
Dion langsung pergi ke kamarnya untuk tidur, walaupun belum begitu larut. Kondisi tubuhnya yang letih, ditambah pula banyak pikiran, menyebabkan dia mudah lelah dan mengantuk
Menjadi orang kaya, tidak serta merta membuatnya hidup nyaman, hanya duduk ongkang ongkang kaki, memerintah sana sini, sambil mengamati tanpa beranjak dari tempat duduk sedikitpun. Itu semua tidak berlaku untuk Dion
Walaupun sudah super duper kaya, dengan uang triliunan rupiah, bahkan milyaran dolar Amerika di sisinya, yang takkan habis di pakai sepanjang hidup, ditambah dengan aset perusahaannya yang ada di mana mana, bawahan yang super setia, kuat, berpengaruh dan lain sebagainya, tidak serta merta membuat Dion merasa terpuaskan dan hidup tenang
Ada saja masalah yang timbul mengiringi kesuksesannya, pergi satu datang yang lain. patah satu tumbuh seribu, masalah datang silih berganti, baik yang besar maupun yang kecil, semuanya butuh penanganan yang tepat
Salah satu masalah yang saat ini sedang tumbuh, walau tidak begitu besar, mulai datang menghampiri kehidupan Dion, tapi yang bersangkutan tidak tahu menahu tentang itu, karena semua anak buahnya tidak ada yang mau mengabarkan masalah itu padanya
Semua menganggap, bahwa masalah yang datang terlalu sangat kecil, tidak pantas diurusi oleh orang sekaliber Dion, cukup mereka saja yang menangani, maka semuanya akan beres
Tapi sepertinya, perkiraan mereka salah besar, masalah yang mereka hadapi saat ini, tidak sederhana yang mereka pikirkan. benar benar salah prediksi dan anggapan
Betapa tidak salah anggapan, ternyata gerombolan yang dianggap kacangan dan terlalu remeh bahkan sangat kecil, saat ini mampu menyandera seorang Robin, yang notabenenya adalah orang kuat bahkan mempunyai julukan yang sangat mengerikan, si dewa kematian. Tapi tetap saja bisa ditaklukan
Sebenarnya apa yang terjadi, kenapa orang kuat seperti Robin bisa terperdaya seperti itu, malah oleh satu kelompok kecil, preman kampung, kencing saja tidak lurus, apalagi mempunyai jurus, sama sekali tidak terpikirkan oleh mereka sebelumnya
***
Saat ini, Hans, Burgon dan 20 anak buahnya, sudah berada di dalam markas berandalan pinggiran kota B, yang siang tadi datang ke vila, mencoba menemui tuan muda Dion, tapi tidak berhasil, karena di halangi halangi oleh Hans dan anak buahnya yang lain
Tapi sebelum mereka pergi, salah seorang diantara mereka sempat melemparkan sesuatu kearah anak buah Hans, lalu buru buru pergi
Sesuatu itu ternyata adalah sebuah surat, yang ditujukan kepada Dion, yang berbunyi. °°Jika mau anak buahmu selamat, maka datanglah ke pinggiran kota B seorang diri, dan membawa uang tebusan sebesar 1 miliar rupiah!. Jika dalam waktu 1 x 24 jam tidak datang, maka anak buahmu akan dihabisi saat itu juga!°°
Hans yang membaca surat itu, tubuhnya menjadi gemetaran, bukan karena takut, tapi karena sangat marah sekali, betapa tidak marah, preman kampung, dan gerombolan kecil seperti itu, berani berani nya membangunkan singa yang sedang tidur
"Ini tak bisa dibiarkan!" Ucap Hans sambil berteriak kuat
Beberapa anak buahnya yang saat itu ada di dekat Hans, menjadi terkejut, tidak biasanya bos mereka bersikap seperti itu, ini pasti ada masalah gawat. tapi mereka tidak berani menanyakannya
Sedangkan di bagian Hans sendiri, setelah membaca surat ancaman tersebut, Hans segera mengumpulkan seluruh anak buahnya, untuk diberi arahan. Ketika sedang memberi arahan itulah, Dion datang, dan menanyakan ada permasalahan apa, tapi Hans tidak mau menyebutkan nya
Hans mempunyai alasan tersendiri, kenapa tidak mau berterus terang kepada Dion, dan itulah kesalahan pertama yang dilakukannya, selama menjadi seorang pengawal.
