
"Tangan Lala sakit ma!. Telinga pun juga sakit. Bagaimana kalau Lala berhenti menembak saja, dan tidak jadi mencubit paman Dion?" Ucap Clara tiba tiba, disela sela perjalanannya menuju kerumah peternakan ayah sambungnya itu
"Badjingan itu bukan paman mu, tapi iblis yang harus di musnahkan dari muka bumi ini!"
"Gara gara dia ayahmu mati, dan kehilangan jabatannya sebagai ketua organisasi besar di Eropa ini!" Hardik Adeline marah, yang sekarang telah dirubah panggilannya menjadi Rosamonde, atau Rosa oleh suami barunya itu
"Tapi paman Dion itu siapa ma. Kenapa mama ingin Lala membunuhnya?" Protes Clara dalam ketidak tahuannya itu
"Dia orang yang telah membunuh ayahmu!.Karena dia iri dengan pencapaian ayah mu menjadi seorang ketua organisasi besar itu."
"Dengan liciknya dia menyuruh orang untuk menembak ayah mu hingga mati, agar dia bisa menjadi ketua menggantikan ayah mu."
"Setelah berhasil membunuh ayah mu, dia lari ke negara Asia dan menetap disana."
"Oleh karena itu setelah kau besar nanti, pergi dan cari si iblis itu, serta habisi tanpa belas kasihan, termasuk juga keluarganya !" Ucap Rosa merecoki otak anaknya itu dengan kata kata racunnya tersebut
"Jadi Lala harus membunuhnya ya ma?. tidak boleh di biarkan hidup?"
"Kalau begitu nanti paman Dion mati dong ma?" Jawab Clara atau Lala kebingungan
"Kalau Lala biarkan iblis itu hidup, nanti dia akan memakan sapi sapi kita, seperti srigala srigala lapar itu. Bahkan hampir memakan Lala."
"Apakah Lala mau, kalau sapi sapi kita itu juga Lala dimakan oleh iblis yang bernama Dion itu?"
"Lala tidak mau ma!. Lala akan tembak srigala srigala itu biar mati!"
"Tapi kalau iblis itu apa ma, kenapa Lala belum pernah melihatnya. Jadi macam mana caranya Lala bisa menembaknya?" Tanya Lala dalam pikiran polos masa anak anak nya itu
"Itu makanya Lala harus rajin berlatih, agar Lala bisa melihat iblis itu, dan segera membunuhnya!" Jawab Rosa mulai menemukan kelemahan anaknya tersebut
"Begitu ya ma, jadi Lala harus rajin menembak, agar Lala bisa ketemu dengan iblis itu, Tapi dimana dia ma?"
"Menurut ayah mu, iblis tersebut berada di salah satu negara Asia, jauh dari sini, kalau tidak salah Indonesia. Tapi mama tidak tahu di mana persisi nya iblis itu berada."
"Tugas mu adalah untuk menemukan keberadaan iblis tersebut, dan tembak begitu bertemu. jangan biarkan dia hidup!" Jawab Rosa cepat
"Tapi bagaimana Lala harus membunuhnya ma, sedang kan Lala tidak bisa menembak?"
"Oleh karena itu, mumpung kita masih ada disini, Lala harus rajin berlatih, agar kalau besar nanti, Lala bisa menembak paman Dion!" Jawab Adelina licik, sambil memasukan pengaruh jahatnya pada otak dan alam bawah sadar anak gadisnya itu
"Baiklah ma!. Lala akan rajin berlatih, agar kalau besar nanti, Lala bisa menembak paman Dion, biar mati, untuk minta maaf pada ayah Lala di surga!" Ucap Lala berharap
"Bagus itu baru anak mama!" Respon Adelina senang. Kemudian mengendong Clara agar cepat sampai kerumah peternakannnya itu
***
__ADS_1
Sementara itu di kota Golden City. sekitar pukul 5 sore waktu Belgia, atau pukul 10 malam waktu indonesia
Jdar!
Jdar!
"Ayaaaahhh!" Teriak Dragon kuat, ketika tiba tiba terbangun dari tidurnya
Dia terkejut ketika mendengar bunyi petir, sekaligus terbangun karena bermimpi, ayahnya dibunuh oleh seorang monster betina berbaju merah, yang membawa pedang dan senjata, lalu menembaknya, serta menusukkan pedang tersebut keleher ayahnya tanpa belas kasihan sama sekali. kemudian memakannya sampai habis
Mendapati mimpi yang tidak biasa itu, Dragon menjadi ketakutan sendiri, kemudian bangkit dari tempat tidurnya, dan bergegas keluar dari kamar mewahnya itu. untuk menuju kamar kedua orang tuannya
"Tuan muda! kenapa keluar?" Tanya seorang pengawal yang malam itu mendapat giliran jaga, dalam villa itu dengan ekspresi keheranan
Dragon tidak menggubris sapaan dari pengawal nya itu, dia malah berlalu begitu saja, menuju kamar ayahnya, dan segera menekan tombol bel yang ada didepan kamar orang tuanya itu
Begitu pintu terbuka, Dragon segera meluruh kepelukan ayahnya yang saat itu belum tidur, begitu juga dengan ibunya itu
"Ada apa anak ku?" Tanya Ivory cemas
"Ayah tidak akan mati kan?" Ucap Dragon tiba tiba
"Kenapa kau berkata seperti itu jagoan ku?" Tanya Dion keheranan
"Dion mimpi ayah di bunuh oleh seorang moster betina, dan menusuk leher ayah dengan pedangnya, kemudian memakan ayah hingga tidak tersisa!" Jawab Dragon apa adanya
"Ayah percayalah pada Draco!. Kalau ayah sekarang atau nanti sedang di incar oleh monster itu untuk dibunuh!" Teriak anaknya kuat, protes karena Dion tidak mau mendengarkan kata katanya barusan
"Pa!. Lebih baik dengarkan apa yang dikatakan oleh anak kita ini. Naluri seorang anak lebih peka dari pada kita pa!" Protes Ivory membujuk suaminya, agar mau mendengarkan cerita Dragon atau Draco itu
"Baiklah!. Ayah percaya dengan ceritamu itu!. Sekarang kau ceritakan lah mimpi mu itu secara jelas, agar ayah dan mamamu ini bisa menganalisanya." Ucap Dion menuruti saran dari istrinya tersebut
Dragon segera mengambil nafas, dan berusaha menenangkan hatinya agar bisa bercerita, lalu berkata.
