
"Kau buka saja gerbang ini, dan jangan coba coba menghalangi tugas polisi!"
"Kalau terus menghalangi kami, maka kau akan kami tangkap, dengan tuduhan melindungi penjahat!" Bentak Tama kurang senang
"Saya tidak berani komandan!. Silakan masuk!" Jawab Donald ketakutan, sambil membukakan pintu gerbang untuk rombongan komandan Tama dan Robin
"Terima kasih!" Responnya dingin. Namun tak lama kemudian, dia berkata lagi.
"Tapi sebelumnya kau harus kami awasi, karena dari tadi kau seperti sengaja mengulur waktu, agar mereka bisa melarikan diri dari area lain!" Ucap Tama tegas, mengejutkan keempat sekuriti itu
"Bripka Dedi!. Hubungi markas, dan minta bantuan 100 personil kemari dengan persenjataan lengkap!" Perintah komandan Tama tegas pada anak buahnya
"Siap komandan!" Jawab Bripka Dedi cepat. Kemudian menghubungi markasnya untuk meminta bantuan
"Saudara Jana!, terima kasih atas kerja samanya selama ini!"
"Bersediakah saudara membantu mengamankan empat orang sekuriti ini bersama dengan empat anggota saya?" Ucap dan tanya komandan Tama pada ketua tim kecil, mata mata Birawa Group, Jana
"Tidak masalah dan!. Kami akan senang hati melakukannya walau tanpa diminta!" Jawab Jana mantap
"Terima kasih!" Jawab Tama senang
"Sementara kami masuk, kalian bertiga bantu kawan kawan ini mengawasi empat orang sekuriti itu"
"Aku curiga mereka ada hubungannya dengan Arnold!" Perintah Jana tegas
"Baik ketua!" Jawab ketiga anak buahnya serempak
Sepuluh menit kemudian, bala bantuan yang diminta oleh komandan Tama pun datang dengan puluhan mobil besar dan kecil
Bukan hanya 100 orang, tapi lebih dari 200 orang petugas polisi datang
Tak lama sesudah itu, 5 mobil mewah, dan 20 bus besar pun datang menyusul. Semua kendaraan itu berisi orang orangnya Dion, dibawah komando Robin, dan didampingi pula oleh Awan, Langit dan Bumi
Mereka datang dengan kekuatan sebesar 250 orang, hingga membuat jalanan di perumahan itu penuh sesak oleh kendaraan kecil dan besar
Orang orang yang ingin keluar masuk perumahan, mengurungkan niatnya karena ketakutan
"Cepat menyebar, dan blokir semua jalan masuk dan keluar, agar target tidak bisa melarikan diri!" Ucap Tama memberi perintah
"Siap!" Jawab seluruh anak buahnya membahana
"Senior Robin!. Sungguh kehormatan besar bagi saya, bisa bertemu dan bekerjasama dengan anda!" Ucap komandan Tama senang
"Junior Tama!, jangan berlebihan seperti itu!. Mari kita tangkap para pembuat onar, agar dunia menjadi sedikit aman!" Jawab Robin biasa biasa saja
"Kalau begitu tunggu apa lagi!" Respon Tama semangat
Tak lama kemudian, ratusan polisi dan anak buah Robin pun telah mengerjakan tugasnya masing masing
Sebagian dari mereka, berjaga di setiap persimpangan jalan, juga di jalan jalan pintas yang ada
Sebagian lagi mengepung mansion Sangkuni, dimana saat itu Arnold juga berada di sana
"Dasar bodoh!. Kenapa kau bawa mereka kemari?" Teriak Sangkuni marah
"Saya juga tidak tahu bos!. Tadi waktu kami masuk, tidak ada tanda tanda kami diikuti. Malah perjalanan kami lancar lancar saja!" Jawab Arnold membela diri
"Kau ini idiot atau apa?. Tak tahukah kau siapa mereka?" Bentak Sangkuni semakin marah
"Saya tahu bos!. sebagian mereka adalah polisi, dan sebagiannya lagi tidak dikenal!" Jawab Arnold polos, lagi lagi membuat Sangkuni marah
"Kau ini ya!. memang benar benar manusia berotak tumpul!"
