Sang Pewaris Tunggal

Sang Pewaris Tunggal
Ditembak


__ADS_3

"Tumben kali ini kau royal sekali Tom, mentang mentang lagi banyak duit ya?" Tanya Riska penasaran, ketika dihubungi oleh Tommy temannya itu, melalui sambungan telepon, agar datang ke restoran mewah ketiga di kota Golden City


Paradise Restoran, itulah nama tempat yang disebutkan oleh Tommy tadi, letaknya tidak begitu jauh dari hotel tempat mereka menginap. Hanya dengan berjalan kaki sekitar 10 menit, restoran itu sudah bisa ditemui


Restoran yang di desain mirip dunia fantasi itu, menyuguhkan pemandangan yang indah dan nyaman. Di khusus kan untuk kawula muda, tapi ada juga kadang kadang pasutri yang datang berkunjung kesitu, hanya sekedar ingin menikmati kenyamanan restoran tersebut sambil makan


Paradise Restoran itu, sengaja dipilih oleh Tommy, untuk melancarkan niatnya, dengan memesan ruang VIP pribadi, yang selain dari pemesannya, tidak boleh masuk ke dalam ruang tersebut, kecuali ketika mengantar pesanan yang diinginkan, untuk menjaga privasi dari pelanggannya


Selain disediakan ruang ruang khusus, Paradise Restoran juga menyediakan ruang terbuka, yang tata letaknya sangat apik sekali, sehingga membuat para pengunjung restoran tersebut, menjadi betah berlama lama di situ, walau harus rela mengeluarkan uang dalam jumlah banyak


Tommy sengaja tidak memesan ruang terbuka tersebut, karena dia ingin memiliki privasi bersama dengan teman-temannya itu.maka jadilah dia memesan ruang VIP khusus di restoran tersebut


Jam pada saat itu sudah menunjukkan pukul 7.30 malam, tapi teman teman Tommy belum juga kelihatan batang hidungnya, mungkin mereka sedang berada di jalan, dan menuju restoran itu


Tommy dari hampir setengah jam lalu, sudah mondar mandir di depan restoran tersebut. Sebentar sebentar dia melihat jam tangannya, kemudian mengalihkan perhatiannya ke pintu gerbang, siapa tahu orang orang yang ditunggunya itu datang


Akhirnya penantian Tommy berakhir. di pintu gerbang dia melihat, semua teman temannya sedang memasuki gerbang tersebut, dan benar saja, mereka ternyata hanya berjalan kaki untuk menuju restoran itu


"Kenapa lama sekali datangnya?. Perutku sudah sangat lapar, gara gara kalian terlambat datang!" Protes Tommy sesaat setelah mereka menghampirinya


"Sabaran sedikit kenapa!. Kami kaum perempuan ini, butuh waktu untuk mempersiapkan diri, bukan seperti kalian!" Bantah Riska sengit


"Ya udahlah, ayo cepat masuk!. Aku sudah tidak sabaran!" Jawab Tommy sambil menyeringai tipis, tapi bisa ditangkap oleh Mona, walau dalam persekiaan detik terjadi


"Apa yang sedang kau rencanakan Tommy?. Apakah kau sengaja ingin menjebak kami?" Tanya Mona tiba tiba


"Gila kau!. Aku ini temen kalian!. Tak mungkin teman makan teman!. Kau paham itu?" Bela Tommy merasa tersinggung


"Induk hewan saja kadang kadang memakan anaknya sendiri, apalagi hanya sekedar teman!" Balas Mona juga tidak mau kalah


"Kalian berdua kenapa sih?. Seperti anjing dan kucing saja!. Sejak berada di kota ini, kalian sepertinya sangat bermusuhan, padahal sebelumnya, kalian akur akur saja!" Ucap Riska menyela pertengkaran mereka


"Tau tuh si Mona!. Entah kenapa dia tiba tiba saja memusuhiku." Respon Tommy pura pura heran


"Aku merasa ada sesuatu yang sedang direncanakannya, untuk membalas perbuatan kita, terutama pada ku


" Jawab Mona ketus


"Untuk apa aku membalas perbuatanmu itu?. Kalah ya kalah!. Aku akui, kau memang hebat, karena bisa memprediksi, bahwa aku akan kalah."

__ADS_1


"Tapi untuk sekedar mengingatkan mu, walaupun aku kehilangan uang yang cukup banyak, tapi bagiku, itu tidak berarti apa apa."


