
"Ivo!. Tolong jangan marah pada papa karena masalah itu!"
"Percayalah!. Tidak ada maksud lain dalam ucapan papa tadi!" Ucap Dion penuh penyesalan, ketika sudah berada dalam tenda mereka berdua
"Tidak ada maksud lain?. Siapa yang istri mu sebenarnya pa!, Ivo atau Emily?"
"Waktu Ivo terperosok ke dalam lubang di hutan itu, apa ada perhatian seperti tadi?"
"Kau malah sibuk memarahi para pengawal ku. Memberi perintah sana sini. Bukannya malah memberi semangat dan menenangkan hati ku atas kejadian itu!"
"Hampir saja nyawa ku melayang pa, kalau tidak cepat cepat menarik kaki ku dari dalam lubang!"
"Apa waktu itu kau bergegas menghampiri ku, dan membantu ku keluar dari bahaya?"
"Pengawal ku pa!. Pengawal ku!"
"Justru mereka yang reflek membantu ku. Bukan papa!"
"Setelah Ivo bebas dari bahaya, baru papa datang!. Ingat itu pa?"
"Padahal aku sangat berharap, agar kau mau menggendong ku waktu itu!"
"Atau minimal memelukku, menenangkan ku, agar aku tidak trauma!"
"Tapi tidak papa lakukan bukan?"
"Aku masih maklum dengan status mu. dan aku tetap bersikap lapang dada dalam masalah itu. serta tidak menuntut lebih dari mu."
"Walau hati ku kecewa. Aku tetap melayani mu, dan bersikap seolah olah tidak terjadi apa apa dalam hubungan kita!"
"Walau sebenarnya hatiku menangis, tapi aku belajar untuk menerimanya, karena itulah sikap asli mu pa. Sulit untuk di rubah!"
"Ivo menyadari, sekarang papa sudah mulai berubah. Tidak lagi perhatian pada hal hal kecil, yang bisa membuat hati Ivo senang."
"Papa asik dengan dunia papa sendiri, tanpa peduli pada dunia istri papa ini!"
"Tapi herannya, saat Emily hanya terkilir saja, dan kulihat tidak begitu membahayakan. Kau begitu khawatir, dan memarahi para pengawal mu sampai segitunya!"
"Kakek mu yang harus kau berikan perhatian, malah tidak kau pedulikan, bahkan kau acuhkan!"
"Begitu kah suami dan cucu yang baik?"
"Kau begitu perhatian pada Maya apalagi pada si Emily itu, hingga kau melupakan status mu sebagai suami ku!"
"Apakah itu adil pa?" Ucap dan tanya Ivory bertubi tubi, menumpahkan kekesalan hatinya selama ini
Dion tentu saja terdiam, dan tidak tahu mau berkata apa
"Kenapa malah diam?. Apakah benar apa yang aku katakan tadi?" Tanya Ivory lagi
"Bukan begitu ma. Tolong dengarkan perkataan ku!"
"Sikap ku pada Maya juga pada Emily, menurut papa itu wajar, karena mereka adik angkat papa ."
"Papa harus memberi perhatian ekstra pada mereka, termasuk memperhatikan keselamatan mereka?" Jawab Dion membela diri
"Wajar?. Perhatian ekstra?. Menjamin keselamatannya?"
"Hebat! kenapa kata kata itu tidak dialamatkan pada ku pa?. Kenapa malah para mereka?"
"Menurut papa aku ini siapa, pembantu?"
"Aku ini istri mu pa!. Ibu dari anak mu, anak kita!"
"Perhatian ekstra, menjamin keselamatan dan perlakuan istimewa, seharusnya dialamatkan pada ku juga pada anak kita, bukan malah pada mereka!"
"Sikap papa tadi terlalu mencolok, terkesan lebay, dan tidak mengindahkan perasaan orang lain!"
"Jika itu terus papa lakukan. Percayalah!. Suatu hari nanti, akan ada yang tersakiti pa!"
