Sang Pewaris Tunggal

Sang Pewaris Tunggal
Rencana kepulangan


__ADS_3

Pagi harinya, sekitar pukul 7.00 pagi, seperti biasanya, Jasmine tidak pergi mengemis. Dia hanya duduk duduk saja di ruang keluarga bersama ayah juga ibunya


Hari ini dia sengaja meliburkan diri dari kegiatan yang sangat memalukan itu, karena hari ini, dia ingin menyampaikan rencana besar kepada neneknya itu


Sedangkan Everly ibunya, sudah mengetahui rencana tersebut, karena suaminya sudah memberitahu masalah itu sebelumnya


Jasmine sengaja menunggu neneknya bangun, biasanya di jam segini, neneknya sudah bangun dan melakukan kegiatan ringan dalam kamarnya itu


Tapi hari ini, ditunggu sampai jam 7,10 pagi, neneknya belum juga muncul


Akhirnya Jasmine memberanikan diri mengetuk pintu kamar neneknya itu


Beberapa kali jari Jasmine mengetuk pintu kamar tersebut, Tapi tidak ada jawaban sama sekali dari dalam


Menyadari bahwa neneknya tidak kunjung juga membuka pintu, Jasmine berlari menemui ayahnya, yang saat ini sedang duduk di ruang keluarga


Sesampainya di sana, Jasmine langsung memberitahukan kepada ayahnya, bahwa pintu kamar nenek Elina tidak kunjung dibuka, walau sudah diketuk beberapa kali


Mendengar berita itu, Danish tergopoh gopoh pergi ke kamar ibunya, diikuti oleh Everly dan Jasmine


Sesampainya mereka di depan pintu nenek Elina, Danish mencoba mengetuk pintu kamar itu kembali


Setelah beberapa kali melakukan ketukan, yang semakin lama semakin kuat, akhirnya pintu kamar ibunya terbuka juga, ternyata nenek Elina sedang berada di kamar mandi khusus yang ada di kamarnya itu


"Ada apa kalian pagi pagi begini ribut ribut di depan kamar ibu?. Mengganggu saja!" Bentak nenek Elina marah


"Bukan begitu bu!, tadi Jasmine mengabarkan, bahwa katanya ibu tidak kunjung bangun juga, setelah beberapa kali pintu kamar ibu diketuk nya"


"Makanya kami datang terburu buru untuk memastikan, takut ibu kenapa kenapa." Tangkis Danish mencoba menerangkan duduk perkara yang sebenarnya


"Sudah tahu kalau pagi pagi begini ibu berada di kamar mandi, masih juga mengganggu, dan tidak tahu juga. Dasar tidak punya sopan santun!" Maki ibunya tidak senang


"Maafkan kami bu, kami tidak sengaja." Jawab Danish dan Everly serempak


"Memangnya ada keperluan apa, sampai menggedor gedor pintu kamar ku kuat kuat?" Tanya nenek Elina masih marah


"Sebaiknya kita berbicara di ruang keluarga saja bu, karena ada sesuatu hal yang akan disampaikan oleh Jasmine, dan ini menurutnya sangat penting!"


"Memangnya ada berita apa, sampai ingin mengumpulkan kita semua di sana?" Tanya nenek Elina tidak sabaran, sambil memandang kearah Jasmine


"Mari kita ke ruang keluarga saja bu, di sana sedikit nyaman untuk berbicara." Tangkis Danish tetap tidak mau menjawab secara langsung, di depan pintu kamar ibunya itu


"Kalian pergilah dulu, ibu mau membereskan pakaian ibu dulu." Jawab ibunya sambil kembali masuk ke kamarnya


Tidak lama berselang, nenek Elina pun datang, dan langsung duduk di kursi yang sudah disiapkan khusus untuknya


Walaupun usianya sudah mendekati kepala 7, tapi kondisi tubuhnya masih kelihatan sehat sehat saja, sepertinya umur tidak mempengaruhi penampilannya


"Cepat katakan! ada berita apa, hingga kalian sengaja mengumpulkan kita semuanya di sini!. Mana Lista?" Tanya nenek Elina dengan suara tinggi, kesannya ingin cepat cepat tahu, berita apa yang akan disampaikan oleh mereka kepadanya itu


"Chalista masih tidur nek, karena malam tadi dia pulang terlalu larut." Jawab Jasmine apa adanya


"Bocah itu memang tidak ada sadar sadar nya juga!" Rutuk nenek Elina kesal sambil memperbaiki posisi duduknya

__ADS_1


"Sebenarnya begini nek!. Jasmine sudah tidak tahan lagi untuk berprofesi sebagai pengemis, apalagi akhir akhir ini, gangguan kecil sering datang menghampiri Jasmine, bahkan Jasmine hampir dilecehkan oleh sekelompok pemuda, yang mencoba meraba raba tubuh jasmine di jalanan."