"Malam itu, Draco membawa seorang perempuan cantik berbaju merah, masuk kedalam villa ini, tapi Draco tidak tahu siapa dia. Dia cuma menyebutkan sebuah nama, Lala."
"Draco berkenalan dengan perempuan itu, disebuah rumah makan milik kita, di kota ini."
"Saat itu Draco sedang ingin keluar dari dalam restoran tersebut, tapi secara tidak sengaja, Draco menabrak perempuan itu hingga membuatnya terjatuh."
"Karena merasa bersalah, Draco membantunya untuk berdiri, kemudian berkenalan.
"Menurut ceritanya dalam mimpi itu, dia berasal dari negara Eropa. Datang ke sini karena ingin mencari ayah!"
"Tunggu dulu!" Kau bilang perempuan itu datang karena ingin bertemu dengan ayah, tapi untuk apa?" Ucap Dion memotong perkataan anaknya itu
__ADS_1
"Dia cuma mengatakan ada urusan penting, dan tidak mengatkan apa apa lagi." Jawab Draco apa adanya
"'Lalu?"
"Karena dia ingin bertemu dengan ayah, maka Draco membawanya ke villa kita.Tapi tidak disangka, ketika bertemu dengan ayah, tiba tiba saja dia berubah menjadi monster, yang penampilannya berubah sama sekali."
"Saat dia membunuh ayah itulah, Draco terbangun, dan bunyi petir terdengar, maka Draco kesini, takut mimpi Draco itu benar!" Ucap Dragon cemas, dengan nafas memburu
"Bagaimana pa?. Apakah kita harus percaya atau mengabaikan saja mimpi Draco kita?" Tanya Ivory dengan ekspresi khawatir
"Kita hanya perlu berhati hati saja ma!. Bukan tidak percaya, tapi sepertinya kejadian itu, terjadi ketika anak kita sudah dewasa." Jawab Dion tenang
"Tapi bagaimanapun, kita harus mengantisipasinya dari sekarang pa!. Karena mama khawatir kalau mimpi itu akan menjadi kenyataan, apalagi kalau terjadi dalam masa dekat ini."
"Bagaimana kalau mulai saat ini, anak kita dikawal oleh pengawal pribadi, tidak bercampur dengan pengawal mama itu?" Ucap Dion memberi usul
"Kalau begitu mama setuju!, dan besok akan menseleksi siapa siapa saja yang pantas untuk menjadi pengawal pribadi anak kita!" Jawab Ivory sudah mulai tenang
"Boleh kah Draco tidur disini yah?. Draco takut jika mimpi itu datang lagi." Sela Draco memelas, ditengah perbincangan kedua orang tuanya itu
"Boleh sayang!. Mari tidur dekat mama." Jawab Ivory cepat, mendahului respon suaminya tersebut
Draco langsung naik ketempat tidur, dan berbaring disamping ibunya, minta dipeluk serta ditenangkan oleh Ivory
Sedangkan Dion malah bangun dari tempat tidurnya, dan berjalan menuju meja untuk mengambi sesuatu
***
Keesokan harinya. Rencana Ivory dan Dion benar benar dilaksanakan. Seluruh pengawal elit serta komandan tingkat utama dan menengah dipanggil untuk berkumpul di aula untuk diseleksi
Iron yang sebelumnya sudah dikasi tahu, termasuk juga Hans, Burgon dan Leon, membantu mengkordidnir seluruh pengawal itu agar tertib, dan duduk pada tempatnya menurut level mereka masing masing
Dion dan kakeknya serta Ivory yang turut hadir dalam acara seleksi itu, terlihat sibuk berunding sesama mereka
"Apakah perlu mengumpulkan sekian banyak orang, hanya untuk menjadi pengawal pribadi Draco cucuku?" Tanya Tuan Birawa merasa keheranan
"Keselamatan kita semua jauh lebih penting dari sekedar mengumpulkan mereka kek. Naluri seorang anak mungkin jauh lebih peka dari kita yang tua tua ini."
"Bukan menafikan insting seorang anak, tapi berdasarkan logika, Dion mau tidak mau harus mempercayai juga, akan arti firasat itu dari awal."
"Draco anak ku dan cucu buyut kakek itu, mempunyai satu kelebihan, yang kita sendiri tidak punya."
"Dia bisa memprediksi apa yang akan terjadi dimasa yang akan datang berdasarkan instingnnya itu."
"Jadi Dion akan mencarikan beberapa orang pengawal pribadi, yang kemana saja harus mengawal anak ku itu."
__ADS_1
"Dengan adanya pengawalan khusus untuk Draco, Dion berharap, agar apa yang dikhwatirkannya itu tidak terjadi padanya juga pada Dion dan keluarga kita." Jawab Dion mantap