
"Ma!. Inikah negara orang yang bernama Dion itu?" Tanya seorang gadis kecil pada ibunya
"Benar anak ku!. Inilah tempatnya." Jawab Ibunya tanpa tahu ragu
"Kalau begitu mana orangnya ma?, biar Clara cubit dia!" Respon lucu khas anak seusianya menggemaskan
"Mama juga tidak tahu dimana dia. Nanti kita tanyakan pada orang orang sini, siapa tahu mereka kenal dengannya!" Jawab Adeline apa adanya
"Huh!. Kalau nanti Clara bertemu dengannya, akan Clara tonjok wajah orang itu agar papa yang di sana senang!" Reaksinya geram
"Memangnya kau bisa anak ku?. Orang seperti dia, tentu sangat susah di dekati!"
"Jangankan mendekati, mencubit atau menonjok wajahnya, melihatnya saja mungkin sulit, karena kita tidak mengenali orang itu!" Respon Adeline lemah
"Bukankah kita bisa bertanya pada orang orang itu ma?. Kenapa mama malah lupa dengan ucapan mama barusan?" Tanya Clara keheranan
"Oiya mama lupa!" Jawab Adeline malu malu.
Tak lama kemudian, dia berjalan mendekati empat pria di sudut ruangan, berniat ingin bertanya tentang Dion padanya
"Permisi tuan tuan!" Ucap Adeline cukup sopan pada mereka
"Ya silakan!" Jawab pria tersebut acuh tak acuh
"Apakah tuan kenal dengan orang yang bernama Dion?" Tanya Adeline langsung pada intinya dengan penuh harap
"Nona siapa dan untuk apa bertanya seperti itu?" Ucap salah seorang dari mereka penuh selidik dan malah balik bertanya
"Anak saya ingin sekali bertemu dengan orang itu. Katanya ingin berkenalan dengannya." Jawab Adeline mencoba berbohong
"Maaf kami tidak kenal!. Ini kota M dan tak ada orang yang bernama seperti itu!" Ucap orang tadi semakin penuh selidik
"Begitu ya.Tapi mungkin tuan tuan pernah mendengar tentangnya, walau sekedar dengar saja dan tahu dimana tempat tinggalnya?" Tanya Adeline penasaran
"Maaf!. Kami benar-benar tidak kenal dengan orang yang anda maksudkan itu!" Jawab salah seorang dari empat pria tadi enteng
"Baik terimakasih!, dan maaf kalau saya telah mengganggu waktu anda semua!" Respon Adeline terlihat kecewa
"Tidak masalah." Jawab orang tadi datar. Kemudian melanjutkan minum kopinya sampai tuntas
Sepeninggal wanita itu, salah seorang dari mereka berkata.
"Aneh!. Seorang wanita asing, tiba tiba saja datang bertanya tentang tuan besar kita."
"Kalau bukan bermaksud jahat apalagi?" Ujarnya
"Dan cukup mencurigakan!" Sambung yang lainnya lagi menimpali
"Kalau begitu kalian awasi perempuan itu!. Aku takut dia mata mata pihak asing!" Ucap seorang ketua dalam timnya tegas
"Baik!" Jawab ketiganya lirih tapi tegas
"Bagaimana ma?. Apakah mereka kenal dengan orang yang bernama Dion itu?" Tanya Clara ingin tahu
"Tidak anak ku. Mereka itu terdiri dari orang orang bodoh!, yang tahunya cuma bermalas malasan saja!" Jawab Adeline kesal
"Begitu ya ma?" Respon Clara polos
"Jadi bagaimana caranya kita bisa bertemu dengan Dion itu ma?" Ujarnya lagi
"Masih banyak waktu anak ku!, karena papa Philippe mu masih banyak kegiatan di negara ini." Jawab Adeline cepat
"Kalau begitu, tetap saja Clara belum bisa menghukum dan mencubitnya ma!" Teriak Clara sedikit kuat
Ucapannya yang vulgar dan berterus terang tersebut, tentu saja membuat empat orang yang duduk disebelah meja mereka menjadi gusar, dari total delapan orang mata mata di ruangan itu
Bagaimana tidak gusar, orang yang Clara sebut barusan, adalah tuan besar mereka
Ucapan menghukum dan mencubit itu, adalah sebuah bentuk kesalahan. Tentu saja empat orang mata mata tersebut menjadi keheranan sekaligus penasaran
Anak sekecil itu, sudah bisa mengucapkan kata kata ancaman, yang notabene nya dialamatkan pada orang yang sangat mereka hormati
__ADS_1
Tak mau kehilangan momen berharga dari pencarian informasi yang menjadi tugas mereka. Hartanta, seorang ketua tim kecil badan intelijen Birawa Group memerintahkan pada anak buahnya, untuk merekam pembicaraan kedua orang itu
"Dengar ya anak ku!. Kau tidak boleh bicara sembarangan di sini!"