"Kejadian itu sering Jasmine alami nek, jadi jasmine sudah tidak tahan lagi!" Ucapnya menghiba


Tapi neneknya tidak mau tau dengan kesedihan cucunya itu, dia hanya memikirkan diri sendiri, yang ingin segera tau, berita apa yang akan disampaikan oleh Jasmine padanya


"Langsung pada intinya saja! jangan berputar putar seperti itu!" Bentak neneknya garang


"Jasmine ingin kembali ke Indonesia nek!. Jasmine sudah tidak betah di sini." Jawab Jasmine cepat


"Apa kau bilang! kau ingin kembali ke Indonesia?. Apakah kau ingin mati! bukankah kita sekarang menjadi target pembalasan dendam Dion?" Bantah nenek Elina marah


"Jasmine yakin nek!, setelah beberapa bulan ini, apalagi setelah kematian Brian, mereka tentu tidak akan lagi mengganggu kita." Bantah Jasmine yakin


"Lalu apa yang akan kau buat nanti di sana?" Tanya nenek Elina penasaran


"Jasmine ingin mencari kerja nek, walau bukan di kota B, dan jika memungkinkan, Jasmine ingin..."


Ucapan Jasmine menggantung, hingga beberapa detik, sampai membuat nenek Elina tidak sabaran, kemudian berkata dengan nada tinggi


"Ingin apa! Jangan berbelit belit seperti itu, nenek tidak suka!" Bentak neneknya lagi tidak sabaran


"Tidakkah nenek dengar, bahwa sebelum Dion menandatangani akta cerai itu, dia ada mengatakan, bahwa dia sangat mencintai Jasmine, jadi Jasmine ingin kembali ke Indonesia untuk membuktikan kata katanya itu." Jawab Jasmine dengan mimik muka tidak bersalah


"Dasar bocah sinting!. Apakah kau tak sadar, bahwa kau telah dicampakkan Dion berkali kali. Masih juga mau mendekatinya!" Sanggah nenek Elina tidak mengerti dengan jalan pikiran cucunya itu


Kesalnya bukan main, setelah gagal dan ditolak berkali kali, bahkan dicampakkan dengan begitu hina nya, masih juga Jasmine berharap banyak dari Dion, dasar wanita sinting! batinnya geram


"Dengan penghianatan kita dulu, nenek yakin, bahwa Dion tidak akan pernah mau melepaskan kita!. Kau dengar itu!" Teriak neneknya cukup keras


"Jadi bagaimana nek, Apakah nenek tidak setuju jika kita kembali ke Indonesia?" Tanya Jasmine mencoba mencari tahu, dengan tatapan mengandung sejuta harapan


Sikap nenek Elina melemah, ketika melihat wajah Jasmine yang sudah mulai bercucuran air mata, hatinya menjadi tidak tega, ketika cucu kesayangannya itu menangis, kemudian dia menjawab


"Entahlah!, nenek tidak yakin, bisa kembali atau tidak. Karena sudah beberapa kali nenek mengkhianati kepercayaan Dion. Nenek sudah sangat malu untuk bertemu dengannya nanti." Jawab neneknya dengan ekspresi lemah


"Menurut pendapatku bu, kita boleh kembali ke Indonesia, tapi jangan kembali ke kota B, kita cari tempat lain saja, atau mencari sebuah desa yang bisa kita tinggali dengan aman di sana." Celetuk Danish mencoba urun rembuk dengan ibunya itu


"Berkata memang gampang!. Apakah kalian tidak pikir, dari mana uang yang akan kita gunakan untuk kembali ke sana?. Apakah kalian sudah merasa cukup kaya?" Bantah nenek Elina putus asa


"Everly dan Danish ada sedikit uang Bu, entah kalau Jasmine, Everly tidak tahu." Ucap Everly mendukung kata suaminya itu


Nenek Elina tidak segera bereaksi, Dia hanya tercenung sejenak, guna mencerna perkataan dari Everly tadi. dalam beberapa saat, suasana menjadi hening


Dalam keheningan itu, tiba tiba terdengar sebuah suara dari arah samping mereka


"Ada apa kalian pagi-pagi begini sudah ribut-ribut di ruang keluarga?, apakah kita akan mengadakan pesta" Tanya seseorang yang baru saja muncul, Chalista, itulah nama orangnya


"Pesta gundul mu!. Boro boro mau pesta, makan sehari hari saja sudah susah!. apa lagi pesta!. Memangnya kau sudah banyak uang, ha!" Hardik nenek Elina marah


