
Setelah keluar dari vila milik Dion itu, dan sampai ke hotel tempat mereka menginap, Riska dan teman temannya tersebut, barulah bisa bernafas lega
Sejak masih di vila milik Dion, tubuhnya gemetaran, dan kulit tubuhnya juga merinding, entah apa yang dia takutkan, padahal Dion tidak makan orang
Hanya dengan aura tatapannya saja, ditambah lagi dengan sikapnya yang dingin, juga banyaknya pengawal yang bersamanya, membuat tubuh Riska juga teman temannya itu, menjadi gemetaran, walau sekarang sudah tidak lagi
Maka begitu dia masuk ke dalam kamar hotel, Riska meneguk air putih sebanyak banyaknya, untuk menghalau kegugupannya tersebut
Dia tidak menyangka, Dion yang dulunya lemah, sekarang telah menjadi orang kuat
Sementara di bagian lain, Tommy, Raymond dan satu temannya itu, kondisi mereka juga tidak jauh berbeda.Tubuh mereka juga gemetaran, padahal mereka tidak diapa apakan oleh Dion, tapi entah mengapa, mereka menjadi ketakutan seperti itu
Hal tersebut pun terjadi juga pada Mona, dan sahabat sahabatnya yang lain. mereka juga ketakutan, seperti habis melihat hantu. Padahal saat itu, seharusnya sudah waktunya makan siang, tapi mereka lebih memilih untuk menenangkan diri di dalam kamar hotel
Sebegitu menakutkan kah si Dion itu, sehingga mereka yang tidak diapa apakan, sewaktu berada di vila, menjadi ketakutan seperti itu. Apakah karena aura kekuasaan Dion yang sangat luar biasa, sehingga menjadikan mereka gemetaran
Padahal mereka anak orang kaya, yang sudah biasa menindas orang lain, yang mereka anggap tidak selevel dengan mereka. Tapi kenapa saat berhadapan dengan Dion, nyali mereka ciut, dan harta kekayaannya tidak berarti apa apa, malah keberanian mereka yang jatuh
Mungkin itu semua pengaruh dari kekuatan, kekayaan dan kekuasaan Dion, yang jauh lebih hebat dari mereka, dan itu pasti
"Heran!, aku yang biasa menindas, memerintah dan merendahkan orang, sekarang malah ditindas dan direndahkan, walau hanya dengan ucapannya saja. Benar benar tak habis pikir!" Ucap Tommy beberapa saat setelah bisa menguasai ketakutannya itu
"Apakah kau lupa Tom, kalau Dion itu telah berubah menjadi monster, yang jauh lebih mengerikan dari pada monster itu sendiri?" Respon Raymond menanggapi ucapan dari sahabatnya itu
"Aku tahu itu, tapi bisa bisanya kita takluk sebegitu memalukan sewaktu di vila itu. Padahal sejatinya, Dion itu biasa biasa saja, tapi kenapa auranya sangat mengerikan ketika dipandang?" Bantah Tommy masih saja penasaran
"Itulah hebatnya seorang Dion, hanya dengan permainan kata katanya saja, telah mampu membuat kita semua tidak berkutik, ketika berhadapan dengannya, apalagi si Riska dan Mona yang centil itu!" Jawab Raymond sambil mengusap mulutnya dengan tissue
"Kau menyebut nama Mona, aku jadi ingat taruhan itu, gawat!" Respon Tommy tidak semangat
"Kau sendiri yang cari mati!. Mentang mentang kau lebih kaya dari kami, tanpa pikir panjang lagi, berkoar koar bisa menempati ruang VIP yang katanya utama itu. Sekarang mungkin kau akan kena batunya!" Ucap Raymond menyalahkan Tommy
"Aku masih bisa membatalkannya nanti."Jawab Tommy tidak semangat lagi
Sehabis berkata seperti itu, handphone Tommy berdering, dilayar tertera nama Mona sedang memanggil. mau tidak mau, terpaksa Tommy mengangkatnya
Tanpa basa basi lagi, Mona langsung berkata, "Besok hari terakhir kita di kota ini, jika sampai besok kau tidak mampu untuk reservasi di restoran mewah itu, maka kau pecundang yang sangat menyedihkan!" Ucap Mona memprovokasi Tommy
"Kau diam lah!. Aku sedang gemetaran, kau malah sibuk dengan kepentingan mu sendiri!" Jawab Tommy kesal dan tidak senang
"Aku bukan mempermasalah kan masalah itu, tapi aku mempunyai kepentingan dalam taruhan tersebut. Apakah kau masih ingat?" Tanya Mona dengan senyum licik
"Tentu saja aku ingat. Saat ini juga, aku akan reservasi ke restoran mewah itu. Kebetulan pun kita belum makan siang." Jawabnya sambil mematikan saluran teleponnya itu
__ADS_1
"Huh dasar pecundang!. Gaya aja selangit, tapi kemampuan tidak ada!" Gerutu Mona kesal
