
Setelah mengucapkan kata kata itu, perempuan tersebut bergegas masuk kedalam kamarnya, dan langsung menuju kesudut ruangan, dimana terdapat sebuah lemari besar yang berdiri menempel didinding, kemudian memilih sebuah buku, lalu menekannya dengan kuat
Seketika lemari tersebut bergeser, dan memperlihatkan celah kecil yang bisa dimasuki oleh tubuh manusia
Tanpa membuang waktu lagi, perempuan tersebut masuk melalui celah itu, dan menghilang didalamnya
***
Sementara itu diluar rumah, anak buah Melviano yang masih hidup, semuanya di tanya, siapa siapa saja yang terlibat dalam pembunuhan tiga intelijen Birawa Group itu
Dari 24 pengawal yang masih tersisa, tujuh diantaranya adalah pelaku pembunuhan itu
Mengetahui ada diantara mereka yang terlibat, Burgon tiba tiba saja berkata. "Kalian akan kami biarkan hidup, asal mau menjawab pertanyaan ku dengan jujur."
"Apakah kalian bekerja sendiri, atau ada kelompok lain. Jika pun ada, dimana kelompok kalian yang lain itu?"
"Aku yakin, jumlah pengawal tuan kalian itu, tidak cuma segini, pasti ada yang lain!" Ucap Burgon mencoba menguji kejujuran mereka
Tak seorang pun yang mau menjawab, walaupun mereka tahu, tapi mereka takut untuk mengatakannya
"Cepat katakan dimana kelompok kalian yang lain?. Atau kalian lebih memilih mati, dari pada harus menjawab pertanyaan temanku ini!" Teriak Leon kuat
Tapi mereka masih tetap membandel, dan tetap tutup mulut, hingga membuat kesabara Leon habis, dan tiba tiba saja
Crash! crash!
Jleb! jleb! jleb!
Lima orang pengawal langsung mati meregang nyawa, tanpa sempat berteriak, setelah leher mereka putus. sedang tiga lainnya, dada terkoyak ditembus pedang dan katana, sampai tembus ke punggung
Seketika itu juga mereka mati. Sementara dua yang masih tersisa, nyalinya menjadi ciut. dengan keberanian yang masih tersisa, keduanya berusaha meraih senjata, yang mereka sembunyikan di balik celana panjangnya, dan ingin menembak Leon
Tapi gerakan mereka kalah cepat dengan gerakan anak buah Leon. pistol yang mereka pegang terjatuh ke tanah, setelah tangan yang memegangnya putus ditebas dengan katana panjang itu
Bukan hanya itu saja, kepala kedua pengawal itu tiba tiba menggelinding ditanah, setelah satu orang samurai menyabetkan pedangnya kearah leher mereka, dan seketika itu pula mereka mati
"Sekarang hanya tinggal kalian yang masih hidup!. Kalau mau menyusul mereka, silakan jangan jawab pertanyaan ku." Ucap Leon penuh intimidasi
Seorang pengawal yang tidak mau nyawanya melayang, mengangkat kepalanya menghadap ke arah Leon kemudian berkata
"Kelompok kami yang lain, ada di markas Serigala Hitam, satu kilometer dari sini ke arah timur." Ujar nya berterus terang, karena takut dibunuh, dan memilih menghianati kelompoknya itu
"Jadi kalian para pengawal si Melviano itu, adalah anggota gangster tersebut?" Tanya Leon menyelidik
"Benar tuan!. Kami dipekerjakan pada tuan itu dan bertugas untuk melindungi keselamatannya."
