Sang Pewaris Tunggal

Sang Pewaris Tunggal
Menuju kesatu titik


__ADS_3

"Permisi bu!. maaf kalau kami mengganggu. Apakah ibu mengenal orang ini?" Tanya Anjani dengan suara ramah dan lembut, sambil menunjukkan gambar seseorang, yang sudah dicetak besar, di selembar kertas berwarna putih


"Ibu tidak kenal!" Jawabnya ketus, tapi terbersit ekspresi seperti ketakutan diwajahnya


"Ibu tidak usah takut pada kami. Kami semua adalah teman dari perempuan ini." Ucap Anjani masih bersikap lembut, tapi mengandung kebohongan


Wanita paruh baya yang tadi ditanya oleh Anjani tidak menyahut, atau melihat ke arahnya, tapi kepalanya menoleh ke kanan dan ke kiri, seperti ingin mencari sesuatu


Sikapnya yang seperti itu, tentu saja membuat kening Anjani dan teman temannya menjadi berkerut. Sementara Burgon, yang menjadi ketua dalam rombongan itu, hanya diam saja


Dia memang sengaja mempercayakan tugas itu kepada Anjani, karena yang akan ditanya adalah seorang wanita paruh baya, yang tentu saja jika dihampiri oleh seorang wanita, tentu sikapnya mungkin beda


Tapi ternyata, perkiraan Burgon salah. Wanita itu malah dengan ketus menjawab pertanyaan dari Anjani


Melihat sikap seperti itu, Burgon menjadi geram dan tidak sabaran, tapi masih tetap menunggu apa reaksi selanjutnya


"Percayalah bu!. Kami hanya ingin bertemu dengan orang ini, karena ada sesuatu hal yang ingin kami tanyakan. Kami bukan orang jahat!" Ucap Anjani masih tetap menyakinkan wanita paruh baya itu


"Siapa sebenarnya kalian?, dan kenapa kalian mencari anakku?" Tanya perempuan paruh baya itu menyelidik


"Ternyata perempuan yang yang ada dalam gambar ini adalah anak ibu, sangat kebetulan sekali!" Ucap Anjani senang, tapi tidak menjawab pertanyaan dari wanita itu


"Sebaiknya cepat kalian pergi dari sini!. Jika tidak, kalian akan dapat masalah besar. Cepat pergi!" Ucapnya sambil mendorong tubuh Anjani ke belakang, agar dia cepat pergi, seperti ada sesuatu yang sangat ditakutinya


"Ibu tenanglah!. Tak akan ada yang berani membuat masalah dengan kami." Jawab Anjani tenang, kemudian berkata lagi


"Apakah itu rumah ibu?" Tanya Anjani lagi


"Iya benar!, itu rumah ibu. tapi ada keperluan apa kalian ingin mencari anak ku?" Tanya wanita itu mencoba mencari tahu. Apakah kedatangan mereka, sama seperti orang orang yang yang juga selalu datang ke rumahnya itu


"Kami hanya sekedar ingin bertanya kepadanya bu. Kami tidak akan mencelakakan nya." Jawab Anjani ramah


"Kalau boleh tahu, kenapa ibu terlihat seperti sangat ketakutan sekali?" Tanya Anjani penasaran, ketika melihat wanita paruh baya yang ada didepannya ini, sejak dari tadi sikapnya gelisah


Mayang , ibu paruh baya itu memandang wajah Anjani lekat lekat, ingin mencari kejujuran di matanya. apakah dia sama dengan orang orang yang juga mencari anak gadisnya tersebut


Dia belum mau menjawab pertanyaan dari Anjani itu, dia masih mencari kebenaran dari dugaannya, bahwa orang yang ada di depannya itu pun mempunyai keperluan yang sama, pada Tantri anak gadisnya tersebut


"Sebaiknya kita bicara jangan di sini. Ayo masuk!" Ucap mayang dengan sikap ragu ragu


"Baiklah bu, kami akan masuk. Tapi apakah anak ibu ada di dalam rumah?" Jawab Anjani senang


"Ya, dia ada di dalam.Mari!" Jawab Mayang tanpa ragu ragu lagi


"Baiklah silakan pimpin jalannya bu!" Jawab Anjani pelan


Mayang berjalan mendahului Anjani, menuju ke rumahnya yang tidak jauh dari tempat mereka berdiri tadi, diikuti oleh Anjani dan teman temannya yang lain, termasuk Burgon