"Ayo kita pergi!" Ucap Tommy pada kedua teman sekamarnya itu
"Apakah kau berhasil reservasi di restoran mewah itu?. Ingat lho!, uangmu bisa ludes kalau nekad pergi kesana!. Itu bukan restoran sembarangan!" Ucap Raymond mengingatkan si Tommy yang sombong itu
"Aku tak peduli!. Kebetulan ayahku sudah mentransfer uang ke tabunganku, dan jumlahnya diatas 8 m. Dengan uang itu, aku bisa mentraktir kalian." Jawab Tommy tenang
"Oke kalau begitu, tapi apakah kau berhasil reservasi di restoran tersebut?" Tanya Raymond lagi
"Kebetulan masih ada satu ruang VIP yang kata operatornya masih kosong, mungkin itu ruang VIP utama, yang orang lain tidak mampu memesannya karena mahal." Jawab Tommy menebak nebak saja, dan seperti sudah sangat yakin bisa mendapatkan ruang utama itu
Top sky restaurant, itulah nama tempat yang akan dikunjungi oleh Tommy dan teman temannya yang lain. Sebuah restoran eksklusif kelas atas, yang tidak sembarangan orang bisa masuk. Hanya orang orang tertentu saja yang bisa memasukinya, karena harga makanannya yang terlampau mahal, tapi kualitas dan rasanya nomor satu
"Cepat kau hubungi teman teman kita dengan pesan singkat. Minta mereka untuk bersiap siap. Setengah jam lagi kita turun, dan pergi ke sana. perutku sudah sangat lapar sekali!" Ucap Tommy memberi perintah
"Oke bos, laksanakan!" Jawab Raymond senang, kemudian mengeluarkan handphone nya, dan menghubungi teman temannya yang lain, dengan pesan singkat dari platform grup mereka
Setengah jam berlalu. keributan kecil terjadi di lobby hotel, karena disana teman teman Tommy sedang menunggu, dan sudah lewat 5 menit dari waktu yang dijanjikan
Tapi tak lama kemudian, Tommy turun, diikuti oleh Raymond dan Ezra sambil tersenyum manis
"Uuu dasar jam karet, bilangnya setengah jam, ini sudah lewat 5 menit, tau!" Gerutu Mona tidak senang
"Sabar sedikit kenapa?. Aku kan harus bersiap siap, karena hari ini aku akan jadi bos kalian, dan sebentar lagi aku akan mendapatkan mu, ingat itu!" Jawab Tommy sambil membusungkan dada, cuek dan tidak tahu malu
"Kita jadi pergi atau tidak nih! kalau tidak jadi, aku mau tidur. Aku capek!" Riska kesal ketika melihat pertengkaran kecil antara Tommy dan Mona itu
"Oke! oke!. Mari kita pergi!" Jawab Tommy menenangkan kekesalan Riska tersebut, kemudian dia mendahului teman temannya, keluar dari lobby hotel itu, menuju areal parkir hotel untuk mengambil mobil Raymond dan Rara
Setengah jam kemudian, mereka sudah sampai di restoran yang tadi mereka hebohkan itu, dan langsung disambut oleh manajernya
"Selamat datang semuanya, silakan masuk, kebetulan kami sudah mempersiapkan ruang yang diinginkan." Ucap Alex, manajer restoran ternama itu dengan sopan
"Apakah ruang yang kau siapkan itu adalah ruang VIP utama?" Tanya Tommy penasaran
"Kalau ruang VIP utama itu, tidak ada siapapun yang bisa memasukinya, kecuali pemiliknya sendiri." Jawab Alex sambil mengerutkan keningnya
"Katakan berapa biaya yang dibutuhkan untuk menempati ruang VIP tersebut?" Ucap Tommy tidak senang
"Masalahnya bukan uang tuan!, Tapi masalah privasi. Ruang itu tidak bisa ditempati oleh sembarang orang, kecuali oleh pemiliknya." Jawab Alex diplomatis
"Aku tidak mau tahu!, saat ini juga, kau siapkan ruang itu, karena aku dan kawan kawanku, ingin menempati ruang tersebut!" Bantah Tommy tetap ngotot
__ADS_1
"Mohon maaf tuan. Sekali lagi tidak bisa!. Kalau kalian tetap ingin menempati ruang itu, maka kalian harus menghubungi pemiliknya. Jika tidak, kami tidak akan berani mengizinkan kalian untuk masuk ke dalamnya." Bantah Alex memberi pengertian kepada Tommy dan kawan-kawannya itu
"Memangnya siapa pemilik restoran ini?" Tanya Tommy ingin tahu
"Tuan muda Dion!, dialah pemilik restoran ini, dan juga kota Golden City." Jawab Alex apa adanya
"Apa!, tuan muda Dion?. Apakah kau tak salah sebut?" Tanya Tommy kaget
"Tidak sama sekali. Semua restoran, hotel dan bangunan bangunan lain, itu miliknya, termasuk restoran ini."