"Kelompok berpakaian jas warna hitam, putih dan biru itu, adalah para pengawal Birawa Group."
"Tuan mereka adalah musuh besar kakek dan ayah ku dulu!. Tahu kau?" Ucap Sangkuni benar benar marah
"Jadi sekarang bagaimana bos?. Saya tidak mau tertangkap!" Respon Sangkuni ketakutan
"Mau bagaimana lagi!. Sudah terlanjur ketahuan! ya lawan saja!" Jawab Sangkuni tanpa ragu ragu lagi
"Kalian yang di dalam menyerah lah!. Tempat ini sudah dikepung!" Ucap komandan Tama keras melalui pengeras suara atau megaphone
Dor! dor! dor!
Dor! dor! dor!
Terdengar tiga kali tembakan dari arah mansion mewah milik Sangkuni, disambung dengan puluhan rentetan tembakan lagi dari arah yang sama
"Cepat berlindung dan balas tembakan mereka !" Teriak komandan Tama tegas
__ADS_1
Sedetik kemudian, suara tembakan terdengar bersahut sahutan, hingga membuat objek yang terkena sasaran pecah, berlubang dan roboh
Banyak mobil mobil polisi yang menjadi korban salah sasaran. Begitu juga dengan dua mobil besar milik Birawa group, yang dijadikan benteng pertahanan oleh mereka
Tapi sejauh ini, belum ada satupun yang terbunuh atau terluka
"Jika begini terus rumah rumah yang di seberang jalan akan hancur karena terkena peluru nyasar!" Ucap Robin dari balik mobil besar itu
"Langit dan bumi!. Kalian bawa 40 anak buah mu masing masing, dan datangi rumah ini dari arah belakang."
"Siap ketua!" Jawab keduanya patuh
"Menyusahkan saja!. Kalau dapat masuk akan aku cincang tubuh Arnold dan Sangkuni itu!"
"Tidak perlu pengadilan untuk mereka! Pengadilannya adalah ujung di pedang ini!" Ucap bumi kesal
Langit yang mendengar Bumi menggerutu seperti itu hanya diam saja. Dia sudah tahu bagaimana sikap Bumi kalau sudah sangat marah. Apa yang diucapkannya itu pasti akan dilaksanakannya jika punya kesempatan
"Cepat menyebar dan cari tempat untuk masuk!" Ucap Langit memberi perintah
Tanpa menjawab, 80 orang anak buahnya, segera melaksanakan perintah tersebut
Ada yang berusaha memanjat dinding. Ada yang berusaha menjebolnya, bahkan ada yang sampai memanjat pohon yang ditanam di pinggir jalan
Salah satu dari usaha mereka berhasil. Yaitu menjebol dinding dengan menggunakan peralatan palu besar yang memang sengaja mereka bawa
Dua anak buah Langit yang memanjat pohon juga berhasil dan mereka bisa melihat bahwa di belakang mansion tidak di jaga sama sekali
Maka dengan mudah mereka dapat masuk, dari dinding pagar yang jebol. Sementara yang berusaha memanjat pagar dengan menggunakan tali berujung pengait besi, mengurungkan niatnya. Tapi tiba tiba...
Dor! dor! dor!
Serentetan tembakan kuat nyaring terdengar, menyambut musuh yang berusaha masuk dari lubang pagar yang berhasil mereka jebol itu
Beruntung tembakan itu tidak mengenai sasaran, tapi hanya menyerempet tangan salah satu anak buah Langit saja
"Kurang ajar!. Ternyata kita sudah ketahuan!" Ucap Bumi murka. Kemudian tanpa memikirkan keselamatannya, Bumi merangsek dengan membalas tembakan mereka tanpa kenal henti
Walhasil tindakannya itu berhasil menghentikan aksi anak buah Sangkuni untuk sementara
Kesempatan itu digunakan oleh anak buahnya untuk masuk, dan segera melancarkan serangan dengan menembak ke arah musuh secara bertubi tubi
"Terus dekati rumah itu!, dan yang lain lindungi kawan kawan kalian agar tidak terkena tembakan!" Teriak Bumi memberi perintah
Perintah Bumi disambut dengan tembakan oleh anak buahnya, dan diarahkan pada sasaran yang ada di depan mereka
Sementara itu di bagian dalam mansion, Sangkuni dan Arnold terlihat sedang berunding, bagaimana caranya bisa melarikan diri
"Sial! sial! sial!"