Tapi tidak semua pengawal pengawal itu pergi mengikuti bosnya tersebut, mereka masih tetap berada di tempatnya semula, untuk berjaga jaga saja


"Ayo masuk!. Anak ibu ada di dalam." Ucap Mayang dengan ramah, dan sikapnya sudah mulai berubah

__ADS_1


"Terima kasih bu!" Jawab Anjani sopan sambil tersenyum


Ling Chia, Ling Hua dan Ling Ma, ikut masuk kedalam. Sedangkan 4 gadis karateka, tidak ikut masuk, karena ruang tamu rumah itu sangat kecil. Mereka hanya berdiri di depan pintu sambil mengawasi sekitar


Yang bisa masuk hanya empat orang gadis itu, ditambah dengan Burgon, dan tiga sekawan pengawal elit utama, yaitu Bumi, Langit dan Awan


Masing masing dipersilakan duduk, walau tidak ada kursi di dalamnya. Mereka pun menuruti keinginan dari tuan rumah yang menyuruh mereka untuk duduk


Dengan beralaskan tikar plastik yang sudah kelihatan usang, para pengawal yang masuk tadi pun duduk, dan tidak sedikit pun merasa risih


Setelah waktunya dirasa pas, barulah Burgon bersuara dengan intonasi pelan


"Maaf dengan ibu..?" Tanya Burgon ragu ragu


"Mayang, nama saya Mayang tuan, dan ini anak saya Tantri." Jawab Mayang cepat


"Apakah orang yang ada didalam gambar ini adalah Tantri" Tanya Burgon sesopan mungkin


"Benar tuan. tapi dari mana tuan bisa mendapatkan gambar Tantri ini?" Tanya Tantri penasaran


"Dari nomor kontak yang kau berikan pada orang lain!." Jawab Burgon cepat


Deg!


Jantung Tantri berdetak dengan kencang, pertanda sangat khawatir sekali dengan pernyataan yang barusan tadi diucapkan oleh Burgon


Dalam hatinya bertanya tanya, darimana orang itu bisa mendapatkan informasi tentang nomor kontaknya, berikut dengan gambar profilnya


"Kau tentu penasaran dan ingin tahu, dari mana kami bisa mendapatkan nomor kontak mu, juga profil yang ada di dalamnya.bukan?" Tanya Burgon ketika melihat kekawatiran Tantri tersebut


"Maksud mu orang ini?" Tanya Burgon langsung pada intinya, sambil menunjukkan gambar Barry yang sedang berdiri ketakutan itu


"Tantri tidak kenal dengan orang ini. Orang yang merebut paksa nomor itu adalah tuan Prasetio." Ucap Tantri terus terang


"Pras!" Ucap Burgon dengan intonasi sedikit keras. Tapi tiba tiba...


"Siapa kalian?. Kenapa datang ke rumah calon istri bos ku?" Tanya seseorang dengan suara tinggi diluar rumah


Gideon, nama orang yang barusan tadi berteriak tersebut. Saat ini tengah berdiri di samping mobil Jeep nya dengan muka masam


Dibelakang juga samping kanan dan kirinya, berdiri puluhan orang bermuka sangar dan tak bersahabat, sedang menatap rombongan Burgon tersebut dengan tatapan maut


"Apa urusan mu bertanya seperti itu?" Jawab Eric malah balik bertanya, menimpali pertanyaan Gideon tadi


"Aku bertanya bukan malah harus menjawab pertanyaan mu, bodoh!" Respon Gideon marah


"Aku tidak punya kewajiban untuk menjawab pertanyaan mu. Paham!" Balas Eric tidak mau kalah


"Kurang ajar!" Ucap Gideon marah, sambil berlari cepat mendekati Eric, yang tak jauh darinya itu, dan..


"Hiaaa!"

__ADS_1


Buk! buk!


Des!


"Uuuuggh!"