"Salah salah kita yang akan ditangkap!" Sergah Adeline khawatir
"Memangnya kenapa ma?. Dion itu orang jahat!. Dia yang telah membunuh papa Tommy, orang yang paling Clara sayangi di dunia!" Bantah Clara tidak mau tahu
"Mama tahu tentang itu anak ku. Tapi masalahnya, kita belum tahu siapa dan bagaimana rupa orang itu!"
"Lagi pula Clara masih kecil, dan belum bisa membalas dendam padanya."
"Jadi saran mama, Clara harus bersabar, dan menunggu sampai besar, serta pandai menembak. Setelah itu baru mendatangi penjahat itu untuk dihabisi!" Ucap mamanya kuat, memberi pengertian pada anaknya
Tapi dia lupa, bahwa saat itu mereka sedang berada di restoran sebuah hotel bintang lima, yang tentu saja ada pelanggan lain yang juga makan di sana
"Tapi ma?" Ucap Clara membantah
"Shut!" Respon Adeline cepat memberi kode pada Clara untuk diam
"Bos!. Dua orang anak beranak itu percakapannya sangat mencurigakan!"
"Banyak kali dia menyebut nama tuan besar kita!"
"Apa tidak sebaiknya kita dekati, dan tanya apa maksudnya berkata seperti itu!" Ucap anak buah Hartanta geram
"Pergilah!, dan tanyakan baik baik dengan cara licik mu, sama seperti biasa itu!" Jawab Tanta menyetujui
"Baik bos!" Jawabnya senang. Kemudian pura pura mengambil dan menambah air minum, berupa teh susu manis, yang berada tak jauh dari tempat kedua wanita itu duduk
Setelah itu, dia pura pura mencari tempat duduk lain, untuk menikmati minuman yang telah diambilnya tadi
Wanita tersebut tidak menyadari aksi anak buah Tanta. Dia asik menenangkan anak semata wayangnya itu dari kegusaran
"Permisi nona!. Apakah saya boleh duduk di sini?" Tanya Rumi, mata mata tersebut bersikap ramah dan sopan
"Oh silakan!. Tapi tolong jangan panggil saya nona. Panggil saja nyonya Philip!" Responnya juga ramah
"Sungguh saya tidak menduga kalau nona sudah menikah."
"Dari raut wajah nona saja saya tahu, bahwa nona belum menikah."
"Tapi ternyata dugaan ku itu salah."
"Saya benar-benar minta maaf pada nyonya Philip, karena bersikap tidak sopan tadi." Ucap Rumi memulai taktik liciknya itu
"Ah sudahlah!. Saya tidak mempermasalahkan nya lagi." Balas Adeline tidak enak hati
"Om!. Apakah om kenal dengan orang yang bernama Dion?" Tanya Clara tiba tiba, dan sudah tidak bisa lagi dicegah oleh ibunya untuk tidak bicara
"Dion?" Ucapnya terkejut, seperti meminta penjelasan lebih pada Clara
"Ya. Katanya orang itu bernama Dion!" Jawab Clara semangat
"Maaf tuan!. Anak saya ini agak sedikit ceriwis, dan kalau bicara suka sembarangan."
"Mohon tuan tidak mengambil hati atas pertanyaannya barusan." Ucap Adeline khawatir dan tidak enak hati
"Justru anak seperti ini terlihat pintar. Dewasanya nanti pasti akan menjadi orang hebat!" Reaksi Rumi pura pura memuji
"Tuan bisa saja!" Sambut Adeline berpura pura senang
"Jawablah om!. Apakah Dion itu memang ada, dan benar benar manusia?" Tanya Clara ceplos ceplos saja
"Maksud nona kecil?" Tanya Rumi geram, tapi berusaha ditahannya sebisa mungkin dengan senyum terpaksa
"Clara!. Nama saya Clara. Anak dari papa Tommy yang juga berasal dari negara ini.!"
Panggil saya dengan Clara saja !" Ucapnya lagi ketus, tapi wajah cantiknya kelihatan imut dan lucu
Rumi terkejut bukan kepalang, saat Clara menyebutkan nama Tommy, musuh bebuyutan tuan besarnya itu
__ADS_1
Raut wajahnya mendadak berubah tapi cuma sebentar. namun hanya dia saja yang bisa merasakannya
"Kalau yang Clara maksudkan itu, Dion penjual soto di seberang hotel ini, jelas sekali om kenal!"
