk dihukum."
"Karena tindakan saya yang mau menang sendiri, akhirnya orang yang tidak bersalah, harus menjadi korban, atas sikap saya yang salah tersebut."
"Untuk itu, saya mewakili Tommy dan Clara anak ku, kembali meminta maaf pada tuan dan keluarga tuan, serta orang orang tuan, atas sikap kami yang kurang baik selama ini." Ucap adeline benar benar tulus dan dan penuh penyesalan
"Ya sudahlah!. Semua sudah terjadi!"
"Aku harap kedepannya tidak ada lagi dendam antara kita."
__ADS_1
"Malah kemungkinannya, bisa menjadi sebuah keluarga besar suatu hari nanti." Ucap Dion berterus terang
Adeline terkejut bukan kepalang, tapi tidak berani terlalu berharap, karena dia sadar siapa dia, dan siapa mereka
Jarak sosial antara mereka sangat jauh sekali
Tapi walau demikian, dia menyerahkan semuanya pada permainan takdir, karena apa yang telah direncanakan oleh manusia, takutnya tidak sesuai dengan harapan
"Nyonya Philip, sesuai janji dari suami ku, hari ini kalian akan di bebaskan, dan bisa kembali ke negara asal."
"Bukankan begitu suami ku?" Ucap dan tanya Ivory ingin penegasan
"Benar!. Karena semua masalah telah selesai, maka sejak saat ini kalian dibebaskan!" Jawab Dion tegas
"Terima kasih tuan besar!" Respon Adeline senang
"Clara!. Cepat berterima kasih pada tuan besar itu!" Ucap Adeline pada anaknya
"Paman Dion!" Ucap Clara lancar, seperti layaknya sikap orang yang sudah dewasa yang tidak kenal takut
"Pertama Rara minta maaf, karena telah salah menilai paman selama ini."
"Kedua, Rara juga meminta maaf pada bibi cantik, karena telah berani memusuhi paman Dion, dan menuduhnya sebagai orang jahat."
"Ketiga, Rara meminta maaf sekaligus berterima kasih pada great grand Daddy itu, atas sikap Clara yang kurang baik. Dan yang keempat." Ucapnya sedikit ragu ragu untuk meneruskannya, Lalu memandang ke arah Dragon, dengan tatapan penuh kekaguman. Tak lama kemudian dia berkata.
"Rara juga meminta maaf pada kakak tampan itu, karena telah berani memusuhi kedua orang tuanya."
"Rara berjanji tidak akan berbuat salah lagi." Ujarnya lancar
"Selanjutnya, Rara juga mengucapkan terima kasih pada paman Dion serta yang lain, karena telah bersikap baik pada mama ku, juga telah melepaskannya sebelum waktu hukumannya habis." Ucap Rara sangat lancar sekali
Semua orang yang melihat dan mendengarnya, menjadi terpana. Mereka tidak habis pikir, bagaimana anak seusianya sudah pandai merangkai kata kata yang bagus tersebut, padahal dia belum dewasa
Mereka sendiri belum tentu bisa berkata seperti itu, kalau berada dalam situasi sulit tersebut
Tapi Clara dengan lancar dan beraninya, mengucapkan kata kata tersebut tanpa salah sedikitpun
Benar benar anak yang pandai dan cerdas, sangat cocok bila disandingkan dengan Draco suatu hari nanti
"Hahahaha!. Seorang anak yang cerdas sekaligus cantik!" Respon tuan Birawa senang dan blakblakan saat mengungkapkan isi hatinya
"Kakek benar!" Sambung Ivory cepat, sambil tersenyum manis
Dion, Dragon dan yang lainnya, juga tersenyum mendengar pujian dari tuan senior pada Clara
Dalam hati mereka juga membenarkan, bahwa wajah Clara memang benar benar. cantik
Bukan hanya itu saja, sikap dan pembawaannya, setelah terbebas dari pengaruh jahat. memukau bagi siapa saja yang melihatnya
Jangankan mereka, khususnya Dion dan Ivory, mengakui berkali kali, kalau wajah Clara, memang benar benar cantik, dan sikapnya sangat menarik sekali
__ADS_1
Dalam hati mereka berniat, ingin menyatukan Dragon dan Clara, walau mereka belum tahu, apa yang akan terjadi setelah Clara dewasa nanti