"Sadarlah!. Mereka itu hanya adik angkat, bukan adik kandung mu pa!"
"Apakah papa sadar itu?"
"Lagian mereka sudah ada yang menjaganya!. Sadar itu pa, sadar!". Respon Ivory sangat panjang sekali, seperti bom waktu yang tengah meledak, memuntahkan isinya semua
"Rasain kau Dion!. Siapa suruh mempunyai sifat seperti itu. Kan Ivo jadi marah?"
"Ketidaksenangan yang selama ini ada di hati istrimu, hari ini kan jadi meledak sejadi jadinya."
"Kau tahu kenapa Dion?. Itu karena dia merasa, suaminya, yaitu kau, tidak adil dalam memperlakukan dirinya!"
"Pada orang lain begitu perhatian, tapi pada keluarga sendiri bukan main cueknya. Apakah itu yang disebut lelaki hebat?"
Begitulah kiranya dunia dan isinya, mengutuk Dion, atas sikap nya pada Ivory
"Maafkan papa ma!. Selama ini papa hanya sibuk dalam obsesi semata. Tanpa memperdulikan sisi hati mu yang terdalam."
__ADS_1
"Papa tahu mama terluka karena itu."
"Papa janji akan bersikap biasa saja pada mereka!"
"Tidak ada lagi perhatian. Tidak ada lagi sayang, bahkan tidak ada lagi perlindungan terhadap mereka." Jawab Dion dengan tekad kuat tapi salah
"Bukan seperti itu juga pa! Perhatian itu boleh, tapi jangan berlebihan seperti tadi!"
"Jangan kan Ivo. kakek saja aku lihat kecewa atas sikap papa yang sangat berlebihan itu."
"Kakek tahu Ivo marah. Maka dia sempat menggelengkan kepala tadi, karena melihat sikap papa yang terkesan lebay, alias berlebihan begitu terhadap Emily." Respon Ivory sangat menohok sekali
"Untuk papa tahu!. Wanita itu paling tidak suka kalau tidak diperhatikan oleh pasangannya pa!"
"Apalagi tidak dianggap ada padahal dia ada!"
"Wanita bukan hanya butuh uang pa!, tapi juga butuh cinta dan kasih sayang, apalagi perhatian!"
"Jika itu sudah mereka dapatkan. Maka apapun yang diminta oleh suami atau pasangannya, akan selalu dia berikan pa!"
"Sudah! sudah!. Papa sudah paham!, dan berjanji tidak akan mengulanginya lagi!" Ucap Dion sudah mulai pusing, mendapat ceramah dari istrinya tersebut
"Salah sendiri kau Dion!. Kenapa juga kau sok perhatian pada orang lain. Tanpa memberi perhatian pada istri sendiri!"
"Anak mu saja yang datang jauh jauh, keberadaannya tidak di anggap. Mending dia di perguruan itu saja. Belajar menjadi laki laki sejati tidak seperti mu. Naif!"
"Berapa kali kau mengajaknya berbincang?. Boleh di hitung dengan jari Dion?"
"Mana si Draco itu?. Kenapa dia tidak muncul ke permukaan?"
"Kau biarkan dia seharian bermain dengan Leon, pergi dengan Leon, bahkan tidur pun dengan Leon!"
"Siapa yang orang tuanya. Kau atau Leon?"
"Sadar Dion!. Leon itu hanya pengawalnya, bukan orang tuanya!"
"Kau dan aku yang orang tuanya!" Batin Ivory dalam hati
"Ma!. Maafkan papa kali ini ya!. Papa janji tidak akan mengulanginya lagi." Ucap Dion bernada rendah
"Papa tahu ciri ciri orang yang sudah mati rasa?" Respon Ivory ketika menanggapi ucapan maaf dari Dion itu, dan belum puas juga menceramahi suaminya tersebut
"Pertama. Tiba tiba atau secara berangsur. Orang tersebut mulai bersikap ramah pada seseorang, sok perhatian dengan tujuan tertentu."
