Sang Pewaris Tunggal

Sang Pewaris Tunggal
Rayuan maut


__ADS_3

Keesokan harinya


Burgon menghadap tuan besar Dion, untuk melaporkan hasil pembicaraannya dengan Gentala di ruang kerjanya


"Salam tuan besar!" Sapa Burgon ramah


"Masuklah!" Respon Dion datar


"Duduk!"


"Terima kasih tuan besar!" Jawab Burgon patuh


"Apa hasil pembicaraan mu dengan pemilik perguruan itu. Apakah dia bisa memenuhi undangan ku?" Tanya Dion langsung pada intinya


"Maaf tuan besar!. Dia tidak bisa datang kesini, karena dia tidak bisa meninggalkan perguruan nya dalam waktu lama." Jawab Burgon apa adanya


"Hebat juga orang itu!, berani menolak keinginanan ku." Batin Dion dalam hati


"Terus apa yang dikatakan nya?" Tanya Dion penasaran


"Pemilik perguruan itu mengatakan, bahwa tuan muda Draco, adalah pewaris perguruan tersebut berikutnya, sekaligus pewaris ilmu tertinggi di perguruan itu." Jawab Burgon berterus terang dan apa adanya


"Pewaris tertinggi, apa maksudnya?" Tanya Dion kurang paham


"Untuk masalah itu, orang tersebut hanya mengatakan, agar tuan datang sendiri ke sana, supaya dia bisa menjelaskan secara terperinci pada tuan tentang itu."


"Cuma dia ada mengatakan, bahwa hanya tuan muda Draco satu satunya orang yang bisa mempelajari ilmu itu, karena dia mempunyai pertalian darah langsung dengan leluhur perguruan tersebut."


"Orang itu juga mengatakan, bahwa setelah tuan muda genap berusia tujuh tahun, baru dia akan bisa mempelajari ilmu tersebut." Jawab Burgon mantap


"Tujuh tahun?. Berarti satu setengah bulan lagi!" Respon Dion terkejut


"Oh tidak!. Aku harus membicarakan masalah ini baik baik dengan Ivory, agar dia mengijinkan Draco untuk berguru di luar." monolog Dion dalam hati


"Kalau begitu persiapkan helikopter!. Besok atau lusa, kita akan pergi ke sana!" Ucap Dion tegas


"Baik tuan besar!" Jawab Burgon patuh, kemudian undur diri dari hadapan Dion


"Ternyata anak ku adalah orang terpilih. pewaris ilmu laduni tertinggi di perguruan tersebut" Batin Dion dalam hati


"Kesempatan ini tidak boleh di sia siakan. Draco anak ku itu, harus menjadi orang kuat, sakti dan mandraguna, luar dalam, agar nanti bisa meneruskan kejayaan Birawa Group ku."


"Sebagai pewaris perusahaan, dia harus digembleng dalam berbagai disiplin ilmu, baik ilmu kanuragan maupun ilmu kesaktian. termasuk juga ilmu ilmu umum"


"Entah mengapa, insting ku mengatakan, bahwa anak ku itu akan banyak mempunyai musuh musuh kuat di masa yang akan datang."


"Mungkin Itu dampak dari perjalanan ku, yang juga mempunyai banyak musuh saat ini. dan ini tidak boleh di biarkan!"


"Walau bagaimana pun, aku harus bisa membujuk istriku, agar mengijinkan Draco untuk keluar dari villa ini, demi untuk menuntut ilmu!"


"Mudah mudahan sebelum waktu itu tiba, Draco sudah berkembang, dan menguasai ilmu bela diri dan ilmu kesaktian sekaligus."


"Harus!" Monolog Dion dalam hati


"Hem!"