"Tapi kalau yang lain om tidak tahu." Jawab Rumi bersandiwara
"Bukan itu om!. Kabarnya dia itu orang kaya, jadi tidak mungkin menjual soto sendiri!" Reaksi Clara kurang senang
"Menurut mama, dia itu pengusaha terkenal di negara ini bukan penjual soto murahan itu!" Ujarnya lagi
"Sialan anak kecil ini!. Menghina profesi tukang soto pula!" Batin Rumi dalam hati
"Dasar anak tidak ada akhlak!" Batinnya lagi
"Om!" Teriak Clara kuat kuat, hingga membuat lamunan Rumi menjadi buyar, dan membuat beberapa pasang mata memandang ke arah mereka
"Om sedang berpikir dan mencerna perkataan Clara barusan. Sepertinya om pernah mendengar namanya, tapi tidak tahu bagaimana rupanya." Jawab Rumi serius yang dibuat buat
"Memangnya ada apa dengan orang itu, apakah dia saudara Clara?" Tanya Rumi memancing jawaban darinya
"Huh enak saja!. Penjahat itu bukan saudara Clara atau mana ku, tapi dia adalah musuh Clara dan kami semua!" Responnya kesal
"Musuh?. Musuh dari mana dan kenapa?" Tanya Rumi penasaran
"Dia itu yang telah membunuh papa Tommy, hingga Clara tak punya papa kandung lagi. Dengar?" Jawab Clara kuat kuat
Kembali orang orang yang ada di ruangan itu dibuat terkejut, dengan pernyataan Clara barusan
Rata rata mata mereka diarahkan pada sosok Clara dan ibunya, dengan pandangan sedikit aneh, dimana anak sekecil itu, bisa mengucapkan perkataan pedas yang bukan kapasitasnya
"Maaf tuan kalau sikap dan pembawaan anak saya tidak sopan." Ucap Adeline menengahi, kemudian menyambung perkataannya. Dia sudah mulai emosi dan melupakan penyamarannya
"Apa yang dikatakannya itu memang benar adanya."
"Orang yang bernama Dion itu, adalah orang yang telah membunuh ayahnya beberapa tahun yang lalu."
"Sejak kecil dia sangat dekat dengan ayahnya."
"Jadi ketika ayahnya mati terbunuh itu, dia menjadi sangat dendam, dengan orang yang telah menghabisi ayahnya tersebut."
"Memang apa yang akan dilakukan oleh anak kecil seperti Clara ini?" Tanya Rumi penasaran
"Clara akan mencubit tangan jahatnya itu, atau menampar wajah busuknya."
"Jika memungkinkan, Clara akan langsung membunuhnya, agar papa Tommy ada kawan di surga sana!" Jawab Clara asak bicara
"Clara!" Bentak Adeline marah
"Tak apa nyonya!. Lagi pula saya tidak kenal dan peduli dengan orang itu."
"Jadi kalau Clara mau membalas dendam, itu haknya!" Ucap Rumi sedikit khawatir, karena percakapan mereka direkam sendiri olehnya
"Tapi kalau boleh saya tahu, dari mana asal anda berdua?" Tanya Rumi menyelidik
"Kami berasal dari Prancis, tapi sekarang menetap di Belgia karena menikah." Jawab Adeline sudah mulai merasa tersanjung
"Wah hebat!. Ternyata nyonya dan anaknya, berasal dari luar negeri."
"Bisa masuk ke sini, berarti anda bukan orang biasa?" Ucap Rumi memuji
"Ini semua karena suami saya yang sedang ada urusan di negara ini."
"Kalau tidak, mana mungkin kami bisa mengunjungi negara anda yang besar ini." Jawabnya merendah
"Oh ya!. Tadi anda mengatakan, bahwa orang yang bernama Dion itu, telah membunuh suami pertama anda."
"Kalau boleh tahu, ada perseteruan apa antara dia dengan suami anda itu!" Tanya Rumi terus menyelidik
"Ceritanya panjang. Tapi maaf, saya tidak bisa menceritakannya." Jawab Adeline sudah mulai curiga
"Kawan kawan!. Tangkap dua orang wanita ini, dan bawa ke ruang sekuriti untuk dimintai keterangan!" Perintah Hartanta atau Tanta tegas
__ADS_1
"Tunggu!" Teriak seseorang dengan keras, membahana di restoran mewah itu, dan mengagetkan para pelanggan yang ada di dalamnya