"Gara gara kau!, semua prestasiku ku, usaha ku dan nama baik ku menjadi hancur!"
"Kalau kau tak datang kemari, tak mungkin badjingan badjingan itu bisa menemukan keberadaan ku Arok!"
"Kau dengar itu?"
"Dasar manusia pembawa sial!" Makinya kuat kuat
"Maafkan saya bos!, walau itu perintah dari bos sendiri."
"Jika tidak karena perintah itu, tak mungkin saya berani datang ke sini!" Bantah Arnold membela diri
"Diam. Jangan berani membantah!" Bentak Sangkuni kuat kuat. Kemudian berkata lagi.
"Kalau menurutkan kata hati, ingin rasanya membunuh mu saat ini juga bodoh!" Makinya lagi
"Sekarang hanya ada dua pilihan, menyerah atau mati!" Ucap Sangkuni putus asa
Di bagian lain, Bumi dan anak buahnya, berhasil menjebol pintu bagian belakang, dan segera memasukinya dengan sikap waspada, Disusul oleh Langit serta anak buahnya, juga bersikap waspada
Dor! dor! dor!
"Gawat bos!. Musuh sudah berhasil memasuki mansion ini!" Ucap salah seorang anak buah Sangkuni ketakutan
"Cepat hadang pergerakan mereka!. Jangan sampai naik ke lantai tiga ini!" Perintah Sangkuni tegas bercampur panik
"Baik bos!" Jawab belasan anak buahnya patuh, kemudian membuat blokade tersembunyi dari balik perabotan yang ada di lantai dua tersebut
Sementara itu, komandan Tama dan anak buahnya dibantu oleh Robin juga anak buahnya, sudah berhasil menewaskan belasan anak buah Sangkuni dari tembakan jitunya melalui jendela
Satu persatu pihak penyerang mendekati mansion tersebut, dan berusaha membuka jendela atau pintu utamanya
__ADS_1
Geram dengan usaha yang mereka lakukan belum banyak membuahkan hasil, empat personil polisi, menembakkan gas air mata melalui jendela yang sudah pecah kacanya itu
Usaha yang mereka lakukan itu, membuahkan hasil yang bagus, dimana empat tabung gas air mata, meledak di dalam mansion itu, dan membuat penghuninya menjadi panik
"Sial!. Bisa bisanya kita terkepung seperti ini!" Ucap salah seorang anak buah Sangkuni geram, sambil menutup mata juga menahan nafasnya agar tidak keracunan
"Sekali lagi!. Kalian yang di dalam keluar dan menyerah lah!, Kalau tidak, rumah ini akan kami ledakkan!" Ucap komandan Tama memberi peringatan
"Bos!" Reaksi Arnold ketakutan
"Tenang saja mereka tidak akan berani melakukannya!" Jawab Sangkuni asal bicara
Dor! dor! dor!