"Kalau masalah uang itu gampang nek, Lista bisa meminta kepada suami Lista, agar mau memberikan uang untuk kita pesta" Jawab Lista dengan ekspresi cuek, dan tidak tahu duduk perkara yang sebenarnya


"Sekarang bukan masalah pesta atau tidak!, tapi yang menjadi pembicaraan kita saat ini adalah, rencana Jasmine yang ingin kembali ke Indonesia, apa kau paham?" Bantah nenek Elina tidak senang

__ADS_1


"Apa!. Kakak ingin kembali ke Indonesia?. Atas dasar apa kakak ingin kembali ke sana?" Tanya Chalista seakan tidak percaya, dengan rencana kakaknya itu


"Entahlah!. Tapi kakak memang benar benar ingin kembali ke Indonesia, karena kakak sudah tidak tahan lagi berprofesi sebagai pengemis di kota ini!" Jawab Jasmine sambil menunduk


Tidak ada satupun di antara mereka, yang merespon perkataan dari Jasmine barusan. Semuanya sibuk dengan pikiran masing masing


Mereka yang ada di ruangan itu, tertunduk haru, ketika melihat mata Jasmine mulai berkaca kaca. Walaupun dia menunduk, tapi terlihat air mata bening jatuh ke pangkuannya


Sekitar 30 detik, suasana hening menimpa mereka, dan pada akhirnya nenek Elina membuka suara


"Baiklah kalau itu memang sudah keputusan kalian, nenek akan ikut saja. Tapi ingat!, di sana jangan mencari masalah dengan Dion, karena dia bukan orang yang bisa kita singgung lagi." Ucap nenek Elina, yang akhirnya menyetujui rencana Jasmine tersebut


"Benarkah nenek mau kembali ke Indonesia?" Tanya Jasmine tiba tiba gembira


"Ya!. Masih kurang jelas lagi apa kata nenek tadi?" Jawab neneknya kesal


"Terima kasih nek karena sudah mengabulkan permintaan Jasmine ini!" Ucapnya sambil berlari dan memeluk neneknya erat erat


***


Tiga hari kemudian, kakek Birawa, Dion, Tiger, Ivory dan Maya terbang ko kota Teluk Berlian, dengan menggunakan dua helikopter super puma yang pernah mereka gunakan sebelumnya


Kepergian mereka kali ini, diikuti oleh Iron dan Hans, trio terkuat pengawal level tinggi, dan 20 orang pengawal elite lainnya


Sedangkan Robin tetap berada di kota Golden City, bersama dengan ribuan orang pengawal elit, dan tingkat menengah juga tingkat rendahan


Robin ditugaskan untuk menjadi pimpinan pengawal, guna menjaga keamanan dan ketentraman kota Golden City itu


Dion hanya membawa pengawal dalam jumlah sedikit, karena di kota Teluk Berlian itu, telah ditempatkan seribuan lebih pengawal nya, untuk mengamankan tempat tempat strategis, dan lokasi lokasi perusahaan milik Dion itu


***


Masih di kota Mongkok, Hongkong di waktu yang sama


Dengan cara patungan, akhirnya nenek Elina, Danish, Everly,Jasmine dan Chalista, bisa terbang kembali ke Indonesia, dengan menumpang pesawat Cathay Pacifik


Mereka berlima tidak mengalami kesulitan ketika melakukan pemeriksaan di imigrasi setempat, karena paspor mereka berbentuk Visa kerja, kecuali nenek Elina


Setelah melalui pemeriksaan yang cukup ketat terhadap nenek Elina, akhirnya dia diizinkan untuk terbang ke Indonesia


Ternyata mereka adalah imigran gelap, dan tidak terdaftar sebagai penduduk kota Hongkong, satu hal yang sudah biasa terjadi di mana mana


Itu berarti mereka masih terdaftar di kantor catatan sipil negara asal


Sekitar pukul 9.15 pagi pesawat yang membawa mereka ke Indonesia, akhirnya mengudara juga


Jasmine yang mempunyai ide untuk kembali ke Indonesia, tersenyum sumringah


Dia sangat senang sekali ketika membayangkan, bahwa dia akan bertemu lagi dengan Dion, orang yang akhir akhir ini, terus terbayang di pelupuk matanya


Sepanjang perjalanan, tak henti hentinya dia menghayal akan keberadaan Dion. Di dalam hatinya sudah tumbuh bunga bunga cinta, yang tanpa sengaja telah tumbuh sendiri di sana


Tapi apakah cinta, harapan juga sayangnya itu akan bersambut?

__ADS_1


__ADS_2