"Kedua. Orang tersebut mulai menyukai apa yang orang itu lakukan, termasuk dalam hal kesukaannya."
"Tapi sayangnya!. semua yang mama bicarakan tadi tidak dialamatkan pada istri atau pasangannya, bahkan keluarganya.Tapi malah pada orang lain!"
"Kalau dikatakan cemburu itu mama akui!"
"Perempuan mana yang tidak marah atau cemburu pa!. Bila melihat suami atau pasangan begitu perhatian pada perempuan lain?"
"Sedangkan pada dirinya biasa biasa saja, atau bahkan tidak sama sekali?"
"Kecuali itu ibu atau orang tuanya, dan itu harus!"
"Ini hanya pada adik angkat. yang kenalnya pun ketika kuliah, bukan dari kecil!"
"Kenapa mama malah melebar kemana mana. Tinggal memaafkan saja beres!" Respon Dion seperti tidak terima
"Jadi laki laki itu harus peka pa!. Sifat perempuan itu yang paling utama adalah cemburu!"
"Kedua menangis. Ketiga kegemarannya adalah belanja!"
"Dari sifat yang tiga tadi, semuanya ada pada Ivo, karena Ivo ini perempuan pa!"
"Bukan batu, bukan perhiasan bukan pakaian. yang bila sudah buruk di buang serta di campakkan."
"Tapi perhiasan dan pakaian, yang kehadirannya terus dibutuhkan!"
"Saling menutupi, saling menjaga dan melindungi, termasuk dalam hal perasaan."
"Sikap papa tadi telah melukai hati Ivo pa."
"Sudah lama Ivo pendam ini dalam hati. Hari inilah dia meledak. Karena Ivo sudah tidak mampu lagi membendungnya."
"Ivo sadar!, makin lama berumah tangga, sisi romantis akan semakin berkurang, dan secara perlahan akan berpindah pada lain orang."
"Sama seperti papa. Sudah tidak romantis lagi pada Ivo!"
"Terus terang saja Ivo katakan ini pa, agar papa sadar dan bangun dari mimpi kosong papa itu!" Jawab Ivory merembet kemana mana
Perempuan, kalau sudah marah dan dalam posisi benar. Apapun akan di lawan serta dilabraknya
Tidak peduli status atau kedudukan, tetap dilawannya
Apalagi kalau dia merasa benar. Sama seperti Ivory. Dion saja dilawan, diceramahi dan di bentaknya saking kesalnya
__ADS_1
"Sekali lagi papa minta maaf. dan sungguh sungguh berjanji tidak akan mengulanginya lagi." Ucap Dion bernada rendah, dan kelihatan benar benar telah menyesal
"Baiklah!. Untuk kali ini mama maafkan. Tapi lain kali walau setinggi apapun status papa. mama tidak peduli!"
"Jika sudah tidak bisa menahan, mama akan pergi dari hidup papa, walau setinggi dan sebesar apapun cinta ku pada papa." Jawab Ivory bernada mengancam
"Apakah sampai sejauh itu ma?" Tanya Dion mulai khawatir
"Bisa saja terjadi pa!. Banyak rumah tangga yang retak serta hancur, karena melupakan dan menjauhi masalah masalah sepele!"
"Apakah papa sudah seburuk itu dalam pikiran mama?" Tanya Dion datang menyela
"Tidak juga pa!. Marah mama ini bukan karena mama benci pada papa, tapi karena mama masih sayang dan perhatian, serta berusaha meluruskan arah perahu papa, agar tidak tersesat haluan." Jawab Ivory ber peribahasa
"Jadi"
"Yang sudah ya sudah lah!. Mulai sekarang bersikap lah biasa saja.Jangan berlebihan."
"Jaga image papa itu ketika berbicara. apalagi bersikap!"
"Buruk baiknya seseorang terlihat dari bicara dan sikapnya."
"Maaf pa kalau Ivory terlalu banyak omong!. dan maaf juga karena telah bersikap kasar pada papa."