"Jadi ruang VIP utama itu, adalah ruang pribadinya. Barang siapa yang berani masuk ke dalamnya tanpa izin, maka hukumannya mati!" Jawab Alex melebih lebihkan cerita
"Kami saja yang bekerja sini, tidak berani untuk memasukinya, karena tuan birawa berpesan, agar siapa pun tidak boleh diizinkan masuk."
"Jadi mohon kerjasamanya tuan, dan jangan persulit kami!" Ujarnya pelan
"Kalau restoran ini milik tuan muda Dion, Aku tidak berani berbuat macam macam, dan aku batalkan keinginanku itu." Jawab Tommy putus asa
"Tapi bagaimana dengan ruang VIP lain yang sudah anda pesan tadi?" Sambung Alex bertanya
"Sebenarnya aku sudah tidak ada mood untuk masuk ke ruang lain, tapi bagaimanapun, kami tetap harus masuk, karena kami sudah memesannya, lagipula perut kami sudah lapar." Jawab Tommy, khawatir jika membatalkan reservasi, dan didengar oleh Dion, urusannya akan panjang
"Kebetulan sekali, di ruang itu sudah kami siapkan hidangan, yang tadi anda pesan. Jadi begitu masuk, kalian langsung bisa makan."
"Baiklah kalau begitu. Terima Kasih!. Mari tunjukkan jalannya!"
Mona bersorak gembira dalam hati, karena sudah bisa dipastikan, dia memenangkan taruhan itu, dan imbalannya, sebentar lagi dia akan mendapatkan 2 miliar rupiah, sebuah pemborosan yang sia sia
Ingin rasanya saat itu juga, dia menagih uang tersebut kepada Tommy, tapi Mona masih bisa menahan nya. Nanti setelah habis makan, baru dia akan mengatakan hal itu kepada Tommy
Selama makan itu, Tommy kelihatan tidak bersemangat, dan tidak bersuara sedikitpun, malah asyik menikmati makanan yang tadi dia pesan
Kawan kawannya, yang melihat itu pun tidak mau mengganggu, apa yang sedang dilakukan oleh sahabatnya tersebut
Mona yang dari tadi ingin mengutarakan niatnya pun menjadi ragu, tapi tak lama sesudah itu, terdengar Riska berkata..
"Akui saja bahwa kau telah kalah taruhan Tommy!, dan kau harus membayar taruhan kepada si Mona itu, kalau tidak!, maka kau akan dicap sebagai laki laki pecundang!" Sindir Riska pedas
Mendapat sindiran seperti itu, Tommy menoleh kearah Riska, kemudian beralih kepada Mona. Tanpa basa basi lagi, dia membuka aplikasi perbankan di handphone nya, kemudian mentransfer sejumlah uang ke rekening Mona, yang memang sudah ada di handphone nya tersebut
Beberapa saat kemudian, bunyi notifikasi masuk di handphone Mona. bergegas dia mengecek handphone nya, dan situ tertera angka 2 miliar rupiah telah masuk ke rekeningnya
"Aku sudah yakin akan memenangkan taruhan ini, kau saja yang bernasib buruk!" Ucap Mona spontan
__ADS_1
"Tommy terlihat marah, ketika dikatakan Buruk tadi, kemudian bergegas berdiri, dan ingin mendatangi Mona, serta merobek mulutnya tersebut Tapi tidak jadi, karena dicegah oleh teman temannya yang lain
Karena merasa kesal, tanpa bersuara sedikitpun, tommy meninggalkan ruangan itu, untuk menuju ke meja kasir, dan membayar bill nya. Setelah selesai, langsung pergi entah kemana