"Berapa jumlah anggota kalian, dan dimana markasnya?" Tanya Burgon ikut menimpali
Pengawal tersebut sekilas memandang wajah Burgon, dan tak lama kemudian menjawab." Jumlah Anggota kami, kurang lebih 770 orang. dan yang bekerja pada tuan itu sebanyak 70 orang
"Pengawal yang ada disini cuma 65 orang. Sedangkan lima lainnya, sempat melarikan diri, dan mungkin telah memberi kabar pada bos besar kami!" Ucap Raga, nama pengawal tersebut apa adanya
"Kurang ajar!. Ternyata kita kecolongan." Respon Leon marah
"Katakan dimana markas kalian?" Bentak Burgon kasar
__ADS_1
"Tidak perlu repot repot mencari. Kami ada disini!" Jawab seseorang yang tiba tiba muncul dari dalam rumah
Leon dan Burgon serta seluruh anak buahnya terkejut, sebab didepan mereka berdiri ratusan orang bersenjata pedang serta katana. dan tujuh diantaranya memegang senjata api, yang siap ditembakkan kapan saja
Leon sejenak tercekat diam, seperti sedang mengingat sesuatu, dan berpikir keras, siapa laki laki yang berdiri paling depan itu
Disaat kebingungan seperti itu, laki laki yang manjadi pemimpin kelompok yang baru datang itu segera berkata..
"Apa kabar bos Leon dan Burgon?. lama tidak bertemu!" Ucapnya sambil membuka kaca mata hitamnya itu
"Bramanta!, ternyata kau masih hidup!" Teriak Leon kaget
"Aku tidak akan mudah mati Leon, sebelum mencabik mulut besar mu itu, dan membalaskan dendam ku pada Birawa!" Jawab Bramanta lugas
"Jadi..?"
"Jadi kenapa?. Apakah kau merasa takut Leon?" Ledek Bramanta sambil tersenyum
Leon tidak menjawab pertanyaan Bramanta tersebut, karena Leon masih terkejut, ketika mengetahui, bahwa kawan baiknya dulu, saat ini sedang berdiri di hadapannya
Suasana mendadak hening, tidak ada yang bergerak, dan tidak ada yang bersuara, termasuk Leon juga Burgon. Sebab masing masing sedang mengukur kekuatan lawan
Dua ratus lima puluh orang, ditambah dengan Leon dan Burgon, serta delapan intelijen, saat ini sedang berhadapan dengan suatu kekuatan besar, yang diperkirakan berjumlah 500 orang lebih, hingga membuat halaman dalam pagar tinggi rumah Melviano itu penuh sesak
Leon yang sudah kenyang malang melintang dalam dunia gangster kota besar dulu itu, tidak merasa takut. Sedikitpun dia tidak merasa gentar, ketika berhadapan dengan Bramanta juga anak buahnya itu
Sebaliknya dipihak Bramanta mereka juga demikian. Mengandalkan jumlah banyak, mereka menjadi lebih percaya diri, dan menganggap remeh para pengawal itu
"Pasti kau terkejut ketika melihat ku kan?. Kau sangka aku sudah mati dalam insiden lima belas tahun yang lalu itu. Kalau itu anggapanmu, kau salah besar Leon!"
"Ternyata aku masih hidup, dan sehat sehat saja." Ucap Bramanta atau Bram itu sinis
"Yang perlu kau tahu adalah, hari ini kebetulan kita bertemu, aku akan membalas dendam atas sikap pengecutmu dulu, ketika dengan teganya meninggalkanku sendiri dalam keadaan luka." Ucap Bram sambil menyeringai
"Kau salah paham Bram!. Aku bukan meninggalkan mu, tapi aku berusaha menyelamatkan bos kita, yang saat itu juga sedang terluka!" Sanggah Leon dengan berkata jujur
"Aku tidak mau tahu apa alasan mu!, karena aku sangat membenci si Iron laknat itu."
"Karena ketidakmampuannya melindungi kawan kawan kita dulu. hingga membuat sebahagian kawan kawan kita mati terbunuh dalam serangan mendadak itu."
"Dia malah sibuk menyelamatkan pengusaha Birawa yang sombong tersebut, agar tidak dibunuh oleh lawan kita. Padahal antara dia dan Birawa itu tidak saling kenal!" Ucap Bram dengan suara lantang
"Kau jangan salah paham Bram!. Bos kita itu hanya ingin berterima kasih pada pengusaha itu, karena telah menyelamatkan anaknya dari tertembus peluru musuh."