"Tapi ngomong ngomong, siapa sebenarnya guru yang dimaksudkan oleh Burgon tadi, kenapa aku tidak menanyakannya?" Ucap Dion pada diri sendiri


'"Ah sudahlah!, untuk masalah itu, lebih baik aku sendiri yang mencari tahu, dan pergi ke sana besok atau lusa!" Ucapnya lagi tanpa ragu ragu. Kemudian keluar dari ruang kerjanya, dengan langkah mantap, tapi terkesan terburu buru


***

__ADS_1


Malam harinya, saat sebagian orang sudah tertidur lelap, Dion dan Ivory masih tetap terjaga, dikamar apik, indah, besar dan wangi


Saat itu Ivory berpakaian sangat seksi sekali, tidak seperti malam malam sebelumnya. Dion tahu kode itu, dan akan memanfaatkan momen bagus tersebut setelah berhasil membujuk Ivory


"Apa!. Jadi papa tetap berniat untuk mengirim Draco keluar dari tempat ini, dan hidup menderita di luaran sana?" Pekik Ivory shock atas keputusan Dion suami nya itu


"Ya!. demi untuk kebaikan Draco sendiri!" Jawab Dion enteng


"Tapi?"


"Percayalah pada keputusan papa. ini demi kebaikan anak kita juga."


"Suatu saat nanti, dia akan meneruskan usaha papa, mengelola perusahaan besar ini."


"Jika dia lemah, apa yang akan terjadi padanya!, apalagi kalau dia tidak bisa menjaga diri sendiri?" Respon Dion tegas


"Tapi?" Protes Ivory lagi dan masih ragu ragu


"Apakah kau mau kalau anak kita celaka, karena tidak mampu melindungi diri sendiri?" Tanya Dion mantap


"Mama tidak mau!" Jawab Ivory tegas


"Kalau begitu ijinkan Draco agar belajar menuntut ilmu, untuk masa depannya juga."


"Selain bisa melindungi diri sendiri, dia juga harus bisa melindungi kita, juga orang orang kita nanti!"


"Kalau dia lemah dan tidak bisa berbuat apa apa, bagaimana dia bisa melindungi kita?" Ucap Dion menohok sekali


"Bukankah para pengawal kita, sudah mengajarkan semua ilmu silatnya pada Draco?"


"Dengan begitu, Draco sudah dianggap kuat, dan mampu melindungi diri sendiri."


"Seiring berjalannya waktu, mama yakin anak kita akan berkembang jauh lebih baik."


"Apa yang mama katakan itu memang benar. Cuma masalahnya adalah, anak kita itu merupakan orang yang terpilih." Jawab Dion juga tidak kalah sengit


"Terpilih. maksud papa?" Tanya Ivory penasaran


"Seperti yang anak kita katakan tempo hari, dia mengatakan orang yang memberikan batu itu masih ada pertalian darah dengan anak kita."


"Jadi mungkin itu alasannya Draco dipilih oleh leluhurnya, untuk mewarisi ilmu tertinggi di perguruan itu." Jawab Dion lancar


"Kalau Draco ada pertalian darah dengan leluhur itu, berarti papa serta kakek ada pertalian darah juga dengannya?" Tanya Ivory lancar


"Benar juga apa yang mama katakan itu. tapi kenapa selama ini papa tidak tahu ya?" Ucap Dion seperti kecewa


"Macam mana papa tahu kalau selama ini sibuk melulu?" Respon Ivory geli"


"Ah mama ini!" Bantah Dion kesal, tapi kemudian berkata lagi


"Rencananya besok atau lusa, papa akan menyambangi perguruan silat itu, untuk bertemu dengan calon guru anak kita."


"Selain itu, papa juga ingin memastikan, apakah tempat itu aman atau tidak!"


"Jika sudah pasti, maka papa berencana akan merubah perguruan tersebut, menjadi perguruan modern, lengkap dengan semua fasilitas yang diperlukan."


"Itupun jika pemiliknya mengijinkan." Ucap Dion berharap


"Kenapa harus menunggu sampai lusa?. Besok kan bisa?" Bantah Ivory tegas


"Berarti mama mengijinkan, kalau Draco kita kirim keluar untuk berguru pada orang itu?" Respon Dion senang

__ADS_1


"Ya. walau terpaksa demi masa depannya juga!" Jawab Ivory tegas, kemudian berkata lagi


"Mama tidak boleh egois, memaksa agar anak kita senantiasa berada di sisi kita."


