Sang Pewaris Tunggal

Sang Pewaris Tunggal
45. Lumayan banyak


__ADS_3

Tok! tok! tok!


"Masuk!" seru seseorang dari ruangan mewah di bank tersebut, yang ternyata adalah direktur bank amex, Richard


Orang yang mengetuk pintu ruangan direktur, setelah mendapat izin, segera membuka pintu, dan masuk ke dalam, dan langsung menyapa dengan hormat


"Selamat pagi tuan!". Sapanya ramah dan sopan, sambil menundukkan kepalanya kearah direktur Richard, yang sedang duduk di kursi di belakang meja kerjanya


Direktur Richard spontan menghentikan pekerjaannya, kemudian mengangkat kepalanya, ke arah orang yang baru datang tersebut


Keningnya sedikit berkerut, ketika melihat 2 orang yang sedang berdiri di depannya. Dua orang yang datang tersebut, 1 dikenalinya, tetapi yang satu lagi tidak


Untuk menjawab keingintahuan dan keheranannya, maka direktur Richard segera berkata


"Oh manager Devan. Ada keperluan apakah kamu menemuiku, dan siapa orang yang kamu bawa itu?" Tanya direktur Richard keheranan, sambil mengamati penampilan Dion dari atas ke bawah


"Ini tuan, saya membawa tamu penting ke bank kita, dan urusannya hanya tuan yang bisa menyelesaikannya." Jawab manajer Devan hormat, sambil kembali menundukkan kepalanya ke arah direktur Richard


Richard kembali mengamati penampilan Dion dari atas ke bawah, dan dari bawah ke atas, sedikit pun dia tidak melihat kelebihan yang ada pada Dion


Penampilannya memang rapi, tetapi belum cukup untuk menggambarkan, bahwa dia seorang tamu penting bank tersebut


Tetapi demi menghormati manager Devan, yang dengan susah payah membawa orang yang dikatakan tamu penting tersebut, maka direktur Richard bersikap profesional di hadapan mereka berdua, kemudian bertanya


"Ada perihal penting apakah, sampai sampai manajer Devan membawa orang ini menghadap ku, untuk menyelesaikan urusannya?" Tanya direktur Richard dingin, dan terkesan meremehkan Dion


"Urusan ini Tuan." Jawab manajer Devan, sambil menyodorkan sebuah kartu petak tipis berwarna hitam, kepada direktur Richard


"I..i..ini kartu eksklusif bank amex, bagaimana bisa kartu ini ada di tanganmu manager?" Tanya direktur Richard keheranan dan gugup


"Kartu itu milik orang ini tuan." Jawab manajer Devan sedikit tak enak hati kepada Dion


Direktur Richard kembali mengamati Dion, keningnya berkerut semakin dalam, antara rasa percaya dan tidak. pikirannya berkecamuk, apakah harus mempercayai kenyataan, bahwa kartu itu milik Dion atau bukan


Baginya untuk memiliki kartu itu, setidaknya nasabah harus mempunyai setoran awal, 10 sampai 100 miliar mata uang setempat, dan belanja minimal satu miliar per tahun

__ADS_1


Tidak mau kehilangan momen yang berharga, direktur Richard buru buru bertanya kepada Dion seprofesional mungkin


"Apakah benar kartu ini milik tuan?" Tanya direktur Richard sudah mulai bersikap sopan dan hormat kepada Dion


"Benar, kartu itu memang milikku. Sudah setahun lebih ada bersamaku, dan tidak pernah ku pergunakan, apalagi mengecek saldo nya." Jawab Dion penuh percaya diri, kemudian melanjutkan berkata


"Kalau boleh tahu, apakah aku bisa mengaktifkan kartu tersebut, dan melihat isi saldo di rekeningnya?" Jawab Dion kalem


"Tentu tuan. Pertama saya akan mengecek identitas kartu, dan ini maaf, bukan berarti saya tidak mempercayai tuan, tapi saya hanya menjalankan prosedur saja."


"Kemudian setelah itu, saya akan meminta data diri tuan, untuk proses verifikasi." Ucap direktur Richard sedikit gugup


Setelah selesai menjelaskan prosedur untuk mengaktifkan kartu eksklusif tersebut, direktur Richard segera memerintahkan kepada manajer Devan, untuk mengambil mesin pembaca kartu di dalam brankas miliknya


Tak lama kemudian, mesin pembaca kartu tersebut datang, dan diletakkan di atas mejanya, saat itu juga, dia memasukkan kartu hitam Dion, ke dalam mesin pembaca kartu tersebut. dan terdengar bunyi " beef " pertanda kartu hitam itu terbaca olehnya


Mesin pembaca kartu itu mengeluarkan indikator berwarna hijau, pertanda meminta verifikasi dari bank tersebut pula


Direktur Richard segera memverifikasi kartu hitam milik Dion, kemudian menyodorkan mesin pembaca kartu kepada Dion, untuk memasukkan password atau kata sandinya