"Ivo ingin mengutip dari kata kata orang bijak. agar papa semakin sadar. Karena apa yang dikatakan orang bijak itu benar!"
"Apabila banyak berlebih lebihan suka. itu tandanya hampir kan duka."
"Apabila banyak mencela orang, itu tandanya dirinya kurang."
"Apabila anak tidaklah dilatih, apabila besar, bapaknya letih."
"Bila hendak melihat orang berbangsa, lihatlah kepada budi dan bahasa."
"Bila hendak melihat orang baik perangai, lihatlah ketika bercampur dengan orang ramai."
"Nah dengan kelima kutipan itu , Ivo berharap agar papa bisa merenung akan maknanya."
"Didalamnya banyak sekali pesan moral yang bisa kita ambil."
"Papa terlalu suka pada Emily, bahkan terlalu memanjakan nya, hingga mengundang duka pada Ivo."
"Papa terlalu berkuasa, kemana mana selalu dikawal, dipenuhi segala keperluannya."
"Memerintah dan memarahi orang seenaknya. Menganggap orang tersebut rendah dan serba kekurangan. Hingga papa tidak sadar akan kekurangan papa sendiri!"
"Papa mempunyai seorang anak. Tapi masalah pendidikannya papa serahkan sepenuhnya pada didikan orang lain."
"Jangan salahkan anak papa itu, jika suatu hari nanti, tidak mengganggap papa ada, dan saat itulah papa akan merasa letih memikirkan hal itu."
"Bukan hanya itu saja pa!. Anak papa juga harus di ajar tentang norma norma kehidupan, bisnis dan bagaimana mengelola hidupnya sendiri nanti!"
"Seterusnya. Akibat kekuasaan yang tidak terbatas. Papa melupakan untuk berbahasa yang baik pada bawahan papa, apalagi pada orang orang yang bergantung pada papa!"
"Dari situ orang bisa menilai pa, Ivo takut papa di cap sebagai orang yang tidak pandai berbahasa!"
"Paham maksud mama pa?"
"Nah ini isi kutipan yang kelima, menurut persepsi Ivo."
"Sikap atau perangai kita, apabila tengah berkumpul dengan sesama, akan ketahuan sangat jelas sekali!"
"Apakah kita orang egois, tamak, serakah dan mau menang sendiri, bisa dilihat dari situ."
"Mereka juga bisa dinilai, apakah sebagai pembicara yang baik, atau pendengar yang baik."
"Itu semua bisa dinilai saat kita berkumpul itu pa!"
"Jadi intinya Ivo mau, agar papa mulai dari saat ini, merubah semua sifat papa yang kurang baik, dan memulai hidup baru, agar papa tidak di cap orang naif serta plin plan." Ucap Ivory panjang lebar, bahkan mengutip kata kata orang bijak pula
"Tidak papa sangka, mama searif ini."
"Papa jadi seperti seorang murid, atau anak yang sedang dimarahi, serta dinasehati oleh orang tua atau guru."
"Hari ini papa telah belajar banyak, berkat kemarahan mu itu sayangku."
"Kedepannya papa janji akan terus memperbaiki, apa apa yang kurang pada diri papa."
"Tolong tegur jika papa salah ya ma. Tapi jangan marah seperti tadi. Papa takut tau?" Respon Dion apa adanya
"Salah papa sendiri!. Siapa suruh membuat Ivo kesal?. Kan jadi repot sendiri?" Jawab Ivory pura pura merajuk, dan membelakangi suaminya
Tapi dengan sigap Dion memutar tubuh Ivory agar menghadapnya lagi, lalu tiba tiba..
Cup!
"Ah!" Respon Ivory terkejut, tapi tidak di tolaknya
__ADS_1
Apa yang dilakukan oleh Dion, memang tidak terduga, begitu wajah Ivory sudah menghadapnya. Tiba tiba saja Dion mencium bibir Ivory dan memagut nya dengan lembut