Dalam perkiraannya, ancaman itu hanya main main saja, dan terlalu kecil, tapi dia tidak mencermati seluruh isi surat itu
Di dalam surat itu cuma disebutkan, bahwa salah seorang anak buah Dion sedang disandera, tetapi tidak menyebutkan siapa namanya, jadi Hans hanya menganggap ancaman sebagai angin lalu saja
__ADS_1
Tapi tidak disangka, orang yang disandera tersebut adalah orang penting, bahkan jauh lebih penting dari anak buah Hans yang lain
Ternyata anak buah yang disebutkan di dalam surat ancaman tersebut, adalah Robin, orang yang berjuluk dewa kematian, hal itu diketahui, ketika Hans dan puluhan anak buahnya datang mengepung markas berandalan pinggiran kota B tersebut
Jadi begitu mereka sampai, alangkah terkejutnya mereka, ketika mendapati, tubuh Robin sedang tergeletak di lantai, dengan tangan dan kaki yang terikat, sepertinya dia tidak sadarkan diri, dan tidak mengerti kenapa Robin bisa jadi seperti itu
Dengan kemarahan yang meluap luap, Hans bertanya kepada pimpinan gerombolan tersebut dengan berkata. "Siapa kalian?, dan apa yang telah kalian lakukan kepada sahabatku itu?" Tanya Hans sambil mengepalkan kedua tangannya erat erat
"Ternyata kau orang yang aku temui sore tadi. Mana bos mu, kenapa dia tidak sendiri yang datang?. Apakah bos mu yang kaya itu tergolong manusia penakut atau jangan-jangan..?" Jawab salah seorang bawahan, pimpinan gerombolan kecil tersebut, menyela wewenang bosnya untuk menjawab
Plak!
Buk!
Baaammm!
"Uuuugghh..!
Belum sempat menyelesaikan kata katanya, orang sombong tersebut telah tergeletak di lantai, ketika secara tiba tiba, mendapatkan tamparan juga pukulan yang cukup kuat dari Hans
Tak cukup sampai di situ saja, Hans kembali melakukan serangannya, kali ini yang di arah oleh Hans, adalah mulut orang yang tadi sempat menghina Dion, dan tendangan Hans, telak mengenainya, hingga membuat mulut orang yang diserang oleh Hans tadi, pecah dan mengeluarkan banyak darah. Mati!