"Dia rela memasang tameng tubuhnya, demi melindungi putra tersayang bos kita itu, hingga membuatnya tertembak di bahu kirinya waktu itu!"
"Dalam tembakan kedua, bos kita pula yang mencoba menyelamatkan pengusaha tersebut. Iron melindungi nya dengan tubuhnya sendiri, hingga perutnya tertembus peluru. untung saat itu aku cepat sampai. Kalau tidak, mereka bertiga pasti sudah mati!" Bantah Leon mencoba menjelaskan duduk perkaranya
"Haaahhh!. Aku tidak mau mendengar alasan apapun darimu!. Dendamku waktu itu akan kubalas kan hari ini juga. Maka bersiaplah menjemput ajalmu Leon, dan juga kau Burgon!" Sanggah Bram tidak mau tahu, dan mengancam mereka berdua
"Hiaaat!" Teriak Bram kuat sambil melancarkan tendangan nya ke tubuh Leon, dan hampir mengenainya, jika Leon tidak segera menghindar
Serangan Bram yang gagal tersebut, disambung dengan serangan berikutnya, hingga membuat Leon kewalahan. Dan disebuah serangan tak terduga, tubuh Leon terdorong beberapa meter, akibat tendangan kuat mengenai dadanya
Setitik darah segar keluar dari mulut Leon. Dadanya sesak dan sulit untuk bernafas. Sejenak Leon menenangkan diri, dan menarik nafasnya dalam dalam, sambil mengurut dadanya yang sakit itu
__ADS_1
"Tak kusangka!, si kaki kilat yang tersohor itu, kemampuannya semakin tinggi. Serangan mu tadi, hampir saja membuatku mati. Hebat!. kau benar benar hebat!" Puji Leon jujur
"Itu belum seberapa Leon!. Masih ada jurus lain, yang jika aku gunakan untuk menyerang mu. kau pasti akan mati!" Jawabnya enteng
"Belum tentu Bram!. Aku tidak bisa kau kalahkan dengan begitu mudah. Tadi aku hanya lengah saja, hingga membuat tendangan kilat lemah mu itu mengenai dada ku." Sanggah Leon tidak mau kalah
"Jika kita bertarung lagi, aku tidak yakin, apakah kau bisa menyerang ku lagi atau tidak!" Jawab Leon cukup jumawa sekali
"Manusia sombong!. Terima ini!" Ucap Bram marah, dan langsung melancarkan jurus jurus tendangan terkuatnya kearah tubuh Leon
Tidak mau ke colongan untuk kedua kalinya. Leon membalas serangan itu dengan teknik terkuat nya juga
Posisi kuda kudanya tidak lumrah terlihat, dimana kaki sebelah kanannya menggantung di udara, sedangkan kaki kirinya kokoh menginjak tanah, seperti ingin melancarkan serangan dengan menggunakan kaki
Tapi begitu tendangan kaki kanan Bram datang, kaki kanan Leon yang menggantung itu, tiba tiba turun, dan mendorong tubuh Leon kesamping kanan, hingga tendangan Bram lewat begitu saja, dan tidak mengenai tubuh Leon
Sebaliknya tubuh Leon yang sedang condong itu, dengan entengnya melenting ke sisi kanan Bram, dan secara tiba tiba, tinju kanan Leon masuk, mengenai paha bagian luar Bram, hingga membuat keseimbangan tubuhnya oleng dan kakinya lumpuh. Tubuh Bram terjatuh ketanah. posisi mereka seri 1.1
Anak buah Bram yang melihat kejadian itu menjadi marah, kemudian dengan beringasnya ingin menyerang orang orangnya Leon, tetapi dengan sekali mengangkat tangan, gerakan mereka terhenti, dan tidak jadi menyerang musuh musuhnya itu
"Kalian jangan bergerak sebelum aku perintahkan!.Aku ingin menguji seberapa kuat nya aku sekarang, karena dulunya aku berjuluk si kaki kilat. Sedangkan lawan ku itu, berjuluk si dewa perang."