"Besok kita akan meninggalkan kota ini, dan kembali ke tempat kita masing masing. Setelah itu, entah kapan kita akan bertemu lagi." Ucap Tommy sedih


"Tapi kenapa kau memilih restoran paradise ini?. Sepanjang yang kudengar, restoran ini bersifat pribadi, karena pemesanannya bisa melakukan apa saja di dalamnya." Protes Mona masih tetap curiga


"Informasi yang kau dengar itu salah, dan tidak seluruhnya benar. Yang datang kesini pada umumnya kebanyakan adalah pasangan kekasih, tapi ada juga sekali sekala pasangan suami istri, yang ingin merayakan ulang tahun dan lain sebagainya."


"Aku sengaja memilih tempat ini, karena aku sudah membaca brosur, dan kelihatannya sangat cocok untuk kita. Menu yang disajikan pun enak. Jadi menurut ku, tempat ini sangat cocok untuk merayakan pertemuan kita yang terakhir ini."Jawab Tommy meyakinkan temannya itu


"Oke! aku pegang kata katamu itu!, tapi jika kau macam macam dengan kami, maka aku tidak akan segan segan untuk menghabisi mu!" Ucap Mona dengan intonasi tinggi


"Liar juga perempuan ini!. Padahal aku sudah cukup lama mengenalnya, tapi belum bisa juga menyelami kepribadiannya. Aku harus hati hati!" Batin Tommy dalam hati


"Kita ke sini mau makan atau melihat pertengkaran kalian!" Ucap Dona kesal, kemudian beralih kepada Mona


"Kau pun satu Mona!. Jadi jadi lah menyudutkan Tommy. Dasar perempuan sinting!" Ucap Dona tidak senang


"Kau sendiri yang sinting Dona!. Kau tidak tahu bagaimana sifat asli Tommy itu. Jika kau sudah pernah mengalami atau melihatnya, maka kau akan tahu, bahwa sesungguhnya dia itu monster." Bela Mona menyebutkan Tommy


"Hati hati kalau bicara Mona!" Respon Tommy tidak senang


"Baik! baik! baik!. Kami tidak akan bertengkar lagi, dan aku minta maaf!" Ucap Tommy cepat, tapi hatinya membara penuh dendam


Sekitar 6 menit, pertengkaran di luar restoran tersebut terjadi. Orang orang yang berlalu lalang keluar masuk restoran tersebut, hanya melewati mereka saja, karena di tempat itu, sudah biasa terjadi, banyak pasangan anak anak muda, yang kadang kadang bertengkar di depan restoran tersebut


Penjaga atau sekuriti, yang berdiri di depan pintu gerbang restoran pun, hanya diam saja, karena mereka menilai, tindakan Tommy dan Mona, belum melampaui batas, dan tidak mengganggu kenyamanan restoran tersebut, kecuali jika mereka bertengkar di dalam restoran itu


Semenit kemudian, mereka sudah berada di dalam Paradise Restoran, dan langsung menuju ke ruang VIP pribadi, yang telah dipesan oleh Tommy tiga jam sebelumnya


Begitu mereka masuk, tanpa diantar oleh para pelayan restoran, Tommy membuka pintu ruang VIP, yang telah dipesannya tadi


Segera setelah itu, di depan mata mereka, terpampang ruangan yang di dekorasi sangat indah sekali. bukan seperti ruangan biasa yang monoton, hanya ada dinding, lukisan meja dan lain, tapi ruangan ini benar benar di disain seperti dunia fantasi


Di tengah tengah ruangan tersebut, terdapat sebuah meja besar dan panjang. di atasnya tersaji banyak menu makanan, yang kelihatannya sangat lezat sekali


Tanpa membuang waktu lagi, tommy langsung meminta kepada teman temannya untuk duduk, dan memilih kursi yang disukainya. Kemudian dipersilahkan menikmati hidangan yang telah dia pesan itu


Mona yang dari tadi curiganya sampai kebablasan seperti itu, kali ini entah kenapa, tidak menaruh curiga sedikitpun

__ADS_1


Ketika dia melihat teman temannya, dengan antusias mengambil hidangan yang tersaji di atas meja, tangan mona pun menjadi gatal, dan langsung meraih piring yang tersedia, untuk mengambil hidangan yang sama seperti teman temannya itu


Lalu dengan lahap teman teman Tommy makan, Tommy juga demikian, dan seolah olah tidak terjadi apa apa. padahal di dalam hatinya bersorak gembira, karena jebakannya berhasil. Mungkinkah karena mereka lapar, sampai tidak menyadari, ada niat jahat dari teman baiknya tersebut