"Kalau itu terjadi, maka mama lah orang pertama yang harus disalahkan, kalau terjadi apa apa pada Draco, karena tidak bisa berbuat apa apa dimasa dewasanya nanti." Ucap Ivory mantap


"Bagus!. Itu baru istri papa!" Respon Dion senang


"Jadi yang dulu dulu bukan istri papa?" Protes Ivory dengan ekspresi merajuk


"Eh salah ngomong. Dulu, sekarang dan nanti, kau adalah istri ku, yang paling aku aku sayangi dan paling cantik sedunia." Bujuk Dion pada istrinya itu


Ivory tersipu malu, dan menyembunyikan wajahnya di dada Dion. berharap mendapatkan ketenangan di sana


"Ma!, Bagaimana kalau kita merencanakan untuk memilki anak lagi?"


"Jadi kalau Draco jauh, mama tidak begitu kesepian, karena ada si kecil lain yang setia menemani mama?" Bisik Dion ditelinga Ivory sambil menggodanya


"Ah papa kalau ada maunya!" Respon Ivory senang. lalu semakin merapatkan tubuhnya ke tubuh Dion agar diberi kehangatan


"Aahhhh!. Ronta Ivory menggoda, karena suaminya memperlakukannya dengan lembut, hingga membuatnya seperti berada di surga, melayang ke angkasa dan terbang bersama, merengkuh kenikmatan cinta, bersama dengan suami tercintanya itu


***


Keesokan harinya. Dion dan Ivory bangun kesiangan, karena lelah semalaman bertarung dalam bahtera cinta, yang tidak akan ada habis habisnya untuk diceritakan manusia seperti kita


Saat ini mereka masih terbaring di atas tempat tidur, dengan kondisi tanpa busana, hanya selimut tebal yang menutupi tubuh mereka berdua


"Dion terbangun duluan, dan mendapati istrinya seperti sedang tersenyum gairah, dan menantang kelakilakian nya untuk bangun


Tak tahan melihat itu, Dion segera mendekatkan bibirnya ke bibir Ivory, kemudian mengecupnya dengan mesra


"Papa!" Rengek Ivory manja, setelah terbangun gara gara diganggu oleh Dion,


Kemudian menyambut pagutan bibir suaminya dan merengkuh tubuh Dion agar merapat ke tubuhnya


Sekali lagi terjadi penyatuan asmara dan cinta yang membara, dan penuh gairah antara mereka berdua


"Kenapa cucuku belum bangun juga, apakah aku harus membangunkan mereka berdua?" Batin tuan Birawa dalam hati, lalu bergegas menuju kamar cucunya


Tapi ditengah jalan, dia bertemu dengan Iron, Burgon, Hans dan Leon, serta beberapa pengawal elit lainnya


Mereka seperti ingin juga pergi menemui tuan besarnya, untuk melaporkan persiapan keberangkatannya ke perguruan silat di daerah kota S itu


"Salam tuan senior!" Ucap mereka serempak, lalu membungkuk kearahnya


"Kalian mau kemana ramai ramai begini?' Tanya Tuan Birawa keheranan


"Maaf tuan senior, kami ingin menemui tuan besar pagi ini." Jawab Iron cepat


"Untuk apa?" Respon tuan Birawa semakin penasaran


"Sesuai dengan perintahnya, hari ini tuan besar berniat ingin mengunjungi sebuah perguruan silat di provinsi sebelah. untuk menemui calon guru tuan muda." Jawab Iron cukup jelas


"Oh ternyata tujuan kita sama. Kalian pergilah keruang pertemuan dulu, dan tunggu tuan besar kalian di sana!" Respon Tuan Birawa cepat, sekaligus memberi perintah pada mereka


"Baik tuan senior!" Jawab mereka patuh kemudian bersama sama menuju ruang yang ditunjuk, untuk menunggu Dion di sana


Tok! tok! tok!


Terdengar tiga kali pintu kamar Dion diketuk dari luar, padahal saat itu Dion sedang menyelesaikan jurus terakhirnya. tapi malah ada orang yang mengganggu aktivitas tersebut

__ADS_1


Lalu apa yang terjadi selanjutnya?


__ADS_2