Hanya dengan sekali pukul, tubuh Gideon terpental balik, akibat posisinya yang tidak menguntungkan itu


Pukulan yang dilancarkan oleh Gideon, dengan mudah dihindari oleh Eric, bahkan pukulan Eric, telak masuk mengenai dadanya, hingga membuat nafasnya sesak


Sikap sombongnya itu, seperti senjata makan tuan, Dia kira Eric itu lemah. Mentang mentang jumlah bawahannya jauh lebih banyak dari orang orangnya Eric, maka dia bersikap sombong seperti itu


Tapi begitu berhadapan langsung dengan Eric, baru dia tahu kekuatan lawan yang sebenarnya


Eric yang sudah tidak sabar ingin menghajar si Gideon itu, langkahnya dihentikan oleh anak buah Gideon. Mereka dengan tangkas mencegat Eric, dengan berdiri di depan gideon dengan sikap siap dan waspada


Empat orang gadis karateka, dan pasukan elit lainnya menjadi geram, ketika melihat pemandangan itu. Dengan sekali hentakan, tubuh mereka melesat kearah anak buah Gideon.kemudian tanpa basa basi lagi, langsung menyerang mereka dengan brutal


Mendapat serangan yang tiba tiba itu, anak buah Gideon tidak siap. akibatnya, banyak di antara mereka terkena pukulan dan tendangan 4 orang gadis karateka tersebut, dibantu oleh pengawal pengawal elite lainnya


Tentu saja anak buah Gideon, bukan lawan yang seimbang bagi pengawal pengawal itu


Dengan mudahnya, mereka merobohkan satu persatu anak buah Gideon yang mencoba menghalangi langkah mereka, untuk menangkap bosnya tersebut


Keributan itu, tentu saja membuat orang orang yang ada di dalam rumah Mayang menjadi terkejut, kemudian bergegas keluar, ingin melihat apa yang terjadi


Kalau tadi mereka hanya mendengar teriakan dari seseorang, dan mereka anggap itu biasa, tapi begitu mendengar ada perkelahian baru mereka bergegas keluar


Begitu sudah sampai di luar, Burgon melihat anak buahnya sedang berpesta pora, memukul, menendang menampar dan menginjak fada anak buah Gideon dengan sadis


Terlihat sekali kalau kekuatan mereka tidak seimbang


Tentu saja tidak seimbang, karena orang orang yang dibawa oleh Burgon tersebut, bukanlah orang sembarangan, tetapi pengawal dengan level komandan dan pengawal elite level pertama


Gideon yang melihat anak buahnya menjadi bulan bulanan lawan, menjadi marah, kemudian dengan geramnya dia maju merangsek dan menyerang para pengawal itu, tapi lagi lagi dia bernasib sial, karena semua serangannya dengan mudah dihindari oleh para pengawal itu


Malah tubuhnya yang menderita pukulan, tendangan dan tamparan yang lumayan keras dari para pengawal tersebut


Biasanya dia yang menguasai keadaan, tapi kali ini, dia menjadi bulan bulanan lawannya, seperti tikus yang dikepung dari segala arah, dan berada di pojok ruangan, sambil ketakutan dan putus asa


Gideon tidak menyangka, bahwa jumlah orang yang di bawanya itu, tidak banyak membantu, malah semakin merepotkan


Pengawal yang dibawa oleh Burgon, jumlah hanya sebanyak 26 orang, tidak termasuk 10 mata mata itu


Sedangkan anak buah Gideon berjumlah 67 orang, tapi hanya terdiri dari sekumpulan sampah


Mereka datang ke situ karena mendapat kabar, bahwa ada orang yang sedang mencari Tantri, orang yang selama ini dijaga olehnya atas perintah Prasetyo atau Pras itu


Tantri dulunya adalah karyawan di perusahaan milik Arnold. tapi karena dia difitnah oleh teman kerjanya sendiri. maka dia dikeluarkan dari perusahaan tersebut, dengan tuduhan menggelapkan uang perusahaan


Dia bisa bebas jika mau menikah dengan Prasetio. karena terpaksa, maka Tantri mau tidak mau menyetujui tawaran itu, karena dia tidak mau ibunya menderita, kalau dia dipenjara, atas tuduhan yang tidak pernah dia lakukan itu

__ADS_1


Ternyata skenario itu, disusun oleh Pras sendiri, karena dia berkeinginan untuk memperistri Tantri yang lumayan cantik itu


Dengan segala macam upaya, dia membujuk Tantri agar mau menikah dengannya, atau lebih tepatnya menjadi wanita simpanannya di kota itu. Dasar buaya!


__ADS_2