Lima orang anak buah Sangkuni dan Arnold roboh lagi diterjang peluru. Para penembak jitu dari pihak kepolisian dan anak buah Robin, memang benar benar patut diacungi jempol. Sekali tembak, tubuh tubuh musuh saling bertumbangan
Pihak penyerang terus merangsek masuk, dan sudah menguasai lantai satu dari tiga lantai yang ada
Sangkuni dan anak buahnya terus terdesak, hingga dia memutuskan menghubungi anggotanya di tempat lain, agar mengirimkan helikopter padanya, untuk melarikan diri dari kepungan pihak musuh
Tak lama kemudian, dua buah helikopter meraung raung di udara, dan mendarat di atas atap bangunan sambil menembaki para penyerang itu
Delapan polisi dan empat anak buah Burgon terluka, ketika secara tiba tiba, penumpang dua helikopter menembaki mereka dari udara
Akibatnya formasi penyerang menjadi kocar-kacir. Tak mau korban bertambah, komandan Tama memerintahkan untuk menembak jatuh dua helikopter itu
Puluhan rentetan senjata otomatis, terdengar memekakkan telinga, mengarah pada dua helikopter itu, tapi cuma satu yang berhasil ditembak dan langsung mengenai pilotnya
Helikopter tersebut berputar putar di udara, dan jatuh mengenai sayap kanan mansion itu lalu meledak serta membakar apa saja yang ada di dekatnya
Tak memperdulikan kejadian itu, Sangkuni, Arnold dan empat petinggi perusahaannya bergegas menaiki helikopter yang masih tersisa dan memerintahkan pilotnya untuk mengudara
Melihat itu, komandan Tama menjadi murka, dan segera memerintahkan pada anak buahnya, untuk menembaki helikopter tersebut, tapi usaha mereka sia sia saja
"Sial!. Sangkuni dan anak buahnya berhasil lolos!."
"Cepat hubungi markas dan kejar helikopter itu. Tembak jatuh, dan bunuh para penumpangnya!" Ucap komandan Tama tegas bercampur marah
"Tidak aku sangka. Mereka melarikan diri menggunakan helikopter, dan ini akan semakin berat untuk menemukan dalangnya." Batin komandan Tama dalam hati
Buk!
Jleb!. Jleb!
"Crash!. Crash!
Di bagian lain dalam mansion, anak buah Robin yang dipimpin oleh Langit, membantai sisa sisa anak buah Sangkuni yang ditinggalkan begitu saja
Gerakan yang dilakukan oleh anak buah Langit sangat cepat sekali, hingga dalam waktu yang tidak terlalu lama, seluruh anak buah Sangkuni telah dibantai habis oleh mereka
Kesal karena buruannya tidak ditemukan. Bumi kembali membakar mansion itu, dengan meledakkan kompor gas di bagian dapur, setelah seluruh anak buahnya keluar dari mansion itu dan lari menjauh
Dalam sekejap saja, bangunan itu menjadi porak poranda dan sisanya sedang terbakar.
Tapi yang terbakar itu bukan temboknya, namun barang barang yang ada di dalamnya
Beruntung mansion mansion lain, jaraknya saling berjauhan, hingga kebakaran itu tidak menjalar ke mansion lain
Satu jam kemudian, bangunan mansion itu roboh sebagiannya
Setelah api seluruhnya padam, komandan Tama memerintahkan pada anak buahnya, untuk memeriksa, apakah masih ada yang tersisa atau masih hidup
Tapi setelah memeriksa cukup lama, tak satupun barang atau jasad manusia yang masih utuh. Semuanya hangus terbakar
Komandan Tama, hanya bisa menggelengkan kepalanya saja, memikirkan betapa brutalnya anak buah Burgon dalam bertindak
Mau menyalahkan mereka tentu saja dia tidak bisa. Mau bertindak dia tidak berani. karena apa yang dilakukan oleh mereka tentu saja demi mempertahankan nyawanya saja
Prinsip perang adalah, dibunuh atau membunuh. Jadi mau tidak mau membiarkan saja kejadian itu
Setengah jam kemudian, tempat itu kembali sepi, dan di areal mansion itu dipasangi garis polisi
Enam polisi dan enam anak buah Robin, ditugaskan berjaga di areal itu dalam 3×24 jam secara bergantian
Beberapa saat kemudian, Robin dan anak buahnya, meninggalkan reruntuhan mansion itu, di ikuti oleh para polisi tersebut
Empat orang satpam perumahan, juga ditangkap serta dibawa ke kantor polisi
Sebagai gantinya. komandan Tama menggantikan posisi mereka, dengan menugaskan enam orang anak buahnya, untuk berjaga di gerbang
Tak mau kalah, Robin juga memerintahkan sepuluh anak buahnya untuk membantu penjagaan
__ADS_1