"Untuk membuktikan siapa yang terkuat di antara kami!. Maka aku menantangmu dalam pertarungan serius hidup atau mati!" Tantang Bram dan langsung disambut oleh alam, dengan mengirimkan petir di langit
Bram sekilas melihat keatas langit, dan mendapati hari sepertinya akan turun hujan, kemudian dia berkata. "Hentikan Bram!. ini tidak berguna. Kita kawan lama, jadi jangan saling bermusuhan, dan mari kita hidup secara berdampingan dengan damai!" Jawab Leon mencoba menenangkan hati kawan lamanya tersebut
"Apakah kau takut Leon?" Tanya Bram seperti mengintimidasi
"Tidak sama sekali!. Aku hanya ingin kita hidup damai, dan tidak saling bermusuhan. Itu saja!" Jawab Leon apa adanya
"Bagaimana kita bisa hidup secara berdampingan, sementara kau telah membunuh orang orang ku!"
"Kau lihatlah mereka!. Itu pasti karena perbuatan mu, atau anak buah mu itu!" Sanggah Bram marah kepada Leon
"Kau salah besar Bram!. Mereka mati bukan karena tanganku, atau perbuatan anak buahku itu. Mereka mati karena kebodohan pengawal Melviano, yang dengan brutalnya, menembaki kami, juga anak buahmu itu. yang akhirnya sebagian besar pengawalnya mati terbunuh!" Ucap Leon mencoba membela diri
"Kalau kau tidak percaya!, kau boleh bertanya kepada pengawal yang masih tersisa itu. Mereka melihat secara langsung, siapa orang yang telah membunuh teman temannya itu." Ucap Leon lagi untuk memperjelas kejadian yang sebenarnya
"Lalu bagaimana dengan mayat mayat yang tanpa kepala itu. Bukankah itu perbuatan anak buahmu?" Bantah Bram lagi
"Kalau itu memang ku akui. anak buah ku lah yang telah melakukannya. Tapi demi untuk membela diri. Kalau kami membiarkan mereka terus menembaki kami, niscaya kami akan mati tertembak, dan itu ku rasa kesalahan mereka sendiri!" Ucap Leon membela diri. Sambil memberi kode kepada anak buahnya untuk bersikap waspada
"Lalu siapa yang telah membunuh anak buahku itu?" Tanya Bram lagi
"Siapa orang yang kau maksud?" Jawab Leon malah balik bertanya
"Melviano dan simpanannya itu!" Ucap Bram dengan suara kuat
"Mereka mati karena saling bunuh satu sama lain. Jadi bukan mati di tangan kami. Kau lihatlah senjata yang masih ada di tangan mereka itu!" Jawab Leon sambil menunjuk ke jasad Melviano dan Jasmine tersebut
"Lalu bagaimana dengan ketujuh orang itu. Mereka juga ada yang mati tanpa kepala. Apakah kau bisa menjelaskannya?" Respon Bram penuh intimidasi
"Mereka orang yang terlibat langsung dalam pembunuhan 3 intelijen Birawa Group. dan tentu saja kami tidak akan tinggal diam, dan meminta pertanggungjawaban mereka!" Jawab Leon seperti seorang pesakitan yang harus menjawab setiap pertanyaan yang diajukan padanya itu
Leon berbuat seperti itu, karena ingin menghindari konflik dan pertumpahan darah. Jika pertempuran terjadi, pasti banyak yang akan menjadi korban, mungkin termasuk anak buahnya juga
__ADS_1
"Kalau begitu!. Aku tidak bisa menjamin, apakah kita akan berdamai atau tidak, dan Itu tergantung dalam pertarungan kita nanti!" Sambut Bram sudah tidak sabar, walaupun paha kanannya masih terasa ngilu, kemudian dia berkata lagi
"Jika aku kalah, maka kalian boleh pergi!. Tetapi jika engkau yang kalah, maka seluruh anak buahmu harus mati di sini!" Ujarnya seperti berat sebelah