Setelah direktur Richard memasukkan kode bank, dan memverifikasi akun bank pemilik kartu hitam tersebut, di layar laptop direktur Richard terpampang angka yang sangat fantastis sekali


"I..ini. sangat luar biasa sekali!" Ucapnya gugup, sambil berdiri dari kursinya, dan berjalan menuju ke arah Dion


"Tuan!, maafkan kami yang ceroboh ini, karena tidak menyambut kedatangan tuan dengan semestinya." Ucapnya sambil sedikit membungkukkan badannya kearah Dion


"Bangunlah direktur!, tidak perlu seperti itu." Kata Dion tidak enak hati, kemudian melanjutkan berkata


"Apakah kartu hitam ku itu masih berfungsi dan aktif?" Tanya Dion sekedar memastikan


"Masih tuan, bahkan sudah aktif sejak lama. Bank amex cabang ini, hanya memverifikasi ulang akun bank tuan." Jawab Richard sesopan mungkin


"Bisakah anda sebutkan jumlah saldonya." Pinta Dion kepada direktur Richard


"Bisa tuan, dan bahkan itu wajib, karena tuan harus mengetahui, berapa saldo yang ada di rekening tuan saat ini." Jawab Richard buru buru, kemudian berjalan kearah kursinya, untuk mengambil laptop yang ada di meja kerjanya

__ADS_1


Manager Devan yang sejak tadi hanya diam saja, sempat melihat jumlah saldo yang ada di rekening tabungan Dion. setelah itu, mulutnya menjadi kaku dan lututnya gemetar


Dia tidak percaya, seseorang yang berpenampilan sederhana, walaupun rapi tersebut, adalah pemilik saldo yang teramat sangat banyak itu


Apa yang dilihatnya dalam laptop tersebut, sudah tidak wajar lagi, dan bukan dalam mata uang setempat pula, tapi dalam bentuk US dollar, yang jumlahnya sangat banyak sekali


Apa yang dilihat oleh direktur Richard dan manajer Devan sama, yaitu jumlah saldo tabungan Dion yang tertera sebesar 130 miliar US dolar, suatu jumlah yang sangat fantastis sekali


"Mari tuan, inilah jumlah saldo tuan yang ada saat ini." Ucap direktur Richard terkesan hati-hati


"Hemm. lumayan banyak." Ujar Dion lirih, tapi ucapannya sempat didengar oleh direktur Richard dan manajer Leo


Mulut mereka menganga dan terbuka lebar, melongo, karena terkejut. Jumlah uang sebanyak itu, cuma dikatakan lumayan, kalau dalam mata uang lokal mungkin masih bisa diterima oleh akal, tapi ini mata uang asing, US dolar, dan jumlahnya pun tidak tanggung tanggung untuk ukuran saldo rekening pribadi


Tapi mereka tidak berani untuk berkomentar apapun, mereka hanya diam sambil menautkan tangan kiri dan kanannya, serta meletakkannya di perut persis seperti orang yang baru habis dimarahi


"Direktur Richard dan manajer Devan, terima kasih atas pelayanannya. Kalau begitu saya undur diri." Ucap Dion kalem


"Tuan, ini kartu saya!. kalau tuan memerlukan bantuan saya, kapan pun dan di mana pun, saya akan datang demi tuan." Ucap Direktur Richard sambil membungkuk


"Dan ini kartu saya tuan, saya juga siap kapan saja, jika tuan memerlukan bantuan kami." Sambung manajer Devan tidak mau kalah dengan direkturnya


Sejenak Dion tercekat, ketika dua orang petinggi bank amex menyodorkan kartu identitasnya sekaligus


Demi untuk tidak mengecewakan kedua petinggi bank, dengan berat hati, Dion mengambil kartu pengenal mereka. Dia berpikir, mungkin pada satu saat nanti, bantuan dari kedua petinggi tersebut akan dibutuhkannya


Singkat cerita, Dion saat ini, telah berada di depan pintu masuk bank tersebut, dia diantar oleh direktur Richard dan manajer Devan langsung, dan dia juga yang membuka kan pintu untuk Dion


Ketika mereka bertiga keluar dari dalam bank, keempat satpam yang sedari tadi bersikap arogan terhadap Dion, langsung menundukkan kepalanya dalam-dalam


Mereka tidak menyangka, bahwa orang yang tadi diprovokasi nya, adalah nasabah penting bank tempat mereka bekerja


Menyadari bahaya yang bisa muncul kapan saja, serentak mereka menjatuhkan diri, dan berlutut di depan Dion sambil menangis


Direktur Richard yang melihat kejadian tersebut, tentu saja menjadi heran dan tidak mengerti, kenapa keempat orang satpam yang terkenal tegas dan kuat, berlutut sambil menangis di depan Dion

__ADS_1


"T..t. tuan. mohon maafkan kesalahan kami, kami telah bersikap tidak sopan kepada tuan sedari tadi. Kami mengaku salah, tapi mohon, jangan pecat kami tuan." Rengek mereka berempat sambil menangis


__ADS_2