Setelah selesai makan, Tommy berdiri, dan langsung berjalan menuju meja di sudut ruangan, untuk mengambil minuman khusus yang sengaja di pesannya dari pihak restoran


Dibantu oleh Raymond dan teman temannya yang lain, mereka membawa minuman tersebut, dan disajikan di depan Riska, Mona, Dona dan yang lain lain


Minuman yang disajikan itu bukanlah anggur mahal, tapi hanya minuman berperisa biasa saja, walau produk impor, yang tersimpan rapi di botol plastik, dengan segel yang belum dibuka sama sekali


Sekali lagi tanpa curiga sedikitpun, semua teman temannya mengambil minuman yang kelihatan segar tersebut, kemudian membuka tutup botolnya, dan menuangkan ke gelas mereka masing masing, lalu dengan santainya menyeruput minuman tersebut sampai tuntas


"Rasakan kau Mona!. Kali ini kau tidak akan bisa lepas lagi dari jerat ku. Walau aku tidak bisa membalas tuntas perbuatan mu itu, tapi setidaknya aku akan mempermalukan mu nanti!" Batin Tommy dalam hati dan bersorak gembira


Hampir 1 jam mereka berada di ruang VIP tersebut, dan selama itu pula, tidak terjadi apa apa pada mereka, termasuk juga Mona. Timbul tanda tanya, rencana licik apa yang sedang direncanakan oleh Tommy tersebut


Tommy hanya menyeringai tipis, ketika melihat seluruh isi botol mereka telah tuntas, dan masuk ke perut teman temannya itu, kemudian dia berkata..


"Untuk merayakan pertemanan kita yang sudah cukup lama. Hari ini aku akan membuat kejutan pada kalian!" Ucap Tommy tiba tiba, setelah berdiri dari kursinya


Riska, Mona, Dona dan teman temannya yang lain, menjadi keheran heranan, ketika melihat sikap Tommy yang tidak biasanya seperti itu, dan kelihatannya dia menjadi alim dan malu malu


Dengan langkah pasti, Tommy mendekati Mona, kemudian mengambil sesuatu dari balik blazernya, serta mengeluarkan sebuah kotak kecil berwarna merah, dibuka, dan disodorkan kepada Mona, sesaat setelah dia menempelkan lututnya di lantai, lalu berkata..


"Maukah kau menjadi kekasihku?" Ucap Tommy menengadahkan wajahnya kearah wajah Mona penuh harap, dan kelihatan imut


Mona dan teman temannya itu, tentu saja terkejut, melihat sikap Tommy yang tiba tiba tersebut. karena tidak menyangka, bahwa Tommy akan menembak Mona saat itu juga. Padahal mereka tahu, bagaimana sengitnya Tommy dan Mona bertengkar di luar tadi, tetapi itulah yang mereka lihat saat ini


"Terima! terima! terima!" Ujar teman teman Mona serempak, mendorong Mona untuk menerima lamaran dari Tommy tersebut, dengan mengambil sebuah cincin permata, yang diletakkan di dalam kotak berwarna merah itu


Sebagai seorang perempuan, Mona untuk sesaat terkesiap, dan merasa senang, ketika ada orang yang memberikan cincin seperti itu, sambil mengharapkan agar dia menjadi kekasihnya


Tapi Mona tetap saja merasa ragu ragu, dengan itikad baik dari Tommy tersebut. Dalam hatinya, masih was was, ada sebuah rencana besar yang sedang direncanakan oleh si Tommy itu


Tapi secara perlahan, dia mengulurkan tangannya mengambil cincin yang ada di dalam kotak tersebut, lalu menunggu Tommy memasukkan cincin itu, ke jari manisnya


"Yes! Rencana pertama telah berhasil!.Setelah ini, rencana kedua, dan tidak boleh gagal!" Batin Tommy dalam hati, ketika dia sedikit menundukkan kepalanya, sambil menyeringai buas


"Cie! cie! Ada yang jadian nih! Ternyata dari rasa benci, menjadi sayang, dari sayang menjadi cinta, cinta akhirnya menjadi keluarga. Aku kok jadi iri!" Goda Riska dengan sikap centilnya

__ADS_1


"Tommy dan Mona hanya tersenyum simpul saja, malu malu. Tapi di hati Tommy, bersorak gembira, karena rencana pertamanya telah berhasil. Kini dia akan melaksanakan rencana yang kedua malam ini juga


__ADS_2