Tiba tiba saja rekannya berteriak kesakitan, ketika terkena tamparan, pukulan dan tendangan dari entah siapa. Barulah setelah orang itu berhenti, mereka jadi tahu, siapa yang telah membuat rekannya roboh dan mati secara mengenaskan seperti itu
Pimpinan gerombolan tersebut menjadi sangat marah sekali, begitu melihat salah satu anak buahnya mati, tidak bisa lagi dilukiskan dengan kata kata, bagaimana marahnya pimpinan gerombolan tersebut
Tanpa basa basi lagi, dia memerintahkan kepada anak buahnya, untuk menghabisi orang yang telah berani membunuh rekannya tersebut, tapi dihadang oleh 20 anak buah Hans, sementara Raka sendiri menghampiri Robin, yang sedang tergeletak di lantai
Tapi gerakannya kalah cepat dengan gerakan Burgon, dalam sekejap mata, Burgon sudah berada di sisi Robin, kemudian dengan secepat kilat, mengangkatnya dan membawanya ke arah lain
Pimpinan preman yang bernama Raka, kembali dibuat marah, lalu menyerang Burgon dari belakang secara licik
Hans yang melihat gerakan Raka, yang ingin menyerang burgon dari belakang, tidak mau tinggal diam, dengan gerakan cepat, Hans menyerang Raka dengan satu pukulan yang lumayan keras, tapi tidak cukup untuk membuat tubuh Raka roboh, cuma terasa nyeri di areal yang terkena pukulan itu
"Ternyata hebat juga kau! bisa menahan pukulan ku yang biasa." Ucap Hans sedikit terkejut
"Pukulan mu seperti gigitan semut saja, yang tidak terasa sama sekali!" Jawab Raka sombong, padahal bekas pukulan tadi, sempat membuat nafasnya sesak
"Benarkah?" Ucap Hans sinis
__ADS_1
Raka tidak menjawab, tapi malah menyeringai. Pandangan matanya mengarah kepada anak buahnya, yang saat ini sedang menjadi bulan bulanan lawannya, hingga membuatnya sedikit panik
Ditengah kepanikan nya tersebut, Hans tiba tiba berkata." Mau main curang kau ya?. Kau tidak tahu sedang berhadapan dengan siapa saat ini?" Ujarnya
"Aku tidak peduli siapa kalian! yang sedang berhadapan dengan siapa, yang aku tahu adalah, bos kalian itu harus bertanggung jawab!" Ucap Raka sekenanya, dan dibuat sewibawa mungkin
"Bertanggung jawab, Apa maksudmu? Tanya Hans bingung
"Salah seorang dari ratusan manusia yang telah aku bunuh, dia mengatakan, bahwa dia sangat dendam sekali kepada bos kalian, yang bernama siapa itu, bloon ya benar bloon" Jawabnya asal menjawab
Buk!
"Aaarrkkhh..! Kurang ajar! beraninya kau!" Ucap Raka ketika terkena pukulan yang lebih kuat dari Hans tadi, hingga membuat tubuhnya terdorong beberapa langkah ke belakang
"Preman kampung seperti kalian! berani beraninya mengancam tuan muda kami, dan mengatakan yang tidak tidak tentangnya, kalau aku tidak bisa membuat mulut busuk mu itu hancur, maka jangan panggil aku Hans, si tangan kilat!"
"A...a..apa kau bilang. Hans. si tangan kilat?" ucap Raka terbata bata saking terkejutnya
"Ya! inilah aku, puas?" Jawab Hans emosi
"Tu..tu..tuan Hans, maafkan kebodohan ku ini, yang tidak tahu tengah berhadapan dengan siapa" Ucap Raka gemetaran, dan terbata bata
"Kau tahu siapa orang yang telah kau sandra itu?"
"Kalau boleh aku tahu, memangnya siapa orang itu?"
"Dia adalah Robin, si dewa kematian, dan orang yang membawanya tadi, adalah Burgon, si mata dewa." Jawab Hans mengintimidasi
"A..a..apa!" Seru Raka tidak percaya
"Masih tidak percaya juga kau! besar juga nyalimu!"
Bruk!
"Hentikan pertarungan ini! cepat kalian berlutut!" Ucap Raka kepada anak buahnya, yang saat ini sedang bertarung melawan anak buah Hans, walaupun pertarungan tersebut tidak seimbang, karena sudah separuh anak buahnya tumbang dan tergeletak di lantai
Anak buahnya yang masih tersisa, sekitar 45 orang lagi, mendadak menghentikan perlawanannya, dan buru buru berlutut di lantai, mengikuti gerakan bos mereka yang saat ini juga sedang berlutut, walau sejujurnya mereka tidak tahu kenapa disuruh berlutut
"Ampuni nyawa kami tuan!. sungguh kami tidak tahu sedang berhadapan dengan siapa." Ucap Raka ketakutan
__ADS_1